Headlines News :
Home » » Damai Natal

Damai Natal

Written By Keuskupan Sibolga on Selasa, 09 Desember 2008 | 21.06

Dalam ucapan-ucapan selamat Natal sering muncul kata “damai”, misalnya: “Yesus yang lahir membawa damai”, “Semoga Natal membawa damai di hati kita”, “Dengan semangat Natal mari kita membawa damai kepada sesama”, dll. Nyanyian para malaikat pada malam kelahiran Yesus mengungkapkan bahwa tujuan kelahiran Yesus di dunia ialah untuk membawa damai: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk 2,14). Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) untuk perayaan Natal tahun ini mengambil tema: “Hiduplah dalam perdamaian”.

Kita mendambakan damai, dan kita yakin semua orang pada dasarnya juga mendambakan damai. Rencana Allah sungguh sesuai dengan dambaan manusia. Kelahiran Yesus di Betlehem merupakan kenyataan rencana Allah itu, yang dilanjutkan dalam seluruh hidup dan karya Yesus selama di dunia. Buah dari karya penyelamatan itu, buah dari wafat dan kebangkitan Yesus ialah damai sejahtera. Setiap bertemu dengan para murid, Yesus yang telah bangkit selalu memberi salam kepada mereka: “Damai sejahtera bagimu!” Dan anugerah Roh Kudus pada hari Pentekosta juga damai, saling pengertian, dan bukan kekacauan seperti di Babel.

Kita sadar betapa sulitnya terwujud damai itu di antara manusia. Kita manusia, yang menjadi sasaran kedamaian itu, tidak mudah menerima damai itu. Masalah bukan terletak pada Allah, tapi pada manusia. Mengapa manusia sulit mewujudkan damai itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita arahkan pandangan kepada orang-orang yang terkait dengan kelahiran Yesus pada waktu itu. Penduduk Betelehem terlalu sibuk menerima tamu karena kebanjiran tamu; mereka terlalu sibuk dengan kepentingannya, sehingga tidak dapat menerima Raja Damai yang mau lahir di rumah mereka.

Raja Herodes lebih parah lagi; dia mau meniadakan Raja Damai yang baru lahir itu dengan taktik bohong yang disampaikan kepada orang-orang majus yang memberitahukan kelahiran Raja Damai itu. Tapi para gembala di padang, orang-orang sederhana, menyambut kelahiran Yesus dengan gembira. Setelah mendengar berita kelahiran Yesus dari malaikat, mereka segera pergi menemui Yesus, Juru Selamat, Pembawa Damai. Dan mereka mengalami sukacita besar dan damai. Mereka memuji dan memuliakan Allah dengan gembira. Demikian juga orang-orang majus dari Timur; mereka datang dari tempat yang sangat jauh dan mencari tempat Raja Damai dilahirkan. Setelah menemukanNya, mereka menyembahNya dan memberikan persembahan masing-masing. Mereka sungguh menyambut Raja Damai yang telah lahir.

Jelaslah, agar damai, yang menjadi anugerah Natal, terwujud di dunia, kita perlu bersikap seperti para gembala dan para majus dari Timur: dengan sukacita menyambut Yesus pembawa damai dan menyembah Dia. Menyambut Yesus berarti mencintai kedamaian. Mencintai kedamaian berarti menjauhkan segala sesuatu yang bertentangan dan menghambat terwujudnya kedamaian: egoisme dalam segala sisi dan bentuknya.

Perayaan Yubileum 50 tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga merupakan kesempatan bagi kita untuk berefleksi: sejauh mana kita umat Katolik di keuskupan ini telah mewujudkan damai yang telah diwartakan oleh para misionaris, apakah umat di stasi kita hidup rukun dan damai, apakah keluarga dan komunitas kita hidup tenteram dan damai, dan sejauh mana kita telah menjadi saksi Kristus dalam membawa damai di masyarakat.

Dengan permenungan ini, saya sampaikan kepada para Pastor, Diakon, Biarawan-biarawati, Katekis, dan seluruh umat: SELAMAT HARI RAYA NATAL dan TAHUN BARU 2009. Mari kita memberikan tempat lahirnya Raja Damai di hati kita, sehingga kita dapat menjadi batu-batu hidup untuk bangunan hidup damai baik di keluarga dan komunitas maupun di masyarakat.

Mgr Ludovicus Simanullang
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.