Headlines News :
Home » » Komunikasi Sosial Penting!

Komunikasi Sosial Penting!

Written By Admin on Selasa, 01 Mei 2012 | 08.21

Setiap tahun, pada satu hari Minggu, Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Mengapa ada Hari Komunikasi Sosial Sedunia? Apa perlunya media komunikasi sosial bagi Gereja?

Menyadari pentingnya media komunikasi sosial: media cetak (yang dapat dibaca) dan audio visual (yang dapat didengar dan dilihat atau ditonton) bagi kehidupan manusia dan bagi pewartaan Kerajaan Allah, Konsili Vatikan II membahasnya secara khusus dan hasilnya dituangkan dalam Dekrit “Inter Mirifica” tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial. Dalam dokumen itu ditetapkan bahwa sekali setahun diadakan hari komunikasi sosial: “Supaya kerasulan Gereja yang bermacam-ragam di bidang upaya-upaya komunikasi sosial makin dimantapkan secara efektif, hendaknya di semua keuskupan, atas kebijakan para uskup, setiap tahun dirayakan hari komunikasi sosial. Pada hari itu umat beriman diajak menyadari kewajiban-kewajiban mereka di bidang itu, memanjatkan doa-doa baginya, dan mengumpulkan dana untuk maksud itu” (Inter Mirifica no.18). Itu berarti bahwa amat pentinglah upaya-upaya komunikasi sosial bagi kehidupan Gereja. Bapa-bapa Konsili sadar bahwa demi keselamatan semua orang Gereja Katolik merasa wajib untuk mewartakan Injil. “Karena itulah Gereja memandang sebagai kewajibannya, untuk juga memanfaatkan media komunikasi sosial menyiarkan Warta Keselamatan, dan mengajarkan, bagaimana manusia dapat memakai media itu dengan tepat” (IM no.3).

Pada tahun ini kita merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-46 pada tanggal 20 Mei 2012. Jauh sebelum perayaannya Bapa Suci selalu menulis surat yang berisikan pesan khusus untuk seluruh Gereja dalam merayakan Hari Komunikasi Sosial itu dengan tema yang berbeda-beda. Untuk tahun ini Bapa Suci telah mengeluarkan Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia dengan judul “Keheningan dan Kata: Jalan Evangelisasi”.

Bapa Suci mengatakan bahwa kedua aspek komunikasi ini amat penting tapi sering diabaikan. Kedua aspek ini: keheningan dan kata, tidak boleh dipisahkan. Kalau dipisahkan, komunikasi akan putus, karena akan menimbulkan kebingungan atau menciptakan suasana dingin. Tanpa keheningan, kata yang kaya pesan tak akan dapat mempengaruhi. Keheningan membuat kita lebih mampu mendengarkan dan memahami kata atau gagasan yang sampai kepada kita, membuat kita mampu membiarkan orang berbicara dan mengungkapkan dirinya, dan membuat kita mampu mengungkapkan diri dengan baik. Keheningan membuka jalan bagi komunikasi yang lebih aktif. Dan sekarang ini ketika pesan dan informasi melimpah ruah, keheningan mutlak perlu untuk membedakan mana yang penting dan mana yang tidak berguna atau sekunder.

Alat-alat komunikasi sekarang ini sangat banyak jenisnya. Sesuai dengan pesan Bapa Suci, sebelum memakai alat komunikasi tertentu kita perlu hening sejenak menilai apakah kita memakai untuk tujuan yang baik: mewartakan kebaikan, memberi dorongan dan semangat untuk berbuat lebih baik lagi, memberi jawaban yang tepat dan benar dan tidak menyesatkan, membangun solidaritas dan persaudaraan, dengan kata lain, mewartakan Kerajaan Allah. Oleh karena itu dalam mempergunakan alat-alat komunikasi itu kita mesti berpegang pada suara hati kita sendiri, agar selalu sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian kita menyebarkan pandangan-pandangan umum yang sesuai dengan kebenaran dan nilai-nilai Injili, dan juga memilih dan mengikuti yang baik dan berguna. Konsili Vatikan II memberi pegangan bagi pemakai media komunikasi: mendukung segala sesuatu yang menampilkan nilai keutamaan, ilmu pengetahuan dan kesenian, sebaliknya menghindari apa saja, yang bagi diri sendiri menyebabkan timbulnya kerugian rohani, atau yang dapat membahayakan sesama karena contoh buruk, atau menghalang-halangi tersebarnya informasi yang baik dan mendukung tersiarnya informasi yang buruk ( bdk IM no.9). Maka dalam memakai media komunikasi sosial, amat penting membina suara hati.

Salah satu media komunikasi cetak di keuskupan kita adalah Warta Keuskupan (Warkes) yang diusahakan terbit sekali dua bulan. Selama hampir 5 tahun media komunikasi kita ini telah berjalan. Tetapi tampaknya media ini masih kurang efektif. Berita dari lapangan, berupa peristiwa yang terjadi dan dialami di lapangan yang dapat memperkaya umat di tempat lain, masih kurang disalurkan di Warkes ini. Kekurangan lain, tampaknya pembaca Warkes ini masih sedikit, sehingga pengaruhnya masih kurang.

Media komunikasi umum lain di keuskupan kita adalah Radio Maria yang sempat mengudara dari Sogawunasi, Nias Tengah, tetapi terhenti. Radio merupakan media komunikasi yang dapat menjangkau banyak orang sekaligus dan dalam waktu singkat. Syukur, renungan mingguan lewat RRI Sibolga dan Gunungsitoli masih setia.

Di keuskupan kita Hari Komunikasi Sosial Sedunia belum mendapat perhatian yang memadai. Pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ini saya mengajak seluruh umat untuk menyadari pentingnya memakai dengan baik media komunikasi sosial yang ada, dengan mengindahkan pesan Bapa Suci: keseimbangan antara kata dan keheningan, sehingga media ini bermanfaat menyebar-luaskan kebaikan dan menjadi sarana pewartaan Kerajaan Allah. Selamat merayakan Hari Komunikasi Sosial!

†Mgr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap.
Uskup Keuskupan Sibolga
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.