Headlines News :
Home » » Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecil

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecil

Written By Admin on Minggu, 18 November 2012 | 17.43

Salah seorang tukang Rumah Adat Nias.-
Foto: Frans R. Zai
Pemberdayaan ekonomi keluarga-keluarga atau masyarakat yang ekonominya lemah adalah bagian dari tugas Gereja, karena merupakan perwujudan cinta kasih akan sesama, di mana kita berusaha agar semua orang sejahtera dan berbahagia. Lalu juga kita ingat bahwa perhatian terhadap orang-orang kecil dan miskin adalah tolok ukur untuk lolos pada pengadilan terakhir kelak dan masuk surga: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Ketika sinode keuskupan tahun 2009 kita telah menyadari bahwa umat katolik dan masyarakat di daerah keuskupan Sibolga kebanyakan berekonomi lemah. Situasi ini berdampak bagi seluruh segi kehidupan keluarga: kesehatan, pendidikan anak, dan juga hidup keagamaan. Oleh karena itu sinode menyadari pentingnya pemberdayaan ekonomi dan telah menentukan program-program di bidang pemberdayaan ekonomi.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat lemah mesti selalu didasari oleh cinta kasih terhadap sesama. Cinta kasih itu adalah cinta tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan dan ucapan terima kasih, karena orang kecil sering tidak sanggup memberikan imbalan dalam bentuk materi. Yesus sendiri memberi satu pegangan dalam membantu sesama: “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” Mat 6:3). Imbalan yang kita harapkan dari orang kecil adalah peningkatan ekonomi mereka, sehingga hidup mereka terangkat. Kalau ekonomi mereka meningkat, kita semua bahagia.

Prinsip pemberdayaan masyarakat kecil adalah orang kecil membantu orang kecil. Oleh karena itu amat penting rasa solidaritas, senasib dan sepenanggungan. Rasa sepenanggungan ini mendorong kita untuk saling mendukung dan saling membantu, agar sama-sama maju. Maka amat penting membangun sikap gotong-royong dan mengusahakan bentuk-bentuk kebersamaan atau koperasi. Kita sebagai orang beriman telah terbiasa dengan hidup bersama sebagai satu persekutuan, dan hidup sebagai saudara satu sama lain. Doa Yesus sebelum naik ke surga adalah agar kita orang beriman bersatu sama seperti Bapa satu adanya dengan Putera (bdk Yoh 17:21-23). Semangat persatuan ini tentulah menjadi dasar yang kokoh bagi kita juga dalam pemberdayaan ekonomi.

Bentuk-bentuk kebersamaan atau koperasi biasanya dimulai dengan cara sederhana: jumlah anggota tidak begitu banyak, tapi lama kelamaan bertambah. Maka mulailah dengan suatu kebersamaan yang kecil. Dalam hal itu kita sudah berpengalaman dalam memulai dan mengembangkan CU: selalu mulai dengan jumlah anggota yang kecil, kemudian bertambah banyak, dan menjadi besar.

Kita bersyukur karena di Keuskupan kita ada Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (YPKM), yang menaungi usaha-usaha Gereja yang bergerak dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Agar wadah ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat, dibutuhkan orang-orang yang peka melihat peluang-peluang untuk membentuk kelompok-kelompok yang termotivasi oleh cinta kasih, bukan oleh perhitungan untuk bagi diri sendiri, sehingga dapat menyerupai persekutuan Gereja perdana di Yerusalem (bdk Kis 2:44-45).

Oleh karena itu amat tepatlah Warta Keuskupan Sibolga dalam terbitan kali ini memusatkan perhatian pada Lembaga Keuangan Mikro (LKM), yakni usaha untuk meningkatkan ekonomi masyarakat kecil melalui usaha-usaha kecil. Usaha ini tentulah merupakan perwujudan rasa solidaritas kita sebagai umat dan warga masyarakat, yang merupakan bagian dari perwujudan Visi Keuskupan kita.

†Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap.
Uskup Keuskupan Sibolga
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.