Juli 2024

Dokumentasi Penulis 


Rabu, 24 Juli 2024

Pekan Biasa XVI/B 

Mat 12:46-50


Alkisah, terdapat seorang kakek tua dari Gunung Utara yang bernama Yu Gong (愚公). Beliau hidup di balik pegunungan tersebut selama hampir 90 tahun. Kakek tersebut tidak senang karena gunung-gunung tersebut menghalangi jalannya ke selatan. Ia  harus berjalan mengelilinginya setiap kali pergi atau pulang. Maka ia bertekad memindahkan gunung itu. 

Dengan bantuan anak cucunya ia mulai bekerja. Namun pekerjaan ini mendapat cemoohan dari orang-orang yang berkata: “usiamu sudah tua mustahil kamu bisa memindahkan gunung ini.” Namun Yu Gong menghardik orang itu: “Kamu salah! Setelah saya mati, akan ada anak dari anak saya dan cucu saya punya anak yang terus bertambah, sementara gunung ini tak akan pernah bertambah!” 

Seorang teman pernah berkata: “lebih mudah memindahkan gunung daripada mengubah hati manusia.”

Dalam Injil hari ini kita mendengar perumpamaan benih yang ditabur dengan berbagai kualitas lahan yang menampungnya dengan konsekwensinya.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, semua berakhir mati. Namun  sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah. 

Saudara-saudariku yang terkasih.

Yesus selalu menabur benih Injil kepada Anda. Kita semua memiliki kebebasan untuk menerima benih-benih Injil yang ditaburkan Allah dengan murah hati kepada kita. Namun, janganlah kita menyalahgunakan kebebasan ini dengan memilih untuk mengabaikannya. 

Mari mengubah hati pribadi kita masing-masing:  “Bukalah Alkitab Anda, baca dan renungkan perkataan Yesus, dan biarkan perkataan itu meresap dalam diri Anda. Sehingga perkataan itu akan berakar, bertumbuh, dan menghasilkan banyak buah lewat kata dan perbuatan kita. 🙏

Tuhan memberkati 😇

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Penulis 


Selasa, 23 Juli 2024

Pekan Biasa XVI/B

Mat 13:46-59


Pada saat saya masih frater, banyak keluarga yang tidak bisa memahami panggilan saya menjadi imam. Mungkin karena sebagian besar keluarga saya berasal dari agama Protestan. Sulit mereka terima kalau saya kelak tidak akan menikah. Apalagi kami hanya dua bersaudara. 

Saya sendiripun sulit untuk memberi mereka pemahaman terkait jalan panggilan ini karena memang berbeda berdasar ideologi iman. Akhirnya saya mendapat jawaban yang tepat dan tak menyinggung perasaan mereka, setiap kali mempertanyakan panggilan dengan jawaban: “mari berdoalah pada Tuhan kalau memang jalan saya salah pasti Tuhan tidak biarkan saya jadi pastor.”

Dalam Injil hari ini kita diperdengarkan, menjadi kerabat Yesus bukanlah hal yang mudah. Kita harus melakukan bagian kita untuk menjadi kerabat Yesus. Dan bagian yang harus kita lakukan adalah dengan setia mengikuti kehendak Tuhan. 

Anda mungkin bertanya, apa kehendak Tuhan bagi saya? Kehendak Tuhan bagi Anda adalah mengikuti perintah-perintah-Nya (Keluaran 20:1-17). 

Saudara-saudari terkasih. Melakukan kehendak Bapa adalah membuat pilihan yang bijak di dalam hidup kita.  Anda tidak hanya akan menjadi saudara Yesus jika Anda mengikuti kehendak Tuhan, tetapi juga akan menyelamatkan Anda dari begitu banyak masalah. Anda juga akan diselamatkan dari cengkeraman iblis yang tajam dan mengerikan. Jadilah orang yang bijaksana karena iblis selalu menyembunyikan rencana jahatnya melalui hal-hal yang menarik dan menggoda. 

Tuhan memberkati 🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Penulis 


Senin, 21 Juli 2024

Pesta St Maria Magdalena

Yoh 20:1.11-18

Seorang anak bertanya pada ibunya: “Bu, apakah arti cinta itu?” Lalu ibunya menjawab dengan lembut: “ibu Pernah menangis karena tingkah lakumu yang keterlaluan, tapi apakah pernah ibu menjauhimu?” Lalu sang ibu memeluk anaknya dan berkata lagi: “Ibu justru memaafkanmu…ITULAH CINTA.”

Dalam Injil hari ini kita merayakan Pesta St Maria Magdalena yang tangisannya menggema di makam Yesus yang kosong. Tangisannya membuat ia tak sadar bahwa pria yang menjadi lawan bicaranya di makam adalah Yesus sendiri. Tangisannya diganti dengan kehadiran Yesus. 

Saudara-saudari, terkasih.

Tangis dan air mata membuka dan menutup sejarah kehidupan kita. Tapi ada yang akan abadi selamanya, yakni Cinta. 

Yesus adalah sang Cinta dan Ia abadi selamanya. Jalanilah hidup dengan Cinta dan kebaikan. “Hujan yang turun di laut, tidak akan mampu membuat air laut menjadi tawar. Mereka yang menjelekkanmu tidak akan mampu mengurangi cinta dan kebaikan yang ada dalam dirimu.”

Tuhan memberkati 🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Penulis 


Minggu, 21 Juli 2024

Pekan Biasa XVI

Mrk 6:30-34


Saat kecil hal, yang kunanti dari mamak -setiap pulang perkumpulan ibu bayangkari dari kantor bapak- adalah mencari kue di tas tangan yang selalu dia sisakan untuk kami. Mungkin ia tak pernah merasakan kue itu, tapi tampak sorot matanya puas melihat kami melahap kue itu. 

Saat Natal di Gereja saya pernah memakai sepatu sport bapak- jatah dari kantor- karena saya tak punya sepatu saat tampil di panggung untuk acara Natal. Bapak bangga saat itu denganku sehingga menggendong saya pulang. Mungkin karena ia takut aku tersandung memakai sepatu kebesaran.

Pengalaman ini sangat membantuku untuk membandingkan Yesus dengan orang tua kita. Cobalah mengingat betapa keras upaya terbaik yang telah orang tua berikan bagi kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus bagaikan orang tua bagi para rasul dan bagi mereka yang mengikuti-Nya. Ia adalah faktor pemersatu bagi mereka. 

Yesus menyuruh pada murid ke tempat yang sunyi untuk beristirahat sejenak guna menyegarkan tubuh dan pikiran mereka yang lelah. Bukankah ini yang biasanya dilakukan oleh orang tua yang baik saat mereka melihat anak-anak mereka lelah dan letih karena melakukan sesuatu yang terpuji dan penting?

Akhirnya, ketika Yesus tiba di tempat yang seharusnya sepi, kerumunan besar yang telah mengikuti-Nya sudah ada di sana menunggu-Nya. Ia tidak menyuruh mereka pergi karena menginginkan waktu privasi. Ia tergerak oleh rasa kasihan karena mereka seperti domba tanpa gembala. Dan sebagai gembala yang baik, Yesus mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Saudara-saudari terkasih. Jika kita lelah dan letih dengan tantangan dan beban hidup, marilah kita datang kepada Yesus karena Dia akan selalu ada untuk memberi tahu kita agar datang kepadaNya untuk menggembalakan dan menguatkanmu.  Yesus adalah personifikasi dari orang tua dan gembala yang baik yang tidak memiliki apa pun kecuali yang terbaik untuk Anda. 

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Gambar diambil dari Internet 


Matius 12:14-21

Sabtu, Pekan Biasa 15, Tahun B

“Bulu yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya”

(Matius 12:20).

Dalam Kitab Yesaya (bab 42) diperkenalkan sosok Hamba Tuhan. Dia dipilih Allah karena sejiwa dengan-Nya. Dia tidak suka bertengkar, tidak menggunakan kekerasan dan tidak spektakuler, walaupun banyak orang sangat mengharapkannya.

Dia sangat peka atau sensitif melihat penderitaan dan kemalangan yang dialami manusia. Dia mudah tergerak oleh perasaan iba tatkala melihat kerapuhan dan kelemahan manusia; Dia pun akan segera memberikan sesuatu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Kebaikan-Nya tidak hanya diberikannya kepada orang yang baik dan kukuh imannya. Dia justru mudah tergerak untuk membantu manusia buluh, yaitu manusia yang terkulai karena kelemahan dan manusia sumbuh yang hidupnya redup dan kelak akan padam.

Ketika tergantung di kayu salib, Sang Guru tidak marah tatkala melalui sebatang buluh diberikan kepada-Nya cuka yang sangat asam, bahkan pahit. Mengapa? Karena Dia adalah Sang Terang, bukan pemadam nyala api dalam kehidupan manusia. Dia sendiri rela dipatahkan dan dipadamkan, tanpa mematahkan dan memadamkan siapa pun saja yang terkulai lemah. Dia justru menjadi lemah untuk menyelamatkan yang terkualai lemah.

Dokumentasi Penulis 


Sabtu, 20 Juli 2024

Pekan Biasa XV/B

Mat 12:14-21


Siapa yang tidak panik ketika melihat mobil yang sudah dirawat dengan telaten dicorat-coret oleh anak sendiri. Selain sulit dihilangkan, biaya untuk mengecat ulang juga cukup mahal. Emosi ingin marah dirasakan oleh pemilik mobil namun seketika PADAM! Ketika ia tahu itu adalah karya tulis perdana anaknya, yang dipersembahkan di mobil kesayangan bapaknya dengan tulisan “Aku Sayang Bapak.” Sang bapak tak jadi marah karena ia lebih sayang anaknya…

Dalam Injil hari ini kita dengar bahwa Orang Farisi mengincar hidup Yesus. Namun Yesus terus melakukan tindakan belas kasihan-Nya meskipun hidup-Nya sudah dalam bahaya. Bagi Yesus, kebaikan yang lebih besar bukanlah melindungi hidup-Nya, melainkan melayani orang-orang yang sangat Ia kasihi. 

Saudara-saudari terkasih. Kasih itu adalah kurban, meskipun tidak semua kita rela mengorbankan nyawa kita demi sesama. Hari ini kita diundang menjadi seperti Yesus, tetap berbelaskasih. Karena suatu hari nanti kita akan menuai pahala atas perbuatan kita dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita mungkin bisa  mencecapnya selagi hidup. Namun, kita pasti akan menerimanya ketika perjalanan kita di dunia ini berakhir dan saat itu kita sudah di surga. 

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin, OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Komsos 

Di awal tahun ajaran baru ini, Bapa Uskup Mgr. Fransiskus Sinaga mengunjungi dua unit sekolah Katolik yang ada di Gunung Sitoli, yakni SD MUTIARA & SMP Bunga Mawar yang keduanya berada di bawah naungan Yayasan Budi Bakti Keuskupan Sibolga. 

Dokumentasi Komsos 

Pada permulaan tahun ajaran baru ini, Bapa Uskup menyapa, meneguhkan dan menghimbau kembali semua Bapak-Ibu Guru tentang sejatinya seorang Guru, yang bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik. 

Dokumentasi Komsos 

Hakikat seorang Guru ialah mendidik dan memperhatikan para murid agar mereka memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. 

Maka sebagai Guru yang mendedikasikan dirinya di Sekolah Katolik, mestinya memiliki semangat dan karakter nilai-nilai Injili untuk memberikan teladan dan kesaksian hidup yang benar bagi anak didik, sehingga menghantar anak didik menjadi pribadi yang berkualitas, berkarakter dan beriman.

Dokumentasi Komsos 

Di penghujung pertemuan tersebut, bapa Uskup juga berpesan agar menjadi seorang Guru yang selalu bersyukur dan berbahagia menjalani tugas dan tanggung jawab. Pertemuan dan sapaan kegembalaan ini ditutup dengan foto bersama.

Gambar diambil dari sangsabda.wordpres.com


Yes. 38:1-6, 21-22, 7-8

Mat. 12:1-8

Jumat, 19 Juli 2024

Raja Hizkia sakit dan hampir mati. Dalam kerendahan hati dan kepercayaan penuh kepada Tuhan, Dia memohon belas kasihan dan Tuhan merespons doanya dengan memperpanjang hidupnya lima belas tahun. Ini menunjukkan bahwa Tuhan berbelas kasih kepada mereka yang merendahkan diri dan berserah kepadaNya.

Maka inspirasinya adalah penting merendahkan diri di hadapan Tuhan dalam setiap pergumulan dan kesulitan melalui doa, iman, dan penyerahan diri pada kasih dan pertolongan Tuhan yang tak terbatas. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Tuhan kalau hati penuh penyesalan dan niat untuk berubah.

Selanjutnya dalam Injil, Yesus menegaskan prinsip "Hukum dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum" menanggapi kritikan orang-orang Farisi terhadap murid-muridNya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Yesus menunjukkan bahwa kebutuhan manusia lebih penting daripada aturan yang kaku dan bahwa belas kasih lebih utama daripada pengorbanan.

Dari sini, kita belajar bahwa hukum seharusnya menjadi sarana kebaikan publik, melatih cinta kasih, dan membangun solidaritas sosial. 

Maka inspirasinya; 1). Memahami hukum sebagai sarana untuk melatih cinta kasih, sehingga setiap tindakan kita menempatkan kasih sebagai landasan utama. 2). Hukum mestinya memperkuat ikatan sosial, saling membantu, dan memperhatikan kebutuhan sesama, sehingga tercipta masyarakat yang adil dan penuh kasih.

Mari kita hidup dengan kasih dan solidaritas, sesuai dengan semangat hukum yang diajarkan oleh Yesus. Amin (Ditulis oleh Rm. Wilfridus Vinsen Sarah, Pr)

Gambar diambil dari Internet 


Jumat, 19 Juli 2024

Pekan Biasa XV/B

Mat 12:1-8


Suatu hari di padepokan bening hati, terjadi perdebatan keras antara 2 orang murid, yang mempersoalkan matahari terbit dan terbenam. Murid pintar bermaksud menghukum si bodoh, karena ngotot matahari terbit di barat, lalu membawa masalah ini pada pimpinan padepokan. Mereka meminta pemimpin padepokan sebagai hakim yang adil. Si bodoh berkata: “Guru katakanlah pada si pintar bahwa matahari terbit di Barat agar ia dipermalukan.” Si pintar berkata: “Guru katakanlah bahwa matahari terbit dari timur agar si bodoh dihukum gantung.”  Maka sang guru langsung menjawab: “Matahari terbit di barat!”

Lebih baik mempermalukan dari pada membunuh!!!

Injil hari ini menceritakan kisah orang-orang Farisi yang berkata kepada Yesus, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan perbuatan yang dilarang pada hari Sabat (Matius 12:2).” Namun Yesus dengan adil membela murid-murid-Nya dengan mengatakan: “Pernahkah anda membaca dalam Kitab Taurat bahwa pada hari Sabat para imam yang bertugas di Bait Suci melanggar hari Sabat dan tidak bersalah? (Matius 12:5)

Saudara-saudari terkasih, 

Bagaimana bisa kita menyebarkan kebaikan Yesus jika kita kaku dan terlalu mudah menghakimi? Orang-orang Farisi dalam Injil bersifat menghakimi, mereka ingin hukum mereka dipatuhi dengan ketat. Namun ironisnya, mereka sendiri diam-diam melanggar hukum yang mereka buat demi kepentingan diri sendiri. Bagi Yesus yang penting adalah belas kasihan, dan potensi kebaikan yang tertanam dalam hati setiap seorang. “Tak ada manusia yang dilahirkan dalam kondisi jahat.” 

Tuhan memberkati 🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Gambar diambil dari mukisi.com


Kamis, 18 Juli 2024, Biasa XV/B

Yes 26:7-9.12.16-19

Mat 11:28-30


Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)


Lega Dalam Tuhan

Saudara-saudari terkasih, sebagai manusia kita pasti memiliki beban hidup. Bentuknya beraneka ragam, antara lain usaha untuk memperoleh pekerjaan, pemenuhan kebutuhan harian, menjaga harmoni dalam keluarga, membina relasi dengan sesama, kesehatan, dan lain sebagainya. Banyaknya beban bisa membuat kita merasa letih dan bingung dalam menentukan arah perjalanan. Sebagian akhirnya menemukan jalan yang tepat, yakni pergi kepada Tuhan, asal dan tujuan segala yang ada di bumi ini. Sedangkan sebagian lagi tersesat, lari dari Tuhan, hingga hidup dalam derita dan kesusahan yang tak kunjung hilang.

Yesus Sang Guru dan teladan kita, mengajak kita untuk datang kepadaNya bila memperoleh beban dan kepenatan hidup. Rasa letih dan beban pasti berubah menjadi kelegaan lega bila kita bersandar pada Yesus, sebab bersamaNya kita akan sampai kepada Allah Bapa pemilik segala kebahagiaan dan ketenangan. Lebih dari itu, kita juga diajak untuk belajar dariNya menghadapi aneka beban hidup, yakni bersikap lemah lembut dan rendah hati. Kelemah-lembutan dan kerendahan hati yang dimiliki Yesus menghantar-Nya sampai kepada ketenangan sejati. Cara Yesus menghadapi beban hidup telah nyata dan teruji dalam jalan salibNya. Sekalipun jalan salib sungguh berat, namun Yesus bisa menjalaninya dengan sabar dan penuh iman. Lewat peristiwa itu pula Yesus sampai kepada kemuliaan Bersama Allah Bapa di surga.

Sama seperti Yesus, Nabi Yesaya melihat bahwa bila kita sungguh mengarahkan pandangan kepada Allah Bapa, maka kita akan memperoleh damai sejahtera serta kehidupan kembali. Dalam Tuhan, ada kelegaan dan kehidupan, ada kebahagiaan dan sukacita.

Maka, bila kita memiliki beban hidup, mari pergi kepada Tuhan, agar kita lekas memperoleh kelegaan. Lari dari Tuhan hanya menambah derita dan kesulitan baru. Sementara pergi kepada Tuhan, akan mendatangkan keselamatan dan kelegaan. Tuhan memberkati! Pace e bene! (Ditulis oleh RP Yoseph Sinaga, OFMCap)

 

Gambar diambil dari Elohim Ministry

Matius 11:28-30

Kamis, Pekan Biasa 15, Tahun B

**********************************************

Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,

karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29)

Dua ekor lembu jantan biasanya dipasangi gandar untuk meringankan pekerjaan manusia. Berkat gandar itu, kedua lembu dengan penuh kedisiplinan bekerjasama agar bisa memusatkan perhatian mereka pada apa yang diperintahkan.

Yesus, Sang Guru mengundang calon pengikut-Nya untuk berani menerima gandar mereka. Dengan cara ini, Yesus mengajarkan mereka untuk menjalani kehidupan bersama dengan cara yang lurus dan tulus.

Gandar seperti apakah yang diberikan Yesus? Gandar Cinta! Yesus bersabda bahwa Gandar Cinta terasa ringan dan menyenangkan. Semua manusia, termasuk pribadi yang sangat kuat egonya tetaplah bodoh dalam hal mencintai. Siapa saja yang memikul gandar cinta yang diberikan Yesus, Sang Guru secara perlahan akan menyerap cinta-Nya dan akhirnya menjadi insan pencinta, seperti Sang Guru sendiri.

Apakah gandar cinta itu sungguh-sungguh ringan? Gandar Cinta pasti ringan. Sang Guru sudah menunjukkan kekuatan cinta-Nya dalam kebaikan hati-Nya dan keterbukaan-Nya untuk merangkul dan mengampuni, termasuk merangkul dan mengampuni musuh. Dalam dan dengan kekuatan cinta, Sang Guru rela menjadi “kecil”, rendah hati, bahkan menjadi hamba, asalkan semua pengikut yang mencintai-Nya senatiasa mengalami kebahagiaan. 

Cinta adalah Napas, Sumber Hidup, Vitalitas Hidup Bapa dan Putra sendiri. Roh cinta inilah yang ditanam dalam diri semua manusia, ciptaan-Nya. Dalam kekuatan cinta, manusia diberdayakan untuk menjadi ciptaan baru, yaitu menjadi insan pencinta, hidup dalam cinta dan saling mencintai. Kehidupan bersama akan harmonis dan penuh sukacita apabila semua ajaran dan perintah-Nya tentang cinta, saling mencintai, saling melayani dan saling mengampuni menjadi norma universal bagi semua ciptaan, terutama pengikut-Nya. Dengan demikian, hukum-Nya menjadi gandar yang ringan apabila diterima dan dijalankan dengan penuh cinta sebab gandar hukum itu tidak lagi diterima sebagai kemutlakan yang berasal dari luar, tetapi terukir dan tertanam dalam kepribadian dan kehidupan insan beriman sendiri. (Ditulis oleh Rm Alfonsus Ara, Pr)

Dokumentasi Penulis 


Kamis, 18 Juli 2024

Pekan Biasa XV/B

Mat 11:28-30


“Depresius” seorang pemuda yang sangat idealis berada di titik menyerah karena tidak menemukan harapan yang sesuai di dalam hidupnya. Dia bergumam pada dirinya sendiri, “Aku benar-benar gagal” di tengah jurang  frustasinya, dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya.  

Namun ia dinasihati oleh temannya “Cantika” untuk mencari Tuhan dan menyerahkan setiap beban yang ada di hatinya. Jadi, dia menghadiri Misa Kudus secara teratur dan membaca Alkitab. Setelah beberapa minggu dia mengembangkan persahabatan yang mendalam dengan Yesus dan menyerahkan segalanya kepada-Nya. 

Dalam Injil kita hari ini, Yesus mengajak kita semua untuk datang kepada-Nya. Kita yang terlalu sibuk dengan dunia ini, cenderung melupakan keutamaan Tuhan atas dunia ini. Kapan kita membuka hati terhadap undangan Yesus ini? Apakah  setelah kita tua dan sakit-sakitan? Janganlah kita menunggu saat itu tiba. 

Saudara-saudari terkasih,

Banyak di antara kita yang cenderung membiarkan diri kita termakan oleh hiruk pikuk dan materialisme dunia ini. Kita menjadi terlalu sibuk bahkan sangat sibuk untuk  memuaskan hasrat fana yang tiada batas. 

Mengapa banyak dari kita yang lebih memihak dunia ini? Padahal apa yang kita peroleh dari dunia ini sebenarnya bisa diambil kapan saja. Marilah kita membangun hubungan dengan Yesus dan menanggapi undangan-Nya sekarang juga.

Tuhan memberkati.🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Penulis 


Rabu, 17 Juli 2024

Yes 10:5-7.13-16

Mat 11:25-27


Yesus berdoa kepada Bapa-Nya. Dalam doa-Nya, Ia bersyukur karena semuanya yang berasal dari Allah justru dinyatakan kepada orang kecil bukan kepada orang bijak dan pandai. Apa itu: mukjizat-mukjizat Allah dan segala kebaikan-Nya dan hanya orang kecil lah yang mampu menerimanya.

Yesus tidak sedang bersikap diskriminatif dalam hal ini. Sesungguhnya, Ia sangat ingin agar baik mereka yang kecil pun yang bijak dan pandai mau dan mampu menerima segala kebaikan Tuhan. Namun nyatanya, acap kali kesombongan justru mendatangkan penolakan atas apa yang baik dari Tuhan.

Untuk mengerti kebaikan Tuhan kita memang harus selalu merendahkan diri dengan bersikap rendah hati. Itulah sikap orang kecil yang dimaksud Yesus.

Dokumentasi Komsos 


Rabu, 17 Juli 2024, pkl. 06.00 wib, Bapa Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga memimpin Perayaan Ekaristi perutusan Fr. Paskalis Tafonao dan Fr. Filipus Ofedi Tafonao. Mereka diutus untuk dua tugas yang berbeda.


Fr. Paska diutus untuk melanjutkan pendidikan imam di Seminari Tinggi St Petrus Sinaksak, Pematangsiantar dan guna melanjutkan studi Teologi di Sekolah Tinggi St Yohanes Pematangsiantar. Perutusan ini ia terima setelah ia berhasil menyelesaikan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Hilarius Tarutung Bolak. 


Sementara itu, Fr. Ofedi Tafonao mendapat perutusan untuk menjalani masa TOP di Batam, Keuskupan Pangkal Pinang. Selama menjalani masa TOP, Fr. Ofedi akan belajar dan berpraktek di Shelter Pastoral Migran dan Perantau, Keuskupan Pangkal Pinang. 


Semoga Frater berdua tetap semangat, bahagia dan setia dalam tugas perutusan mereka.


Dalam Perayaan Ekaristi tersebut, hadir pula Tim Komunitas Tritunggal MahaKudus (KTM) Jakarta yang sudah berada hampir selama satu minggu di Sibolga. Mereka memperkenalkan Komunitas Tritunggal MahaKudus untuk umat Keuskupan Sibolga.

 

Dokumentasi Penulis 

Rabu, 17 Juli 2024

Pekan Biasa XV/B

Mat 11:25-27.


Frater “sensitifus” sangat berambisi  untuk mengenal Tuhan. Dia melahap setiap buku yang membahas tentang Tuhan. Sayangnya, semakin sering dia membaca buku tentang Tuhan, semakin dia merasa asing dengan Tuhan. Maka, ia mencari nasihat pada pembimbing rohaninya untuk mendapatkan pencerahan. 

Sang pembimbing mengatakan: “Dilema Anda sederhana. Anda perlu menjadi lebih rendah hati saat Anda membaca lebih banyak tentang Tuhan.” Ia melanjutkan: “Anda harus memasukkan ke dalam hati Anda dan bukan ke dalam kepala Anda pembelajaran apa pun yang Anda peroleh dari bacaan Anda.”

Dalam Injil hari ini Yesus berdoa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 

Apakah Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang Tuhan dalam hidup Anda? Kata rahasianya adalah kerendahan hati.

Saudara-saudari terkasih, 

Kita pun harus selalu rendah hati bila ingin lebih mengenal Tuhan. Jalan kerendahan hati hanya bisa ditemukan melalui jalan bersyukur. HATI YANG BERSYUKUR tidak perlu dicari ke mana-mana. Tapi ada di dalam diri sendiri yakni bersyukur atas apa yg bisa dinikmati, bersyukur atas persoalan hidup yang dihadapi dan bersyukur atas segala keterbatasan diri yang ada. Jadilah pribadi rendah hati yang senantiasa bersyukur🙏

Tuhan memberkati 😇

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Komsos 


Selasa, 16 Juli 2024

Pekan Biasa XV/B

Mat 10:34-11:1


Pastor “lelah hati” mengeluh pada rekannya. Karena niat baik pelayanan terhadap umat tidak mendapat respon yang baik. Bukannya mau bekerja sama tetapi malah terjadi penolakan. 

Pastor “motivasiorus”mendengar dengan seksama keluhan pastor “lelah hati” dan memberi peneguhan: bahwa apa yang baik tetap harus dilakukan, selanjutnya biarlah Roh Kebaikan menumbuh-kembangkannya. 

Dalam Injil hari ini, Jelas sekali Yesus sangat marah terhadap penduduk Betsaida dan Khorazim. Mereka telah melihat keajaiban yang Yesus kerjakan di tengah-tengah mereka, tapi mereka tidak bertobat! Mereka tetap melakukan perbuatan jahat. Jelaslah, mereka tidak tertarik untuk mengubah gaya hidup mereka atau takut akan Tuhan!

Saudara-saudari terkasih, 

Tampaknya Yesus melampiaskan kemarahan-Nya pada tiga kota itu, namun kita mengenal Yesus yang penuh belas kasih. Sebenarnya Yesus sedang meratapi mereka. Apakah kita ingin Yesus meratapi kita? Karena menunda mengikuti-Nya  sebab tdk mau mengubah gaya hidup manusia lama? Sadarilah kebaikan Tuhan yang telah kita terima cuma-cuma, dan berbagilah pula dengan cuma-cuma. 

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Komsos Sibolga 

Minggu, 14 Juli 2024, RD Mikael Runggu Sitanggang melantik 30 Petugas Pastoral dan menyambut kehadiran Kongregasi Suster-suster Fransiskanes Santa Lusia (KSFL) di Paroki St. Hilarius Tarutung Bolak. Kedua peristiwa berahmat ini dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XV Tahun B/II di Gereja Paroki.

Sebanyak 30 orang petugas pastoral yang dilantik oleh Pastor Mikael. Sebagai Pastor Kepala Paroki, beliau juga turut bersyukur atas kehadiran para suster dari Kongregasi KSFL. 

Para suster KSFL untuk sementara tinggal di rumah keluarga Alm. Katekis Op. Teofilus Sihombing atau ayah dari RP. Sebastian Sihombing OFMCap. Mereka akan mengontrak rumah tersebut sampai gedung komunitasnya berdiri.

Ke-30 petugas pastoral yang baru dilantik tersebut bergerak di Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di Stasi Keluarga Kudus Tarutung Bolak.

Pastor Mikael Runggu Sitanggang dalam kotbahnya menekankan bahwa Tuhan telah memilih para murid-Nya dari latar belakang kehidupan yang berbeda. Maka sebagai murid Tuhan, para petugas pastoral harus mengandalkan Kuasa Tuhan dalam pelayanan di komunitas masing-masing.

Setelah perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan acara ramah tamah di aula paroki.

(Ditulis oleh Hadamean Tumanggor)

 

Dokumentasi Penulis 

Senin, 15 Juli 2024

Peringatan St Bonaventura, Uskup & Pujangga Gereja

Mat 10:34-11:1


Saya mengenal dengan baik beberapa pastor yang memiliki keyakinan agama yang berbeda dengan orang tua mereka. Mendengar kisah, bagaimana mereka merintis panggilan sungguh menghadirkan sikap hormat yang mendalam terhadap mereka. Karena dampak penolakan dari orang tua dan keluarga menimbulkan berbagai praduga yang mendorongnya harus berani membuat keputusan yang berdampak “memisahkan” mereka secara struktur lembaga ke-keyakin-an bahkan juga hubungan kekerabatan. 

Dalam Injil hari ini Yesus berkata kepada para Rasul-Nya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 

Saudara-saudari, terkasih

Pedang apakah yang dibicarakan Yesus dalam Injil? Itulah pedang kebenaran dan keadilan! Yesus datang ke dunia ini untuk membawa pedang kebenaran dan keadilan, dan pedang tersebut memisahkan siapa pun yang menghalangi. 

Gereja selalu menyuarakan pendapatnya setiap kali ada isu atau kebijakan yang menyakiti umat Tuhan. Gereja tidak takut menentang siapa pun yang berkuasa, bahkan jika itu menciptakan permusuhan sementara. Mengapa? Karena misi gereja adalah berbicara atas nama Tuhan dan menyampaikan kebenaran, tidak peduli siapa yang terluka. Bawalah pedang iman di dalam hati kita masing-masing dalam perjuangan hidup Anda.

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Komsos Sibolga 


Para pengurus Badan Pelayanan Nasional (BPN) dan Badan Pelayanan Karismatik (BPK) se-Indonesia mengadakan retret bersama yang dilakukan pada 12-14 Juli 2024.


Pembukaan retret dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga pada Jumat, 12 Juli 2024 yang lalu. Kini retret bersama pun berakhir dan kembali ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang juga dipimpin langsung oleh Mgr Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga.


Perayaan Ekaristi diadakan di Gereja Lady Akita, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Perayaan Ekaristi dihadiri oleh seluruh peserta retret dan umat lainnya yang berasal dari berbagai tempat. Dengan Perayaan Ekaristi hari ini, berakhirlah kegiatan retreat para Pengurus BPN dan BPK se-Indonesia.


Seusai Perayaan Ekaristi, dilaksanakan makan bersama. Tidak lupa juga diadakan sesi dokumentasi oleh panitia penyelenggara.

 

Dokumentasi Penulis 

Minggu, 14 Juli 2024

Pekan Biasa XV/B

Markus 6:7-13 


Suatu hari suster “sendu” mempertimbangkan perutusan dewan pimpinan sebagai kepala sekolah.  Namun, ia ragu karena dalam lubuk hatinya ia merasa  bahwa secara intelektual tidak akan sanggup mengemban tanggung jawab sebesar itu. 

Ia bercerita kepada suster “optimista” tentang keinginannya dan kekurangan intelektualnya. Nasihat suster optimista adalah untuk terus maju dan mengikuti perutusannya. Ia juga diberitahu oleh temannya untuk tidak bergantung pada  kekurangan intelektualnya tetapi bergantunglah hanya pada Tuhan saja.

Firman Yesus hari ini melarang para murid  membawa perbekalan apa pun, kecuali tongkat. Mereka tidak boleh membawa makanan, atau uang, atau sepatu atau pakaian cadangan sekalipun. Ini adalah sebuah perutusan radikal di mana kita diminta untuk lepas bebas dari ketergantungan diri untuk kemudian terjun bebas hanya pada Kehendak Tuhan semata. 

Saudara-saudari terkasih, 

Sering kali kita tidak mencapai apa yang Yesus ingin kita lakukan bagi-Nya, karena kita tidak percaya kepada-Nya dan kita kurang beriman kepada-Nya. Karena alasan yang sama, kita juga takut untuk mengambil langkah pertama menuju realisasi misi kita bagi Tuhan. Oleh karena itu kita mandek dan gagal maju, kita juga gagal mencapai misi kita bagi Kristus.  

Jika Anda ingin mengikuti Yesus, Anda harus mengikuti-Nya dengan iman dan Anda harus belajar untuk percaya sepenuhnya kepada-Nya. Apakah Anda selalu beriman dan percaya kepada Yesus?

(Ditulis oleh Rm. Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Penulis 


Sabtu, 13 Juli 2024

Pekan Biasa XIV/B

Mat 10:24-33


Ada sebuah kisah tentang seorang lelaki sekarat yang jarang menghadiri Misa Kudus dan sangat takut mati. Ketika kerabatnya mengatakan kepadanya bahwa mereka akan memanggil seorang imam agar dia dapat dianugerahkan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, dia bertanya kepada mereka, Apakah saya sudah akan mati?  Singkat cerita, setelah dia dianugerahkan sakramen, lelaki yang sekarat itu berkata kepada kerabatnya, sekarang saya siap mati. 

Injil hari ini memperdengarkan sabda Yesus: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”

Saudara-saudari terkasih,

Apakah kita takut mati? Tentu saja, tapi mengapa kita takut mati? Mungkin alasannya karena kita belum menemukan Yesus dan tentunya Yesus belum menjadi bagian dari jalan hidup kita. Ini mungkin alasan utama mengapa banyak dari kita takut mati. Namun, ketika Yesus sudah menjadi bagian dari cara hidup Anda, Anda tidak akan lagi takut mati.   

Ketika kita memiliki Yesus dalam hidup kita, kita sudah memiliki keberanian untuk menghadapi apa pun yang mungkin menimpa kita. Kita tidak lagi takut menatap kematian di dunia karena kita sekarang tahu bahwa sebentar lagi kita akan bersama Yesus di surga. 

Apakah kamu masih takut mati?

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Komsos 


Para pengurus Badan Pelayanan Nasional (BPN) dan Badan Pelayanan Karismatik (BPK) se-Indonesia akan mengadakan retret bersama. Retret yang berlangsung pada 12-14 Juli 2024 itu diadakan di Klender Samadi, Jakarta.


Retret Nasional ini diikuti seluruh pengurus BPN dan BPK dari Sumatera sampai Merauke. Retret dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga selaku Vikaris Episcopal Penasehat BPN (12 Juli 2024).

Retret tersebut mengambil tema: COMMUNITY OF HOPE - MENJADI MURID YESUS MEWARTAKAN PENGHARAPAN.


Selamat menjalani retret bagi seluruh pengurus BPN dan BPK se-Indonesia. Semoga retretnya berjalan dengan baik dan membuahkan hal yang baik pula bagi seluruh anggota BPN dan BPK di Indonesia.

 

Dokumentasi Penulis 

Jumat, 12 Juli 2024

Pekan Biasa XIV/B

Mat 10:16-23

Ada seorang pejabat tinggi pemerintah yang sangat korup mengalami perubahan yang menggemparkan dalam hidupnya. Dari seorang yang korup, ia menjadi orang suci dan sejak saat itu ia tidak pernah terlibat dalam bentuk korupsi apa pun. Gaya hidupnya yang suci akhirnya menjadi salibnya karena ia dianiaya dengan kejam oleh mantan rekan-rekannya yg masih korup.

Kiranya injil hari ini, memuat pesan Yesus yang masih relevan: ”Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati"

Apakah ada gunanya meninggalkan dosa dan teman pendosa  kita demi Yesus? Tentu saja ada gunanya! Mungkin tidak mudah. Kita harus selalu siap menghadapi dengan sikap bijaksana laksana ular dan merpati. Kita harus siap dipandang rendah, siap menghadapi komentar-komentar yang menghina. Meskipun demikian; biarlah penganiayaan ini memperkuat tekad kita untuk mengikuti Yesus.

Bagaimana dengan Anda, mana yang lebih Anda sukai: godaan dunia yang tidak bermoral dan korup atau jalan yang awalnya sulit tetapi akhirnya membuahkan hasil menuju Yesus?

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

 

Dokumentasi Penulis 

Kamis, 11 Juli 2024

PW St Benediktus Abas

Mat 10:7-15

Ada yang pernah bertanya pada saya: "Mengapa Tuhan membuat seseorang miskin?"  Mengapa kita ingin menyalahkan Tuhan atas masalah yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri?Mengapa kita mencoba mengalihkan kesalahan pada orang lain, termasuk Tuhan? 

Saya  berpikir bahwa Tuhan tidak membuat siapa pun miskin. Kita yang melakukannya untuk diri kita sendiri dan orang lain. Kita membuat sistem yang (bisa) gagal. Tuhan telah memberi kita segalanya secara cuma-cuma di dalam diri kita. Bagaimana kita mendayagunakan pemberian Tuhan? Itulah yang membuat kita berbeda dengan yang lain.

Melalui Injil hari ini kita diperdengarkan, ketika Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya untuk menjalankan misi mereka, salah satu pernyataan khusus-Nya kepada mereka adalah: jangan biarkan uang atau apa pun yang bersifat duniawi menguasai mereka. Sebaliknya, Yesus ingin para rasul-Nya membiarkan Dia mengatur hidup mereka.

Saudara-saudari terkasih, 

Apakah Anda berharap menerima sesuatu sebagai balasan atas hal-hal yang Anda lakukan demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar? Lebih baik jangan berharap, karena ketika harapan kita tidak terpenuhi, kita akan kecewa. Marilah kita berbuat baik dan merasa cukup dengan kenyataan bahwa kita telah berbuat baik kepada sesama. Tuhan ada dalam setiap kebaikan yang Anda lakukan.  

Tuhan memberkati 🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)


Gereja Katolik Kristus Raja, Huta Godang Paroki St. Yohanes Penginjil - Pinangsori Dekanat Tapanuli Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan telah diberkati oleh Uskup Sibolga Mgr. Fransiskus Sinaga pada Minggu, 7 Juli 2024. Sebagai Imam konselebran dalam acara perayaan ekaristi pemberkatan gereja ini adalah Pst. Bartolomeus sihite Pr, Pst. Aditya Perangin-angin O.Carm, Pst. Willem Sibagariang OFMCap, Pst. Sergius Lay OFMCap. dan Pst. Juli Antonius O.Carm.

 

Dokumentasi Rm Adytia OCarm

Rabu, 10 Juli 2024

Pekan Biasa XIV/B

Mat 10:1-7


Selfie adalah singkatan dari “self potrait” yang artinya foto hasil memotret diri sendiri.

Suatu hari seorang suami curhat dengan istrinya bahwa akhir-akhir ini ia memiliki kebiasaan baru, suka Selfie. Sang Istri maklum karena sang suami punya HP baru. Sang isteri  menenangkan hati suaminya  agar tak khawatir, karena itu kebiasaan wajar, asal jangan dilakukan berlebihan. Inilah awal pertengkaran mereka!karena dalam kasus ini Selfie adalah nama gadis tetangga🤣😎🤣

Dalam Injil hari ini, Yesus memanggil dan mengutus dua belas murid guna mendampingi domba-domba yang berkesusahan. Para murid ditugaskan untuk mengusir roh-roh jahat, membawa kesembuhan, dan memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Umat yang menderita harus tahu bahwa Bapa sungguh-sungguh mengasihi mereka dan berkenan menyelamatkan mereka

Saudara -saudari terkasih, Saat ini kita berada dalam pola pikir selfie yang disebabkan oleh facebook,  Instagram, media sosial, dan modernitas di zaman kita. Sekarang kita mempunyai budaya selfie yang hanya menampilkan diri sendiri, memikirkan diri  sendiri, ibadah sendiri, dan keyakinan sendiri! Yang jika tidak dikoreksi pada akhirnya akan membawa kita pada ketidakpedulian dan egoisme. Bukan mustahil saat ini banyak orang kesepian ditengah keramaian; terasing di dalam keluarga/komunitas sendiri. Terjebak dalam keterasingan karena benteng ego. Sebagaimana para murid Yesus di atas, Kita pun diutus untuk meretas ego dengan membuka diri dan membawa keluarga/komunitas kita terlebih dahulu pada-Nya. 

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumentasi Rm Adytia Peranginangin OCarm 


Selasa, 09 Juli 2024

Pekan Biasa XIV/B

Mat 9:32-38


Kemarin sore keheningan pastoran pecah, ketika para anjing melolong dan menggong-gong tiada henti. Rupanya para anjing mengincar kucing yang sedang tidur di tembok pagar. Anehnya sedikitpun kucing tidak terusik dengan lolongan anjing, malah ia menselonjorkan kaki  dan terus tidur. Anjing kalut dalam kebisingan sementara kucing tidur dalam keheningan. 

Injil hari ini memberi tahu kita, bahwa Yesus sadar akan upaya orang-orang Farisi untuk menyudutkan Dia. Namun Ia tetap diam dalam keheningan dan fokus  pada  gerakan belas kasih terhadap orang miskin, orang sakit, orang yang tertindas, orang yang terpinggirkan, dan orang yang bodoh. 

Saudara-saudari terkasih,

Yesus memilih untuk hening dan tetap fokus pada misiNya untuk mencapai kehendak Bapa-Nya.  Belas Kasih adalah energi-Nya untuk mengusir, mengajar, mewartakan dan menyembuhkan serta menyelamatkan. Bagaimana kita menangkal kritik dan tuduhan palsu dari para pencela kita? Apakah kita bisa tetap HENING dan Fokus? 

Tuhan memberkati 🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Gambar diambil dari pax et bonum (wordpress.com)


Hos. 2:13,14b-15,18-19; Mat. 9:18-26.

Senin, 8 Juli 2024

Meja Sabda hari ini, mengajak kita merenungkan kasih setia Tuhan yang selalu menyelamatkan dalam berbagai keadaan. Mari kita gali pesan praktisnya untuk diterapkan dalam hidup kita.

1. Menyadari Kasih Tuhan yang Tak Pernah Berhenti; Hosea, melihat Tuhan memanggil umatNya yang sesat. Meskipun Israel sering kali tidak setia, Tuhan tetap setia dan penuh kasih. Tuhan berkata, "Aku akan memikatnya dan membawa dia ke padang gurun, untuk menenangkan hatinya." Begitu besar kasih Tuhan yang mencari dan memanggil kita kembali kepadaNya, meskipun kita sering kali jauh dariNya. Maka ketika merasa jauh dari Tuhan, ingat saja Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Mari kita berusaha untuk kembali padaNya, melalui doa dan pertobatan.

2. Memuji dan Bersyukur atas Kebaikan Tuhan; Pemazmur mengungkapkan keagungan Tuhan, "Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan memuliakan namaMu selamanya." Maka kita diajak untuk tidak pernah melupakan betapa baiknya Tuhan melalui segala berkat yang telah kita terima. Jadi perlu luangkan waktu untuk bersyukur atas berkat-berkat yang Tuhan berikan melalui doa pribadi atau kegiatan Gerejani, atau berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan dengan sesama.

3. Iman Menggerakkan Mujizat; Injil memperlihatkan dua mujizat dilakukan Yesus. Seorang kepala rumah ibadat datang kepada Yesus dengan iman besar, memohon penyembuhan bagi anaknya yang telah meninggal. Di tengah perjalanan, seorang perempuan yang sakit selama dua belas tahun juga datang dengan iman besar, hanya ingin menjamah jubah Yesus agar sembuh. Kedua mujizat ini terjadi karena iman yang kuat akan pertolongan Yesus. Maka Iman kita memiliki kekuatan untuk mengubah situasi yang tampak tidak mungkin. Mari kita selalu percaya dan bersandar pada Tuhan dalam segala keadaan, dan jangan ragu untuk memohon pertolonganNya. 

Semoga kita semua semakin kokoh dalam iman dan maju dalam praktek kasih kepada Tuhan melalui sesama. Amin

 

Dokumentasi Rm Adytia Ocarm

Senin, 08 Juli 2024

Pekan Biasa XIV/B

Mat 9:18-26


Sekali tepuk dua nyamuk mati. Inilah yang kita inginkan bila terusik oleh nyamuk. Tapi untuk bisa menepuk seekor nyamuk saja susahnya minta ampun, tapi ini... sekali tepuk bisa dapat dua nyamuk sekaligus ! Hebat bukan ? "Sekali tepuk dua nyamuk mati" adalah peribahasa yang memiliki arti sama dengan peribahasa : "sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui". Adapun artinya adalah satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil (atau keuntungan) sekaligus.

Injil Matius hari ini memperkenalkan kepada kita dua orang perempuan yang putus asa. Yang satu dewasa, menderita pendarahan yang tidak sembuh selama 12 tahun. Yang lain anak remaja berumur 12 tahun, yang sakit dan mati. Menurut perasaan orang Yahudi di zaman itu seseorang yang menyentuh darah atau mayat dianggap tidak murni, kotor, najis. Darah dan mayat (kematian) adalah pemutus hubungan sosial, sehingga si wanita “mencuri-curi” kesempatan menjamah jubah Yesus dan Yesus ditertawakan ketika hendak membangkitkan si mati.

Saudara-saudari terkasih,

 “Ibadat Kristiani yang sejati adalah iman yang berjuang melawan keputusasaan.” Ketika hidup tampak tanpa harapan atau mustahil, ketika angin keputusasaan bertiup, sadarilah bahwa ini adalah godaan dan serangan iblis. Pada saat itu, Kristus mengatakan kepada Anda apa yang Dia katakan kepada Yairus, “Jangan takut; percaya saja.” Percaya adalah iman dan iman menuntut perbuatan👼

Tuhan memberkati🙏

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

Setia Menjadi Nabi Kebaikan dan Kasih

Oleh: RD. Wilfridus Vinsen Sarah 

gambar diambil dari dakta.com


Minggu, 07 Juli 2024 (Pekan XIV Tahun B/II)

Yeh.2:2-5; 

IIKor.12:7-10; 

Mrk.6:1-6b


Nabi Yehezkiel memperlihatkan peran nabi di tengah bangsa Israel yang bagi Yahwe disebut pemberontak. Pertama, nabi dipenuhi oleh Roh Allah untuk membawa pesan Allah, dan tetap setia pada tugasnya. Kita juga dipanggil untuk membuka diri bagi Roh Kudus agar teguh dan setia menjalankan panggilan kita menyampaikan kebenaran Allah, kalau pun harus  menghadapi penolakan dan tantangan. Kedua, nabi hadir sebagai tanda kasih Allah bagi umat untuk mengingatkan dan memanggil mereka kembali padaNya. Maka kita juga diajak menjadi nabi demi kebenaran dan kasih.

Orang yang merasa terpanggil menjadi nabi, perlu menyadari segala kelemahan dan keterbatasannya sebagaimana diajarkan Paulus bahwa orang mesti bermegah dalam kelemahannya agar kuasa Kristus menaungi dia. Caranya? Pertama, Sadar bahwa kelemahan kita adalah sarana bagi kuasa Allah dengan ketika merasa lemah, memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam hidup kita, dengan kekuatanNya. Kedua, ini berarti kelemahan mengajarkan kerendahan hati. Bahwa menyadari keterbatasan, menyebabkan orang bergantung pada kasih karunia Allah. Jadi kelemahan lalu berubah menjadi jalan menuju kekuatan sejati. Paulus berkata, "Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." 

Injil Markus mengisahkan Yesus kembali ke Nazaret kampung halamannya. Namun Dia tidak dihormati di sana. Ini memberikan tiga pesan penting bagi kita. Pertama, seorang nabi sering tidak dihargai di tempat asalnya karena orang-orang terlalu akrab dengan dirinya. Mereka melihat Yesus hanya sebagai anak tukang kayu, bukan sebagai Mesias. Kita diajak untuk tidak meremehkan seseorang hanya karena kita mengenalnya sejak lama atau karena latar belakangnya. 

Kedua, akibat bila menilai seseorang dari yang tampak saja maka iman melemah dan kebaikan yang ditimbulkan orang itu. Yesus tidak dapat melakukan banyak mukjizat di Nazaret karena kurangnya iman mereka. Iman adalah kunci bagi Allah untuk bekerja dalam hidup. Mari tingkatkan iman kita, percaya bahwa Allah dapat melakukan hal besar dalam hidup dan komunitas kita. Ketiga, tetaplah setia meskipun ditolak. Yesus tidak berhenti mengajar dan berbuat baik meski ditolak. Kita dipanggil untuk tetap setia dan tekun menjalankan misi kebaikan, walau terjadi penolakan atau kesulitan.

Semoga kita belajar untuk menghargai setiap orang yang berkehendak baik sebagai utusan Tuhan, memperkuat iman, dan tetap setia dalam panggilan kita masing-masing. Amin.

 

Kenal Maka Tak Sayang

Oleh: Rm Adytia Peranginangin OCarm 
Gambar diambil dari Internet 


Minggu, 07 Juli 2024

Pekan Biasa XIV

Mat 6:1-6b

Ketika seorang pengusaha susu terbaring di rumah sakit, dia membagi “warisan” di depan perawat RS pada 3 anak dihadapan  istrinya: “ anakku yang pertama bagimu Apartemen wilayah Menteng 

Park, anak ke dua Sebagian Teater Jakarta Ismail Marjuki dan anak ketiga Sebagian Merkuri Hotel Cikini… Sang perawat takjub dan memuji usaha susu luar biasa shg punya aset yg menakjubkan utk diwariskan. Tapi sang istri langsung menyela si perawat dan berkata: “itu bukan aset dik, tapi bagi-bagi tugas untuk pelanggan yang rutin diantar susu.” 😇😃

Ternyata prasangka sang perawat salah.. 

Saudara-saudari, terkasih

Itulah yang terjadi dalam Injil hari ini sehingga orang sekampung-Nya tidak percaya  pada Yesus. Meskipun mereka takjub dengan pengajaran-Nya, namun mereka tetap pada prasangka. Mereka tidak terbuka terhadap apa yang Yesus singkapkan tentang diri-Nya kepada mereka. Akhirnya, mereka tidak dapat mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Mesias bagi Israel.

Saudara/i-ku, pada hari minggu ini kita disadarkan

Terkadang pemahaman kita tentang Yesus sering kali dipengaruhi oleh keinginan pribadi akan: kondisi, pengalaman subjektif, dan informasi yang kita terima dari orang lain yang mungkin juga tidak begitu mengenal-Nya. Akibatnya, ketika kita mencoba mengenal Yesus melalui  Alkitab, renungan, penghayatan hidup kita tidak lagi memandang-Nya dengan hati yang murni dan terbuka. Datanglah kepada Tuhan dengan kebutuhan akan hadirat-Nya sehingga RELA untuk MENGUBAH PRASANGKA dengan KETERBUKAAN menerima pesan-Nya.

Tuhan memberkati..🙏

(Ditulis Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St Yohanes Penginjil Pinangsori)

NON MULTA SED MULTUM

Oleh: Rm. Adytia Peranginangin OCarm 

Dokumentasi Rm. Adytia Peranginangin OCarm 


Sabtu, 06 Juli 2024

Pekan Biasa XIII/B

Mat 9:14-17

 

Hari Jumat adalah hari gotong royong di paroki. Ada banyak sukacita dalam kebersamaan, meskipun kerap yang hadir sedikit. Namun gerakan konsisten dan terus menerus ini bukanlah sesuatu yang sia-sia.  Ungkapan Bahasa Latin mengatakan: “Non multa sed multum”, yang artinya kurang lebih: bukan banyaknya/quantity-nya, tetapi totalitas/totality-nya yang penting. Totalitas membutuhkan sebuah keyakinan dan keyakinan inilah yang akang menjadi faktor pengubah segalanya.  

Dalam injil hari ini, Yesus mengumpamakan hal lama dengan kain lama dan ajaran-Nya sebagai kain yang baru (Matius 9:16). Ajaran-Nya bagaikan anggur yang baru yang tidak bisa disimpan dalam kantong kulit yang lama (Matius 9:17). 

Saudara-saudari terkasih, 

Dunia yang luas ini menjadi sempit dikarenakan: peperangan yang membentuk pengkotakan-pengkotakan antara negara. Berita yang sangat banyak yg kita terima di media sosial justru membuat kesulitan menerima berita yang kredibel. Pun demikian gelar dan pendidikan yang banyak belum menjamin kualitas pribadi yang sehat dan wajar.  Kantong anggur kita sudah tua dan hampir pecah; pakaian kita sudah terkoyak. Dia memberi kita anggur darah-Nya, memperbarui kantong kita, dan membungkus kita dengan kebenaran-Nya.  Tantangan hidup saat ini makin kompleks dibutuhkan kesatuan hidup dengan Kristus senantiasa. Untuk melihat yang benar dengan bijaksana. 

Tuhan memberkati🙏

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget