Headlines News :
Home » » Paguyuban St. Marta: Merekatkan Ikatan Persaudaraan

Paguyuban St. Marta: Merekatkan Ikatan Persaudaraan

Written By Admin on Minggu, 17 November 2013 | 21.48

Ir. Barnabas Yusuf Hura, MM
Barangkali hanya sedikit di antara umat Keuskupan Sibolga yang pernah mendengar tentang paguyuban St. Marta yang ada di Jakarta. Kalaupun ada di antara umat yang pernah mendengarnya, bisa saja hanya sekedar mendengar tetapi tidak begitu mengenal paguyuban ini. Malah mungkin banyak yang bertanya apa relevansi paguyuban ini terhadap Keuskupan Sibolga.

Pada hari Senin (21/10/2013), Warta Keuskupan Sibolga (WARKES) berbincang-bincang dengan Barnabas Yusuf Hura, ketua Paguyuban St. Marta, yang saat itu sedang berkunjung ke kantor Biro KOMSOS di kantor Keuskupan Sibolga.

Menurut keterangan Barnabas, paguyuban St. Marta ini terbentuk pada Oktober 1999 atas inisiatif Mgr. Aniceus B. Sinaga OFMCap yang saat itu masih sebagai uskup di Keuskupan Sibolga. Uskup Sinaga, katanya, ingin bila umat katolik Keuskupan Sibolga yang berdomisili di Jakarta, membentuk satu paguyuban sehingga ikatan persaudaraan dapat terjalin satu sama lain.

"Paguyuban St. Marta merupakan organisasi sosial. Anggotanya adalah umat katolik yang berasal dari Keuskupan Sibolga dan berdomisili (merantau) di Jakarta dan sekitarnya. Di sini kami multi etnis. Ada etnis Tionghoa, Nias, Batak dan seterusnya", jelas Barnabas.

Pada umumnya setiap organisasi mempunyai AD/ART sebagai acuan pergerakan. Namun paguyuban St. Marta ini, katanya, tidak mempunyai AD/ART. Perkumpulan umat katolik yang berasal dari Keuskupan Sibolga ini hanya mempunyai Pancakrida (Lima Tindakan) sebagai acuan, yakni: Pendidikan, Gereja Keuskupan Sibolga, Sosial Karitatif, Ekonomi dan Sosial Kemasyarakatan.

"Meskipun kami yang tergabung di dalam paguyuban ini berada di perantauan (Jabodetabek), namun kami tetap berusaha ikut serta dalam gerakan dan perjuangan umat atau Gereja Katolik di Keuskupan Sibolga, sebab kami pun bagian dari Keuskupan Sibolga. Karena itu kami juga 'merasa' bahwa kami yang ada di perantauan ini dihitung sebagai satu paroki. Dalam kepengurusan Paguyuban St. Marta, Bapak Uskup Keuskupan Sibolga menjadi penasehat. Beliau jugalah yang mengeluarkan SK para pengurus paguyuban ini. Bapak Uskup Sibolga selalu mengunjungi kami minimal satu kali dalam satu tahun", ujarnya.

Bapak yang juga maju sebagai Caleg DPR RI (Pusat) untuk Dapil Sumatera Utara II dengan nomor urut 4 dari Partai PAN ini (untuk Pemilu 2014) mengatakan bahwa Paguyuban St. Marta senantiasa berupaya untuk turut mendukung dan membangun Keuskupan Sibolga. Karena itu sesuai dengan Pancakrida yang sudah disepakati bersama, paguyuban ini pernah menghimpun dana untuk pendidikan, pembangunan gereja, bantuan sosial saat gempa dan tsunami. Memang apa yang sudah dan akan dilakukan oleh paguyuban ini selalu disalurkan melalui keuskupan. Itu sebabnya usaha untuk membantu Gereja  Keuskupan Sibolga (misalnya menggalang dana) selalu diusahakan berdasarkan petunjuk dari Uskup Keuskupan Sibolga.

Ketika ditanya tentang prospek pembangunan gereja dan masyarakat ke masa depan, Barnabas mengatakan bahwa Paguyuban St. Marta, khususnya dia secara pribadi, mempunyai komitmen untuk memberikan perhatian kepada masyarakat secara umum dan secara khusus untuk umat Keuskupan Sibolga.

"Bila Tuhan berkenan dan umat Keuskupan Sibolga mendukung saya, maka saya berharap bahwa perjuangan pada Pemilu 2014 mendatang dapat berhasil. Karena itu, saya memohon restu dan dukungan dari seluruh umat untuk perjuangan ini. Saya memilih menjadi Caleg di DPR RI (Pusat) untuk Dapil Sumatera Utara II dengan Nomor Urut 4 dari Partai PAN sebab banyak kebijakan justeru ditentukan di DPR RI Pusat. Untuk itu, dukungan semua pihak sangat diharapkan" imbuhnya mengakhiri perbincangan dengan WARKES. [WKS/SBG/01]

Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.