Headlines News :
Home » » HR Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2013

HR Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2013

Written By Admin on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 10.25

17 Agustus 2013
HARI RAYA KEMERDEKAAN RI


Kewajiban Hidup Bernegara
Sir 10:1-8; 1Ptr 2:13-17; Mt 22:15-21

Ulasan Bacaan:

Ketiga bacaan pada hari raya kemerdekaan negara RI ini memberi perhatian secara seimbang antara kewajiban pemerintah dan warga negara dalam hal memelihara hidup bersama yang rukun dan damai. Bacaan pertama dari kitab Sirakh lebih memberi pedoman kepada pemerintah dalam mengelola negara. Antara lain dikatakan: “Sebuah kota (tentu juga negara-red.) sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.” Dan segera sesudah itu diingatkan bahwa pemilik kuasa yang sesungguhnya adalah Tuhan. Sedangkan bacaan kedua lebih menekankan kewajiban warga negara kepada para penguasa. Dasar kewajiban disebut: kuasa itu berasal dari Allah sendiri. Para penguasa itu memerintah atas nama Allah. Maka dalam Injil Yesus menegaskan: “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Itu berarti setiap orang, baik itu penguasa maupun rakyat, harus memelihara hidup beragama dan bernegara dalam keharmonisan: agama tidak boleh diperalat demi tujuan politik; demikian juga politik tidak bisa mengganggu hidup beragama warga negara, tetapi justru harus menjamin warga negara dapat melaksanakan agamanya.

Pengenaan Untuk Hidup Sekarang:

Karena dasar negara Pancasila, di mana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Mahaesa, negara kita dikenal sebagai negara bertuhan meskipun tidak didasarkan atas salah satu agama tertentu. UUD negara kita menjamin kebebasan hidup beragama warganya. Namun pada kenyataan tidak jarang terjadi kita, khususnya orang Kristen, yang nota bene dari segi jumlah termasuk minoritas di negara ini, mesti rela menelan pengalaman pahit: memakai simbol-simbol agama dibatasi, izin mendirikan rumah ibadat sangat sulit diperoleh bahkan gereja yang sudah lama berdiri tak sayang-sayangnya dirubuhkan. Namun, sebagaimana dinasehatkan oleh penulis surat kedua rasul Petrus, kita tidak boleh menyerah kepada kejahatan, tetapi harus tekun berbuat baik dan dengan demikian melumpuhkan kejahatan orang-orang fasik. Garis perjuangan yang telah dirintis oleh pejuang-pejuang Gereja dan negara kita mesti kita ikuti dengan konsisten: seratus persen Katolik seratus persen warga negara RI. Kita mesti bergandengan tangan dengan semua warga negara yang berniat baik membangun negara kita ini menuju cita-citanya: damai, adil dan makmur. [RP. Bonifasius B. Simanullang OFMCap]
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.