Headlines News :
Home » » Semiloka Media Sosial Dalam Karya Pewartaan Gereja

Semiloka Media Sosial Dalam Karya Pewartaan Gereja

Written By Admin on Minggu, 23 Juni 2013 | 20.11

RP. Agus Alfons Duka SVD
Sekretaris Eksekutif Komisi KOMSOS KWI
Hari ini (23/6/2013), Komisi KOMSOS KWI menyelenggarakan Semiloka tentang Media Sosial Dalam Karya Pewartaan Gereja. Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari (23-25/6/3013) di Puri Artha Hotel Yogyakarta ini diikuti oleh 15 orang Ketua KOMSOS Keuskupan se-Indonesia, 5 orang utusan tarekat religius, 3 orang dari Komsos KWI dan 2 orang Narasumber.

Acara pembukaan diawali dengan Perayaan Ekaristi (16.30 Wib) yang dipimpin oleh RD. Theodorius Amelwatin, Ketua Komisi KOMSOS Keuskupan Amboina. Usai Perayaan Ekaristi, RP. Agus Alfons Duka menyampaikan Kata Pengantar sekaligus membuka Kegiatan Semiloka secara resmi.

Dalam Kata Pengantarnya, Sekretaris Eksekutif Komisi KOMSOS KWI ini mengungkapkan bahwa Gereja masa kini membutuhkan Misionaris Digital. Artinya kegiatan pewartaan mesti memasuki dunia digital. Bila dahulu kala pewartaan dilakukan melalui mimbar, pada zaman sekarang pewartaan justeru melampaui ruang dan waktu, yakni dengan menggunakan "jari" (Digitus).

Pada masa sekarang ini, masyarakat umum termasuk umat Katolik sudah mengenal dan menggunakan jejaring sosial. Seiring dengan itu terbentuk juga kelompok-kelompok komunitas di dunia maya (cyber). Dalam konteks ini Gereja mesti melihat jejaring sosial sebagai ruang untuk evangelisasi baru.

Sementara itu pada sesi pertama usai acara pembukaan, Bapak Errol Jonathans menyajikan materi tentang Media Sosial. Ia mengungkapkan bahwa derasnya gelombang informasi melalui penggunaan Media Sosial dan internet pada zaman sekarang seakan tak terbendung. Ia memberikan contoh peristiwa kecelakaan Lion Air pada tanggal 13 April 2013 yang lalu. Berita dan foto-foto tentang peristiwa kecelakaan itu dimunculkan dan disebarluaskan oleh orang-orang yang berada di sekitar kejadian melalui Media Sosial, BB, dsb. Awak media (pers) baru datang ke lokasi setelah mendapat informasi melalui berita yang sudah tersebar luas di internet.

Di katakan bahwa setiap hari pengguna internet diterpa 1600 informasi dan iklan. Marshall McLuhan dalam bukunya yang terbit pada awal tahun 60, berjudul Understanding Media: Extension of A Man, mengungkapkan bahwa kemunculan internet dan media sosial telah melahirkan Global Village. Para pengguna internet dihimpun dalam Perkampungan Global. Di sini tidak ada lagi batas waktu dan tempat. Informasi berpindah dengan cepat dan komunikasi sangat terbuka sebab dapat diakses oleh siapapun dari tempat manapun. Karena itu internet menjadi teknologi utama komunikasi dan informasi. McLuhan juga mengatakan bahwa media mempengaruhi masyarakat di mana ia berperan.

Sebuah survei yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2012 mencapai 63 juta orang atau 24,23 persen dari total populasi negara ini. Tahun 2013, angka itu diprediksi naik sekitar 30 persen menjadi 82 juta pengguna dan terus tumbuh menjadi 107 juta pada 2014 dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada 2015.

Dari 63 juta pengguna internet di Indonesia, barangkali ada sekian ribu umat katolik di dalamnya. Bila setiap paroki di Keuskupan mempunyai Gembala (Parokus), pertanyaan sekarang ialah siapa Gembala bagi sekian ribu umat katolik pengguna internet di Indonesia? Ini menjadi tantangan yang mesti disikapi oleh Gereja pada masa kini.

Ketua Komsos Keuskupan Sibolga, Fr. Frans R. Zai OFMCap, turut mengikuti kegiatan ini. [WKS/SBG/01]
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.