Headlines News :
Home » » Penutupan Tahun Imam

Penutupan Tahun Imam

Written By Keuskupan Sibolga on Kamis, 08 Juli 2010 | 17.25

Tahun imam yang sudah berlangsung selama setahun penuh (Juni 2009-Juni 2010) ditutup secara resmi, 11 Juni 2010. Penutupan tahun imam untuk dekanat Tapanuli itu diawali dengan rekoleksi yang dipimpin langsung Mgr Ludovicus Simanullang, OFMCap. Dalam rekoleksi bersama para imam dan DPPI dari tiap paroki yang ada di dekanat Tapanuli bapak uskup menekankan pentingnya kolegialitas atau kebersamaan para imam.

Kolegialitas para imam menurut bapak uskup harus diwujudkan dalam setiap komunitas dan acara-acara bersama. Secara kritis Mgr Ludo menilai bahwa sekarang ini, kollegialitas para imam masih bersifat dangkal. Hal ini secara sederhana ditandai oleh kurangnya kesadaran para imam akan pentingnya kebersamaan di antara mereka. Sebagai contoh, menurut Mgr Ludo, bila ada acara bersama yang dilangsungkan di Nias, para imam dari Tapanuli banyak yang tidak hadir, demikian juga sebaliknya.

Untuk mengetahui suka duka para imam dalam tugas pelayanannya, dua orang imam mensharingkan pengalaman mereka dalam menjalani panggilan hidup sebagai imam. Pst Gratianus Tinambunan, OFMCap mensharingkan bagaimana awal panggilannya tumbuh sampai menjalani tugas-tugas di berbagai tempat. “Saya memiliki banyak tempat tugas, paroki, pendidikan, komisi dan sering pindah tapi saya menikmatinya” ungkap pastor yang kini menjadi moderator paroki Padangsidempuan ini.

Tak ketinggalan, Pastor Servasius Sihotang OFMCap yang diminta untuk mensharingkan pengalaman panggi lannya bercerita tentang pengalaman beliau tinggal bersama para imam dari ordo dan kongregasi lain. Menurut Ketua Yayasan Budi Bakti ini, ordo dan kongregasi adalah kekhasan dan keunikan Gereja. “Tak perlu terlalu dibeda-bedakan” ungkap beliau.

Perayaan ekaristi yang dipimpin oleh bapak uskup, dihadiri oleh banyak umat. Dalam kotbahnya bapak uskup mengatakan bahwa Yesus adalah Pastor Bonus dari hati yang ditembus tombak (menderita) yang mengalirkan rahmat lewat hati Yesus Yang Maha Kudus. “Imam adalah jantung hati Yesus yang mengalirkan rahmat lewat sakramen-sakramen bagi semua umat beriman. Dan kebanggaan Imam adalah apabila dapat menyelamatkan jiwa umat beriman.” cetusnya. Maka diharapkan kepada setiap imam untuk tetap berbahagia dan memelihara panggilan. ”Ingatlah kerinduan umat, dan lakukanlah pendekatan, sabar, dan berdialog, turut merasakan dan tinggal di tengah-tengah umat, sehingga dapat berperan memelihara jiwa-jiwa umat dalam tugas perutusan yang diemban” amanat uskup bagi setiap imam.

Bapak uskup meminta para imam untuk melihat dan memaknai mulianya imamat tahbisan mereka. Bapak uskup juga meminta meski tahun imam ditutup secara resmi, tapi tidak berarti permenungan akan panggilan sebagai imam juga berhenti. Bapak uskup meminta agar umat terus mendoakan para imam agar tetap setia dan menjadi gembala yang baik.

Usai perayaan misa Bapak Uskup dan 22 orang imam disambut dengan tari-tarian khas Gondang Batak dari pastoran menuju aula. Rombogan para imam dan biarawan-biarawati digiring oleh barisan umat menuju aula. Di aula itulah acara ramah tamah dikemas sedemikian meriah oleh umat. Dan masing-masing imam diulosi (dipakaikan ulos) sambil menari-nari oleh tokoh-tokoh umat yang spesial telah mereka rancang dengan unik khas daerah. Sedemikian meriahnya acara itu berlangsung sampai pada pukul 14.30 WIB.

Penutupan Tahun Imam di Nias
Sementara itu, seminggu kemudian [18/6/2010] Denakat Nias juga mengadakan acara penutupan Tahun imam. Penutupan tahun imam diadakan pada sore hari di Gereja St Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli. Acara ini sekaligus menjadi bagian tak terpisah dari rekoleksi seluruh imam yang diadakan di Laverna pada pagi hari.

Pada acara rekoleksi, bapak uskup mengajak para imam untuk memandang pentingnya kolegi alitas para imam. Pst Hieronymus Simorangkir, Pr yang juga diminta oleh pengurus dekanat Nias untuk mengisi rekoleksi ini mengajak para imam untuk memandang pentingnya rekonsiliasi atau pertobatan batin. Ketua STFT St Yohanes Pematangsiantar ini pada kesempatan yang sama mengajak para imam untuk merenungkan panggilan mereka sebagai imam yang menerima pengakuan dosa. Acara rekoleksi akhirnya ditutup dengan acara pengakuan dosa.

Penutupan tahun imam di Gunungsitoli tak kalah meriahnya. Acara yang dikemas dengan santai dan penuh kekeluargaan itu berlangsung di depan Gereja St Maria Bunda Para Bangsa. Umat dan para imam tampak berbaur dengan penuh kekeluargaan pada acara ramah tamah dan makan bersama.

Acara itu menjadi sangat spesial, karena pada kesempatan itu beberapa pastor diminta untuk menyanyikan lagu kesayangannya. Tak kurang dari Pst Sebastian Sihombing OFM Cap diminta untuk menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pst Samuel Gulo dan Pst Dominikus Sidauruk OSC juga tak ketingggalan. Mereka turut menyumbangkan suara emasnya untuk memeriahkan acara itu. [p3m]
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.