Headlines News :
Home » » Surat Pastoral 2

Surat Pastoral 2

Written By Keuskupan Sibolga on Senin, 22 September 2008 | 20.16

Menyongsong Perayaan 50 Tahun Gereja Katolik
di Keuskupan Sibolga

Para imam, diakon, biarawan-biarawati dan seluruh umat beriman di Keuskupan Sibolga yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,

50 Tahun Sejak Prefektur Apostolik Sibolga

Pada tanggal 17 Nopember 1959 Paus Johannes XXIII menetapkan daerah misi yang mencakup pada waktu itu wilayah Nias, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan kota Sibolga menjadi Prefektur Apostolik Sibolga dengan Vikaris Apostoliknya Mgr. Gratian Grimm. Maka sejak itu Prefektur Apostolik Sibolga menjadi satu Gereja partikular seperti satu keuskupan (bdk KHK kan 368), artinya menjadi satu bagian Umat Allah, di mana sungguh-sungguh terwujud dan berkarya Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan apostolik (bdk KHK kan 369), dengan pemimpinnya Vikaris Apostolik (bdk KHK kan 371 #1). Pada tanggal 18 Nopember 1980 Prefektur Apostolik Sibolga ditingkatkan menjadi Keuskupan Sibolga dan uskupnya Mgr. Anicetus B. Sinaga. Karena itu pantaslah Keuskupan Sibolga merayakan 50 tahun keberadaannya sebagai Gereja partikular pada tahun 2009.

Mengingat bahwa Keuskupan Sibolga memasuki tahapan baru dalam sejarahnya dengan adanya Uskup yang baru, yang ditahbiskan 20 Mei 2007, Rapat Dewan Imam Keuskupan Sibolga melihat perlunya satu kesempatan untuk refleksi, evaluasi dan penentuan arah pastoral di keuskupan ini. Ide ini bersambut dengan ide di atas. Maka setelah mendengarkan pendapat Rapat Wilayah (Rawil) Dekanat Tapanuli dan Pertemuan Pastoral (Panpas) Dekanat Nias, Dewan Imam mengambil keputusan untuk mengadakan perayaan 50 tahun Gereja Katolik di Keuskupan Sibolga.
Panitia khusus telah merancang perayaan ini dan membentuk panitia besar. Pembukaan akan diadakan di gereja konkatedral St Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli pada tanggal 18 Nopember 2008. Selama satu tahun akan diadakan kegiatan-kegiatan antara lain: doa dan permenungan, katekese, penulisan sejarah Keuskupan, penelitian, dan sinode Keuskupan Sibolga. Penutupan, yang menjadi puncak seluruh acara, diadakan di katedral Sibolga pada tanggal 17 Nopember 2009. Bersama panitia khusus ditetapkan tema perayaan ini: JADILAH SAKSI KRISTUS, dan sub tema: Melalui Perayaan 50 Tahun Gereja Katolik Keuskupan Sibolga, marilah kita membangun Gereja yang mandiri dan solider.

Perayaan Iman
Iman katolik telah hadir dan tumbuh serta berkembang di daerah Keuskupan Sibolga sejak misionaris pertama masuk di Sibolga dan Nias, lebih-lebih setelah daerah misi ini menjadi prefektur apostolik hingga sekarang. Iman itu berkat karya Roh Kudus telah menghadirkan Kerajaan Allah di daerah Keuskupan Sibolga. Kalau kita telusuri perjalanan sejarah keuskupan ini dengan kacamata iman, kita tentu akan melihat bahwa Kerajaan Allah itu memang seperti biji sesawi yang amat kecil tapi tumbuh dan berkembang menjadi pohon (bdk Mat 13,31-31).

Menyadari karya Allah itu pantaslah kita bersyukur kepada Allah atas segala rahmat yang dicurahkan bagi Keuskupan Sibolga, dan pantaslah kita kenang para misionaris yang telah menanamkan iman, para uskup, administrator dan para imam yang telah menggembalakan dan melayani umat di keuskupan ini, para biarawan-biarawati, katekis, porhanger, lektor dan pengurus gereja yang mengajar dan melayani umat. Mari kita jadikan perayaan ini menjadi perayaan iman.

Keterlibatan Seluruh Umat

Melalui surat ini saya menghimbau, agar seluruh umat, biarawan-biarawati, katekis dan pastor terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan diadakan oleh panitia. Demikian juga, agar panitia merencanakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh umat. Keterlibatan yang dimaksud bukan berarti bahwa harus diadakan satu acara di mana setiap orang katolik di Keuskupan Sibolga ini hadir secara fisik di tempat dan waktu yang sama, tapi keikutsertaan setiap orang dalam refleksi dan penyadaran-penyadaran, doa dan pembaharuan hidup sebagai orang beriman, dan dalam memikirkan masa depan Gereja. Keterlibatan itu hendaklah datang dari kesadaran bahwa masing-masing adalah anggota Gereja karena baptisan yang diterima, sehingga merasa diri sebagai batu hidup bagi pembangunan rumah rohani, yakni Gereja (bdk 1Ptr 2,5). Sebagai batu hidup berarti terlibat secara aktif, bukan sebagai penonton atau tamu, tidak bersikap menunggu secara pasif tapi proaktif, memberi diri dan bertanggung-jawab.
Keterlibatan seluruh umat termasuk juga dalam hal finansial yang dibutuhkan untuk perayaan ini. Memang keuskupan kita berada di daerah minus dari segi ekonomi. Tetapi keterlibatan dalam hal finansial tidak tergantung pada banyaknya harta kekayaan. Setiap orang dapat ikut serta menanggung beban biaya perayaan ini sesuai dengan situasi dan kemampuan ekonominya. Oleh karena itu hendaklah panitia merancang segala kegiatan dan menarik biaya dari umat sesuai dengan situasi dan kemampuan ekonomi masing-masing. Keterlibatan setiap orang, sekurang-kurangnya setiap keluarga, dalam menanggung biaya perayaan ini, sudah merupakan satu pencapaian tujuan dari perayaan ini.
Kegiatan dan perayaan yang berlaku bagi seluruh paroki di keuskupan ini untuk dilaksanakan dan diikuti, akan diatur oleh panitia dan disampaikan kepada seluruh umat. Tetapi di luar kegiatan dan perayaan yang diprogramkan panitia tentu diberi kebebasan bagi setiap paroki untuk kreatif mengadakan kegiatan yang dirasa cocok dan berguna bagi umat di paroki itu.

Kegiatan dan Perayaan yang Menyentuh

Perayaan memang selalu mengandung unsur pesta. Karena itu perayaan sering cenderung menekankan segi-segi lahiriah: tampak ramai, meriah dan gemerlapan, atau “show force” (unjuk kekuatan), tapi tidak menyentuh hati dan tidak mempengaruhi hidup sesudahnya, bahkan kadang tidak meninggalkan kesan. Perayaan ini hendaklah berfokus pada tema dan sub tema. Tema “Jadilah Saksi Kristus” diharapkan membentuk kesadaran umat akan perannya di dunia. Dunia di mana kita hidup sudah berbeda dari dunia 50 tahun lalu ketika ditetapkan Prefektur Apostolik Sibolga. Di dunia sekarang ini pun Yesus tetap mengutus kita sebagaimana dahulu Dia mengutus para muridNya untuk menjadi saksiNya. Dasar dan kekuatan kesaksian kita terletak pada iman yang kita miliki. Maka segala kegiatan dan perayaan yang direncanakan dan diadakan hendaklah selalu berfokus pada refleksi atas hidup Gereja di Keuskupan Sibolga sejak menjadi prefektur apostolik hingga sekarang, dan mengarah kepada Gereja yang aktif, mandiri dan solider sesuai harapan Konsili Vatikan II (bdk LG 7-8; 12). Perayaan dan kegiatan hendaklah bersifat membangkitkan, menguatkan, dan memperdalam iman umat, dan mempersatukan umat sebagai kommunio (persekutuan) yang saling mengasihi dalam semangat persaudaraan, yang dihidupkan oleh wafat dan kebangkitan Kristus (bdk Rom 6,4; Kol 2,12).
Sebagai salah satu kegiatan, sinode yang direncanakan amat penting dalam peringatan 50 tahun Gereja Katolik di Keuskupan Sibolga ini. Sinode keuskupan bertujuan untuk kesejahteraan umat beriman: “Sinode keuskupan ialah himpunan imam-imam dan orang-orang beriman kristiani yang terpilih dari Gereja partikular, untuk membantu Uskup diosesan demi kesejahteraan seluruh komunitas diosesan” (KHK kan. 469). Sinode ini kita harapkan menjadi kesempatan yang baik untuk melihat kembali seluruh kehidupan Gereja di keuskupan ini dalam keunggulan dan kelemahannya, dan berani mengambil satu tekad yang menjadi arah pastoral yang jelas bagi Keuskupan Sibolga dan yang menjadi derap langkah semua pihak di keuskupan ini. Oleh karena itu sinode ini perlu dipersiapkan dengan baik. Dalam perencanaan dan persiapan akan diusahakan agar semua pihak terwakili, sehingga pengalaman dan aspirasi seluruh umat dapat dihadirkan dan menjadi bahan pembicaraan sinode. Dengan demikian sinode ini juga kita harapkan membekali awal tahapan baru hidup beriman umat di Keuskupan Sibolga.

Saat Berahmat

Kita mengharapkan banyak dari perayaan yang khusus ini. Agar harapan itu terwujud, perayaan ini harus menjadi “khairos” (saat penuh rahmat) bagi kita. Pemazmur berkata: “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, siasialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, siasialah pengawal berjaga-jaga” (Mzr 127,1). Maka agar perayaan ini menjadi saat berahmat, kita perlu mengutamakan Tuhan, mengakui kehadiranNya di dalam RohNya yang mencipta dan membaharui, dan senantiasa membiarkan Dia berkarya. Agar Tuhan berkarya di tengah-tengah kita dan memberikan daya hidup dan gerak yang baru bagi Keuskupan kita, hendaklah sepanjang tahun peringatan ini seluruh umat senantiasa membuka diri bagi Roh Kudus, rajin mendengarkan sabda Allah dan berdoa, rajin menerima sakramen-sakramen terutama sakramen Tobat dan Ekaristi.
Perayaan ini menjadi saat berahmat ditentukan oleh kasih yang hidup di dalam diri kita, karena iman bekerja oleh kasih (bdk Gal 5,6) dan “buah Roh ialah kasih” (Gal 5,22). Maka hendaklah kita dalam segala kegiatan yang kita adakan tetap berdasar dan bermuara pada kasih sebagaimana telah dihimbau dalam Surat Pastoral 1: “Hiduplah di dalam kasih” (Ef 5,2). Kasih itu ialah seperti kasih Kristus yang telah mengorbankan diriNya untuk kita.
Rahmat Allah menuntut perubahan. Agar perayaan ini menjadi saat berahmat, kita perlu bersikap seperti tanah liat di tangan tukang periuk (bdk Yer 18,6) yang siap dibentuk oleh Tuhan sesuka hatiNya dan mau membaharui diri.
Semoga Roh Kudus menghangatkan kasih di dalam hati kita dan memelihara rasa persaudaraan di antara kita sebagai umat beriman. Semoga Bunda Maria, Bunda Gereja, teladan orang beriman, senantiasa mendoakan kita, agar perayaan ini menjadi saat berahmat bagi seluruh umat, menjadi Pentekosta bagi Keuskupan Sibolga dan memberikan semangat dan hidup baru dalam hidup menggereja bagi kita semua, sehingga kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan umat beriman, dapat menjadi saksi Kristus. Berkat Allah kiranya melimpah bagi kita semua.

Sibolga, 15 Agustus 2008, Hari Raya Maria Diangkat ke Surga
Mgr Ludovicus Simanullang
Uskup Keuskupan Sibolga
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.