Headlines News :
Home » » Yunus Kecewa Kepada Tuhan

Yunus Kecewa Kepada Tuhan

Written By Keuskupan Sibolga on Jumat, 20 Januari 2012 | 18.06

Kecewa adalah sifat manusiawi yang lumrah dialami setiap orang. Kita bisa kecewa karena dihianati teman sendiri. Kecewa karena harapan dan ambisi kita tak terpenuhi. Kita kecewa karena jabatan yang selama ini kita senangi tiba-tiba lenyap dan kedudukan kitapun digantikan orang lain. Sumber dan alasan kekecewaan kita biasanya berasal dari sesama manusia.

Tapi pernahkah Anda kecewa dengan Tuhan? Pernahkah Anda mempersalahkan Tuhan atas kejadian yang Anda alami? Pengalaman kecewa dengan Allah dialami oleh Yunus, seorang tokoh yang terkenal dengan kisah yang sering kita dengar waktu masih anak sekolah minggu. Yunus adalah seorang nabi yang diutus Tuhan ke kota Niniwe untuk mempertobatkan penduduknya.

Pilihan Allah atas dirinya, dijawab Yunus dengan mencoba lari dari hadapan Allah. Yunus tak mau mewartakan kebaikan Tuhan ke orang-orang Niniwe. Maka ia melarikan diri ke Tarsis. Tapi di tengah laut, Allah meluruskan hati Yunus lewat gelombang ombak dan badai yang besar. Ketika Yunus dibuang ke laut oleh awak kapal, karena dia adalah sumber malapetaka maka Allah menyuruh seekor ikan besar menelannya. Tiga hari tiga malam lamanya, di dalam perut ikan yang gelap akhirnya Yunus menyadari bahwa dia tak bisa lari dari perintah Allah.

Setelah dimuntahkan oleh ikan itu ke darat, Yunus pun akhirnya menerima tawaran Allah menjadi nabi yang menyampaikan pesan Allah kepada penduduk Niniwe. Ketika mendengar pewartaan Yunus, penduduk kota bertobat. “Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung” (Yun. 3:5). Inilah puncak dari pewartaan Yunus. Dengan penuh percaya kepada Allah mereka berkata: “Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa" (Yun. 3:9).

Pertobatan massal penduduk Niniwe pun terjadi. Allah melihat pertobatan orang Niniwe dan bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Sebagai ganjaran pertobatan, Allah tidak jadi melakukan penghukuman yang telah dirancangkan-Nya bagi penduduk itu.

Mestinya Yunus bangga akan pertobatan orang Niniwe. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Yunus Kecewa. Yunus ngambek. Dia kesal, karena Allah ternyata mengampuni orang Niniwe dan tidak jadi memberikan hukumannya kepada orang Niniwe yang penuh dosa. Yunus tak bisa menerima mengapa Allah tak jadi menghukum bangsa itu.
Sebagai orang Ibrani yang membenci orang-orang Niniwe, ternyata Yunus lebih menghendaki kota yang besar itu hancur dan mendapat penghukuman dari Allah. Bagi Yunus, orang yang berdosa pantas mendapat hukum setimpal dengan dosa mereka. Pengampunan dilihat sebagai ketidak tegasan Allah bagi orang-orang lalim.

Sikap Yunus yang kecewa karena ternyata Allah mengampuni orang yang dibencinya boleh jadi adalah personifikasi sifat manusia. Akan tetapi kekecewaan Yunus atas kebaikan Allah bagi orang Niniwe yang berdosa menjadi bukti bagi kita betapa cara pikir manusia seringkali berbeda dengan kehendak Allah.

Allah sendiri menghendaki setiap manusia diselamatkan. Allah tidak menghendaki manusia jatuh binasa. Keselamatan ditawarkan Allah ke setiap insan lewat orang-orang yang dipilih-Nya. Dalam perjanjian lama tugas ini diemban oleh para nabi yang bersuara lantang menentang cara hidup yang jauh dari Allah, menentang praktek ketidak adilan yang sering mengorbankan orang-orang kecil. Bukti keseriusan Allah dalam proyek penyelamatan diterjemahkan dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia agar setiap bangsa, suku, golongan, status memperoleh hidup abadi.

Pertobatan menjadi tema sentral dari pewartaan Yesus. Maka tak salah jika Markus memulai injilnya dengan tema ini. Ketika pertama tampil di hadapan orang banyak Yesus berkata: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (Mrk 1:14). Pertobatan berarti pembalikan cara hidup, dari cara hidup lama menjadi cara hidup baru yang berorientasi pada kasih. Simon dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes menjadi murid pertama Yesus karena mereka mau meninggalkan cara hidup lama sebagai penjala ikan menjadi penjala manusia. Cara hidup baru mereka temukan melalui pertobatan.

Apa yang perlu kita renungkan minggu ini? Kita perlu merenungkan dan menyadari bahwa keselamatan itu dialamatkan untuk setiap orang tanpa memandang status sosial, golongan dan suku. Sebagai orang-orang yang dibaptis kita sama seperti Yunus dipanggil untuk memberitakan kabar sukacita itu kepada orang-orang yang belum dan atau sudah melupakan injil. Suara kenabian kita diperlukan, tatkala kita melihat ketidak adilan terjadi di lingkungan kita masing-masing. Terkadang orang lain akan membenci kita, karena kesaksian-kesaksian kita.

Keselamatan yang ditawarkan oleh Allah ternyata tidaklah rumit. Hanya perlu tiga tahap untuk mendapatkannya. Langkah pertama adalah membuka hati pada sabda Tuhan, kedua membalik cara hidup yang tak berkenan pada Allah ke cara hidup baru, ketiga membagikan sabda yang sudah dihayati kepada orang lain.

[Pst Paulus Posma Manalu, Pr; Sekretaris BKAG Daerah Tapteng
dan Pastor Paroki St Yosef Pandan]
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.