Headlines News :
Home » » Makna Natal Post Sinode

Makna Natal Post Sinode

Written By Keuskupan Sibolga on Minggu, 27 Desember 2009 | 18.28

Salah satu agenda terpenting dari Tahun Jubileum Keuskupan Sibolga adalah Sinode. Sinode keuskupan adalah himpunan imam-imam dan orang-orang beriman kristiani yang terpilih dari Gereja partikular, untuk membantu Uskup diosesan demi kesejahteraan seluruh komunitas diosesan (KHK kan 469). Dalam sinode, umat awam, biarawan/wati, para pastor dan uskup duduk bersama, merencanakan arah pastoral Keuskupan.

Sinode telah berlangsung tanggal 12-16 November 2009 di LPTK Mela-Sibolga yang diakhiri dengan pernyataan dan tekad bersama untuk mewujudkan visi misi Keuskupan Sibolga dan mendukung program-program post-Sinode. PERNYATAAN DAN TEKAD SINODE PERDANA KEUSKUPAN SIBOLGA merupakan muara dari semua Analisa Sosial (Ansos) yang diadakan mulai dari tingkat stasi, rayon, paroki dan dekanat. Dengan demikian pernyataan dan tekad itu sekaligus juga menjadi tekad seluruh umat sekeuskupan.
Sinode Keuskupan Sibolga telah menemukan 11 permasalahan pokok yang dihadapi umat. Kesebelas perma sa lahan itu antara lain: pertama, banyak umat Katolik kurang kreatip dalam berwirausaha; kedua, ketergantungan pangan pada pihak luar; ketiga, Gereja kurang terlibat dalam pastoral politik; keempat, pemerintah kurang peduli terhadap masyarakat dalam hal pelaya nan kebutuhan dasar (pangan, peruma han, air, listrik, kesehatan, pendidikan); kelima, ketidaksetaraan gender; kee nam, solidaritas antar warga kurang; ketujuh. biaya pelaksanaan adat mem be bani masyarakat; kedelapan, mutu pendidikan menurun; kesembilan, pen di dikan nilai dalam keluarga semakin kurang; kesepuluh, sebagian besar pe tu gas pastoral belum bermutu dalam hal wawasan dan keterampilan; kesebelas, kurang pemahaman umat tentang ajaran iman. Para peserta sinode sepakat untuk mengatasi permasalahan di atas demi kesejahteraan bersama.
Sinode dan hasilnya adalah wujud harapan yang sudah lama dinantikan. Tahapan sinode sendiri sudah diawali sejak setahun lalu lewat analisa sosial dalam setiap bidang kehidupan umat. Namun sebetulnya harapan untuk menemukan arah pastoral sudah ada jauh sebelumnya. Analisa sosial dan survey diadakan mulai dari tingkat yang paling bawah. Hasilnya, sebelas permasalahan yang sangat fundamental.

Tetapi sinode tidak berhenti pada penemuan masalah dan rencana strategis untuk mengatasinya. Hasil Sinode dan Renstra yang telah disusun hanya lah sebuah kandungan potensi yang belum berwujud (actus). Aktualisasi dari Sinode dan Rens tra adalah melahirkan keadilan dan damai demi kesejahteraan bersama (bonum communae). Dalam konteks visi keuskupan program pastoral post sinode harus mendorong lahirnya kemandirian, solidaritas dan pembebasan.

Akan tetapi itu tidaklah mudah. Proses melahirkan keadilan dan damai biasanya mendapat banyak tantangan. Tantangan bisa datang dari luar tetapi sangat mungkin juga berasal dari dalam diri sendiri. Herodes-Herodes baru bisa saja muncul dan tidak menghendaki lahirnya keadilan dan damai. Selain itu boleh jadi kita sendiri tidak mau membe rikan rumah hati kita bagi kelahiran itu sendiri.

Lahirnya Yesus di kandang adalah gambaran tertutupnya hati bagi kelahiran keadilan dan damai. Tiada satu orang pun yang bersedia membuka rumah dan membiarkan Yesus lahir di rumahnya. Herodes bahkan bersikap lebih ektrim, diam-diam Herodes mencari informasi tentang Yesus untuk kemudian berencana membunuh-Nya. Herodes menganggap kelahiran Yesus sebagai ancaman bagi jabatan dan kursi empuk yang didapatnya.
Sabda yang telah menjadi daging merupakan simbol solidaritas penuh dari Yesus bagi kerapuhan manusiawi. Yesus mengambil bagian dalam kerapu han manusia untuk selanjutnya membantu kemanu siaan untuk mandiri dan membebaskannya dari kungkungan dosa dan maut. Solidaritas itu sendiri tidak terbatas pada golongan dan kelompok tertentu tetapi berlaku secara universal, untuk semua orang. Dia datang untuk memberi harapan bahwa keadilan dan damai harus diwujudkan di bumi. Dia datang mem ba wa pembebasan bagi mereka yang ketakutan dan enggan bersaksi tentang keadilan dan damai.

Berkaca dari kelahiran Yesus Kristus yang penuh tantangan, kita diajak untuk memasuki adven bersama. Gerakan adven ini adalah gerakan pertoba tan bersama, gerakan penyamaan persepsi. Jika mau melahirkan damai dan keadilan setiap sudut hati harus dicahayai roh yang bersumber dari keilahian. Dari sudut hati yang dicahayai keilahian itulah gerakan bersama dapat dimulai.

Dalam sesi pembahasan program pastoral dan rencana strategis 2010-2014 lanjutan, 28-30 Novem ber 2009 di Kristoforus, seorang imam senior mem ba yangkan kesulitan-kesulitan yang mungkin bakal dihadapi dalam menjalankan program pastoral masa mendatang.

Namun imam tersebut tetap optimis dan mendorong dilahirkannya program-program untuk mewujudkan visi dan misi keuskupan. Nampaknya memang tak ada pilihan lain bagi sebuah keuskupan yang berusia 50 tahun tetapi belum memiliki arah dasar pastoral yang jelas selain membuat program pastoral untuk mewujudkan visi misi keuskupan itu sendiri.

Penulis sadar untuk mewujudkan ide dan gagasan di atas ditaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh banyak energi, pengorbanan dan kemauan bersama untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Kini, sinode telah usai. Hambatan-hambatan pastoral telah diinventarisir. Dalam semangat natal sekali lagi, perlulah kita berjalan bersama, membuka hati bagi lahirnya kemandirian, solidaritas dan pembebasan. Selamat Natal, semoga Tuhan lahir dalam rumah hati kita masing-masing [paulus p manalu,pr].
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.