Headlines News :
Home » » Uang

Uang

Written By Admin on Kamis, 08 November 2012 | 12.07

Oleh: Frans R. Zai

Adalah pengalaman yang tiada pernah terlupakan. Kala itu saya bekerja di sebuah lembaga non pemerintahan yang berada di salah satu kota kecil, di Sumatera Utara. Suatu ketika, pimpinan lembaga tersebut merasa keberatan karena saya tidak membiarkan foto-foto hasil jepretan saya digunakan di media publikasi lembaga tempat saya bekerja itu. Alasan keberatannya ialah karena dia telah membayar gaji saya selama bekerja di tempat itu.. Sayangnya ia ‘lupa’ bahwa gaji yang ia bayar itu adalah balas jasa sebagai karyawan, bukan sebagai fotografer di lembaga itu.

Agar berpikir positif, saya menganggap dia tidak tahu bahwa copyright (hak cipta) atas foto-foto saya berada pada saya dan belum pernah di-serahkan kepada lembaga itu, baik secara tertulis maupun  lisan.

Walau demikian, saya sendiri tidak yakin bahwa pimpinan lembaga itu tidak me-ngetahui tentang UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, yang dalam Pasal 8 ayat (3) dikatakan: “Jika suatu ciptaan dilakukan dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan pemegang Hak Cipta, ke-cuali diperjanjikan lain antara kedua pihak”. Barangkali sikap keberatannya itu justeru didominasi oleh: “Saya toh bisa membeli segala-galanya dengan uang”.

Uang memang sungguh berkuasa. Apa sih yang tidak bisa dilakukan bila ada uang? Bila ada uang, anda bisa melakukan perjalanan ke mana anda inginkan. Anda bisa membangun dan membeli rumah lengkap dengan perabot dan kendaraan mewah. Semuanya bisa asal ada uang. Uang bagaikan jimat yang oleh pemiliknya bisa digunakan untuk menolak ‘bala’.

Bila mata kita masih melek, kita pasti melihat bahwa kebanyakan manusia zaman kini memperhambakan diri kepada harta. Anda tidak yakin? Lihatlah sekeliling, begitu banyak orang yang sibuk mencari duit hingga lupa memba-ngun komunikasi yang baik di dalam keluarga. Tak mengherankan bila pertengkaran lebih sering terjadi di dalam keluarga sebagai akibat dari minimnya komunikasi.

Yah, alasan klasik “sibuk dengan pekerjaan, memang selalu menjadi senjata ampuh untuk merelatifisir minimnya interaksi dalam keluarga. Namun, bukankah itu juga menjadi affirmasi bahwa uang me-nguasai hidup manusia? Orang bekerja mati-matian untuk dapat uang.

Tak dapat dimungkiri bahwa kebanyakan di antara kita, keturunan Adam dan Hawa zaman kini, sungguh sangat tergantung kepada uang. Kita cukup sering lupa bahwa sekaya-kayanya seseorang, toh segala harta kekayaan itu tak dapat dibawa ke tempat tujuan hidup selanjutnya. Ia mendapat batas pada kefanaan.

Salah seorang konglomerat Indonesia yang baru-baru ini meninggal dunia (10/6/2012), Sudono Salim alias Liem Sioe Liong, juga tidak bisa membawa segala harta kekayaannya itu di alam baka.

Dengan tetap mengakui ketergantu-ngan terhadap uang, kita juga perlu me-nyadari bahwa uang bukanlah segala-galanya. Salah satu kata mutiara yang sering nongol dari bibir para ABG berbunyi: Money can not buy happiness, uang tak bisa membeli kebahagiaan.

Apakah anda bisa membeli kebahagiaan dengan uang? Rasanya tidak. Bila kebahagiaan bisa dibeli dengan uang, maka pastilah banyak orang kaya yang merasa bahagia dengan kelimpahan harta. Tapi ternyata tidak bukan?■
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.