Headlines News :
Home » » Imam Perlu Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Daerah

Imam Perlu Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Daerah

Written By Admin on Jumat, 04 Januari 2013 | 18.14

Menurut pengamatan bapak, bagaimana pelaksanaan liturgi di Paroki St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga (SPMDS)?

Setelah beberapa kali pelatihan liturgi yang diselenggarakan oleh Puspas, saya melihat ada perkembangan dalam pelaksanaan liturgi. Tata pelaksanaannya sudah seragam sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang sudah dibuat oleh Puspas. Misalnya urutan petugas liturgi pada saat perarakan, tempat duduk para petugas liturgi. Sebelum diselenggarakan pelatihan liturgi ini, tempat para petugas liturgi umumnya tidak beraturan atau sesuka hati para pengurus stasi. Misalnya para pengurus stasi umumnya lebih suka duduk di kursi imam yang ada di panti imam. Dalam pelatihan liturgi itu, para pengurus stasi diberikan pemahaman tentang tempat duduk para petugas liturgi sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sekarang, pada umumnya para pengurus stasi sudah mulai mengerti hal itu sehingga mereka tidak lagi duduk di kursi imam, melainkan di sisi kiri atau kanan panti imam. Demikian juga halnya dengan pemimpin ibadat sabda. Sebelumnya mereka suka menggunakan altar pada saat memimpin Ibadat Sabda. Melalui pelatihan liturgi, mereka diberi pemahaman tentang makna dan fungsi altar. Akhirnya, pada umumnya mereka tidak lagi menggunakan altar sekarang ini pada saat merayakan Ibadat Sabda.

KV II sangat menekankan partisipasi aktif umat dalam merayakan liturgi. Sejauh mana umat ikut terlibat secara aktif dalam perayaan liturgi?

Dalam perayaan-perayaan liturgi, biasanya umat terlibat sebagai petugas liturgi. Petugas liturgi tidak hanya mereka yang telah dilantik menjadi Dewan Pengurus Stasi, tetapi semua umat dapat mengambil peran sebagai petugas liturgi. Misalnya sebagai pembaca, pemimpin lagu, petugas doa umat, dsb.

Selain itu, umat juga membawakan koor atau vocal group, terutama pada saat perayaan ekaristi.  Pada umumnya di daerah Nias ini, terutama di wilayah Telukdalam, kegiatan-kegiatan seperti itu sudah membudaya. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan dalam kehidupan masyarakat. Di daerah Telukdalam, masyarakat mengembangkan sanggar-sanggar budaya. Hal ini mempunyai implikasi positif dalam liturgi gereja.

Walau demikian, cukup sering juga muncul masalah berkaitan dengan koor atau vocal group ini. Kadang-kadang tema lagu yang dinyanyikan oleh kelompok-kelompok koor atau vocal group itu tidak selalu selaras dengan tema liturgi saat itu. Karena sulit juga menemukan lagu-lagu yang pas untuk tema liturgi saat itu. Umumnya, kegiatan koor atau vocal group itu ditempatkan setelah homili atau selesai komuni.

Di pihak lain bila tidak ada kegiatan koor atau vocal group seperti itu, bisa jadi umat, terutama muda/mudi, pergi ke gereja tetangga untuk membawakan kegiatan serupa. Sebab di gereja tetangga, kegiatan berupa lagu-lagu pujian ini sungguh mendapat tempat atau boleh dikatakan mendominasi kegiatan ibadat mereka.

Liturgi bukan hanya tinggal pada perayaan kultis semata, tetapi juga mesti dihidupi dalam kehidupan harian. Bagaimana Bapak memperhatikan keselarasan perayaan liturgi itu sendiri dengan penghayatannya dalam kehidupan harian umat?
Sejauh saya perhatikan, mereka-mereka yang aktif ke gereja mengikuti perayaan-perayaan liturgi, pada umumnya mempunyai perilaku kehidupan sosial yang baik di tengah masyarakat. Dapat dikatakan bahwa mereka yang aktif ke gereja pada umumnya lebih mampu menerapkan dalam dirinya hal-hal yang baik daripada mereka yang tidak aktif ke gereja. Masalahnya ialah masih banyak di antara umat katolik yang tidak mengikuti perayaan-perayaan liturgi.

Selama Bapak menemani para pastor ke stasi-stasi, bagaimana kesan Bapak tentang sikap para imam dalam merayakan liturgi? Apakah sudah sesuai dengan harapan KV II?

Saya lihat selama ini, kalau kunjungan pastor ke stasi, pada umumnya berjalan dengan baik. Walau demikian, kadang-kadang juga ada pastor yang membuat variasi, terutama pada saat khotbah. Menurut tata liturgi, khotbah seharusnya disampaikan dari mimbar sebab khotbah itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Sabda yang dibacakan atau diperdengarkan kepada umat dari mimbar. Ini masuk pada bagian Liturgi Sabda. Di sini seharusnya dipahami bahwa dalam Liturgi Sabda, Allah berbicara kepada umatNya. Karena itu, mimbar mempunyai peranan penting dalam Liturgi Sabda.

Akan tetapi ada juga beberapa pastor, kalau berkhotbah, meninggalkan mimbar dan turun dari panti imam menuju tempat umat. Khotbah disampaikan seperti mengajar (berkatekese). Di satu sisi hal ini merupakan variasi dan bisa dimaklumi, sebab dengan metode seperti itu imam lebih dekat dengan umat. Namun di sisi lain, variasi seperti ini mempunyai implikasi negatif. Simbol mimbar sebagai tempat pewartaan Sabda menjadi hilang. Selain itu, ada juga pengurus stasi yang meniru gaya seperti itu karena dianggap sebagai contoh yang benar. Padahal, sebagian besar umat tidak bisa menerima bahwa pengurus stasi melakukan hal yang sama pada saat berkhotbah. Mereka menganggap bahwa hanya pastorlah yang boleh berkhotbah sambil bergerak ke sana ke mari di hadapan umat. Nah, ini barangkali hal sederhana, tetapi telah membuat umat bingung dan juga menimbulkan pertentangan di antara umat sendiri. Sejauh saya amati, sebenarnya umat lebih senang bila imam, termasuk pengurus stasi, menyampaikan khotbah dari mimbar.

Sehubungan dengan Perayaan Liturgi ini, apakah masih ada catatan-catatan lain yang menurut Bapak masih perlu mendapat perhatian?
Rasanya, penguasaan bahasa lokal perlu mendapat perhatian para imam. Selama saya mendampingi para pastor ke stasi-stasi, saya melihat bahwa ada beberapa pastor yang tidak paham atau kurang tahu berbahasa daerah (Bahasa Nias). Karena perbendaharaan kata yang dikuasai dalam bahasa daerah sangat minim, maka pastor tersebut menyampaikan khotbah setengah bahasa daerah dan setengah Bahasa Indonesia. Jadi, serba tanggung. Lalu kalau berbicara dalam bahasa Nias, tidak jelas maksudnya. Hal ini sungguh mengganggu. Jadi menurut saya, para imam perlu memberikan perhatian untuk meningkatkan kemampuan berbahasa daerah. Hal ini penting terutama pada saat perayaan liturgi, pelayanan sakremental.

Selain bahasa, saya juga melihat perlu ada keseragaman penempatan pelaksanaan pembaptisan. Umumnya kalau kunjungan ke stasi, bukan hanya perayaan ekaristi saja yang dilaksanakan, tetapi cukup sering juga dilaksanakan upacara pembaptisan dalam perayaan ekaristi. Pada umumnya para pastor melaksanakan upacara pembaptisan setelah homili. Namun ada juga beberapa pastor yang melaksanakan upacara pembatisan tersebut sesudah komuni.  Rasanya, perlu ada keseragaman tentang penempatan upacara pembaptisan agar umat tidak bingung. [FrZ]
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.