Headlines News :
Home » » Menggali Makna Hari Minggu

Menggali Makna Hari Minggu

Written By Situmeang on Senin, 10 Juni 2013 | 14.47

Oleh: Tota  Manombaktua Situmeang, S.Ag

Hari Minggu dalam Bentang Sejarah

Sudah sejak tahun 4000-3000 sM, manusia menemukan dan mengenal sistem kalender berdasarkan peredaran tata surya, yaitu bulan, matahari dan iklim. Sistem ini digunakan untuk  mengukur terbit dan terbenamnya matahari setiap hari, peredaran bulan setiap bulan atau setiap tigapuluh hari dan peredaran matahari sepanjang tahun selama dua belas bulan sama dengan 361 hari. Maka baik kalau sejenak dipaparkan dari mana asal-usul hari-hari yang dikenal sekarang ini.

Asal-usul hari

Nama-nama hari disusun berdasarkan penampakan planet setiap hari pada jam pertama. Peredaran bulan menjadi dasar pergantian hari yang dimulai dengan malam. Maka setiap bulan baru dihitung sebagai hari pertama. Setiap hari pada jam pertama bulan baru planet menampakkan diri pada manusia. Pada hari pertama jam pertama, planet yang muncul adalah Saturnus, jam kedua Yupiter, jam ketiga Mars, jam keempat Surya, jam kelima Venus, jam keenam Merkurius dan jam ketujuh Bulan kemudian kembali ke Saturnus. Perhitungan berlangsung terus hingga jam keduapuluh lima atau jam pertama pada hari kedua. Pada jam pertama hari kedua ini yang muncul ialah Surya, pada hari ketiga jam pertama ialah Bulan, pada hari keempat jam pertama ialah Mars, pada hari kelima jam pertama Merkurius, pada hari keenam jam pertama muncul Yupiter dan pada hari ketujuh jam pertama Venus. Demikian hari pertama dimulai hingga hari ketujuh : Saturnus = Saturday; Surya = Sunday; Bulan = Monday; Mars = Tuesday; Merkurius = Wednesday; Yupiter = Thrusday dan Venus = Friday.

Dalam dunia kekristenan, berkat pengaruh agama surya sekitar abad pertama, hari pertama diubah dari Saturnus ke Surya. Hal ini tampak dari tulisan seorang Astronom Vettus Valens, pada abad ke -2 yang menulis urutan hari sebagai berikur: Surya = Minggu; Bulan = Senin; Mars = Selasa; Merkurius = Rabu; Yupiter = Kamis; Venus = Jumat dan Saturnus = Sabtu. Demikian hari pertama disebut hari Minggu. Orang kristen menyebut hari pertama ini sebagai Hari Tuhan, dalam bahasa Ibrani disebut ehad, Arab = ahad, Portugis Dominggo, Latin Dies Natalis atau Dominicum dan Prancis Dimanche, Inggris Sunday, Jerman Sontang dan Belanda Zondag dan agama surya menyebut hari surya. Peristilahan ini muncul dari pengaruh filsafat Stoa Syiria yang berkembang di dunia Yunani-Romawi, di mana dilaksanakan pribadatan kepada Helios dewa matahari.

Pemahaman ini berdampak luas dalam berbagai aspek kehidupan. Sang surya menjadi fokus dan budaya masyarakat, tak terkecuali Gereja. Gereja melihat adanya kemiripan dari dewa matahari ini dengan Yesus Kristus. Maka perayaan kepada Sang surya dalam budaya Yunani diadopsi menjadi peribadatan kebangkitan dan kelahiran Kristus, sebab Kristuslah Sang Surya sejati.

Sejarah Peribadatan dari Sabat ke Minggu

Dunia Yahudi dalam Perjanjian Lama merayakan peribadatan pada hari Sabat, yaitu hari ketujuh, berdasarkan penuturan Penciptaan dalam Kitab Kejadian 1-2:4. Allah mencipta selama enam hari berturut-turut dan pada hari ketujuh Ia beristirahat dari seluruh pekerjaan-Nya. Maka sabat adalah hari istirahat bagi orang Yahudi, yang kemudian didedikasikan atau dikuduskan menjadi penghormatan kepada Allah. Praktek hari sabad ini masih berlangsung hingga kedatangan Yesus dan samapai hari ini tetap dipelihara, terutama oleh Gereja Adven Hari Ketujuh. Bagi mereka hari sabtu adalah hari yang kudus.

Yesus menentang hari sabat yang terlalu legalistis dan sekaligus menyatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuan atas hari sabat. Karena penentangan ini Yesus dibunuh. Maka dapat dikatakan bahwa kedatangan Yesus membawa polemik atas hari sabat. Orang farisi menentang dan mengatakan bahwa Yesus tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari sabat. Namun demikian, sebagian besar orang Yahudi percaya bahwa perbuatan-Nya yang mendobrak kekuatan hukum adalah pewahyuan karya penyelamatan Allah. Maka lahirlah dua kelompok orang Yahudi.

Polemik serupa tetap berlanjut bukan hanya di kalangan Yahudi, juga di kalangan jemaat perdana. Sebagian tetap mempraktekkan sabat Yahudi dan yang lain memisahkan diri dari praktek itu dan menjadikan hari minggu sebagai hari untuk berkumpul bersama merayakan Ekaristi dan berdoa dalam Nama Yesus.

Sejarah hari Minggu sebagai hari Peribadatan

Sejarah hari Minggu menjadi hari peribadatan berawal dari kebangkitan Yesus. Kitab Suci memberi kesaksian “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain menjenguk kubur Yesus” Mat 28: 1. “Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Daripadanya Yesus pernah mengusir tujuh setan” Mrk 16: 9. “Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka” Luk 24: 1. “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur” Yoh 20: 1. Sesudah penampakan kepada para wanita, Yesus juga menampakkan diri kepada Petrus dan kepada kedua orang murid dalam perjalanan ke Emaus. Maka secara singkat dapat dikatakan bahwa peristiwa hari pertama dalam pekan merupakan inti sejarah keselamatan.

Pengalaman langsung para murid yang mengenai hari pertama diberi arti oleh misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Disamping kesaksian langsung para murid, Yohanes juga berbicara mengenai hari pertama: “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang  nyaring, seperti bunyi sangkakala” Why 1:10.

Teologi Hari Minggu

Hari minggu adalah paskah mingguan untuk merayakan peringatan misteri Paskah Kristus. Pada perayaan ini umat beriman masuk ke dalam misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dan karya keselamatan menjadi aktual dan operasional. Dengan demikian hari minggu bermuatan sakramental, karena itu hari minggu memiliki tiga dimensi. Pertama dimensi commemoratve,  yakni pengenangan akan penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus yang sudah terjadi di masa lampau. Kedua dimensi demonstrative, yaitu penyataan manifestasi Allah yang menguduskan manusia dan penundukan jawaban manusia akan penyataan itu dengan ungkapan syukur pada saat ini. Ketiga, dimensi prognostic, yaitu suatu peristiwa yang mengarah ke depan dan menunjuk pada kemuliaan kelak. Hal ini menunjuk bahwa secara sakramental merayakan paskah pada hari minggu berarti umat masuk dalam tiga lapisan waktu sekaligus.

Maka berdasarkan namanya, teologi hari minggu ialah: pertama: hari pertama sesudah sabat. Hari pertama sesudah sabat untuk hari minggu merupakan istilah yang paling tua, yang menggaungkan kebangkita Yesus. Hari pertama sebagai simbol yang mengingatkan permulaan penciptaan Kej 1. kedua, Hari Kedelapan. Hari kedelapan untuk orang kristen mengarah pada masa eskatologis, yang mengetegahkan realitas baru, mewartakan kebangkitan kekal, pertemuan definitif dengan Tuhan. Maka perayaan Ekaristi adalah tanda yang pasti tentang perjumpaan umat beriman dengan Tuhan pada akhir zaman. Hari kedelapan adalah awal dari dunia baru dan tanda kehadiran Abadi. Ketiga, Hari Tuhan. Adalah ungkapan yang dikenakan kepada Kristus. Maka hari minggu adalah hari Kristus yang secara sakramental merupakan perjumpaan mingguan umat beriman dengan Kristus yang sudah bangkit. Keempat, Hari Gereja dan Ekaristi, yaitu perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, umat beriman sekaligus menghayati kebersamaan sebagai Gereja, di sini hari minggu dilihat sebagai hari persekutuan yang dipersatukan oleh ikatan cinta Allah Tritunggal lewat perayaan Ekaristi. Ekaristi inilah yang menjadi pusat perayaan umat beriman. Kelima, hari Roh Kudus, perjumpaan dengan Kristus yang bangkit terjadi dalam kekuatan Roh Kudus. Yesus menghembusi para murid dengan Roh Kudus dan berkata: “Terimalah Roh Kudus” Yoh 20: 22. Keenam, hari Pembaptisan dan penciptaan baru, artinya perjumpaan dengan Kristus yang bengkit menyadarkan umat beriman akan dirinya sebagai Putera pilihan Allah Kis 17: 28 yang telah dilahirkan kembali dalam Roh berkat sakramen pembaptisan. Umat beriman seluruhnya berasal dan dilahirkan dari Allah Yoh 1:12, maka umat beriman disebut anak-anak Allah.

Hari minggu adalah inti seluruh tahun liturgi Gereja

Karena hari minggu adalah dasar dan inti seluruh tahun liturgi Gereja, maka perayaan ini tidak bisa digantikan dengan perayaan-perayaan lain. Hari ini harus dipertahankan sebagai hari pesta wajib yang paling pertama di seluruh Gereja. Sebagai perayaan wajib umat beriman, maka hukum Gereja mewajibkan umat beriman untuk mengikuti Ekaristi pada hari minggu dan diharapkan tidak melakukan pekerjaan dan urusan yang merintangi ibadah yang harus dipersembahkan kepada Allah atau yang merintangi kegembiraan hari Tuhan atau yang merintangi istirahat yang dibutuhkan jiwa dan raga KHK. 1246-1247.

Diluar perayaan Ekaristi hari minggu, umat beriman diutus untuk mengungkapkan lebih lanjut nilai-nilai hari Tuhan dengan baebagai cara dalam kehidupan harian. Iman yang dihayati dan yang ditimba dari perayaan pada hari minggu harus direalisasikan dalam kehidupan barsam di tengah masyarakat. Dengan demikian kerajaan Allah semakin terpancar di bumi. Sebab iman tanpa perbuatan akan mati, kata Rasul Yakobus. Pace e Bene. [Penulis adalah pemerhati perkembangan Gereja Katolik dan Budaya Batak Toba, Tinggal di Aek Tolang-Pandan].
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.