Headlines News :
Home » » Sukacita di Rumah Bapa

Sukacita di Rumah Bapa

Written By Keuskupan Sibolga on Rabu, 04 Februari 2009 | 21.04

“Menyongsong Masa Prapaskah”

Siapa di antara kita (kaum kristiani) yang belum pernah mendengar perumpamaan tentang ‘seorang bapak yang berbelaskasih’ dan ‘kedua putranya’, ‘si bungsu’ (pemboros) dan ‘si sulung’ (tidak bisa diajak kompromi), sebagaimana dikisahkan Yesus dalam Injil Lukas (15, 11-32)? Bapak manakah yang tega menolak kehadiran anaknya yang telah menghabiskan hartanya dengan hidup berfoya-foya dan menghardiknya dengan kata-kata yang menyakitkan? “Engkau telah menghabiskan sebagian dari hartaku dan kini engkau bersujud di hadapanku untuk memohonkan belaskasihku! Enyalah dari hadapanku! Atau, tatkala melihat putranya mendekatinya, sang bapa bergegas mendapatinya, memeluk dan menciumnya?

Sosok bapak yang berbelaskasih dalam kisah Yesus ini melukiskan sikap Bapa-Nya sendiri. Sebagai Putra Tunggal Bapa, Yesus sungguh-sungguh mengenal dan menyelami isi hati-Nya. Karena itu, dengan kata-kata yang menyejukkan, Dia memperkenalkan kepada kita bahwa Bapa-Nya “tidak merasa nyaman jika salah seorang dari putera-Nya menjauh dari-Nya sebagai sumber kehidupan”.

Untuk menyelami sikap batin Bapa-Nya dan Bapa kita semua, adalah sangat penting, jika kita menyimak dan mencerna perkataan-perkataan yang terlontar dari mulut sang bapak yang berbelaskasih!

“Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembuh tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita” (Luk 15,22).
Sang bapak selalu membayangkan keadaan puteranya yang sudah menjauh darinya dan menantinya penuh kerinduan. Tatkala puteranya kembali, batinnya diliputi kebahagiaan meluap. Dia ingin berbagi sukacitanya bersama seluruh keluarga dan para hambanya dalam sebuah pesta meriah. “Kita patut bersukacita dan bergembira”, tegas sang bapak, disaat niatnya dicekal oleh putera sulungnya karena adiknya sudah memboroskan harta mereka bersama-sama pelacur-pelacur jalanan!

Pesta yang diselenggarakan ini lahir dari luapan batin sang bapak yang bersukacita karena puteranya telah “mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”. Melalui pesta meriah ini, sang bapak ingin memperlihatkan kepada dunia, bahwa cintanya tidak surut setitik pun, kendati puteranya telah meninggalkan dan menjauhkan diri darinya. Bahkan, tatkala puteranya semakin menjauh, dia semakin mencintai dan mendekatinya dengan “hati dan jiwa kebapaannya”.

Demikianlah lukisan hati dan cinta Bapa di Surga. Kekuatan cinta dan belaskasih-Nya merangkul kembali putera-puteri-Nya yang sudah meninggalkan-Nya (“mati, hilang” karena dosa) dan kembali ke pangkuan-Nya. “Hati-Nya selalu tergerak untuk mencari, mendekati, merangkul dan mencintai karena Dia tidak mau kehilangan salah seorang dari putera-puteri-Nya yang adalah gambar dan citra-Nya sendiri”.
Tindakan cinta Sang Bapa selalu mendahului gerakan batin dan niat putera dan puteri-Nya untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Paulus menegaskan keyakinanya ini dengan kata-katanya: “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” (Ef 2,4-6).

“Pelukkan yang Menyembuhkan”
Sang bapak yang berbelaskasih tidak tega melihat puteranya dibalut “keletihan”, akibat luka di kakinya sehingga tidak memungkinkannya untuk berjalan bebas (konsekuensi dari dosa-dosanya), dan kehilangan martabatnya sebagai “seorang putera”, sehingga bekerja seorang upahan (penjaga babi).[1] Disaat menyambut dan memeluk puteranya, sang bapak bergegas memerintahkan para pelayannya, “Lekaslah bawah ke mari jubah yang terbaik, cincin dan sepatu”.

Pelukan kasihnya menyembuhkan keletihan, memulihkan dan mengembalikan martbatnya sebagai seorang putera. “Pelukan” dan “Perjamuan Meriah” (Pesta) ini menjadi karakter dasar dari Sakramen Pendamaian (Sakramen Rekonsiliasi)): Di saat berada dalam rangkulan kasih Allah, kita disembuhkan dari segala kejahatan dan dosa kita. Rahmat Sakramen ini mendamaikan kita dengan Allah dan sesama serta memungkinkan kita terlibat dalam kebahagiaan para Malaikat dan para Kudus Allah.

Apa yang harus dilakukan?
Dimanakah ditemukan seorang dokter dan obat untuk menyembuhkan?
Bagi si bungsu, bapaknya adalah penghalang utama baginya untuk menggapai mimpi-mimpinya. Karena itu, disaat permohonannya dikabulkan, dia bergegas pergi untuk menggapai kebahagiaan yang didambakannya. Namun, kenyataan yang dihadapinya justru membawanya ke jurang kehancuran; hidupnya merana dan tersiksa.

Anehnya, di dalam derita dan letih yang tak tertanggungkan, dia tidak menyadari dan tidak menemukan kembali “martabatnya” sebagai salah seorang dari “putera bapaknya”. Niatnya untuk kembali (bangkit dan pulang), bukan lahir dari kesadarannya akan martabatnya sebagai seorang putera, melainkan dari penglihatannya atas sikap bapaknya yang memperlakukan setiap upahanya secara istimewa; mereka tidak merana karena kelaparan. “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya […] Dia bangkit dan pergi menemui bapanya” dan pintu hati sang bapak pun terbuka baginya.

Pelukan kasih bapaknya membuka pikiran dan hatinya untuk menemukan kembali martabatnya sebagai “seorang putera”, bukan seorang upahan. Demikian juga dengan pelukan Sang Pencipta, Bapa kita, akan menyembuhkan, memperbaharui dan meneguhkan kembali martabat kita sebagai putera-Nya. Sang Bapa tidak mengingat pengalaman menyakitkan yang kita lakukan di masa silam, melainkan kenyataan yang dihadapinya saat ini dan kelak; tidak menginginkan martabat kita terhina dengan mengenakan pakaian yang tidak layak dan kondisi fisik (kesehatan) yang memprihatinkan disaat berada di rumah-Nya

Percikan Darah Putera Tunggal-Nya yang diutus untuk mencari dan menemukan kembali domba-domba-Nya yang hilang dari rumah-Nya berdaya menyucikan dan menyembuhkan. Berkenaan dengan misi Putera Tunggal Allah, Yesus Kristus, Petrus menegaskan kembali perkataan Yesaya, “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1 Ptr 2,25). Santo Paulus senantiasa mengingatkan kita bahwa di hari Penyucian bagi kaum Yahudi, imam agung mereciki penutup Tabut Pejanjian dengan darah binatang untuk menegaskan bahwa simbol dari Tabut Perjanjian dan penutupnya sudah diperbaharui dengan Darah Kristus sendiri: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Rm 3,25).

Obat penyembuh bagi semua kejahatan kita adalah darah Kristus sendiri. Sebagaimana dokter tidak bertindak dua kali untuk menyembuhkan pasiennya (pertama, mematikan akar penyakit dan kedua, menyembuhkan), tetapi hanya sekali bertindak untuk menyembuhkan dan melenyapkan penyakit, demikian juga dengan tindakan cinta Allah kepada kita: Allah serentak menyembuhkan dan membebaskan kita dari belenggu dosa. Obat penyembuh untuk meneguhkan kembali martabat kita dan membebaskan kita dari segala kejahatan dan dosa kita, bukanlah kekuatan magi, melainkan “tindakan cinta Allah” yang telah menciptakan dan senantiasa menciptakan serta memperbaharui kita, tanpa inisiatif kita.

Santo Agustinus (339-397) menegaskan keyakinan imannya dengan kata-kata ini, “Allah telah menciptakan engkau tanpa engkau, dan bisa menyelamatkanmu tanpa dirimu” (Sermone 169). Dengan pernyataan imannya ini, Agustinus mengingatkan kita akan sisi gelap kehidupan yang dilaluinya disaat dirinya dikuasai oleh ambisi, haus akan keuntungan (pendapatan) sehingga tidak mempedulikan panggilan Allah melalui ibunya. Ketika berusia tiga puluh tiga tahun, dia meminta agar dirinya dibaptis oleh Santo Ambrosius, Uskup Milano. Bagi Agustinus, kesediaannya untuk dibaptis, bukan lahir dari inisiatif atau gerakan batinnya, melainkan karena rahmat dan kekuatan cinta Allah yang bekerja di dalam dirinya. Allah yang sudah “menciptakannya” akan senantiasa “menciptakan dirinya”: memelihara, melindungi dan memperbaharui arah hidupnya sehingga dia berubah dari seorang anak manusia yang bermoral bejat menjadi pemikir dan penyalur kasih-Nya.

Pakaian Terindah dan Sepatu di kakinya
Yesus mengungkapkan bahwa bapak yang berbelaskasih menginginkan “pakaian terindah dan sepatu di kaki” bagi puteranya yang kini ditemukan kembali. Sang bapak tidak tega melihat puteranya menderita, tertekan dan menjerit kesakitan akibat letih dan luka yang tak tertanggungkan.

Untuk mengungkapkan kedalaman belaskasih-Nya, Allah sendiri menegaskan sikap-Nya melalui mulut nabi-Nya, Yehezkiel: “Demi Aku yang hidup, demikianlah frman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang-orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya hidup” (Yeh 33,11). Di dalam pernyataan ini terungkap sumpah mulia Allah bahwa Dia tidak menginginkan kematian salah seorang dari putera yang telah mengkhianati-Nya, tetapi berkenan jika kita kembali kepada-Nya. “Percayalah kepada-Ku ... Aku bersumpah demi keilahian-Ku bahwa Aku tidak berkenan akan kematian dari salah seorang dari putera-Ku..Aku berkenan di saat dia kembali kepada-Ku, sumber kehidupan”.

Bapa yang berkelimpahan cinta akan meneguhkan dan memperbaharui kembali martabat putera-puteri-Nya yang hilang dari rumah-Nya dengan mengenakan “Pakaian Rahmat-Nya yang Menakjubkan”.[2] Ungkapan ini mengandung arti bahwa pakaian terindah yang dikenakan kepada kita, semata-mata berasal dari kemurahan hati, pertolongan sukarela yang diberikan Allah kepada kita, agar kita mampu menjawab panggilan-Nya (Katekismus, no. 1996); ikutserta pada kehidupan Allah sehingga kita masuk kehidupan Tritunggal yang paling dalam (no. 1997); hadiah yang dipersembahkan Allah (gratis) kepada kita dengan memberikan kehidupan-Nya sendiri, mencurahkannya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus untuk menyembuhkan kita dari dosa dan menguduskannya (no. 1999).

Berkat rahmat baptisan, Allah “Trituggal Mahakudus menganugerahkan kepada kita, kaum terbaptis dengan rahmat pengudusan, rahmat pembenaran yang menyanggupkan kita dengan kebijakan-kebijakan ilahi agar kita percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya dan mencintai-Nya; menyanggupkan kita dengan anugerah-anugerah Roh Kudus agar kita hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus; menyanggupkan kita dengan kebajikan-kebajikan susila, agar kita bertumbuh di dalam kebaikan (no. 1266).

Sedangkan, daya rahmat Sakramen Pendamaian mengalirkan kembali kehidupan Iilahi dalam kehidupan kita. Allah menyelubungi kita dengan keindahan dan kemuliaan-Nya; mengenakan di tubuh pakaian putih yang dinginkan-Nya. Pakaian Rahmat Allah yang menakjubkan ini memampukan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan di hadapan-Nya dan sesama, serta menghadapi aneka tantangan, kesulitan dan cobaan hidup, sebagaimana “pakaian terindah” dan “sandal” yang dikenakan si bungsu, (ketika kembali dengan pakaian yang tidak pantas dan kaki telanjang) memampukan dirinya untuk berjalan di antara pelbagai tantangan hidup.

Anak Lembu Tambun
Oleh karena dosa, kita semua menjadi orang asing, bukan karena kehendak Allah, melainkan karena desakan keinginan kita untuk meninggalkan Rumah Bapa. Disaat kembali ke pangkuan Bapa, kita tidak akan diperlakukan sebagai budak-Nya, sebagaimana dipinta si bungsu kepada bapaknya, melainkan diakui dan diterima kembali sebagai anak dalam keluarga-Nya.
Untuk melukiskan belaskasih Allah yang menerima, memperbaharui dan meneguhkan kembali martabat kita yang terpuruk akibat dosa, Yesus mempergunakan beberapa ungkapan ini: “masuk ke dalam persekutuan dengan Allah”, “duduk semeja dengan Bapa di surga”, “berada dihadapan-Nya” dan “berbincang-bincang dengan-Nya”.

“Ambillah anak lembuh tambun itu,
sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita”.
Satu momen penting untuk mengungkapkan persekutuan dalam keluarga Allah adalah “duduk semeja”. Inilah Ekaristi, pesta keluarga Allah. Meja yang disediakan Allah adalah tempat bagi kita untuk berpartisipasi dalam persekutuan dengan-Nya dan dengan Putera-Nya, yang hadir dalam rupa roti dan anggur.

Pesta keluarga Allah disempurnakan dengan berbagi kebahagiaan bersama semua malaikat dan para kudus-Nya. Lukisan sukacita surgawi ini ditegaskan Yesus di akhir perumpamaan-Nya tentang ‘Domba yang Hilang’: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertibat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15,7); dan di dalam perumpamaan-Nya tentang ‘Dirham yang Hilang’: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15,10).

Para Imam di Kamar Pengakuan
Seorang ibu dari Italia Utara berkisah kepada saya:
Di tahun 2000, saya melewati masa Paskah di Roma. Saya pergi ke Basilika Santo Petrus, di Vatikan, untuk menerima sakramen pengakuan dosa. Saya melihat banyak orang berjejer teratur di dalam barisan menuju kamar pengakuan.

Ketika tiba giliran saya, perasaan kagum, tidak percaya, merasakan getaran keajaiban, mengguncang kuat dalam diri saya tatkala menatap sesosok pribadi yang berada di kamar pengakuan dosa. Dia, bukanlah seorang imam, melainkan Paus Yohanes Paulus II.
Ketika diwawancarai, ibu itu mengungkapkan pengalaman mengagumkan yang dilaminya bersama Paus di kamar pengakuan dalam penggalan kalimat ini: “Jika seorang imam bersikap ramah dan kebapaan dalam mendengarkan pengakuan dosa seperti Paus ini, seorang pendosa seperti saya, akan senantiasa tergerak batinnya untuk mengungkapkan dosa dan kerapuhannya di hadapan Allah dengan sikap batin yang bijak. Kamar pengakuan akan senantiasa dikunjungi kaum pendosa”.

Sebaliknya, pengalaman perjumpaannya dengan umat beriman yang jujur dan polos mengungkapkan kerapuan, kelemahan dan dosa yang menodai hidup mereka di hadapan Allah dan sesama, Paus menuliskan beberapa prinsip iman dan moral yang harus dipegang dan dibatinkan oleh para imam:
Para imam harus menampakan sikap Allah yang menerima dan merangkul putera dan puteri-Nya yang ingin bertobat: Panggilan ini mengajak para imam untuk membatinkan dan menghidupi semua aspek kehidupan Yesus ketika mendekati dan berada bersama kaum pendosa. Para imam harus menjadi sahabat kaum pendosa, dokter jiwa, guru, hakim, pelayan dan penyalur kasih Allah kepada pendosa. Misi ini hanya bisa diemban, jika para imam merasakan getaran cinta Allah, mengerti dan menyelami kedalaman kasih dan belaskasih-Nya.
Para imam harus menjadi guru kebenaran, yaitu menuntun jalan bagi domba-dombanya dan mencari yang yang tersesat di persimpangan jalan. Berkenaan dengan misi ini, tantangan yang dialami adalah mencari metode yang tepat untuk menghantar umat beriman agar mampu memahami nilai-nilai moral dan dosa.

Para iman, juga harus berperan, sebagai hakim untuk memperkenalkan kembali kepada umat beriman nilai-nilai yang seharusnya dipegang teguh, terutama kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Namun, peran sebagai hakim, tidak bisa disamakan dengan hakim duniawi. Kamar pengakuan bukanlah tribun pengadilkan untuk menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang melanggar hukum manusiawi, melainkan sebagai penyalur dan pelimpah cinta dan belaskasih Allah kepada kaum pendosa. Dalam konteks ini, Santo Yakobus dari Marca (1393-1476) menegaskan kembali perkataan Yesus kepada Petrus, “kepadamu akan kuserahkan kunci kerajaan surga”. Kunci ilahi, yaitu Gereja berfungsi untuk membuka, sebagaimana penderitaan Kristus membuka pintu bagi kita menuju kehidupan yang mulia di hadapan Bapa dan menyalurkan kasih-Nya kepada umat-Nya” (Serm. Dom. 77).
Akhirnya, para imam harus menampakkan sikap Yesus sebagai dokter jiwa. Paus Yohanes Paulus II menegaskan, “Pengakuan dosa, bukanlah terapi jiwa. Nilai hakiki dari sakramen ini adalah pendamaian dengan Allah dan Gereja. Karena itu, para imam harus menjalankan tugas ini dengan baik: menerima, mendengar, berdialog, tidak menghakimi dan tidak mempersalahkan umat.”

Paus mengajak para imam agar rela memberikan waktu dan tenaga mereka untuk menerimakan sakramen tobat. Di matanya, umat Allah selalu tergerak untuk membuka diri di dalam ritus tobat yang sederhana, sebab inilah momen berahmat bagi mereka untuk mengungkapkan segala dosa, kejahatan dan kerapuhan mereka di hadapan Allah. Terkait dengan ajakan ini, Paus memperkenalkan figur seorang imam sederhana dari Ars, Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859) yang memberikan hampir seluruh waktu dalam kehidupan dan karya imamatnya di kamar pengakuan agar buah-buah pengakuan dan tobat mengubah, memperbaharui dan memperkaya kehidupan umat beriman dan kehidupannya sendiri!

[1] Sesungguhnya, ketika si bungsu berusaha mengejar dan menggapai mimpi-mimpinya, menuntut bagian harta milik yang menjadi haknya, di saat itulah dia kehilangan martabatnya sebagai seorang putera.
[2] Kata “rahmat” berasal dari bahasa Latin, “gratia”: kerelaan, belaskasih, gratis, hadiah cuma-cuma.

penulis: P Very Ara, Pr
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.