Headlines News :
Home » » Imam Harus Menjadi Manusia Rohani

Imam Harus Menjadi Manusia Rohani

Written By Keuskupan Sibolga on Minggu, 11 September 2011 | 18.01

Bagaimana Bapak Uskup memaknai perjalanan 25 tahun imamat?
Saya selalu berusaha menyadari diri sebagai hamba Tuhan seperti Bunda Maria, sebagai pelayan Tuhan, yang selalu berusaha mencari dan melaksanakan kehendak Allah. Maka selalu berusaha menyerahkan diri kepada Allah. Dan dengan demikian selalu juga berusaha mengasihi semua orang sebagai saudara, peka melihat kebutuhan sesame dan penting untuk tetap dekat dan seperasaan dengan Tuhan.


Selama 25 tahun menjalani imamat, pengalaman keberimanan apa yang paling berkesan?
Dalam menjalani imamat selama ini saya merasakan kebenaran sabda Tuhan yang mengatakan: “Barang siapa meninggalkan ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan,… akan memperolehnya kembali seratus kali lipat”(…..). Setiap kali saya melakukan tugas pastoral, selalu merasakan suatu kebahagiaan.
Dalam rentang waktu 25 tahun itu, bapak uskup telah memimpin 2 unsur utama Gereja Katolik Sibolga. Yakni sebagai Propinsial Kapusin (3 periode) dan akhirnya diangkat menjadi uskup keuskupan Sibolga. Dimana perbedaan kepemimpinan sebagai seorang propinsial dan sebagai seorang uskup?

Perbedaannya terletak pada luasnya cakupan perhatian yang dibutuhkan. Sebagai propinsial saya terpokus memberi perhatian bagi para saudara kapusin sepropinsi. Sebagai uskup mesti memberi perhatian bagi semua pihak umat beriman keuskupan Sibolga. Apalagi mengingat peran dan tanggung jawab uskup untuk menggantikan para rasul menghadirkan Kristus bagi seluruh umat Katolik Keuskupan Sibolga. Tugas uskup melekat selama hidup dan aktif sampai umur 75 tahun. Umat mengharapkan amat banyak dari uskup.

Apa yang bapak uskup harapkan dari imam-imam yang ada di Keuskupan Sibolga?
Kedekatan dan persatuan para imam dengan Kristus, agar mereka dapat membawa Kristus kepada umat. Maka amat penting bahwa para imam menjadi manusia rohani dan memiliki caritas pastoralis (kasih kegembalaan, red) yang dalam, yang mengasihi umatnya. Maka para imam juga mesti dekat dengan umat, dapat merasakan kebutuhan umat, dan (dapat, red) bekerjasama dengan DPPI, bukan single fighter.

Bagaimana bapak uskup melihat perkembangan panggilan di keuskupan Sibolga?
Panggilan imam dan biarawan-biarawati kurang. Banyak panggilan datang dari luar daerah keuskupan. Ini saya sangkaa terkait dengan hidup rohani keluarga. Dari pengalaman sebagai formatur kapusin, calon yang bertahan dan sampai pada kaul kekal adalah calon yang berasal dari keluarga yang baik: dalam hidup kemasyarakatan dan hidup menggereja, dan punya minat akan hal-hal rohani.

Bagaimana bapak uskup melihat seminari menengah Aek Tolang? Apa harapan bapak uskup?
Seminari Aek Tolang amat perlu. Saya heran bahwa kebanykan calon yang masuk ke TOR (Tahun Orientasi Rohani, red) atau tarekat religius datang dari retorika dan seminari menengah sedikit saja lanjut ke Retorika. Meungkin motivasi masuk Seminari Menengah masih sering untuk sekolah saja, lalu di seminari motivasi itu tetap begitu. Maka Seminari Menengah hendaklah berperan meningkatkan motivasi yang dangkal para seminaris menjadi lebih dalam, dengan membina hidup rohani dan persaudaraan.

Apa himbauan bapak uskup kepada keluarga-keluarga yang ada di keuskupan Sibolga?
Keluarga adalah Gereja domestic, persekutuan umat Kristen dalam suasana rumah. Maka di kehidupan di rumah-rumah peerlu tetap dibangun hidup yang didasari iman: mendengarkan Kitab Suci, berdoa bersama, hidup kasih dan penanaman nilai-nilai injili dan mengamalkannya. Maka perlu Kristus menjadi poros hidup keluarga.
Bisa bapak uskup beri gambaran kira-kira bagaimana Keuskupan Sibolga yang uskup harapkan ke depan?
Setelah merayakan 50 tahun keberadaannya, tahun 2009, yakni sejak menjadi frefektur apostolic, Keuskupan Sibolga menjadi Gereja yang dinamis, mandiri dan solider, dimana awam berperan baik dan tenaga pastoral memadai, dimana nilai-nilai injili dihayati dengan nyata.

Pesan khusus kepada para pembaca Warta Keuskupan?
Pesan saya agar Warta Keuskupan kita pergunakan sebagai sarana komunikasi tertulis bagi Keuskupan Sibolga: antara keuskupan dengan umat dan umat dengan keuskupan. Maka berita-berita dari paroki dan komisi-komisi akan memperkaya umat. Oleh karena itu, hendaklah warta keuskupan ini kita pergunakan dengan baik. Saya harapkan bahwa mereka yang berbakat menulis, juga mengisi warta keuskupan ini.
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.