Headlines News :
Home » » Obor Peradaban

Obor Peradaban

Written By Keuskupan Sibolga on Minggu, 01 Januari 2012 | 18.08

Pemberdayaan para petugas pastoral yang diharapkan bisa menggerakkan pember da ya an di bidang ekonomi, politik, keluarga, solida ri tas antar warga, pengembangan tata nilai baru dan peningkatan pemahaman umat tentang aja ran iman katolik, merupakan program-program strategis demi memenuhi kebutuhan mendesak gereja lokal KS.

Menelusuri kembali jejak pasto ral kita dalam setahun ini, nampak bahwa kita telah berjuang sedemikian untuk mengimple mentasikan Visi dan Misi KS dalam aneka kegia tan. Di bulan Februari, para ketua komisi, biro dan lembaga telah mengadakan koordinasi awal dalam rangka melihat kesanggupan masing-ma sing dalam menjawab usulan kegiatan dari tiap-tiap paroki. Paroki-paroki pun terus menggeliat, menjalankan kegiatan demi kegiatan. Pada bu lan Mei, sebagai suatu komunitas KS kita bersa ma telah mengadakan Evaluasi tengah tahunan. Lekas sesudahnya, diadakan lagi koordinasi antar komisi, biro dan lembaga.

Dalam rangka membantu kita semua dalam membuat suatu eva lu asi dan perencanaan pastoral yang matang, kita juga telah mengadakan ansos dan renstra pastoral baik bagi petugas pastoral tertahbis maupun awam di kedua dekanat, sela ma paruh terakhir bulan September. Lebih seru lagi, selama bulan oktober dan berlanjut hingga hari ini, kita telah intens dalam berpikir, bekerja, merenungkan tentang kemajuan dan kekura ngan dari seluruh proses karya pastoral kita di masing-masing paroki, komisi, biro dan lembaga yang ada di Keuskupan Sibolga yang tercinta ini.

Ya... kita masuk dalam suatu pola kerja baru dalam berpastoral yang kita yakini bisa memung kinkan kita bersama tumbuh dan ber kem bang menjadi umat beriman yang Mandiri, Solider dan Membebaskan.

Melalui sharing antar anggota PHP (Pengurus Harian Puspas) yang ikut berpartisipasi dalam memfa silitasi evaluasi dan perencanaan pastoral tahunan di sejumlah paroki, nampak bahwa budaya lisan masih sangat kuat mewarnai para PP (Petugas Pastoral baik kaum awam maupun tertahbis) awam kita.

Dalam dina mika kelompok nampak bahwa kebanyakan dari mere ka agak malas berfikir, miskin dalam refleksi apalagi mes ti menuangkannya dalam bentuk tulisan. Namun yang menarik adalah mereka terbuka untuk ikut bergu mul dalam metodoligi pastoral yang baru. EVAPERTA (Evaluasi dan Perencanaan Tahunan) 2011/2012 telah memperkenalkan kepada kita semua suatu sistematika kerja baru.

Para PP dikondisikan untuk rajin berpikir, rajin bekerja, rajin berefleksi melampaui kerja hanya apa adanya. Selain melihat apa yang menarik bagi diri sendiri, kita juga telah diperkenalkan untuk melihat lebih jauh apa yang dibutuhkan dan apa yang berguna baik bagi komunitas intern maupun warga masyarakat luas.

Dan mengagumkan ... kalau pada awal-awal, sejumlah PP masih mempertanyakan : akan menjadi apa kah PUSPAS dan Metodologi Spiral Pastoral di kemudian hari di Keuskupan ini; dan akan dibawa ke mana kah Keuskupan Sibolga ini? Ternyata sekarang... kendati pelan namun pasti ... semakin banyak orang tertarik dan tahu apa makna terdalam di balik pastoral yang partisipatif ini. Memang efeknya langsung terasa yakni bahwa orang mesti ramai berbicara, capai meni lik, lama duduk bersama, lelah mendengarkan bahkan menegangkan kala berargumentasi.

Suasana dan dina mi ka pastoral kita yang konkrit ini, membuat saya teringat pada kesaksian inspiratif Barnabas perihal pengalamannya bersama St. Paulus, (saya kutip dari Novel Paulus):
Saulus adalah orang benar, terpelajar, kuat dan teguh. Ketika berjalan dia membuat aku kelelahan. Tetapi ketika berbicara dia menjadikan aku orang bijaksana. Ya.., Allah telah mengirimkan pada kami seorang guru. Ya seorang guru sejati. Paulus membuat kami bernafas lebih cepat, berjalan lebih bergegas dan tertawa lebih keras. Mati lebih cepat.

Ti poieso, Kyrie? Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Ya, metodologi spiral pastoral telah meng hentak kita untuk berpikir lebih serius, berefleksi lebih dalam, bekerja lebih rajin, bernafas lebih cepat, berjalan lebih bergegas dan tertawa lebih keras. Saya tidak mau lanjutkan menurut Barna bas...Why? Kita lakukan semuanya itu karena kita ingin agar pastoral yang kita jalankan sungguh menjawab kebutuhan umat, tepat sasar dan karena itu khas ceritra KS. Mengapa kita mau terbenam dalam semua kondisi ini? Karena kita tidak mau tergoda, bak kebanyakan pengusaha real estate yang lebih gandrung untuk membangun kota baru “Singapura of Surabaya” lengkap dengan ikon Singa Putih” atau “Europe of Puncak Bogor” tetapi serentak dengan itu, mereka telah meninggalkan arsitektur khas budaya bangsa, tidak kontekstual.

Evaperta paroki yang telah dijalankan di seluruh Keuskupan Sibolga telah menjadi sebuah indikator gamblang bahwa baik Para Petugas Pas to ral maupun umat KS tak pernah enggan bermim pi menjadi K. Sibolga. Memang proses evaluasi dan perencanaannya membutuhkan waktu yang pan jang dan pengorbanan yang cukup, namun kita tahu bahwa semua korban itu demi mengangkat marta bat manusia beriman KS. Ansos telah memper ta nyakan dan menggoyang anggapan-anggapan lama yang salah dan berbarengan dengan itu beru saha mencari apa yang baru, yang lebih dekat dengan kebenaran yakni Gereja Yesus Kristus yang Mandiri, Solider dan Membebaskan.

Seorang warga Papua bertamsil tentang banjir besar yang menghanyutkan ikan dan satwa. Seekor kera ikut terseret, tetapi ia bisa menyelamat kan diri dengan menggapai batang pohon. Begitu selamat, terlihat olehnya seekor ikan jumpalitan tersapu arus. Ia berusaha menyelamatkannya dengan menarik ikan ke dahan. Kala banjir reda, ia dapati ikan yang ditolongnya mati sia-sia.

Saya yakin kita semua sepakat bahwa kita tidak mau menjalankan sebuah karya pastoral entah jangka pendek maupun jangka panjang, dengan beru jungkan kesia-siaan. Karena itu, sekaranglah wak tunya yang tepat, kita semua sebagai sebuah anggota komunitas Keuskupan Sibolga yang dire pre sen tasikan oleh para pemimpin dari setiap paroki, berkumpul bersama-sama saling mendengar, saling bertukar pengalaman dan bersama-sama mengana lisis lagi secara lebih mendalam evaluasi karya pastoral 2010 – 2011 dari masing2 paroki, komisi, biro dan lembaga. Dan kita juga akan dengan sek sama menilik, apakah perencanaan kita untuk 2011 – 2012 memang sungguh strategis dalam menjawab seca ra tepat sasar baik kebutuhan umat di akar rumput, maupun inti pesan dari SINODE KEUS KU PAN SIBOLGA I?

Obor peradaban kemanusiaan dan pertang gung jawaban iman telah dinyalakan sejak Sinode I KS. Apakah obor itu makin terang, sama saja atau ma lah menjadi suram. Mari kita ikuti dengan seksama seluruh rangkaian pertemuan pastoral tahunan ini. [Pst Doni Ola, Pr adalah Direktur PUSPAS Keuskupan Sibolga]
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.