Headlines News :
Home » , » Doa Mempersatukan Keluarga

Doa Mempersatukan Keluarga

Written By Admin on Sabtu, 08 November 2014 | 09.36

Edy Wongso dan Elly Susilo bersama
kedua buah hati mereka:
Darren Louis Wongso
dan Aiko Loissa Wongso
Pagi itu (5/9/2014) sekira pukul 08.30 wib, kesibukan sudah mulai tampak di Toko Wijaya yang berada di seputaran Pasar Beringin Gunungsitoli, Pulau Nias. Toko yang menyediakan bahan-bahan bangunan ini merupakan milik pasangan suami-isteri (Pasutri) Edy Wongso dan Elly Susilo. Di tengah kesibukan mereka melayani para pembeli, Pasutri yang kelihatan masih muda ini terkejut dengan kedatangan WARKES saat itu. Seketika itu, mereka pun meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan WARKES.

Menanggapi pertanyaan WARKES tentang kehidupan keluarga, Edy menuturkan bahwa pada awalnya dia beragama Buddha. Ketika ia menikah dengan Elly Susilo, seorang warga Paroki St. Maria Bunda Para Bangsa (BPB) Gunungsitoli (pada akhir 2004), dia pun masih belum menjadi Katolik.

Satu Dalam Iman

“Dulu memang ada niatan untuk masuk Katolik, cuma belum terlaksana (saat itu) karena semua keluarga juga kan masih (beragama) Buddha”, jelasnya memberi alasan.

Sementara itu Elly Susilo, Ina Darren, mengungkapkan bahwa sebenarnya (setelah menikah) dia merindukan  suaminya (Edy) mau menjadi Katolik agar mereka satu dalam iman. Namun hal itu tidak dia ungkapkan. Dia juga tidak berusaha memengaruhi suaminya agar mau dibaptis menjadi Katolik. Usaha yang dia lakukan hanyalah berdoa, memohon rahmat dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan rumah tangga yang telah mereka bangun bersama.

Ketekunan Elly Susilo ini dalam doa ternyata membuahkan hasil. Sang suami, Edy Wongso akhirnya dibaptis di Gereja Katolik St. Maria BPB Gunungsitoli pada tanggal 11 April 2009, dua tahun setelah anak kedua mereka lahir. Anak pertama mereka bernama Darren Louis Wongso (laki-laki) lahir pada tanggal 21 Agustus 2005 dan anak kedua bernama Aiko Louissa Wongso (perempuan) lahir pada tanggal 4 Februari 2007.

“Pada awalnya cuma antar-jemput (isteri) ke gereja. Lama-lama, terutama setelah ada anak, kita sudah ikutlah sama-sama. Tapi kadang-kadang anak-anak juga tanya (saat komuni), kenapa papa nggak maju ke depan?”, kenang Edy.
Lebih lanjut Edy Wongso yang juga biasa disapa dengan sebutan Ama Darren ini, mengungkapkan bahwa agama Katolik dan ajaran kekatolikan sudah tidak asing lagi bagi dia.

“Awalnya sih saya sudah mengenal Katolik ya, mulai dari kecil (taman kanak-kanak) sampai kuliah. (pelajaran) agamanya juga saya ambil yang agama Katolik. Walau (saat itu) saya beragama Buddha, saya belum pernah mendalami (pelajaran) agama Buddha. Tapi kalau (pelajaran agama) Katolik, mulai dari SD sampai kuliah, saya sudah mempelajarinya”, jelasnya.

Semakin Dekat

Setelah dibaptis menjadi Katolik, Ama Darren mengaku semakin merasa dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Sekat yang disebabkan oleh perbedaan agama, kini sudah tidak ada lagi. Mereka tidak hanya satu sebagai keluarga, tetapi juga menjadi satu dalam iman.

“Ada rasa dekat karna bersama-sama. Itu yang membuat kita bahagia. Ada rasa tersendirilah. Memang (kebersamaan) itu yang saya harapkan dulu sebelum kawin, berkumpul supaya bisa bersama-sama”, akunya.

Sementara itu, Ina Darren mengungkapkan bahwa dia sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan karena suaminya mau bersatu dengan dia dalam iman. Dengan itu doa di dalam keluarga sudah bisa dilakukan secara bersama dan anak-anak juga sudah mulai dibiasakan berdoa. Demikian juga halnya bila pergi ke gereja, diusahakan selalu bersama.
“Kita pergi ke gereja setiap Minggu. Biasanya sih ikut Misa Pagi di gereja St. Maria. Kadang-kadang juga ikut Misa di Biara Suster Klaris,” kata Edy melengkapi penjelasan isterinya.

Doa Bersama dan Ekaristi

Lebih lanjut Ina Darren mengungkapkan bahwa pembiasaan melakukan doa bersama dan mengikuti perayaan ekaristi itu sangat penting, terutama bagi pendidikan iman anak. Dia pun mengenang masa kecilnya. Dari dulu hingga sekarang, katanya, kedua orang tuanya selalu rajin mengikuti Perayaan Ekaristi. Kebiasaan itu mereka tanamkan juga di dalam diri anak-anak mereka.

“Karena sudah biasa ikut Misa sejak kecil bersama papa dan mama, jadinya yah, seperti ada sesuatu yang kurang kalau nggak ikut Misa,” imbuh Elly.

Campur Tangan Tuhan

Pasutri Edy dan Elly pun mengakui bahwa mereka sungguh merasakan campur tangan Tuhan di dalam kehidupan mereka. Pada peristiwa gempa berkekuatan 8,7 SR yang terjadi pada 28 Maret 2005 lalu (sekitar pukul 23.00 wib), mereka sungguh merasakan kehadiran Tuhan. Betapa tidak, pada peristiwa bencana alam itu rumah, toko dan gedung-gedung di Gunungsitoli (dan juga di hampir seluruh wilayah Pulau Nias) rubuh hingga rata dengan tanah. Banyak di antara penduduk meninggal karena tertimpa oleh bangunan. Rumah yang juga sekaligus toko, yang dihuni oleh Edy dan Elly bersama keluarga pun ikut runtuh dalam peristiwa itu.

"Saya lagi hamil empat bulan saat (peristiwa gempa) itu", kenang Elly dengan mata berkaca.

Di tengah reruntuhan bangunan itu, Ina Darren berusaha bangun dan keluar dari reruntuhan rumah. Setelah berhasil keluar dari puing-puing bangunan, sekitar jam 05.00 pagi, dia pun diungsikan oleh salah seorang Frater CMM ke Biara Suster Klaris. Sementara itu suaminya, Ama Darren masih berada di bawah reruntuhan bangunan. Kedua kakinya terjepit oleh balok sloof bangunan sehingga tidak bisa keluar. Esok siangnya, pasca gempa, barulah Ama Darren bisa dikeluarkan dari reruntuhan rumah itu dan kemudian dievakuasi.

"Dengan bantuan Pastor Mikael To, saya dan isteri bisa ikut dengan helikopter dan diterbangkan ke Medan.", kenang bapak lulusan Fakultas Arsitektur Lansekap Trisakti ini. Setelah masuk rumah sakit di Medan kakinya pun diamputasi.
"Sebenarnya tulang kaki saya tidak ada yang patah. Persoalannya ialah kaki saya terlalu lama terjepit oleh balok sloof bangunan sehingga darah tidak mengalir. Akibatnya daging (yang terjepit oleh balok sloof itu) menjadi membusuk. Setelah berhasil dikeluarkan (dari bangunan) pada esok harinya, darah baru bisa mengalir, tetapi efeknya kaki tidak bisa kuat berjalan (karena daging sudah membusuk)", ujarnya.

Walaupun akibat dari peristiwa itu Ama Darren harus berjalan dengan bantuan tongkat hingga sekarang, Pasutri yang senantiasa terlihat kompak dan romantis ini mengaku bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidup mereka. Kalau tanpa bantuan dan kasih Tuhan, rasanya mustahillah mereka bisa selamat dari peristiwa bencana itu. Rupanya Tuhan masih berkenan memberikan kehidupan kepada mereka sehingga mereka masih dapat berkumpul bersama sebagai satu keluarga. [WKS/SBG/01]
Share this article :
 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.