Headlines News :
Home » » MINGGU BIASA 24 (Thn. B), 16 September 2012

MINGGU BIASA 24 (Thn. B), 16 September 2012

Written By Keuskupan Sibolga on Minggu, 16 September 2012 | 09.02


16 September 2012
MINGGU BIASA 24 (Thn. B)


KETAATAN HAMBA TUHAN
Yes 50:5-9a; Yak 2:14-18; Mk 8:27-35



Ulasan Bacaan:

Ada empat perikop dalam nubuat Yesaya yang disebut “nyanyian Hamba Yahweh”, yakni Yes 42:1-9; Yes 49:1-7; Yes 50:4-11 dan Yes 52:13-53:12. Bacaan pertama tadi diambil dari nyanyian ketiga, yang dalam Alkitab LAI diberi judul “Ketaatan Hamba Tuhan”. Seperti nyata dari judulnya, dalam nyanyian ketiga ini digambarkan bagaimana Hamba Tuhan itu taat kepada Tuhan meskipun ketaatan itu mengakibatkan dia mesti menanggung kesulitan bahkan juga penganiayaan. Itulah berkat keterbukaan Hamba Tuhan itu kepada Sabda Tuhan.

Para ahli sepanjang masa berusaha mencari tahu, siapa gerangan dimaksud dengan julukan Hamba Tuhan itu. Namun Gereja, sejak awal telah melihat nubuat Yesaya ini sebagai nubuat bagi Yesus Kristus. Dialah Hamba Tuhan yang digambarkan oleh Yesaya itu. Tidak ada orang lain yang bisa sepadan dengan gambaran Yesaya itu kecuali Yesus Kristus. Itulah yang kita dengar ditegaskan Yesus dalam bacaan Injil tadi: Dia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat; bahkan Dia akan dibunuh. Tetapi sesudah tiga hari Dia akan bangkit dari antara orang mati.

Pengenaan Untuk Hidup Sekarang:

Rupanya penderitaan tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Bahkan Allah sendiri telah memilih jalan salib, jalan sengsara dan penderitaan, menjadi sarana keselamatan. Oleh karena itu, menganut jalan Tuhan, beriman kepada Allah, tidak berarti kita akan terhindar dari penderitaan dan kesulitan. Maka kita tidak perlu setiap saat menghindari kesulitan dan penderitaan, tetapi harus rela menanggungnya. Justru kita tidak akan berkembang dengan semestinya jika kita tidak pernah berhasil menjalani masa-masa sulit dengan sikap menerima dengan tabah sambil melihat kehendak Sang Pencipta di dalamnya. Fisik kita pun tidak akan matang dengan sempurna kalau kita tidak pernah menantangnya dengan pelbagai latihan dan olah fisik yang melelahkan dan dalam arti tertentu menyengsarakan. Di saat kita mau yang enak-enak saja, justru fisik kita menjadi makin lemah dan tak berdaya. Jadi, kemanusiaan kita secara utuh –jiwa dan raga– hanya bisa bertumbuh dan berkembang secara wajar jika kita berani dan rela menghadapi pelbagai macam tantangan dan kesulitan dan tidak setiap saat mau yang “enak” saja.
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.