Headlines News :
Home » » Menyambut Baik Tahun Imam

Menyambut Baik Tahun Imam

Written By Keuskupan Sibolga on Minggu, 23 Agustus 2009 | 19.57

Mgr Ludovicus Simanullang

Bapa Suci Benedictus XVI memberikan perhatian khusus bagi para imam. Tahun lalu beliau telah menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus menjadi hari doa sedunia untuk pengudusan para imam, supaya ada kesempatan khusus untuk mendoakan para imam. Tidak cukup hanya itu, Bapa Suci masih menentukan satu tahun khusus untuk menjadi tahun imam, yakni 19 Juni 2009 sampai 19 Juni 2010, yang bertepatan dengan peringatan 150 tahun wafatnya St. Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam.

Untuk mempromosikan tahun imam ini Prefek Kongregasi Klerus menulis surat kepada para imam di seluruh dunia. Teksnya dapat kita baca dalam edisi Warta Keuskupan ini. Tahun imam ini menjadi kesempatan khusus bagi Gereja untuk mengungkapkan dengan jelas dan terbuka bahwa “Gereja berbangga dengan para imamnya, mencintai mereka, menghormati mereka, mengagumi cara hidup mereka dan bahwa Gereja mengakui dengan penuh syukur karya pastoral dan kesaksian hidup para imamnya”. Sesuai dengan harapan Bapa Suci, tahun imam ini dimaksudkan untuk mendorong para imam dalam menggapai kesempurnaan rohani, yang menjadi landasan keberhasilan pelayanan mereka. Apa kita buat menyambut Tahun Imam ini?

Menyebar-luaskan kepada Umat

Surat Prefek Kongregasi Klerus ini dialamatkan kepada para imam. Karena surat ini ditujukan kepada para imam, bisa jadi umat kurang memberi perhatian atas surat ini. Oleh karena itu teks surat itu dimuat di dalam Warta Keuskupan ini, agar seluruh umat dapat membacanya dan mengetahui makna dan harapan dari tahun imam ini, sehingga umat dapat ikut serta ambil bagian di dalamnya.

Untuk mensosialisasikan tahun imam ini kepada umat, mungkin para imam sendiri merasa segan, karena menyangkut dirinya sendiri. Oleh karena itu sangat diharapkan katekis, anggota DPPI, Lektor/Porhanger dan pengurus Gereja menerangkan dengan baik tahun imam ini kepada umat, supaya mereka sungguh terlibat. Demikian juga diharapkan kreativitas umat untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung tahun imam ini.

Menghargai Imamat Tahbisan

Seluruh Gereja pantas bergembira atas inisiatif Bapa Suci ini. Meskipun kita di Keuskupan Sibolga sibuk dengan yubileum dan sinode keuskupan, mari kita sambut tahun imam ini dengan antusias. Tahun imam ini tidak bertentangan dengan kegiatan-kegiatan yubileum dan sinode, sebaliknya sangat terkait mengingat bahwa Gereja tidak bisa hidup tanpa pelayanan para imam. Maka tahun imam ini penting bukan hanya bagi para imam, tapi juga bagi seluruh umat.

Pada tahun imam ini perlu diyakini oleh seluruh Gereja: umat dan para imam sendiri, martabat imamat tahbisan. Keyakinan akan martabat itu hendaklah tampak dalam persekutuan dan persahabatan imam dengan umat yang dilayani. Maka yang perlu dikembangkan ialah hubungan yang saling membutuhkan, saling menghargai dan saling mengasihi antara imam dan umat, hubungan yang saling menguatkan, bukan saling mengkritik melulu dan mempersalahkan. Para imam membutuhkan penghargaan dan dukungan umat atas imamatnya, agar mereka dapat bekerja dalam melayani umat dengan baik. Tetapi juga para imam perlu menghargai dan menghayati imamatnya dengan baik, sehingga mereka bersemangat dan bergembira dalam melayani umat.

Tentang keluhuran imamat St. Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam, mengungkapkan dengan bahasa yang sangat sederhana: “Sakramen Imamat menaikkan manusia hingga sampai pada Tuhan. Betapa luar biasanya seorang imam! Seorang yang menduduki tempat Tuhan – seorang yang diperlengkapi dengan segala kuasa Allah”. Kuasa itu ialah kuasa untuk menghadirkan Kristus dalam mengampuni dosa, dalam Ekaristi, untuk mengikutsertakan umat beriman memiliki harta pusaka surgawi. Ia menambahkan: “Seandainya kita tidak memiliki Sakramen Imamat, kita tidak akan memiliki Kristus”. Maksudnya hanya dengan pelayanan sakramen-sakramen oleh imam, orang beriman dapat menerima Kristus. Ia juga mengatakan: “Imam adalah jantung Hati Yesus. Jika kamu melihat seorang imam, pikirkanlah Tuhan kita Yesus Kristus” (Kotbah dan Katekese Yohanes Maria Vianney, h.113-118).

Baik juga kita ingat sikap St. Fransiskus dari Asisi terhadap para imam, yang dituliskan dalam Wasiatnya pada tahun 1226:
“Kalaupun aku begitu bijaksana seperti Salomo dan menjumpai imam-imam yang amat malang di dunia ini, aku tidak mau berkotbah di paroki tempat mereka tinggal, kalau mereka tidak menghendakinya. Aku mau menyegani mereka dan semua lainnya, mau mengasihi dan menghormati mereka sebagai tuanku. Dan aku tidak mau tahu tentang dosa dalam diri mereka, sebab di dalam diri mereka aku dengan jelas melihat Putera Allah, dan mereka itu adalah tuanku. Aku berbuat demikian, karena di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah Yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain Tubuh dan DarahNya yang mahakudus, yang mereka sambut dan yang hanya mereka sendiri boleh menghidangkannya kepada orang lain” (Wasiat 6-10).
Tulisan St. Fransiskus ini memang berlatar-belakang abad pertengahan, di mana banyak imam yang kurang terpuji hidupnya. Tapi intinya tetap aktual, yakni hormat terhadap para imam karena tahbisan imamat yang membuat mereka menjadi pelayan yang menghadirkan Kristus bagi umat beriman. Beberapa Tarekat Keluarga Fransiskan masih mengikuti semangat St. Fransiskus ini dengan mengadakan doa khusus bagi para imam secara teratur. Kita harap ada nanti teks doa untuk mendoakan para imam sepanjang tahun imam ini sebagai tanda dukungan, hormat dan kasih mereka terhadap para imam.

Pertemuan-pertemuan

Bagi para imam telah ditetapkan dalam rapat Dewan Imam untuk mengadakan pertemuan para imam sekali sebulan per Dekanat dengan topik-topik yang terkait dengan hidup dan karya para imam. Masing-masing dekanat sudah mengadakan pertemuan satu kali. Diharapkan pertemuan-pertemuan ini menyentuh hati para imam sendiri, menyegarkan dan membaharui semangat mereka dalam melayani umat. Pertemuan-pertemuan akan lebih intensif nanti setelah sinode dan perayaan penutupan Jubileum kita.

Sangat baik kalau dalam pertemuan-pertemuan umat, doa lingkungan atau pertemuan khusus dibicarakan topik-topik yang terkait dengan tahun imam ini: hal-hal yang mendukung para imam, perhatian atas hari-hari penting mereka, program khusus dalam rangka tahun imam ini.

Panggilan Imam

Keuskupan Sibolga masih sangat kekurangn tenaga imam. Masih terlalu sedikit murid di Seminari Menengah kita di Aek Tolang. Pada tahun imam ini kita perlu berdoa secara khusus bagi panggilan calon imam dan berpikir bersama menumbuhkan panggilan imam. Pengalaman mengatakan bahwa dasar panggilan yang utama adalah pendidikan di dalam keluarga. Maka para orangtua perlu mengusahakan pendidikan yang baik bagi anak-anak di dalam keluarga, agar dari mereka ada yang dipanggil Tuhan menjadi imam, dan demikian juga untuk menjadi biarawan-biarawati.

Untuk mendukung pembinaan di Seminari Menengah, di Indonesia ada GOTAUS (Gerakan Orangtua Asuh Seminaris), yang memberi perhatian khusus bagi para seminaris dengan doa dan pengumpulan dana. Bagaimana di Keuskupan Sibolga, apakah tidak bisa kita bentuk GOTAUS, yang nanti bergabung dengan GOTAUS yang sudah ada di tempat lain?

Di Keuskupan Sibolga, seperti keuskupan-keuskupan lain, sudah sejak lama kebiasaan di setiap stasi mengadakan kollekte khusus untuk Seminari satu kali dalam satu bulan. Ini adalah tanda keikut-sertaan kita dalam mendukung pendidikan di Seminari dari segi finansial. Ada baiknya pada tahun imam ini, umat menyadari makna dari kollekte Seminari tersebut dan memberikannya dengan kesadaran penuh.

Semoga tahun imam ini membawa rahmat berlimpah bagi para imam dan seluruh umat di Keuskupan Sibolga ini. Salam dan berkat Tuhan.

Mgr. Ludovicus Simanullang
Uskup Keuskupan Sibolga
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.