Headlines News :
Home » » TIK di Sekolah Katolik

TIK di Sekolah Katolik

Written By Keuskupan Sibolga on Sabtu, 30 Juni 2012 | 20.37


Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut seluruh peralatan teknis yang dipakai dalam memproses dan menyampaikan informasi. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa teknologi informasi sesungguhnya merupakan suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan lingkup kehidupan lainnya.
Lembaga Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, TIK bukan lagi hal asing karena TIK merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah. Melalui mata pelajaran tersebut para siswa/i diperkenalkan dan diajari menggunakan media teknologi dan komunikasi. Media teknologi informasi dan komunikasi yang pada umumnya bisa kita temukan di hampir setiap sekolah adalah komputer, internet, handphone, headset dan perangkat IT (Information Technology) lainnya yang digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar.
Sudah jamak pendapat yang mengatakan bahwa media teknologi informasi dan komunikasi itu bagaikan dua sisi mata uang, yang di satu sisi mengandung nilai-nilai positif karena bermanfaat bagi perkembangan kehidupan manusia dan di sisi lain mengandung unsur-unsur negatif karena dapat juga disalahgunakan sehingga bisa merusak kehidupan manusia itu sendiri.
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah-sekolah diharapkan menjadi salah satu pilar utama yang dapat menanamkan kesadaran sejak dini di dalam diri anak. Dengan itu, pemakaian sarana-sarana IT tersebut terarah pada hal-hal yang dapat mengembangkan nilai-nilai kehidupan pada umumnya dan secara khusus nilai-nilai kristiani.
Penanaman Nilai
Ketika salah seorang tim dari majalah Warkes berkunjung ke SMA RK Sibolga, Sr. Teresa SCMM, Kepala Sekolah SMA RK Sibolga, menerangkan bahwa Sekolah Katolik memang seharusnya memberikan penyadaran dan penanaman nilai kepada siswa/i tentang penggunaan sarana IT.
“Di sini (di sekolah,- Red.), sudah tersedia internet yang bisa diakses sepanjang hari. Sarana ini disediakan untuk membantu para guru dan siswa/i dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui internet ini, para guru bisa memperoleh berbagai informasi tentang dunia pendidikan sekaligus mendapatkan bahan-bahan referensi yang bisa digunakan untuk mengajar. Sementara itu, para siswa juga diharapkan menggunakan sarana ini untuk mencari berbagai materi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Khusus untuk mata pelajaran TIK sendiri, internet sangat penting dalam proses belajar-mengajar terutama pada saat praktek”, jelas Sr. Teresa ketika tim Warkes mendatanginya di kantor kepala sekolah.
Melalui ceramah, ibadat pagi dan pelajaran agama, siswa/i diajak mensyukuri anugerah Tuhan yang diterima melalui orang-orang yang telah menciptakan berbagai peralatan canggih yang dapat membantu manusia di pelbagai bidang kehidupan. Rasa syukur itu mesti diungkapkan melalui pemanfaatan sarana tersebut pada tujuan yang bisa membangun diri sendiri dan orang lain. Bimbingan dan Konseling (BK) juga menjadi salah satu upaya yang ditempuh oleh sekolah untuk mendampingi dan mengarahkan siswa/i kepada penghayatan nilai-nilai kristiani.
Upaya Pengontrolan
Suster yang berasal dari Timor ini juga mengungkapkan bahwa dalam rangka penyadaran dan penanaman nilai tentang penggunaan sarana IT, sekolah perlu mengontrol anak didik dalam pemakaian media komunikasi canggih tersebut.
“Di sekolah, kami mengatur waktu untuk melakukan razia handphone (hp) yang digunakan oleh siswa/i. Hal ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengontrol penggunaan hp di kalangan siswa/i. Dengan itu mereka (siswa/i) diajak dan disadarkan agar bisa menggunakan media teknologi secara benar dan bertanggung jawab”, kata Sr. Teresa memberikan contoh tentang pengontrolan penggunaan alat komunikasi di Sekolah yang dia asuh.
Menurut Kepala Sekolah SMA RK Sibolga ini, razia hp dilakukan berdasarkan studi kasus yang sudah pernah dilaksanakan di sekolah. Setelah dilakukan pengamatan yang cermat, para guru melihat bahwa hp yang digunakan oleh para siswa/i ternyata tidak hanya berfungsi untuk menelepon atau mengirim pesan pendek (SMS), tetapi juga bisa digunakan untuk mengakses internet. Karena itu, tak jarang ditemukan bahwa di dalam hp beberapa siswa/i terdapat hal-hal yang kurang mendukung nilai-nilai pendidikan.
Proteksi Lemah
Sr. Teresa mengakui bahwa sistem proteksi dan security yang diterapkan pada internet sekolah yang dia pimpin ini masih sangat lemah. “Sekarang ini, tenaga guru yang bisa melakukan (memprogramkan) proteksi dan security terhadap situs-situs tertentu seperti situs porno, masih belum ada”, aku Sr. Teresa.
Hal senada juga dikemukakan oleh Doarman Sihotang, guru pengampu mata pelajaran TIK di SMA RK, ketika tim Warkes memasuki ruangan praktikum komputer di sekolah itu. Menurut guru muda ini, proteksi dan security masih belum diterapkan untuk pemakaian internet. Alasannya, penerapan sistem proteksi dan security mengandaikan penggunaan server. Artinya, satu unit komputer menjadi induk bagi komputer lain yang mengakses internet. Melalui server inilah dapat dilakukan pemantauan dan pengendalian (remote) terhadap komputer siswa. Menurut dia server dengan fungsi seperti ini masih perlu disediakan di sekolah ini.
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.