Headlines News :
Home » » Dua Orang Imam Meninggal Dunia, Uskup Keuskupan Sibolga Merasa Kehilangan

Dua Orang Imam Meninggal Dunia, Uskup Keuskupan Sibolga Merasa Kehilangan

Written By Admin on Kamis, 12 September 2013 | 13.19

Dalam waktu yang sangat berdekatan, Gereja Katolik Keuskupan Sibolga kehilangan dua orang imam. Pada hari Kamis (5/9), Pastor Adifeti Telaumbanua Pr meninggal dunia di Sumba dan dikebumikan pada hari Minggu (8/9) di Aektolang Kabupaten Tapanuli Tengah. Air mata duka cita masih belum kering dari mata seluruh umat Keuskupan Sibolga tiba-tiba pada hari Selasa (10/9), Gereja Katolik Keuskupan Sibolga kembali dikejutkan oleh berita tentang meninggalnya Pastor Tarsisius Tambunan OFMCap, Pastor Paroki Tumbajae.

Menanggapi pertanyaan Warta Keuskupan Sibolga (WARKES) sekaitan dengan meninggalnya kedua orang imam yang berkarya di Keuskupan Sibolga ini, Uskup Keuskupan Sibolga, Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap mengatakan bahwa dia sangat terkejut dan merasa kehilangan dengan peristiwa meninggalnya kedua orang imam yang masih berusia muda itu.

"Saya sangat terkejut mendapat berita bahwa Pastor Adifeti tiba-tiba meninggal dunia di Sumba karena dia baru selesai ujian S2. Lalu saya kembali sangat terkejut hari Selasa sesudah sarapan mendengar berita bahwa Pastor Tarsis meninggal dunia, karena senin sorenya saya masih bicara dengan dia bersama P. Theophil Odenthal di kantor keuskupan. Kami masih bicara tentang program - program pastoral di paroki Tumbajae", ujar Mgr. Ludovicus.

Lebih lanjut, Pimpinan Gereja Katolik Keuskupan Sibolga ini mengatakan: "Saya sungguh merasa kehilangan. Dua orang imam meninggal dunia dalam waktu kurang satu minggu. Mereka berdua masih muda, 44 tahun, dan bersemangat. Pastor Adifeti direncanakan bekerja di Pusat Pastoral Keuskupan. P. Tarsis baru setahun Pastor paroki di Tumbajae dan sangat bersemangat menerapkan hasil sinode keuskupan, dan sudah mulai nampak hasilnya, umat bersemangat dan mulai aktif. Dia tidak kenal lelah dalam melayani umat".

Uskup yang berpembawaan sederhana ini juga memperhatikan bahwa begitu banyak umat yang datang melayat dan mengungkapkan rasa kehilangan atas berpulangnya kedua imam itu. Menurut dia, hal tersebut mengungkapkan bahwa umat sangat mendambakan dan mengasihi imamnya.

"Oleh karena itu saya yakin bahwa peristiwa ini mendorong umat untuk berdoa dan mendidik anak dengan baik, supaya Tuhan dapat memanggil dan memilih dari antara anak mereka menjadi imam dan biarawan-biarawati", katanya.

Kepada seluruh umat katolik, diapun berpesan: "Mari kita semua umat Allah menyimak makna peristiwa yang mengejutkan dan menyedihkan ini dalam terang iman".

Untuk diketahui, pada umumnya seseorang yang ditahbiskan menjadi seorang imam di dalam Gereja Katolik harus terlebih dahulu menempuh pendidikan selama kurang lebih 11-12 tahun, terhitung sejak tamat SMA. Di samping itu untuk konteks wilayah Keuskupan Sibolga, jumlah imam tidak sebanding dengan jumlah umat yang dilayani. Jumlah imam sangat sedikit sementara jumlah umat yang dilayani terus berkembang.

Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Sibolga, RD. Dominikus Doni Ola yang berhasil dihubungi oleh WARKES siang ini (12/9) mengatakan bahwa satu orang imam di Keuskupan Sibolga melayani 5000-an umat. Itu berarti bahwa dengan meninggalnya kedua orang imam ini, Keuskupan Sibolga mesti bekerja keras untuk melayani sekitar 10.000-an umat yang kehilangan gembalanya.

Dalam konteks seperti ini dapat dimengerti bila Uskup dan seluruh Gereja Katolik Keuskupan Sibolga sungguh merasa kehilangan atas meninggalnya kedua orang imam yang masih tergolong muda ini. [Frans R. Zai OFMCap]
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.