Headlines News :
Home » » Kesaksian Hidup yang Baik

Kesaksian Hidup yang Baik

Written By Keuskupan Sibolga on Sabtu, 07 November 2009 | 19.43

Pernah di ruang rekreasi, seorang bapa yang kebetulan bertamu ke pastoran, bercerita bahwa kemarin malamnya terjadi pembacokan. Bapa ini menceriterakan menditeil dan runtut peristiwa pembacokan itu. Lalu Pastor menanyakan siapa preman yang membacok itu. Ternyata seorang Katolik dari satu stasi di paroki nya. Mendengar itu Pastor sangat jengkel dan kecewa, karena merasa bahwa umat yang digembalakannya memberi kesaksian hidup yang buruk dan meringkuk di penjara.

Setiap orang beriman dipanggil untuk memberi kesaksian akan imannya dalam hidup yang nyata. Kepada murid-murid yang telah hidup bersama Yesus dan telah mengalami kebang kitanNya, sebelum naik ke surga Yesus berpesan: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk 24,48). “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1,8). Dan para murid telah melaksana kan pesan itu, sehingga warta Kristus sampai ke seluruh dunia.

Kesaksian kita tidak tergantung pada tingkat pendidikan. Para rasul adalah orang-orang sederhana, bukan kaum terpelajar. Tapi ke sak sian mereka sungguh nyata, bahkan hingga rela mati demi imannya. Kesaksian kita yang baik tergantung pada penghayatan iman kita. Si preman tadi tidak menghayati apa yang diimaninya, yakni bahwa dia mesti mengasihi sesamanya, dan kalau sesamanya itu bersalah, mesti diampuninya, bahkan kalaupun dia disa kiti, tidak boleh membalasnya.

Di prasinode cukup banyak peserta mengamini ungkapan yang mengatakan bahwa pada umumnya penghayatan keagamaan kita masih sebatas ibadah. Artinya apa yang kita rayakan di gereja masih kurang berpengaruh dalam tindakan dan perilaku kita sehari-hari. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran bahwa apa yang kita rayakan mesti kita hayati dalam hidup nyata. Perumpamaan Yesus tentang be nih yang jatuh di tanah yang berbeda-beda me nga jak kita untuk menjadi tanah yang subur, yak ni menjadi orang yang mendengarkan fir man Tuhan, menyimpannya dalam hati yang ba ik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (bdk Luk 8,15). Sabda Tuhan yang kita dengar kan dalam ibadat dan kita imani, kita usahakan dengan ketekunan agar menghasilkan buah dalam hidup nyata. Demikian juga sakramen yang kita rayakan dengan khidmat di gereja, terutama Ekaristi mesti membuat kita menjadi orang yang penuh kasih, rela mengampuni rela berkorban, cinta damai, dan disukai sesama. Dengan demikian orang dapat melihat dan merasakan buah-buah iman kita.

Biasanya orang pertama-tama melihat apa yang baik yang kita tampilkan atau lakukan, baru kemudian bertanya: mengapa demikian, lalu siapa dan dari mana kita, apa agama kita, dan sebagainya. Orang melihat kesaksian iman kita bukan pada saat-saat tertentu ketika kita sedang baik-baik, tapi kapan dan di mana saja, bahkan sering ketika kita sedang mengalami kesulitan atau dalam situasi buruk. Lagi pula kita tahu bahwa kita manusia cenderung melihat yang kurang baik pada teman, seperti diungkapkan Yesus sendiri dalam perumpamaan tentang selumbar di mata orang lain (Mat 7,1-5). Oleh sebab itu setiap saat dan di segala tempat kita mesti memberi kesaksian akan iman kita dengan perkataan dan perbuatan yang baik.[]

Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.