Headlines News :
Home » » Kerinduan dan Keteguhan Iman Seorang Dokter Gigi

Kerinduan dan Keteguhan Iman Seorang Dokter Gigi

Written By Admin on Rabu, 18 September 2013 | 17.37

drg. Erli (kanan) bersama suami tercinta
Pancaran sinar mata nan lembut disertai senyuman dan tutur sapa yang sederhana, itulah kesan pertama tatkala bertemu dengan Agatha Leonora Erli. Ibu yang sehari-hari bekerja sebagai Dokter Gigi di salah satu Puskesmas Padangsidimpuan ini dikenal sebagai salah seorang sosok yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani.

Disela-sela kesibukannya mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Biro KOMSOS Keuskupan Sibolga pada 7-10/8/2013 yang lalu, ibu Erli - demikian ia biasa disapa - menyempatkan diri berbincang-bincang dengan WARKES.

“Aku sungguh merasakan campur tangan Tuhan di dalam kehidupanku”, ungkapnya dengan mimik serius mengawali perbincangan dengan WARKES saat itu. Penyertaan Tuhan itu semakin dirasakannya dalam membangun rumah tangga yang dari awal dimulai dengan pernikahan beda agama.
Kerinduan

“Dulu sebelum kami menikah, suami saya berjanji akan masuk agama katolik selekas kami telah menikah. Namun setelah kami menikah, orang tuanya tidak mengizinkan dia untuk menjadi katolik sebab orang tuanya adalah tokoh agama Buddha”, tuturnya.

Ibu kelahiran Bandarlampung ini mengisahkan bahwa sejak awal pernikahan mereka hingga putri pertama mereka masih dalam kandungan, sang suami masih mau menghantar dia ke gereja. Namun setelah itu, sang suami tidak lagi menghantar dia ke gereja karena tidak tahan mendengar gunjang-ganjing orang-orang di sekitar mereka.

“Itulah katanya (orang-orang,- Red.), masa bapaknya tokoh agama Buddha, anaknya ke gereja. Jadilah dia tidak ke gereja lagi. Aku pun jadi akhirnya ke gereja sendirilah. Lahir anak, mandeglah aku mau ke gereja, mengurus anak. Sampai didatangi P. Theophil waktu itu, kok tidak ke gereja? Dari situ mulai aktif lagilah, ke gereja lagi, gitu”, kisahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Dari hasil pernikahannya dengan suaminya yang bernama Dalin, drg. Erli dikaruniai Tuhan dua orang anak. Meskipun kedua anak mereka ini belum dibaptis di dalam Gereja Katolik, namun ia mencoba menanamkan nilai-nilai ke katolikan di dalam diri mereka sejak kecil. Saat itu dia sering memberikan bacaan-bacaan rohani katolik kepada mereka, seperti majalah-majalah katolik, buku-buku rohani, dan sebagainya. Dengan itu dia berharap bahwa kebiasaan-kebiasaan di dalam Gereja Katolik tertanam di dalam diri anak sejak dini.

Dokter yang kini berusia 54 tahun ini merasakan ada perkembangan di dalam rumah tangganya. Sekarang, katanya, sang suami sudah mau menghantar dia pergi ke gereja. Bahkan kalau ada kegiatan-kegiatan gereja, suaminya mendorong dia untuk memberikan sumbangan. Dia sungguh mensyukuri perkembangan ini. Walau demikian, dia tetap merindukan dan mendoakan agar suami dan kedua buah hati mereka dibimbing oleh Tuhan sehingga bisa menjadi katolik. Bagaimanapun ia masih tetap merindukan agar suami tercinta berkenan menepati janji yang pernah diucapkannya sebelum mereka membentuk keluarga. Janji itu masih tetap hidup di dalam hatinya hingga saat ini.

Meski begitu, ia menyerahkan segalanya kepada kehendak ilahi. Satu keyakinannya bahwa Tuhan senantiasa mendengarkan doa setiap orang yang setia kepada-Nya. Karena itu, ia juga percaya bahwa suaminya tercinta masih mengingat janji yang pernah dia ucapkan itu dan akan memenuhinya.

Menolak Memakai Jilbab

Ternyata keteguhan iman drg. Erli tidak hanya diuji di dalam keluarga yang sudah mereka bangun. Kesetiaannya terhadap iman kekatolikan juga mendapat tantangan dalam menjalankan tugas sebagai dokter PNS. Pada awalnya, katanya, dia ditugaskan sebagai dokter gigi di Puskesmas Sitinjak, Kabupaten Tapanuli Selatan. Setelah Pemerintahan Kota (Pemko) Padangsidimpuan terbentuk, diapun dipindah-tugaskan ke Dinas Kesehatan Pemko Padangsidimpuan. Menurut dia, mutasi itu dilakukan karena pada saat itu dia golongan IV sedangkan di Dinas Kesehatan Pemko Padangsidimpuan masih belum ada orang yang bergolongan IV.

"Karena struktur organisasi itu belum penuh terisi, nah dimintalah aku berjabatan di situ. Jadi berjabatanlah di situ dengan syarat setelah ada pengganti aku harus kembali ke Puskes", kisahnya.

Setelah tenaga yang memenuhi persyaratan sudah ada, ibu Erli pun menagih janji dan meminta agar diperkenankan keluar dari Dinas Kesehatan. Pada waktu itu, katanya, telah didirikan Poliklinik Pemko berkat permohonan yang dia ajukan sebelumnya saat bertugas di Dinas Kesehatan. Nah, akhirnya dia pun ditempatkan di Poliklinik Pemko tersebut. Dituturkannya bahwa pada mulanya, Poliklinik itu berada di kompleks kantor Walikota Padangsidimpuan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, poliklinik tersebut dipindahkan ke kompleks Mesjid Raya Padangsidimpuan.

Setelah Poliklinik itu berada di kompleks Mesjid Raya, tantangan terhadap imannya pun dimulai. Dia dipanggil oleh Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan saat itu dan dikatakan bahwa Poliklinik sudah berada di lingkungan Mesjid. Karena itu semua petugas medis harus memakai jilbab.

"Kalau ibu tidak pakai, ibu harus pindah karena tidak mungkin lagi di situ", kisah drg. Erli menirukan kalimat Kadis Kesehatan saat itu. Sontak ibu yang teguh memegang iman kekatolikan ini menolak instruksi Kepala Dinas Kesehatan tersebut.

"Jadi saya bilang, okelah, pindahkan saja saya. Saya tidak perlu di situ lagi meskipun saya yang meminta pada awalnya agar diberdirikan Poliklinik Pemko itu. Saya bilang, saya tidak mau pakai jilbab ", kisahnya.

Akhirnya setelah dia berjuang melewati berbagai tantangan, Legioner Maria inipun dipindahkan di Puskesmas Sidangkal. Dengan itu, iapun dapat menjalankan tugasnya dengan tetap berteguh dalam iman kekatolikan yang sudah dia imani dan hidupi.

Percaya Akan Kuasa Doa

Keteguhan iman akan penyelenggaraan Tuhan membuat dokter berpenampilan sederhana ini percaya Tuhan senantiasa mendengar dan mengabulkan doanya.

Ia berkisah bahwa pada tahun 2012 lalu, dia bersama empat orang ibu lain pergi ziarah ke Tanah Suci (Timur Tengah). Ia bersyukur bahwa Tuhan memberikan kesempatan berahmat kepadanya sehingga bisa mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang disebutkan di dalam Kitab Suci, seperti Gunung Nebo, Sungai Yordan, rumah St. Petrus, tempat Bunda Maria menerima Kabar Suka Cita, dan sebagainya.

Pada peziarahan itu, dia beserta keempat temannya tidak melewatkan kesempatan untuk belanja.

“Waktu itu kami, kan taulah ya kalau namanya ziarah ibu-ibu, pasti overweight, belanja. Jadi malam itu sebelum pulang, gelisahlah semua kan. Aduh macam manalah ini, pasti didendalah nanti semua dan itu pasti mahal. Jadi terakhir mau berangkat, semua koper ditimbang dan hasilnya semua overweight. Koperku saja overweight-nya sampai 12 kg”, kenangnya.

Seperti biasa, lanjutnya, “saya berdoa. Ada satu doa yang sering saya doakan terutama bila sedang menghadapi masalah, yaitu Doa Bunda Maria Ambil Alih. Saya yakin bila segala persoalan diserahkan kepada Tuhan melalui Bunda Maria, Tuhan pasti akan memberikan pertolongan”.

Doa itu berbunyi: Bunda Maria, ambil alihlah masalah-masalah yang tidak dapat kuatasi. Tolonglah aku mengatasi hal-hal yang berada di luar kemampuanku. Karena engkau mempunyai kuasa untuk menolongku. Tiada seorang pun yang pernah kecewa  akan pertolonganmu. Bunda, ambil alihlah saat ini juga; di saat aku tidak dapat melihat apapun, di saat tak nampak setitik cahayapun di ujung terowongan gelap yang kulalui, saat ini juga; di saat aku merasa bimbang dan takut, di saat aku  mengambil keputusan yang sulit, di saat semua orang memusuhiku. Bunda Maria doakanlah  aku, Amin.

Doa itupun dia daras sambil merekamnya di handphone (HP). Hasil rekamannya itu dia bagikan kepada keempat temannya yang lain. Setelah teman-temannya menerima rekaman doa itu, merekapun ikut mendoakan doa tersebut sambil mendengarkannya melalui hp. Sepanjang perjalanan dari penginapan menuju airport (bandara) mereka khusyuk mendoakan Doa Bunda Maria Ambil Alih itu.

Tak lama berselang, mereka pun tiba di bandara. Ketika check in, semua barang mereka tidak ditimbang. Hanya barang tour leader dan beberapa peserta lain yang ditimbang. Sedangkan koper mereka yang kelebihan muatan langsung dimasukkan ke bagasi tanpa ditimbang petugas.

“Luar biasa kan? Kami sudah sempat kuatir karena koper kami overweight, tapi rupanya Tuhan mendengarkan doa kami dan memberikan jalan”, tuturnya sembari tersenyum.

Tuhan Sudah Banyak Memberi

Selain aktif dalam kegiatan Legio Maria, dokter yang pernah bertugas di Bali ini juga kini menjadi anggota DPPI di Paroki Padangsidimpuan. Di samping itu dia juga termasuk anggota Tim Audio Visual Biro KOMSOS Wilayah Dekanat Tapanuli. Menurut dia, bergabung dalam Tim Audio Visual ini cukup menyenangkan karena bisa menimba pengalaman baru. Unsur rekreatifnya juga ada sehingga tidak membosankan.

“Tuhan sudah banyak kasi, apa salahnya sekarang aku memberi, memberi hati, memberi diri, memberi apapun yang bisa kukasi”, jelasnya ketika WARKES bertanya tentang keaktifannya di dalam kegiatan-kegiatan gerejani. [Frans R. Zai]
Share this article :

1 komentar:

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.