Headlines News :
Home » » Tidak Malas Dalam Iman

Tidak Malas Dalam Iman

Written By Admin on Senin, 01 Oktober 2012 | 05.00

Surat Gembala 3

TIDAK MALAS DALAM IMAN


Umat Allah yang saya kasihi!

Melalui Surat Apostolik dengan judul “PINTU KEPADA IMAN” (“Porta Fidei”), Santo Bapa Benediktus XVI telah mengumumkan Tahun Iman, yang akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 24 November 2013. Dalam Surat Apostolik ini Bapa Suci mengharapkan agar kurnia iman yang telah kita peroleh berkat sakramen babtis sungguh dapat memberikan pencerahan dan pembaharuan nyata dalam hidup. Oleh karena itu saya menulis surat gembala ini untuk menyapa para imam, diakon, katekis, para pengurus Gereja, biarawan-biarawati dan seluruh umat Allah di Keuskupan ini, agar memberi perhatian khusus akan pentingnya iman bagi kehidupan, dan agar mengisi Tahun Iman ini dengan pelbagai kegiatan yang diadakan di tempat masing-masing di tingkat dekanat dan paroki, bahkan stasi dan lingkungan.

Saat Berahmat

Tahun Iman ini menjadi saat berahmat bagi kita umat katolik, karena seluruh umat diingatkan akan dasar dan inti hidup kita, yakni iman, yang kita miliki sejak kita dibaptis. Baptisan telah memasukkan kita ke dalam hidup yang baru, yakni hidup sebagai anak Allah di dalam kehidupan Allah Tritunggal. Oleh karena itu pada tahun yang khusus ini kita mau seperti wanita Samaria, untuk mendengar Yesus yang mengundang kita untuk percaya kepadaNya, serta menimba dari sumber air hidup yang memancar keluar dari dalam diriNya (bdk Yoh 4:14).

Tahun Iman ini menjadi saat berahmat bagi kita, bila kita mengisi tahun ini untuk memperdalam iman kita dengan mempelajari dasar-dasar iman yang benar, merayakan iman itu dalam liturgi terutama dalam ekaristi, dan menghayati iman itu dalam kehidupan nyata, sehingga orang lain dapat menyaksikan dan merasakan buah-buah iman kita. Untuk mengisi Tahun Iman ini kita mesti saling mendukung dengan memberi diri dan waktu untuk pertemuan-pertemuan.

Kita tidak tahu rahmat apa yang kita terima dari Tahun Iman ini. Yang pasti ialah bahwa Roh Kudus berkarya dan membuahi segala usaha dan kegiatan kita dalam merayakan tahun yang khusus ini, sehingga sungguh membawa pembaharuan dalam kehidupan Gereja kita, seperti terjadi ketika Pentakosta. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana Roh Kudus berkarya (bdk Yoh 3:8), tapi kita percaya akan daya kekuatanNya. Sebab “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37), dan “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23).

Pendalaman Iman

Iman adalah jawaban manusia atas kelimpahan cinta kasih Allah yang menyapa manusia sebagaii sahabat-sahabatNya, bergaul dengan mereka, dan mengundang mereka kepada persekutuan dengan diriNya (lih. KGK no.142-143).  Akan tetapi iman adalah rahmat, anugerah Allah, satu kebajikan adikodrati yang dicurahkan oleh Allah kepada manusia, karena hanya dengan bantuan rahmat Allah dan pertolongan batin Roh Kudus, manusia mampu percaya (lih. KGK 153-155).

Tujuan iman kepercayaan ialah keselamatan. Tuhan sendiri berkata: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16). Karena itu inti iman kita ialah percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutusNya. Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (bdk Ibr 11:6).

Perlu kita ingat bahwa sekarang iman itu sering kita hayati dalam kegelapan dan kadang mengalami cobaan yang berat. Dunia, di mana kita hidup, masih sangat jauh dari apa yang dijamin oleh iman bagi kita. Dalam surat gembalanya Bapa Suci mengatakan: “Iman itu bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang sudah diterima, juga bila ia dikomunikasikan sebagai suatu pengalaman rahmat dan kebahagiaan. Iman itu membuat kita berbuah subur, sebab ia memperluas hati kita dalam harapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang juga menghidupkan” (PF no.7).

Melihat semuanya itu, maka jelas bagi kita bahwa iman itu perlu dipelihara dan dipupuk, diperdalam dan dikuatkan dan kita bertekun di dalamnya (bdk Kol 1:23; Mat 10:22; 24:13; Mrk 13:13). Bapa Suci dalam surat apostoliknya menganjurkan dalam merayakan Tahun Iman ini: “Renungan-renungan tentang iman hendaknya diintensifkan, untuk membantu segenap umat yang percaya kepada Kristus untuk mendapatkan kesadaran yang lebih baik dan secara lebih bersemangat melekatkan diri kepada Kabar Gembira, khususnya ketika sedang terjadi perubahan mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini” (PF no.8).

Untuk menghidupkan, memperdalam dan menguatkan iman itu, sehingga menjadi subur dan menghasilkan buah berlimpah, perlu: katekese, pendalaman Kitab Suci, perayaan liturgi, kesaksian hidup nyata.

Kabar Gembira bagi kita manusia adalah bahwa “Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4-5). Yesus Putera Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat di salib dan bangkit, menjadii penyelamat kita. Agar kabar gembira itu sampai kepada manusia dan menyelamatkannya, perlu katekese. Katekese ialah segala usaha Gereja untuk menjadikan manusia menjadi murid-murid Kristus, agar mereka dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, supaya dengan perantaraan iman itu mereka memperoleh kehidupan dalam namaNya. Melalui pengajaran, Gereja berusaha mendidik manusia menuju kehidupan ini dan dengan demikian membangun Tubuh Kristus. Jadi, tujuan katekese adalah untuk mengantar para pendengar memasuki kepenuhan kehidupan Kristen (lih. KGK no. 4-5).

Bapa Suci menjelaskan dalam surat gembalanya bahwa sarana yang tak tergantikan untuk sampai pada pemahaman yang sistematik pada iman kepercayaan adalah Katekismus Gereja Katolik. Apa yang disajikan di dalam Katekismus itu bukanlah teori belaka, tetapi sungguh suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman itu disuburkan oleh kehidupan sakramental di mana Kristus hadir. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman akan kehilangan kemanjurannya (lih. PF no.11). Apakah sudah cukup dikenal oleh umat Katekismus Gereja Katolik ini, sekurang-kurangnya ringkasannya dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik?

Agar katekese yang benar dapat terlaksana, hendaklah para katekis dan guru agama berusaha, supaya melalui pengajaran yang disertai tingkah lakunya menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus. Maka pada awal Tahun Iman ini amat tepatlah bila para katekis kita disegarkan kembali akan tugas dan tanggung-jawab serta ketrampilan mereka dalam berkatekese. Dengan demikian katekese yang mereka berikan selama Tahun Iman ini dan seterusnya sungguh dapat membawa dan menghantar orang kepada Kristus Penyelamat.
Pada masa ini kita alami bahwa makin sulit orang untuk memberi waktu mengikuti pertemuan, apalagi yang dinamakan pengajaran atau pendalaman-pendalaman yang diadakan oleh Gereja. Maka khusus pada Tahun Iman ini hendaknya umat memberi waktu untuk lebih setia dan intensif mengikuti pertemuan dan pembinaan yang diadakan di lingkungan atau stasi.

b.    Pendalaman Kitab Suci

Sejak awal, Gereja tak putus-putusnya menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan yang Gereja terima baik dari meja Sabda Allah, maupun dari meja Tubuh Kristus. Di dalam Kitab Suci, Gereja selalu mendapatkan makanannya dan kekuatannya, karena di dalamnya ia tidak hanya menerima kata-kata manusiawi, tetapi apa sebenarnya Kitab Suci itu, yakni Sabda Allah. Karena di dalam kitab-kitab Suci, Bapa yang ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putraNya, dan berwawancara dengan mereka (lih. KGK no.103-104).

Sabda Allah merupakan sarana untuk memupuk iman, sehingga iman kita tumbuh, berkembang, dan berbuah, dan kita dapat bertahan dalam iman sampai akhir (lih. KGK no. 162). Oleh Sabda Allah iman dipupuk dalam mereka yang percaya (lih. PO 4). Karena itu juga dalam perayaan liturgi, Kitab Suci sangat penting; di dalam setiap perayaan liturgi ada kutipan-kutipan Kitab Suci yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili (lih. SC 24), yang dihidupkan oleh Roh Kudus, supaya sabda Allah itu dapat diterima dan dilaksanakan dalam kehidupan nyata dan menyuburkan iman.

Kitab Suci adalah pelita bagi kaki kita dan cahaya bagi langkah kita. Karena itu, Gereja menganjurkan semua umat beriman untuk sering membaca Kitab Suci, karena tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus (lih. KKGK no. 24). Oleh karena itu perlulah bahwa Kitab Suci dekat dengan kita, ada di setiap rumah, supaya anggota keluarga secara pribadi dan bersama dapat membacanya. Demikian juga perlu suatu tuntunan atau pembinaan yang membantu umat beriman dapat mendalami Kitab Suci baik secara pribadi maupun dalam kelompok Pendalaman Kitab Suci.

c.    Merayakan Liturgi

“Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitanNya. Dengan merayakan imamat Yesus Kristus, liturgi menyatakan misteri Kristus dalam tanda-tanda dan membawa pengudusan bagi umat manusia. Pemujaan kepada Allah dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu oleh kepala dan para anggotanya” (KKGK no.218). Jadi dalam liturgi, misteri Kristus dirayakan oleh umat secara bersama-sama untuk pengudusan mereka.

Agar liturgi berdaya guna, semua orang beriman mesti ikut serta dengan sepenuh hati, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi, karena liturgi sendiri menuntut keikutsertaan umat kristiani sebagai “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang  kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr 2:9).

“Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman itu akan kehilangan kemanjurannya, sebab dia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksiannya secara kristiani” (PF no.11). Oleh karena itu perlu diintensifkan perayaan iman dalam liturgi yang menarik dan menyentuh hati umat, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi yang merupakan puncak seluruh kegiatan Gereja dan sumber kekuatan Gereja (lih. PF 9).
Berdoa adalah bagian dari liturgi, karena dalam doa kita mengungkapkan hubungan kita dengan Allah Bapa yang Mahabaik. “Doa Kristen ialah relasi anak-anak Allah yang personal dan hidup dengan Bapa mereka yang mahabaik, dengan PutraNya Yesus Kristus, dan dengan Roh Kudus yang tinggal dalam hati mereka” (KKGK no.534). Allah selalu mendengarkan pujian, syukur dan doa-doa permohonan kita anak-anakNya. Oleh karena itu doa membangun dan menguatkan iman kita, menyuburkan kasih kita akan Allah Bapa yang Mahabaik, yang kita imani.

d.    Kesaksian Iman

Dalam sejarah keselamatan kita dapat melihat contoh teladan orang-orang beriman yang telah memberi kesaksian iman dalam hidupnya yang nyata, seperti Bunda Maria, para Rasul dan orang-orang kudus. Bapa Suci mengajak kita masing-masing agar tidak ada di antara kita yang malas di dalam iman, supaya kesaksian iman kita kuat. Dunia sekarang ini membutuhkan kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang telah dicerahi oleh sabda Tuhan dan mampu membuka hati dan budi banyak orang untuk merindukan Allah dan hidup yang sejati, yakni hidup yang kekal abadi (PF no.15). Dan Tuhan sendiri telah berpesan: “Kamu adalah garam dunia. … Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13.14).

Tahun Iman ini juga merupakan satu kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan kesaksian amal kasih kita, sebab kasih lebih besar dari pada iman dan pengharapan (bdk 1Kor 13:13). Oleh karena itu iman mesti disertai oleh kasih dalam perbuatan nyata. Kasih akan sesama adalah bukti bahwa kita murid Kristus (bdk Yoh 13:35; Yak 2:17; 2:20).

Yesus sendiri mengatakan: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 5:40). Solidaritas, yang menjadi satu unsur penting dari Visi Keuskupan Sibolga, merupakan perwujudan dari sabda Yesus ini. Maka mari kita kita mendukung usaha-usaha karya kasih melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang kita lakukan pada masa Prapaska, melalui dukungan yang kita berikan kepada Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Caritas Keuskupan Sibolga yang melakukan karya-karya sosial, demikian juga panti-panti asuhan yang diurus oleh para suster dan karya-karya sosial lainnya. Tapi pertama-tama mari kita perhatikan tetangga dan orang-orang yang kita jumpai setiap hari yang menderita entah karena apapun.

Pertobatan

Dalam surat apostoliknya Bapa Suci mengharapkan bahwa Tahun Iman ini semakin mengobarkan semangat pembaharuan yang menjadi tujuan dari Konsili Vatikan II, sehingga Tahun Iman ini merupakan suatu panggilan kepada pertobatan yang otentik untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya Juruselamat dunia, yang telah menyatakan kasih Allah yang menyelamatkan melalui wafat dan kebangkitanNya dan yang memanggil kita kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (lih. PF no.6).

Oleh karena itu pada Tahun Iman hendaknya kita sesering mungkin menerima sakramen Tobat, agar kita hidup dalam hidup yang baru bersama Kristus (bdk Rom 6:4), sehingga kita semakin dimurnikan dan semakin menyerupai Kristus. Hidup kita yang telah dibaharui tentu dapat juga menggugah hati sesama dan mendorong mereka untuk membaharui dirinya dan mendekatkan diri kepada Kristus. Dengan demikian pembaharuan diri itu semakin meluas.

Penutup

Sebagai gembala saya berharap bahwa seluruh umat Allah di keuskupan ini sungguh terlibat dalam mengisi Tahun Iman ini. Hendaknya para petugas pastoral dalam segala kegiatan pastoralnya memberi pendalaman-pendalaman iman bagi umat, lebih intensif melayani umat dalam liturgi, dan mendorong umat untuk semakin memberikan kesaksian iman dalam hidup harian mereka. Untuk itu hendaklah para imam dan katekis mendalami isi surat gembala Bapa Suci “Porta Fidei”, mempelajari Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik dan Kompendium Katekismus Gereja Katolik, agar dapat menyampaikan intisarinya kepada para petugas pastoral lainnya dan kepada umat beriman.

Hendaklah Tahun Imam ini membuat hubungan kita dengan Kristus, Tuhan, semakin bertambah dalam dan kuat, karena hanya di dalam Dia kita temukan tujuan iman kita, yakni keselamatan, yang akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman (bdk 1Ptr 1:6-9). Bapa Suci telah mengatakan dalam surat gembalanya: “Gereja, secara keseluruhan, bersama dengan semua pastornya, seperti Kristus, harus bergerak untuk membimbing umat keluar dari padang gurun menuju ke tempat kehidupan, ke dalam persahabatan dengan Putra Allah, kepada Dia, Sang pemberi kehidupan, bahkan kehidupan yang berkelimpahan” (PF no.2).

Sesuai dengan anjuran Bapa Suci dalam surat gembalanya, mari kita mempercayakan saat berahmat ini kepada Bunda Maria, yang diwartakan sebagai yang berbahagia karena telah percaya (Luk 1:45). Dengan teladan Bunda Maria, kita yakin bahwa orang yang percaya, akan mengalami kebahagiaan.

Sibolga, 21 September 2012, Pesta St. Matius, Rasul dan Pengarang Injil.

Uskup Sibolga,



Mgr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap.

SINGKATAN

PF    :    Porta Fidei, Surat Apostolik Santo Bapa Benediktus XVI, 11 Oktober 2011, diterjemahkan oleh Departemen Dokpen KWI.
KGK    :    Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus, Ende 1995.
KKGK    :    Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Penerbit Kanisius 2009.
PO    :    “Presbyterorum Ordinis”, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Penerbit Obor 1993.
SC    :    “Sacrosanctum Concilium”, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Penerbit Obor 1993.
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.