Headlines News :
Home » » MINGGU BIASA 31 (Thn. B), 4 November 2012

MINGGU BIASA 31 (Thn. B), 4 November 2012

Written By Admin on Minggu, 04 November 2012 | 12.48

4 November 2012
MINGGU BIASA 31 (Thn. B)
 

PERINTAH YANG PALING UTAMA
Ul 6:2-6; Ibr 7:23-28; Mk 12:28b-34


Ulasan Bacaan:
 
Jika aturan sudah terlalu banyak, perlu dicari perintah yang paling utama supaya orang tahu membuat prioritas yang mana harus didahulukan. Itulah latar belakang pertanyaan ahli Taurat dalam bacaan Injil. Tanpa ragu Yesus menegaskan bahwa hukum yang paling utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap tenaga, sesuai dengan penegasan hukum Taurat. Hanya Yesus membuat nyata (mengeksplisitkan) apa yang sebenarnya tersirat dalam perintah utama hukum Taurat itu, yakni mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Disebut tersirat, sebab pada dasarnya kasih kepada Allah mesti diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Itulah yang sering disalah mengerti oleh kaum legalistik: kasih kepada Allah dipisahkan dari kasih kepada manusia. Padahal yang benar, sebagaimana sering sekali ditegaskan oleh para nabi, kasih kepada Allah mesti ditunjukkan dan dinyatakan dalam kasih kepada manusia. Ibadah dan kurban menjadi tidak bernilai jika tidak diikuti dengan kasih nyata kepada sesama manusia. Karena itulah kurban yang didasarkan atas pemerasan kepada sesama sama sekali tak bernilai bahkan merupakan kekejian di hadapan Allah.
 
Pengenaan Untuk Hidup Sekarang:

Bagi yang bersemangat legalistis, yakni orang yang selalu mementingkan rumusan hukum secara resmi (hukum positif), perintah kasih yang disebut sebagai perintah paling utama oleh bacaan-bacaan tadi, sangat kabur. Mengapa? Justru karena kasih kepada Allah dan kepada sesama itu tidak bisa dirinci secara konkrit. Penilaian di sini lebih bersifat moral dan batiniah. Dengan kata lain, tindakan tidak lagi dinilai berdasarkan apa yang kelihatan saja tetapi juga berdasarkan motivasi yang mendorong orang berbuat sesuatu. Kurban tidak terutama dinilai berdasarkan nilai materialnya melainkan berdasarkan motivasi orang mempersembahkan kurban itu. Religiositas tidak diukur semata berdasarkan kesalehan ritual, melainkan juga sejauh mana kesalehan itu berpengaruh dalam interaksi kepada sesama manusia bahkan kepada segenap ciptaan. Dasar pikirannya ialah kasih kepada Allah yang tidak kelihatan mesti dinampakkan dan diwujudkan dalam kasih kepada manusia dan segenap ciptaan yang kelihatan. Dalam bahasa rasul Yakobus: iman mesti dinampakkan dalam perbuatan.
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.