Headlines News :
Home » » Komsos di Tengah Perubahan

Komsos di Tengah Perubahan

Written By Admin on Selasa, 01 Mei 2012 | 08.42

Br. Cyprianus Simbolon OFMCap
pada saat meliput kegiatan Dekanat Tapanuli
Oleh: Pst. Paulus Posma Manalu

Perkembangan media komunikasi dewasa ini sangat cepat. Melalui perkembangan media, apa yang dulu dianggap sebagai hal yang mustahil terjadi kini sungguh-sungguh terjadi. Serentak dengan itu, sebagian besar tugas-tugas manusia pun dipermudah. Kini kita tak perlu harus bertatap muka lagi untuk menyampaikan berita atau pesan kepada orang lain. Sekarang ini kita cukup menulis pesan di HP dan mengirimnya ke nomor HP yang dituju, berita akan sampai seketika itu juga.

Sebelum media komunikasi berkembang seperti yang sekarang ini, penyampaian pesan berlangsung secara tradisional. Dulu pesan atau berita seperti kemalangan disampaikan dengan cara mengutus orang untuk menyampaikan pesan dimaksud ke orang yang dituju. Cara seperti ini membutuhkan waktu lebih lama agar pesan sampai ke orang yang dituju. Selain lama, hal ini juga kurang praktis.

Sekarang ini sebagian besar interaksi sosial kita tergantung kepada media komunikasi. Jejaring media komunikasi seperti Facebook dan Twitter sudah menjadi bagian gaya hidup yang tak terpisahkan. Facebook bahkan bisa menggantikan peran sahabat, orangtua sebagai tempat CURHAT. Kegalauan hati lebih sering dicurahkan di facebook daripada mensharingkannya kepada orang tua. Fungsi orangtua sebagai tempat bertanyapun sering tergantikan oleh media komunikasi bernama Google.

Berhadapan dengan situasi seperti di atas, bagaimana Gereja sebaiknya hadir, agar Gereja tidak terkesan ketinggalan zaman? Merasul di bidang media adalah salah satu tugas Gereja, yang reksa pastoralnya diserahkan kepada Komisi/Biro Komunikasi Sosial. Pemahaman akan tugas Komsos sering keliru, bahkan tak jarang orang sering mengasosiasikan Komsos sebagai Komisi Sosial, karena itu ada baiknya terlebih dahulu kita mengerti apa itu Komsos.
Komsos merupakan karya kerasulan gerejani dan pastoral melalui media komunikasi elektronik (lewat media komunikasi pers dan siaran) yang bermaksud menyebarluaskan kebenaran dan iman kristiani. Gereja memandang alat-alat komunikasi sosial sebagai “anugerah-anugerah Allah” yang mempersatukan manusia dalam persaudaraan dan dengan demikian membantu mereka bekerja sama dengan rencana Allah bagi keselamatan mereka. Maka pengertian yang lebih mendalam dan lebih meresap tentang komunikasi sosial dan tentang alat-alat yang dipergunakan di dalam masyarakat modern patut mendapat perhatian sepenuhnya dari pihak Gereja sesuai ajaran Konsili Vatikan II.

Pengertian yang mendalam berdasarkan ajaran dan semangat Konsili akan dapat membimbing umat Kristen dalam sikap mereka terhadap alat-alat itu dan membuat mereka lebih giat dan bersemangat melibatkan diri di dalam bidang ini. Maka sesuai dengan keterangan yang tercantum di dalam Dekrit “Inter Mirifica”, dan instruksi Pastoral mengenai alat-alat Komunikasi Sosial “Communio et Progressio”, Konferensi Waligereja Indonesia mendirikan sebuah komisi untuk Komunikasi Sosial, yang selanjutnya disingkat Komisi KOMSOS. Di Keuskupan sejak terbentuknya Pusat Pastoral Komisi Komsos berganti nama menjadi Biro Komsos.

Karya Pastoral Komsos memiliki 3 bidang pelayanan utama yang disesuaikan dengan visi misi Keuskupan, pertama adalah penyediaan informasi, baik melalui media cetak, visual dan audio visual (dilakukan ke dalam keuskupan maupun ke luar keuskupan) dengan menggunakan sarana kemajuan teknologi informasi sehingga akan terbangun komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung; Kedua adalah Pendokumentasian, dengan merekam kegiatan dan kejadian di wilayah keuskupan dari waktu ke waktu ( dengan bentuk tulisan, foto, video dll ); Ketiga adalah Katekese yaitu untuk membantu mewartakan Injil dengan mempergunakan alat-alat komunikasi.

Kendala Pewartaan

Komsos Keuskupan Sibolga adalah bagian karya pastoral yang kehadirannya masih sangat muda di keuskupan ini. Karena itu tidak mudah mewujudkan tiga bidang pelayanan utama sebagaimana tersebut di atas. Sekarang ini karya utama Komsos masih sebatas penyediaan informasi melalui media cetak yakni dengan menerbitkan majalah Warta Keuskupan Sibolga sekali dalam 2 bulan.

Kendala utama yang sering kami hadapi berkaitan dengan pengembangan majalah ini adalah kurangnya tenaga pengelola dan peliput berita. Strategi yang kami lakukan untuk menutupi kelemahan ini dengan mengadakan pelatihan jurnalistik pada beberapa tahun lalu tidak sesuai harapan. Orang yang mendapat pelatihan dari paroki-paroki tidak mengirim berita atau informasi yang terjadi di paroki masing-masing. Akibatnya berita yang muncul di Warta Keuskupan pincang. Berita yang sering muncul di Warkes adalah paroki dimana pengelola berada atau ada penulis aktif sementara paroki-paroki tertentu jarang kedengaran beritanya.

Hal ini tidak semata kesalahan para koresponden yang pernah mendapat pelatihan jurnalistik. Pelatihan yang tidak berkesinambungan boleh jadi membuat orang-orang yang dilatih tidak cakap dalam tulis menulis. Bagaimanapun kami terus berusaha agar majalah ini menjadi media komunikasi yang mewartakan seluruh kegiatan paroki-paroki. Kami masih mencari format dan cara agar keinginan dimaksud dapat tercapai.

Tantangan Pewartaan

Tentang pentingnya pewartaan di bidang media tak bisa lagi ditawar-tawar. Pada tahun 2001 pada peringatan hari Komunikasi sedunia yang ke-35, Paus Yohanes Paulus II menekankan pentingnya mewartakan injil secara kreatif. Mengutip Matius 10:27 yang berbunyi: "Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah" (Matius 10:27). Paus mengajak kita untuk mewartakan kebenaran tentang Yesus dari atap rumah.

Menurut Paus Yohanes Paulus II, dalam dunia sekarang atap rumah sudah ditandai dengan hutan transmisi dan antena yang mengirimkan dan menerima pesan dari beraneka ragam ke dan dari empat penjuru dunia. Karena itu sangat mendasar untuk memperoleh jaminan bahwa di antara begitu banyak pesan itu sabda Allah didengarkan. Untuk mewartakan iman dari atap rumah berarti mengatakan kata Yesus dalam dan melalui dunia komunikasi yang dinamis.
Selanjutnya Gereja diajak untuk tidak mundur dari keterlibatan aktif dalam dunia komunikasi sosial yang menawarkan diri. Diakui bahwa media komunikasi tidak sepenuhnya menyajikan apa yang benar yang sesuai dengan nilai-nilai injili. Karena itu penting sekali membuat pemisahan-pemisahan akan berita otentik mengenai pesan injil dan yang mengaburkan injil.

Karena itu, pada kesempatan kali ini marilah kita merenungkan pesan Paus Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia ke-46 pada tahun 2012 ini. Pesan ini diberi judul Keheningan dan Kata-kata: Sebuah Jalan Evangelisasi. Berhadapan dengan kemajuan media komunikasi dewasa ini kita diajak untuk memperhatikan relasi antara keheningan dan kata-kata. Keheningan dan Kata merupakan dua aspek komunikasi yang perlu dipertahankan untuk tetap seimbang, untuk saling diaplikasikan secara bergantian dan diintegrasikan satu sama lain. Karena ketika kata-kata dan keheningan terpisah satu dengan lainnya, komunikasi akan terputus.

Kata-kata dan keheningan

Belajar untuk berkomunikasi adalah belajar untuk mendengarkan dan berkontemplasi sebagaimana kita berbicara. Hal ini terutama penting bagi mereka yang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan evangelisasi: keheningan dan kata-kata keduanya adalah elemen yang esensial, menyatu dengan karya komunikasi Gereja bagi pembaharuan pewartaan Kristus di dalam dunia zaman ini.
Di tengah hiruk-pikuknya perkembangan media komunikasi sekarang ini kita tetap diajak untuk kembali ke hakekat diri kita yang sesungguhnya. Kita harus menggunakan media komunikasi sebagai alat pewartaan, tapi penggunaan media ini harus tetap memberi ruang terbuka agar kita mampu merefleksikan diri kita sendiri. ■
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.