Headlines News :
Home » » Akrab Dengan Kitab Suci

Akrab Dengan Kitab Suci

Written By Admin on Sabtu, 01 September 2012 | 22.35

Seorang kudus yang hidup pada abad 13, Santu Fransiskus dari Asisi, sangat menghormati Kitab Suci dan menjadikannya pedoman hidupnya bersama anggota Ordonya, sementara pada zaman itu sangat sedikit orang membaca Kitab Suci dan orang kurang menghargai Kitab Suci. Dia menasehatkan para saudara se-Ordonya dalam suratnya: “Aku menasehati semua saudaraku dan menegaskan dalam Kristus, supaya di mana pun juga mereka menemukan firman ilahi yang tertulis, mereka sedapat-dapatnya menghormatinya. Dan bila firman yang tertulis itu tidak tersimpan baik atau tercecer sembarangan di suatu tempat, maka hendaklah mereka mengumpulkan dan menyimpannya kembali, sejauh hal itu menyangkut diri mereka; dengan itu mereka menghormati Tuhan di dalam sabda yang diucapkanNya”. Tujuan surat orang kudus ini tentulah agar sabda Allah yang tertulis di hormati dan dibaca.

Masalah yang kita hadapi di dalam Gereja kita sekarang ini mungkin juga seperti yang dialami oleh Santu Fransiskus: kurang menghargai dan kurang membaca Kitab Suci. Banyak keluarga tidak memiliki Kitab Suci di rumah. Kalaupun memilikinya, kurang membacanya. Karena itu masalah yang kita hadapi ialah bahwa umat beriman kurang akrab dengan Kitab Suci. Kalau saya mengatakan bahwa saya akrab dengan seseorang, berarti saya sering bertemu dengan dia, sering bersama dia dan memberi waktu untuk dia, senang berceritera atau bertukar pikiran dengan dia, selalu ingin mendengarkan sesuatu dari dia, pokoknya sulit saya dipisahkan dari dia, karena dia berharga dan penting bagi saya. Demikian jugalah kalau saya katakan bahwa saya akrab dengan Kitab Suci, berarti saya berusaha memiliki buku Kitab Suci agar dia selalu dekat dengan saya, senang dan sering membaca dan merenungkannya.

Kita akrab dengan Kitab Suci dan tidak bisa lepas dari padanya, karena sabda Tuhan yang tertulis di dalamnya merupakan santapan bagi kita, yang memberi kehidupan. Dalam penglihatan yang dialami nabi Yeheskiel, gulungan kitab, artinya sabda Allah yang tertulis, disuruh Allah dimakan oleh Yeheskiel. Lalu Yeheskiel memakannya dan merasakannya manis seperti madu di mulutnya (bdk Yeh 2:8 – 3:4). Yesus sendiri menggambarkan firman Allah sebagai makanan yang memberi kehidupan, ketika Dia berkata kepada Iblis yang menggodanya: “Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat 4:4). Karena sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci merupakan santapan bagi kita, maka seharusnya setiap hari kita menyantapnya dengan membaca, mendengarkan dan merenungkannya, agar kita hidup dan kuat.

Kita tahu dari kitab Kejadian dalam kisah penciptaan bahwa firman Allah itu memiliki daya kekuatan mencipta. Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa Allah berfirman, maka jadilah: terang, cakrawala, darat dan laut, tumbuh-tumbuhan, penerang siang dan malam, segala jenis binatang dalam air dan di udara, binatang melata di bumi dan manusia (bdk Kej 1:3-29; 2:18). Berarti dengan daya firmanNya Allah mencipta, dan semuanya terjadi. Melalui nabi Yesaya Allah menegaskan bahwa firmanNya tidak akan kembali kepadaNya dengan siasia, tapi akan melaksanakan apa yang dikehendakiNya dan berhasil dalam apa yang disuruhkanNya (bdk Yes 55:11).

Pada Tahun Iman yang akan mulai 11 Oktober 2012 ini Bapa Suci mengajak kita untuk banyak membaca dan mendalami Kitab Suci, karena dengan itu iman kita semakin dikuatkan. Beliau menuliskan: “Kita harus menemukan kembali cita-rasa sedapnya menyantap sabda Allah, yang dengan setia telah diserah-alihkan kepada Gereja” (Porta Fidei no.3).

Oleh karena sabda Tuhan merupakan santapan yang dapat mencipta, menghidupkan dan menguatkan kita, maka tentu kita memiliki rasa hormat dan haus atau lapar akan sabda Tuhan. Seperti orang yang haus atau lapar, tentulah kita sering berusaha mencari dan menemukan di mana terdapat sabda Tuhan, lalu rajin membaca dan mendalami sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, dan dengan senang hati mengikuti pendalaman-pendalaman Kitab Suci di lingkungan atau stasi atau di kelompok tertentu. Kalau memiliki citarasa dan sikap ini, tentulah kita tidak mengantuk setiap dibacakan sabda Tuhan dalam Perayaan Ekaristi atau Ibadat Sabda dan diperdalam dalam kotbah, demikian juga kita beri perhatian khusus pada bagian pembacaan sabda Allah di dalam upacara penerimaan sakramen-sakramen atau dalam pemberkatan-pemberkatan.

Oleh karena itu agar kita bisa akrab dengan Kitab Suci, sebagai syarat pertama, hendaklah setiap keluarga memiliki Kitab Suci di rumah. Khusus pada Tahun Iman yang sebentar lagi kita masuki, hendaklah semakin banyak kita umat katolik membaca dan mendalami Kitab Suci, agar iman kita semakin dihidupkan dan disuburkan oleh sabda Allah.

Mgr. Ludovicus Simanullang

Uskup Sibolga
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.