Headlines News :
Home » » Jubileum 50 Tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga

Jubileum 50 Tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga

Written By Keuskupan Sibolga on Kamis, 04 Desember 2008 | 21.07

Perayaan Jubileum 50 Tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga dan Sinode resmi dibuka 18 November 2008 di Gereja St Maria Bunda Para Bangsa Gunung Sitoli, Nias dalam perayaan ekaristi. Pembukaan ini mengawali perayaan yang akan berlangsung selama satu tahun penuh. Perayaan Jubileum dibingkai dengan berbagai kegiatan seperti: Doa dan permenungan, katekese, penulisan sejarah, penelitian dan sinode dan akan ditutup dengan puncak perayaan 17 November 2009. Perayaan Jubileum dan Sinode mengambil tema umum ”MENJADI SAKSI KRISTUS”, dengan sub tema: ”Melalui Perayaan Jubileum 50 tahun Gereja Katolik Keuskupan Sibolga, marilah kita membangun Gereja yang mandiri dan solider”.

Perayaan ekaristi pembukaan Jubileum dan Sinode ini dipimpinan oleh bapak Uskup Sibolga Mgr. Dr. Ludovicus sebagai Selebran utama dengan puluhan imam yang datang dari Sibolga dan pulau Nias sebagai konselebrantes. Bapak Uskup dan para imam disambut di depan gereja dengan tarian Baluse (Tarian adat Nias – tarian penyambutan). Setelah tanda Salib dan salam pembukaan, umat dipersilakan duduk. Suara lantang tiga gadis secara bergantian membacakan sejarah singkat para misionaris perdana yang pertama menginjakkan kaki di wilayah Keuskupan Sibolga. Mereka adalah para misionaris yang telah mengabdikan hidupnya hingga wafat di wilayah Keuskupan Sibolga. Secara bergantian dipersembahkan kembang sebagai wujud hormat, terima kasih dan cinta umat Katolik kepada para misionaris yang menyebarkan benih sabda di Keuskupan Sibolga. Kepada para misionaris MEP dan Imam Projo dari Negeri Perancis dipersembahkan sebakul kembang dan ditabur di atas batu nisan mereka di samping gedung gereja konkatedral. Kepada para misionaris kapusin dari Negeri Belanda dipersembahkan sebakul kembang dan diletakan di depan altar gereja Konkatedral. Kepada para misionaris dari Konggregasi Serikat Sabda Allah dan misionaris Kapusin dari Jerman dan Tirol juga dipersembahakan sebakul kembang dan ditakhtakan di depan altar gereja.

Acara ini mengharu-birukan hati umat yang hadir karena pemaparan untaian kata atas kisah kasih dan hidup para misionaris itu benar-benar menyentuh kalbu umat sebagai bukti yang hidup dari buah pengabdian dan persembahkan hidup para misionaris perdana itu. Bagaimana para misionaris perdana mengalami suka duka dan pahit getir ketika untuk pertama kalinya menaburkan iman Katolik di wilayah Keuskupan yang kini memiliki 21 Paroki dan 784 Stasi dengan jumlah umat 208.294. Di awal kotbahnya Mgr. Ludovikus mengatakan sekalipun kita merasa terharu dengan mendengar kisah hidup para misionaris yang telah mendahului kita, tetapi marilah kita melanjutkan semangat hidup dan pengabdian mereka dalam karya pastoral saat ini.

Kalau melirik sejarah Gereja di Keuskupan Sibolga sebenarnya keberadaan gereja di wilayah ini sudah ada jauh sebelum Gereja Katolik hadir di nusantara. Sebutlah misalnya keberadaan gereja di Barus yang menurut catatan sejarah sudah ada pada abad ke-7. Komunitas Gereja di Barus hilang tanpa jejak, dan kemudian misi Kekristenan baru kembali ke wilayah keuskupan Sibolga ketika 2 orang misionaris Perancis Jean Pierre Valon dan Jeant Laurent Berard tiba di Nias pada tahun 1831 bersama Fransisco dan istrinya Sofia. Pada tahun 1854, seorang imam projo Caspar de Hessele tiba pula di Nias. P Hubert Thomas, SVD yang akan memimpin penelitian di Keuskupan Sibolga menyebut Karya misi ini sebagai percobaan-percobaan yang gagal.

Karya misi di Keuskupan Sibolga baru terjadi secara berkesinambungan ketika misionaris Kapusin dari Belanda tiba di Sibolga pada tahun 1929. Dari Sibolga iman Katolik yang pernah ada di Nias ditumbuhkan kembali. Pada tahun 1939 Gereja Katolik kemudian hadir di Nias. Misionaris Kapusin dari Jerman dan Sud Tirol kemudian meneruskan misi kapusin Belanda pada tahun 1955. Komunitas umat beriman yang tumbuh ini kemudian menjadi Prefektur Apostolik Sibolga tanggal 17 November 1959 dan kemudian menjadi Keuskupan sejak 1980. Keuskupan sibolga terletak di pantai barat Sumatera dengan cakupan Kotamadya Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli bagian Selatan, sebagian Aceh Singkil dan Kepulauan Nias.

Secara keseluruhan Perayaan Ekaristi pembukaan Yubileum 50 tahun dan Sinode pada 18 November itu memakan waktu kurang lebih 3 jam karena perayaan ini diramu dengan lagu-lagu dan tarian inkulturatif wilayah Nias, Batak dan umat China. Sebelum berkat penutup, bapak Uskup melantik Panitia Sinode yang terdiri dari para Imam, suster dan umat beriman.

Sesudah makan siang bersama, acara dilanjutkan dengan pemaparan situasi pastoral Keuskupan Sibolga pada masa dulu dan sekarang oleh P. Hubert Thomas, SVD. Acara dilanjutkan dengan Seminar: ”Belajar berteologi dari St. Paulus” yang didampingi oleh Dr. V. Indra Sanjaya, Pr (dosen Kitab Suci Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Jogjakarta) dan Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM Cap (dosen Kitab Suci STFT Pematang Siantar).

Hadir pula dalam acara ini bupati Kabupaten Nias bapak Binahati B. Baeha, SH dan wakil bupati kabupaten Nias Selatan bapak Daniel Duha, SH serta anggota DPRD Kabupaten Nias. Selain tamu di atas, Hadir pula bapak TB. Silalahi (Penasihat Presiden RI sekarangdan juga penasehat BRR wilayah Nias) dan bapak Parlindungan Purba (anggota DPD mewakili Sumatera Utara). Dalam sambutannya bapak Bupati Kabupaten Nias menyatakan niatnya untuk mendukung kegiatan Yubileum 50 tahun dan Sinode Kesukupan Sibolga sebagai perayaan iman umat Katolik. Sementara itu bapak TB. Silalahi menyatakan kegembiraannya karena dapat hadir di tengah umat Katolik yang merayakan 50 tahun Gereja Katolik di Keuskupan Sibolga [cornelius fallo svd/paulus p manalu pr].
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.