Headlines News :
Home » » Liturgi Yang Hidup

Liturgi Yang Hidup

Written By Admin on Sabtu, 05 Januari 2013 | 07.00


Kita tahu, selain ajaran iman, liturgi  adalah satu dari bagian hidup keagamaan kita yang membuat agama katolik berbeda dari agama-agama lain. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci mengatakan bahwa Liturgi adalah “puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya kekuatannya. Sebab usaha-usaha kerasulan mempunyai tujuan: supaya semua orang melalui iman dan Baptis menjadi putra-putra Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam Kurban dan menyantap perjamuan Tuhan” (SC 10). Menyadari pentingnya liturgi bagi kehidupan Gereja, maka amat penting bahwa pelaksanaan liturgi mendapat perhatian besar dalam Gereja Katolik.

Dalam melaksanakan liturgi Konsili Vatikan II menegaskan “supaya dalam kegiatan Liturgi jangan hanya dipatuhi hukum-hukumnya untuk merayakannya secara sah dan halal, melainkan supaya Umat beriman ikut merayakannya dengan sadar, aktif, dan penuh makna” (SC 11; bdk 48). Karena liturgi itu adalah puncak segala kegiatan dan sumber kehidupan Gereja, maka memang seluruh anggota Gereja mesti terlibat aktif dalam merayakan liturgi itu. Keterlibatan aktif umat beriman perlu, supaya liturgi yang dirayakan sungguh berdayaguna: membuat orang beriman sehati-sejiwa dalam kasih dan mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka rayakan (bdk SC 10).

Apa saja yang dapat membantu supaya kita sungguh berperan aktif dalam merayakan liturgi, sehingga liturgi yang kita rayakan berdayaguna bagi kehidupan kita? Perlu persiapan. Persiapan pertama ialah persiapan pribadi. Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap batin yang serasi, yakni menyesuaikan batin dengan apa yang dirayakan (bdk SC 11). Misalnya dalam merayakan Ekaristi, hendaklah kita datang dengan hati yang bersaudara, tidak menyimpan dendam terhadap sesama, karena yang kita rayakan adalah perjamuan cinta kasih, perjamuan persaudaraan. Karena itu Yesus bersabda dalam injil: “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

Mengapa sering terjadi dalam perayaan liturgi umat mengantuk? Hal ini juga terkait dengan persiapan pribadi. Mungkin kita kurang tidur sebelumnya. Tapi besar kemungkinan bahwa hati dan pikiran kita tidak sejalan dengan apa yang sedang kita rayakan, atau apa yang kita rayakan tidak mengena pada hati dan pikiran kita. Oleh karena itu selain persiapan pribadi, tidak kalah pentingnya persiapan bahan, lagu dan bacaan yang akan dipakai dalam liturgi itu. Demikian juga tentunya amat penting persiapan para petugas liturgi bukan hanya dalam khotbah yang dibawakan, tetapi juga dalam penampilan selama membawakan liturgi itu. Persiapan para petugas liturgi adalah merupakan bagian dari sikap pelayanan: karena sadar bahwa liturgi yang dibawakan itu mengenai seluruh umat yang hadir, maka petugas liturgi merasa wajib dan berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Liturgi yang hidup bukanlah hanya dalam pelaksanaan atau perayaannya, tetapi karena perayaannya sungguh baik dan mengena, maka liturgi yang telah kita rayakan itu sungguh membentuk diri kita masing-masing dan persekutuan kita yang telah merayakannya, sehingga buahnya dapat kelihatan dan dirasakan oleh orang lain dalam perilaku hidup kita sehari-hari. Dengan demikian liturgi yang kita rayakan bukan hanya sekedar perayaan belaku, tetapi sungguh menjadi liturgi yang hidup karena mempengaruhi kehidupan nyata kita.

Akhirnya sama seperti semangat untuk mengikuti kursus-kursus atau pelatihan lain, demikian kiranya semangat dan antusiasme para petugas pastoral mengikuti kursus-kursus yang diadakan oleh Paroki di bidang liturgi. Tempat melaksanakan liturgi, yakni gereja dan alat-alat yang dipakai dalam liturgi hendaklah bersih dan rapih, supaya umat dapat dengan hikmat merayakan liturgi itu. Mari kita senantiasa berusaha menyelaraskan liturgi yang kita rayakan dengan kehidupan nyata kita.

Mgr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap.
Uskup Keuskupan Sibolga
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.