Headlines News :
Home » » Yesus Bukan Politikus

Yesus Bukan Politikus

Written By Keuskupan Sibolga on Kamis, 01 Maret 2012 | 18.00

Renungan Minggu Palma, Tahun B, 1/3/2012
Pst Paulus Posma Manalu Pr, Pastor Paroki St Yosef Pandan

Pada masa kampanye Pemilihan Kepada Daerah Tapanuli Tengah yang lalu, ada satu momen yang tak terlupakan. Perisitiwa itu agaknya menjadi satu-satunya peristiwa yang tercatat selama negeri ini menerapkan pemilihan kepala daerah secara langsung. Saya tak akan pernah lupa kerumunan orang yang sangat antusias menyambut kepulangan tim kampanye Bosur dari Barus. Sepanjang perjalanan Barus-Mela orang berdiri di sepanjang jalan menyambut Calon Bupati waktu itu, Bonaran Situmeang.

Di Kolang, ketika mobil yang kami tumpangi berhenti, seorang pemilik kedai di pinggir jalan memberi sesisir pisang sebagai tanda solidaritas dan dukungan. Sebelum itu, di Onan Gonting Mahe juga bertumpuk orang yang mengelu-elukan Bonaran.


Ekspektasi masyarakat begitu luar biasa. Mereka menyambut tim kampanye dan Bosur sendiri sebagai orang yang baru saja memenangi pertempuran meski Pilkada belum digelar. Gambaran kemenangan Pilkada di depan mata, penguasa yang selama ini digambarkan diktator dan korup akan segera berakhir. Datanglah raja baru, pemimpin politik baru yang akan membawa perubahan. Itulah latar yang membuat masyarakat sangat bersemangat.

Situasi dan kondisi yang terjadi setahun silam di Tapanuli Tengah ini, agaknya kurang lebih mirip dengan situasi yang terjadi 2000 tahun yang lalu di Tanah Palestina. Pada waktu itu Yesus dielu-elukan, dipuja dan disanjung memasuki kota Yerusalem, simbol kekuasan duniawi dan sorgawi.

Ribuan orang turun ke jalan, bukan karena memprotes kenaikan BBM tentunya, tapi karena mereka punya harapan bahwa juru selamat telah datang untuk membebaskan mereka dari penindasan bangsa Romawi. Seruan “Hosanna” yang berarti “Selamatkanlah kami” membahana di sepanjang jalan yang dilalui Yesus. Seruan ini adalah seruan minta tolong kepada Yesus agar umat Israel diselamatkan dari penindasan yang keji.

Mereka yakin inilah saatnya umat pilihan di bebaskan. Tokoh pembebasan itu yakni Yesus sendiri yang sudah melakukan banyak mukzizat di mana-mana. Menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi makan orang yang lapar dan berkuasa atas kejahatan menjadi pertanda datangnya penguasa baru bagi orang Yahudi. Itulah sebabnya mereka begitu antusias menyambut Yesus masuk kota Yerusalem.

Namun bukan orang Yahudi, jika tidak berpaling. Ungkapan tak ada teman sejati, melainkan kepentinganlah yang menyatukan juga berlaku bagi mereka yang menyambut Yesus dengan sorak sorai.

Hanya berselang Lima hari kemudian, mereka yang menyambut Yesus sebagai raja berbalik berseru, “Salibkan Dia”. Sebuah ungkapan yang kontradiktif dan terlalu cepat. Ungkapan ini menggambarkan betapa labilnya pendirian manusia. Mereka pun akhirnya ramai-ramai menggiring Yesus ke bukit Golgota dan menyalibkan-Nya di sana.

Apa yang membuat orang Yahudi berbalik seketika? Mereka kecewa karena ternyata misi Yesus datang ke dunia tak sejalan dengan harapan mereka. Bagi orang Yahudi Yesus adalah mesias politik, penyelamat yang akan memimpin mereka untuk membebaskan diri dari penjajahan asing. Harapan bangsa Yahudi, Yesus adalah raja duniawi.

Sebaliknya Yesus mempunyai misi yang berbeda. Kedatangan Yesus ke Yerusalem tak bisa dipandang sebagai mesias politik melainkan sebagai Mesias yang diutus Allah untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari perbudakan dosa, sesuatu yang lebih berbahaya dari penjajahan bangsa asing. Dosa itulah yang menindas bangsa Israel, itulah yang mematikan mereka dan mendatangkan penghukuman.

Sebetulnya kalau Orang Yahudi jeli, mereka tak perlu kecewa begitu dalam. Mereka seharusnya melihat, tanda-tanda yang dipakai Yesus memasuki Yerusalem. Yesus tidak menunggang kuda tetapi memilih menaiki keledai. Keledai adalah simbol perdamaian, dan hal ini berbeda dari kuda yang sering digambarkan sebagai binatang yang dipakai dalam peperangan.

Pada hari Minggu Palma ini, kitapun diajak untuk merenungkan diri kita masing-masing. Kitapun sering sekali bersikap seperti orang Yahudi yang pada awalnya memuja, menyanjung seseorang tetapi kemudian mencelanya habis-habisan dalam waktu seketika. Boleh jadi celaan dan makian kita diakibatkan oleh perbedaan kepentingan yang muncul.

Marilah memahami makna kehadiran Yesus dalam hidup kita. Kehadirannya, harus lebih kita maknai sebagai tanda pertobatan menuju pembebasan sejati. Jika kita menderita, jika kita kecewa, sakit, putus asa jangan terlalu cepat menghakimi Yesus sebagai pribadi yang tak peduli. Yesus hadir dalam setiap pergumulan dan masalah kita. Dia memberi solusi atas segala persoalan kita. Marilah bersabar dan berharap bahwa iman kita akan Allah akan membebaskan kita. []
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.