Desember 2023

Gambar diambil dari karangpanas.org



Pertama, ia lahir dengan proses yang sangat mengagumkan. Kedua orangtuanya sudah lanjut usia, bahkan ibunya yang bernama Elizabet disebut mandul. Namun sesuatu yang di luar nalar terjadi bagi mereka berdua. Saat ayahnya, Zakaria, mendapat undian untuk membakar ukupan di Bait Allah, Allah mengutus Malaikat Gabriel kepadanya untuk memberitakan kabar sukacita. Kabar itu ialah bahwa mereka akan dikaruniai seorang anak. Ia bahkan disebut sebagai anak yang spesial karena tugasnya mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan.

Zakaria, ayahnya, tidak sanggup menerka berita yang demikian mengagumkan tersebut. Ia bahkan menjadi bisu sampai waktu semuanya terbukti menjadi nyata.

Kedua, keadaan ayahnya yang sebelumnya bisu menjadi bisa berbicara setelah ayahnya menuliskan nama untuk dirinya, yaitu Yohanes.

Apa arti sebuah nama? Demikian pertanyaan kita sebagai respon atasnya. Namun saat Zakaria menuliskan nama untuk anaknya ialah Yohanes, itu berarti ia telah beralih menjadi percaya atas pemberitaan Malaikat Gabriel. Upah yang diterimanya, selain mendapatkan keturunan, juga disembuhkan dari kebisuan. Lantas kita pun memiliki seruan yang sama dengan orang banyak: “Menjadi apakah anak ini nanti, sebab tangan Tuhan menyertai” (Luk 1:66)

Ketiga, ia hidup sangat asketis dan mengajak semua orang untuk bertobat dan memberi diri dibaptis. Itu ia lakukan sebagai upaya untuk mempersiapkan semua orang dalam menantikan kedatangan Tuhan. Dialah si perintis jalan bagi Tuhan yang selalu berseru: Luruskanlah jalan bagi Tuhan. (Luk 3:4)

Keempat, sebagaimana ia lahir melalui proses yang sungguh mengagumkan, demikian pula dengan matinya. Ia mati dengan dipenggal kepalanya sebagai upah yang ia terima akibat pembelaannya terhadap kebenaran: Herodes memperistri istri saudaranya. (Luk 9:7-9).

Namanya Yohanes, namun kita akrab menyebutnya Yohanes Pembaptis. Seumur hidupnya selalu demi karya Tuhan. Baik lahir maupun matinya, semuanya demi kelancaran karya Tuhan.

Kita memang bukan Yohanes Pembaptis. Namun panggilan kita tidak persis beda dengan panggilannya. Kita juga, dalam seluruh hidup kita di dunia, dipanggil untuk berkarya bersama Tuhan.



Gambar diambil dari gurusiana.id

Tuhan Yesus mengajak setiap orang yang secara fisik letih dan berbeban berat. "Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu" (ay.
28). Ajakan itu tidak diikuti dengan sebuah tawaran akan hidup santai dan bermegah-megah. Yesus justru hendak mengajari setiap orang yang datang kepada-Nya tentang kelemahlembutan dan kerendahan hati.

Tidak jarang kita menjadi letih lesu karena dikuasai oleh hawa nafsu keduniawian kita. Tidak jarang pula kita seperti memikul beban yang berat karena kesombongan kita. Itulah mengapa Yesus justru menawarkan cara lemah lembut dan rendah hati dalam menjalani hidup ini bukan harta duniawi yang aman sampai tujuh keturunan.

"Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan," (ay. 29)

Mungkin baik jika kita lihat diri kita sendiri, apa yang selama ini membuat kita itu menjadi letih dan berbeban berat. Setelah itu, coba juga kita lihat, sudah sejauh mana kita ini berusaha untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati. Jika nantinya kita mendapati diri kita kurang lemah lembut dan rendah hati, berarti kita sedang mengatur jarak dengan Tuhan.

Jangan membangun jarak dengan Tuhan. Ia ingin selalu dekat dengan kita dan kita dengan Dia. Saat dekat dengan-Nya-lah kita perlahan-lahan menjadi mengerti kalau ternyata kebutuhan kita yang paling penting dan mendesak itu ialah menjadi pribadi yang lemah lembut dan rendah hati.

Gambar diambil dari standtojesus.me



Demi seekor yang hilang, seorang gembala pergi meninggalkan yang 99 ekor dombanya yang tidak hilang. Dia tidak pernah membiarkan kepunyaannya yang 99 lagi menghibur dirinya. Dia akan terus mencari sampai yang seekor hilang tersebut berhasil ditemukan. Dan memang benar, kebahagiaan karena menemukan yang seekor hilang tersebut jauh lebih besar daripada 99 ekor yang tidak hilang.

"Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat" (Mat 18:13)

Ini tentang komitmen Allah yang sejak awal mula, dari kisah penciptaan, tidak pernah mau seorang pun umat-Nya hilang. Usaha-Nya untuk mencari tampak lewat mengutus para nabi hingga diri-Nya sendiri turun ke bumi sampai semuanya diselamatkan.

"Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang", (Mat 18:14).

Ternyata dosa tidak lebih besar daripada Cinta Allah kepada manusia. Dosa juga tidak pernah lebih kuat menghalangi penebusan Allah. Namun Allah pun ingin agar kita mau ditemukan-Nya dan tidak lagi lari dari penjagaan-Nya.

Allah memang akan mencari kita yang hilang dari penjagaan-Nya. Tapi tidak benar juga jika itu membuat kita suka menghilang. Takutnya situasi hilang itu membuat kita lupa siapa Gembala kita yang sesungguhnya.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget