Februari 2026

 



Refleksi Biblis

Koordinasi Awal Tahun Keuskupan Sibolga 2026

(RD. Yusuf Nataeli Lase)

 

Bacaan Kitab Suci: Yohanes 15:1- 8

Pendahuluan

Bapak Uskup, para imam, suster, dan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, pada akhir pertemuan Koordinasi Awal Tahun ini, setelah kita bersama-sama melihat, mengoordinasikan, dan menata berbagai rencana pastoral untuk tahun 2026, kita diajak untuk berhenti sejenak. Kini, kita menempatkan semuanya dalam terang Sabda Tuhan, agar menjiwai seluruh proses yang kita lalui.

Pada saat ini, kita tidak lagi berada pada tataran teknis perencanaan program. Kita diajak untuk menempatkan seluruh rencana pastoral Keuskupan Sibolga dalam terang iman, agar apa yang telah dikoordinasikan sungguh menjadi bagian dari karya Allah sendiri, dan bukan semata-mata hasil perencanaan manusiawi.

Sebagai Gereja, kita menyadari bahwa perencanaan pastoral, betapapun sistematis dan matang, hanya menemukan maknanya sejauh diletakkan dalam terang iman. Tanpa pendasaran rohani, kegiatan mudah berubah menjadi rutinitas; sebaliknya, dengan pendasaran iman, seluruh karya pastoral menjadi partisipasi dalam karya Allah yang melampaui perencanaan manusiawi kita.

Dalam konteks inilah visi Keuskupan Sibolga menjadi kunci untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral yang telah dibahas bersama. Visi Keuskupan Sibolga berbunyi: “Gereja Keuskupan Sibolga berakar dalam iman, bertumbuh dalam persekutuan, dan berbuah dalam kesaksian”.

Visi ini bukan sekadar pernyataan arah pastoral, melainkan mencerminkan dinamika hidup iman yang sangat alkitabiah. Kitab Suci memperlihatkan bahwa hidup umat Allah selalu bergerak dari akar relasi dengan Tuhan, menuju pertumbuhan dalam kebersamaan, dan akhirnya menghasilkan buah yang memberi kehidupan bagi sesama.

 


I. Berakar dalam Iman

Kitab Suci kerap menggunakan gambaran akar untuk berbicara tentang dasar kehidupan umat Allah. Nabi Yeremia menegaskan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan… Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air; apabila datang panas terik, ia tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:7-8).

Akar tidak tampak ke permukaan, namun justru menentukan daya tahan dan keberlangsungan hidup. Sebuah pohon dapat memiliki cabang yang rimbun dan daun yang lebat, tetapi tanpa akar yang kuat, ia tidak akan bertahan menghadapi panas dan kekeringan. Demikian pula iman dalam kehidupan Gereja: iman bukan pertama-tama diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kedalaman relasi dengan Allah yang menopang seluruh pelayanan.

Dalam Kitab Suci, krisis umat Allah hampir selalu bermula bukan dari kurangnya aktivitas, melainkan dari rapuhnya relasi dengan Tuhan. Karena itu, visi “berakar dalam iman” mengajak Gereja Keuskupan Sibolga untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dengan sikap reflektif: apakah kegiatan-kegiatan tersebut sungguh meneguhkan iman umat dan kepercayaan kepada Tuhan, ataukah berhenti pada pelaksanaan program semata.

Pelayanan yang tidak berakar dalam iman mudah menjadi rutinitas yang melelahkan dan kehilangan daya rohani. Sebaliknya, kegiatan yang sederhana tetapi berakar dalam iman sering menjadi ruang di mana Allah bekerja secara diam-diam, membentuk umat, dan menumbuhkan ketahanan rohani. Karena itu, visi “berakar dalam iman” mengajak kita untuk terlebih dahulu meneguhkan fondasi rohani, sebelum memperluas atau melaksanakan program. Kalau akar iman ini rapuh, seluruh pelayanan Gereja akan mudah kehilangan daya tahannya.

 


II. Bertumbuh dalam Persekutuan

Dari akar iman yang kokoh, Gereja dipanggil untuk bertumbuh, dan pertumbuhan ini dalam Kitab Suci selalu bersifat komunal. Kisah Para Rasul melukiskan Gereja perdana sebagai komunitas yang hidup dari persekutuan: “Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam Persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

Persekutuan di sini bukan sekadar kebersamaan struktural, melainkan persekutuan hidup, di mana umat saling mendengarkan, saling menopang, dan berjalan bersama. Gereja tidak pertama-tama dibangun oleh keseragaman program, melainkan oleh kesediaan untuk berjalan bersama dalam terang Injil.

Dalam konteks Keuskupan kita, visi “bertumbuh dalam persekutuan” menantang kita untuk melihat apakah matriks kegiatan pastoral tahun 2026 sungguh mendorong kerja sama, sinergi, dan rasa memiliki bersama antara paroki, komisi, imam, dan seluruh umat Allah. Tanpa persekutuan, pelayanan mudah berubah menjadi beban individual dan koordinasi menjadi formalitas belaka. Sebaliknya, persekutuan yang hidup menjadikan pelayanan sebagai ungkapan persaudaraan, memperkuat solidaritas pastoral, dan menolong Gereja menghadapi tantangan bersama. Pertumbuhan Gereja selalu terjadi ketika umat Allah berjalan bersama, bukan ketika masing-masing berjalan sendiri.




III. Berbuah dalam Kesaksian

Akar iman dan pertumbuhan persekutuan selalu diarahkan pada buah. Yesus sendiri menegaskan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh 15:8).

Buah tidak dihasilkan demi pohon itu sendiri, melainkan untuk kehidupan orang lain. Demikian pula, kesaksian Gereja bukan pertama-tama terletak pada kata-kata atau pernyataan, melainkan pada kehadiran konkret yang membawa kehidupan, harapan, dan belas kasih.

Buah Injil selalu dikenali bukan dari apa yang dikatakan Gereja tentang dirinya, melainkan dari apa yang dialami orang lain melalui kehadirannya. Karena itu, visi “berbuah dalam kesaksian” mengajak kita untuk melihat kembali seluruh kegiatan pastoral tahun 2026 dari sudut pandang dampaknya: buah apa yang sungguh dirasakan oleh umat, oleh masyarakat, dan oleh mereka yang terpinggirkan.

Kesaksian Injil menjadi nyata ketika Gereja hadir sebagai tanda kehadiran Allah - dalam solidaritas, keadilan, dan pelayanan yang memanusiakan. Kegiatan yang tidak menghasilkan buah kesaksian mengundang refleksi ulang tentang arah dan tujuan pastoralnya.

 


Penutup

Visi Keuskupan Sibolga merupakan satu dinamika hidup Gereja: berakar dalam iman, agar pelayanan tidak rapuh; bertumbuh dalam persekutuan, agar Gereja tidak berjalan sendiri-sendiri; dan berbuah dalam kesaksian, agar Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri.



Dalam terang visi ini, seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dipanggil untuk dihidupi sebagai perjalanan iman bersama, bukan sekadar agenda kerja. Kiranya pendasaran Kitab Suci ini meneguhkan arah pastoral kita, sehingga seluruh pelayanan yang direncanakan sungguh dijiwai oleh iman, diperkaya oleh persekutuan, dan menghasilkan buah kesaksian bagi dunia.

 



Minggu, Pekan Biasa V, Tahun A

“Garam dan Terang Dunia”

Yesaya 58:7-10

Mazmur 112:4.5.6.7..8a.9

1 Korintus 2:1-5

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”

(Matius 5:13)

Adalah kisah mengenai seorang Hakim yang dikenal dan dikenang karena kejujurannya. Dia selalu menolak tawaran dari orang-orang yang ingin menyogoknya untuk memenangkan mereka dalam perkara yang sedang ditanganinya.

Pada suatu hari, dia dituduh dengan aneka hal yang tidak pernah dilakukannya. Walaupun demikian, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh tuduhan-tuduhan itu. Melihat keteguhan dan kejujurannya, salah seorang dari antara orang-orang yang berusaha menyogoknya bertanya kepadanya, “Mengapa Pak Hakim tidak membalas tuduhan-tuduhan itu?

Sang Hakim menjawab, “Di kampung saya hiduplah seorang janda bersama seekor anjingnya. Setiap saat, tatkala melihat bulan memancarkan sinarnya, anjing itu keluar dari rumah dan menggonggongnya.”

Kemudian, Sang Hakim mengalihkan pembicaraannya ke persoalan yang lain. Akhirnya, Si Penanya yang tidak puas dengan jawaban Sang Hakim bertanya, “Pak Hakim, bagaimana dengan anjing dan bulan itu?

Dengan sikap tenang, Sang Hakim menjawab, “Oh..., bulan itu tetap bersinar, walaupun anjing itu menggonggong sepanjang malam.”

*****************************88

Pesan cerita ini sangat jelas. Fungsi cahaya adalah memancarkan terang tanpa peduli, apakah kita menerima pancaran sinar-terangnya atau tidak. Bulan itu tetap bersinar, walaupun ada yang tidak menyukai terang yang dipancarkannya. Sang Hakim tdak terpancing untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia ingin bercahaya, walaupun banyak orang yang tidak menyukainya. Demikian juga dengan kita: kita seharusnya tidak pernah boleh goyah untuk melakukan kebaikan, walaupun begitu banyak orang yang tidak menyukai kita.

Dalam kisah Injil Minggu ini, Yesus menggunakan dua gambaran untuk menjelaskan keberadaan para pengikut-Nya dan misi perutusan mereka di tengah dunia. Gambaran pertama adalah garam: “Kamu adalah garam dunia.”

Dalam dunia kuno, garam memiliki nilai yang sangat tinggi. Garam berfungsi sebagai:

Pertama, untuk memurnikan. Bagi orang Roma, garam itu sangat murni karena dihasilkan oleh matahari dan air laut. Dalam dunia Romawi Kuno, garam menjadi bahan persembahan untuk para dewa. Ketika menyebut para pengikut-Nya sebagai garam, Yesus bermaksud menyatakan bahwa semua pengikut-Nya harus menjadi teladan kemurnian bagi sesama, seperti fungsi garam;

Kedua, garam itu mengawetkan. Orang-orang dari zaman Romawi Kuno menggunakan garam sebagai bahan pengawet. Garam menjadi kekuatan untuk menghindari terjadinya kebusukan. Demikianlah, semua pengikut Yesus harus memiliki kualitas iman yang akan memampukan mereka untuk menghindari kebusukan dalam kehidupan bersama;

Ketiga, garam menjadikan makanan terasa enak. Makanan tanpa garam akan terasa hambar. Demikian juga dengan semua pengikut Yesus: semua pengikut Yesus harus menjadi teladan baik dalam semua sisi kehidupan bersama dengan yang lain. Walaupun jumlahnya sedikit, para pengikut Yesus harus mampu mempengaruhi orang lain berkenaan dengan perbuatan baik.

Gambaran yang kedua adalah terang: “Kamu adalah terang dunia.” Fungsi terang, cahaya adalah memancarkan dan menuntun.” Ketika Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya adalah terang dunia, maka maksud yang terkandung di dalam-Nya adalah semua pengkikut-Nya harus menjadi pemimpin bagi yang lain. Kehidupan para pengikut Yesus harus memancarkan cinta dan kebaikan agar semua orang yang melihatnya tertarik untuk mengikuti-Nya. Kita tidak pernah boleh menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Walaupun garam dan terang memiliki fungsi masing-masing, namun garam dan terang yang dimaksudkan Yesus bukanlah bumbu sayuran atau garam yang ditambahkan ke dalam sup dan terang biasa, melainkan garam dan terang yang berperan sampai ke ujung bumi.

Apa yang dimaksudkan Yesus dengan garam dan terang yang sesungguhnya? Garam dan terang yang sesungguhnya adalah hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara bagi semua orang. Jika seorang pengikut Yesus tidak bersikap sebagai dan seperti seorang anak dan tidak bertindak sebagai seorang saudara, maka sesungguhnya orang demikian tidak bermakna/berfungsi di bumi. Dia tidak berperan dalam sejarah dunia.

Dengan menjadi garam dan terang dunia, semua pengikut Yesus menjadi misionaris. Yesus tidak berkata, “Kamu dapat menjadi garam dan terang,” tetapi “kamu adalah garam dan kamu adalah terang.” Menjadi misionaris tidak mengharuskan kita untuk beranjak ke tanah misi. Menjadi misionaris berarti mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik berdasarkan teladan kebaikan yang kita lakukan.

Karena itu, agar kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia, maka kita harus terus dan selalu berguru kepada-Nya. Kita harus belajar bagaimana menyerahkan nyawa dengan mencintai-mengasihi dan bersikap rendah hati.

Patut diakui bahwa sebagai pengikut Yesus, kita begitu mudah kehilangan cita rasa Yesus karena benih Sabda-Nya tidak berakar di hati dan kehidupan kita. Benih Sabda Yesus mengering setelah muncul tangkainya. Akhirnya, benih Sabda Yesus juga terhimpit oleh semak kepentingan dan egoisme diri.

Dalam konteks ini kita melihat adanya pertentangan/perlawanan antara akal duniawi dengan hikmat salib. Hidup kita, sebagai pengikut Yesus.  berada dalam jalan: perang antara cinta agapik, yaitu cinta yang rela membagi dan memberikan diri demi kebaikan bersama dengan cinta diri yang egoistis......

Terang yang lahir dari diri sendiri dan keinginan manusiawi, akan mudah redup, karena terhubung dengan kepentingan diri. Terang yang terpancar dari Salib dan Kebangkitan akan terpancar hingga kekal karena dalam terang salib dan kebangkitan, kita semua, pengikut Yesus, pribadi yang beriman akan menggarami dan mengerangi dunia dengan kasih dan kebaikan, cinta yang merangkul dan mengampuni serta cinta yang rela berbagi dan memberikan diri...

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica.....

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget