Headlines News :
Home » » Ukuran Keberhasilan Seorang Imam

Ukuran Keberhasilan Seorang Imam

Written By Keuskupan Sibolga on Senin, 22 September 2008 | 20.19

Oleh Martinus Situmorang, OFMCap


Akhir-akhir ini ada banyak teolog menampilkan gambaran imam masa depan. Gambaran yang mereka tampilkan umumnya lebih menitikberatkan peranan imam dalam “dunia” dan tidak membatasi fungsinya sekitar altar dan mimbar. Tetapi ke mana pun pembicaraan tentang imam dan imamat diarahkan, satu hal harus jelas yaitu kita punya gambaran yang tepat tentang imam dan juga imamat.

Surat Kepada Orang Ibrani memberikan gambaran imamat Yesus Kristus. Di sana ditampilkan bahwa Yesus adalah imam besar yang berbelaskasihan dan setia (Ibrani 4:15-5:10). Yesus mempunyai solidaritas dengan menjadi senasib dengan saudara-saudara-Nya. Ia tidak hanya solider tetapi juga penuh belas kasihan dan setia. Ia adalah Imam Agung, wakil manusia dengan Allah. Ia sebagai pengantara.

Akhir-akhir ini juga tugas, peran, fungsi dan pribadi imam mendapat sorotan yang sangat tajam. Para imam disorot baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok dalam tatanan kollegialitas (kesatuan, red).

Kenyataan yang kurang menggembirakan tersebut sudah menjadi rahasia umum dan disadari oleh banyak pihak. Sebagian orang menilai bahwa imam tidak produktif, malas, marah-marah, daya juang lemah, daya kreasi dan inovasi kurang, semangat pelayanan mengalami penurunan sampai titik terendah. Semua ini mendapat sorotan karena figur para imam sangat sentral, tokoh masyarakat dan menjadi ukuran baik buruknya tingkah laku dan moral di tengah masyarakat.

Menurut hemat saya yang tentu belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah komentar di atas ada benarnya. Tetapi perlu juga dikatakan bahwa masih banyak imam yang baik dan menjalankan tugas dan pelayanannya dengan sangat baik. Hanya umat terlampau gampang melihat kekurangan yang ada pada diri imam dan kurang peka melihat yang baik yang ada pada diri si imam. Tuntutan umat terlalu tinggi dan seolah-olah imam tersebut bukan manusia biasa lagi melainkan manusia “setengah dewa”. Banyak pihak menawarkan apa sebenarnya tugas para imam seperti termuat dalam Kitab suci, tawaran para teolog, institusi tertentu, umat Allah, Magisterium, liturgi tahbisan dan budaya-budaya primitive. Bila ditanya secara spontan model imam yang bagaimana yang saya impikan maka dengan cepat saya akan katakan model imamat Yesus Kristus, seperti yang termuat dalam Surat Kepada Orang Ibrani. Tetapi bila direnungkan secara dalam sebenarnya jawaban tersebut terlalu idealistik dan teoretis.

Sebagai seorang Katolik, saya dan juga seperti kebanyakan orang lain, bangga dengan para imam. Ada kesan-kesan yang kuat dan menarik yang dapat dilihat dalam diri setiap imam: kesetiaan, pelayanan, perhatian, kepedulian kepada kehidupan, kegembiraan, mampu menerima setiap orang, relasi yang dekat dan dibina terus-menerus dengan Allah. Di samping itu, mereka mampu bangkit dari jatuh.

Pusat perhatian para imam tidak lagi hanya pada perayaan ekaristi dan pelayanan sakramen-sakramental. Di samping berpusat pada ekaristi, mereka juga mampu melayani bidang-bidang kehidupan lain. Perayaan ekaristi diwujudnyatakan dalam hidup konkrit dengan berbagi suka cita dan keprihatinan bersama. Jadi pelayanan mereka bukan melulu tinggal di gereja. Para imam bukan lagi pemain tunggal dalam mewartakan Kerajaan Allah tetapi telah melibatkan sebanyak mungkin orang.

Bagi saya, ukuran keberhasilan imam adalah ketika imam itu setia dalam panggilan dan tugas pelayanan. Kesetiaan dalam panggilan dan tugas itu bertumbuh dan berproses dalam realitas yang dihadapi, lebih lagi setia pada Yesus Kristus yang telah memanggil, memilih, mengurapi dan mengutusnya.

Sebagai sosok publik, imam harus mampu mengolah diri dan berkelanjutan, kritis terhadap pandangan sendiri dan mampu menangkap pesan umat. Memang tak dapat diingkari bahwa kadangkala terlalu besar pengharapan umat sehingga bila pengharapan itu tidak terwujud, kekecewaan umat menjadi besar. Bila semua pengharapan umat ini menjadi perhatian para imam, mungkin imamat akan cepat habis (layu) dan imam pun akan kecewa dan mengalami kekeringan. Menurut saya, yang penting diperhatikan ialah apa yang dibutuhkan umat, bukan apa yang diharapkan umat.

Dari sisi lain, awam pun harus berperan aktif membantu para imam agar dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Tugas imam itu mulia. Ia menggembalakan umat, mengajar dan menguduskan. Karena itu mesti dilaksanakan dengan hati tulus, murni, penuh dedikasi dan berpedoman pada Kristus sebagai Gembala yang Baik dan menerapkannya seturut situasi zaman dan tidak mau dipermainkan oleh zaman.
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.