Keuskupan Sibolga

Latest Post

 



Minggu Pra-Paskah I/A-1 Minggu 22 Februari 2026

Gong, Pertarungan Dimulai Melawan Kekuatan Jahat 

Kejadian 2:7-9;3:1-7

Mazmur 51:3.4.5.6.a.12.13. 14.17

Roma 5:12-19

Matius 4,1-11


Dalam bukunya yang berjudul Winning by Letting Go, Elisabeth Brenner berkisah mengenai cara jitu bagi orang-orang pedalaman India untuk menangkap seekor monyet:

 

o   Mereka harus membuatkan sebuah kotak tertutup dan melubanginya pada sebuah sisi kotak itu sebesar tangan monyet.

o   Mereka meletakan kacang goreng/rebus di dalam kotak itu.

 

Apabila seekor monyet berusaha menggenggam kacang yang ada dalam kotak itu, maka sangat mustahil baginya untuk bisa mengeluarkan tangannya apabila posisi tangannya tergenggam. Dalam situasi itu, monyet hanya memiliki dua pilihan:

 

o   Melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya dan meninggalkan kotak itu dengan bebas.

o   Ngotot untuk mendapatkan kacang itu dan akhirnya terperangkap.

 

Biasanya, monyet lebih memilih kacang dan mempertahankannya berada dalam genggamannya, walaupun akhirnya terperangkap.

**************************

 

Situasi Yesus di padang gurun tidak jauh berbeda dengan situasi monyet ketika harus menjatuhkan pilihan. Perbedaannya:

 

o   Monyet lebih memilih kepentingannya sesaat daripada kehidupannya yang panjang. Dia jatuh ke dalam perangkap manusia.

o   Yesus tidak jatuh ke dalam perangkap Iblis, karena Dia memiliki visi dan prinsip hidup yang jelas: Dia tidak mempertahankan kepentingan dan keinginan manusiawi-Nya, melainkan kepentingan Allah.

 

Dikisahkan bahwa Yesus “dipimpin” oleh Roh ke padang gurun. Dalam teks asli Yunani dikatakan bahwa Roh “ekballei” Yesus ke padang gurun: Roh mengusir, melemparkan Yesus ke luar. Maksudnya, Yesus yang dipenuhi dengan Roh Kudus sungguh-sungguh dikuasai oleh kekuatan yang dasyat dan kekuatan itu akan menyatakan dirinya dalam seluruh tindakan hidup-Nya. Kekuatan itu akhirnya memimpin-Nya ke padang gurun, yaitu tempat yang paling tepat untuk berdialog dengan Allah; tempat yang paling nyaman untuk bermenung sebelum mengambil sebuah keputusan mengenai langkah-langkah ke depan.

Saat dan kurun waktu yang lama di padang gurun adalah saat dan suatu tahapan yang paling penting dan paling menentukan dalam kehidupan-Nya. Pada saat dan kurun waktu yang lama itu, Dia harus memilih dan harus menentukan pilihan-Nya: menjadi Mesias seperti yang diimpikan oleh kaum-Nya sendiri atau Mesias Ilahi?

 

Apabila Dia harus menjadi mesias duniawi, maka Dia harus tampil sebagai:

 

o   Seorang panglima yang gagah-perkasa supaya bisa mengusir penjajah Roma, bisa menguasai rakyat, bisa menegakkan perdamaian dan kesejahteraan, bahkan dengan tangan besi.

o   Dia bisa menjamin kehidupan rakyat-Nya dengan makanan. Rakyat manakah yang tidak mengharapkan kepada penguasa untuk menjamin makanan baginya?

o   Dia juga bisa menjadikan diri-Nya sebagai manusia yang serba bisa. Dia harus tampil di hadapan umum dengan segudang kehebatan-Nya serta menguasai segalanya.

o   Cita-cita semua penguasa adalah menguasai seluruh dunia, seperti Alexander dari Makedonia, Napoleon, Hittler, dll. Kaum Yahudi yakin bahwa Mesias memiliki kuasa mutlak dan tidak akan pernah bisa dilawan oleh siapa pun.

 

Yesus tidak terperangkap oleh pemikiran kaum sebangsa-Nya. Dia justru memilih jalan yang lain, yaitu jalan yang tidak dianjurkan Iblis. Dia menghormati manusia seutuhnya.

 

o   Dia ingin menjadi Mesias yang tidak memaksa dengan kekuasaan dan dengan tangan besi.

o   Dia ingin bergaul dan dekat dengan siapa saja. Dia berjuang untuk meyakinkan, bukan menguasai.

o   Dia lemah lembut dan miskin ketika menawarkan Kerajaan Allah kepada dunia. Dia bertindak secara murni.

o   Dia tidak akan berpegang pada pedoman si jahat, yaitu tujuan akan menghalalkan semua cara.

o   Dia tidak akan membebaskan bangsa-Nya dari pernjajahan Romawi, sebab penjajahan dosa jauh lebih mematikan daripada penjajahan asing.

o   Dia melayani sampah-sampah masyarakat, berpihak pada yang dianiaya, dikucilkan dan yang dicap tidak bermartabat.

 

Yesus terbuka terhadap gerakan Roh yang Baik, yaitu Roh Bapa-Nya sendiri. Roh Bapa tidak memaksa-Nya, tetapi menuntun-Nya. Roh Kudus yang sama pasti tidak akan pernah memaksa pikiran dan hati kita untuk menerima pimpinan-Nya. Namun, setiap hati yang terbuka dan menerima pergerakan Roh Bapa adalah hati yang terbuka dan bersedia dipimpin oleh Allah sendiri sehingga bisa masuk dan mengalami setiap peristiwa yang tidak pernah dialami. Jalan Tuhan, bukanlah jalan kita. Apakah kita pernah mengalami sesuatu yang menyenangkan atau membuat pikiran dan hati berantakkan? Sikap hati yang manakah sehingga mampu menerima campur tangan Allah dalam setiap peristiwa hidup kita?

 

o   Sebelum tampil di hadapan umum, Yesus menyepi di padang gurun. Dia sadar setiap langkah menentukan jalan hidup-Nya ke depan sehingga harus dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, terutama arah dan tujuan langkah yang dituju. “Apakah kita pernah duduk tenang, walau sesaat untuk merenungkan isi hidup, isi panggilan dalam keluarga dan komunitas?

o   Yesus menyepi dalam kurun waktu yang lama. Yesus tidak melamun atau tidur-tiduran untuk bermalas-masalan. Dia menyiapkan diri-Nya untuk menyambut tugas mulia yang diberikan Bapa kepada-Nya. Pada momen itu, Dia diuji, terutama kesetiaannya kepada Allah, Bapa-Nya oleh iblis, sosok yang mengerikan, bertanduk dan berekor kelicikan. Iblis itu ada dalam hati saya, terutama ketika hati kita tertutup kepada Allah dan sesama dan berani berkata, “Saya tidak butuh Allah dan sesama”. Iblis yang berakar di hati adalah ibilis licik yang cenderung menggeser peranan Allah dari kedudukan-Nya dan mengusir sesame dari kehidupan kita. Apakah yang kita lakukan untuk mematikan iblis ini di hati kita?

 

o   Apabila kita mampu mematahkan kecenderungan hati yang jahat, kita mampu mengusir dan mengalahkan iblis licik di hati kita. Hati kita akan tenang, walaupun banyak alasan dalam hidup ini untuk gelisah dan perjuangan hidup di dunia ini sangat berat. Dunia ini bukan firdaus yang nyaman, namun kita lupa bahwa kehancuran firdaus kehidupan kita terjadi ketika kita menutup hati kepada suara Allah, bisikan kasih sesama, sapaan yang menguatkan, senyuman yang penuh kehangatan dan kata-kata yang memotivasi daya hidup dan senyuman lembut yang menguatkan langkah yang lemah.

 

Ingatlah….

Sumber iblis/kejahatan itu bukan berada di luar, tetapi di dalam diri kita sendiri, yaitu di dalam aku yang tertutup, aku yang egois, aku yang kejam, aku yang sirik, aku yang dendam, aku yang tidak pernah puas, aku yang tidak pernah memahami dan menerima yang lain.

 

Karena itu…

Isilah hati kita  dengan cinta. Cinta akan mengubah yang pahit menjadi manis, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, kemarahan menjadi rahmat, dan musuh menjadi sahabat. Cinta akan mengikis hati yang egois, hati yang tidak pernah puas, hati yang tidak pernah memahami dan hati yang tidak pernah menerima Allah dan sesama dalam kehidupan pribadi.... Cinta menuntun kita kepada kebaikan dan kebenaran; mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah...

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 

Minggu, Pekan Biasa VI Tahun A

“Segeralah Berdamai”

Sirakh 15:15-20

Mazmur 119:1.2.4.5.17.18.33.34

1 Korintus 2:6-10

Matius 5:13-37

“Tinggallah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan”

(Matius 5:24-25)

Seorang Ibu mempunyai seorang bayi perempuan yang tidak bisa merasakan sakit karena adanya gangguan pada sistem syarafnya. Pada suatu hari, Si Ibu mendengar anaknya yang berada di kamar yang lain itu tertawa. Di saat Si Ibu melihatnya, dia menemukan anak perempuannya itu sedang menggigit ujung jarinya yang tampaknya mengeluarkan darah segar. Anak perempuan itu tampak sangat senang membuat gambar dengan darahnya yang mengucur dari ujung jarinya.

Hilangnya rasa sakit dalam tubuh kita sangat mirip dengan hilangnya kepekaan kita akan dosa-dosa kita. saya sangat yakin bahwa kepekaan kita akan dosa-dosa kita bertautan erat dengan kepekaan akan Allah dan kedalaman cinta-Nya kepada kita. Apabila kita dekat dengan Allah, kita akan peka terhadap dosa-dosa kita dan semakin mengagumi cinta-Nya. sebaliknya, apabila kita jauh dari Allah, kesadaran kita akan dosa dan cinta Allah semakin kecil dan menghilang yang menjadi syarat penting bagi kita untuk menyadari dan mengakui kondisi manusiawi kita yang sesungguhnya.

Saya pun menyimpulkan:

o   Hilangnya kepekaan akan dosa menjadikan kita sebagai pribadi yang benar, tanpa cacat, tanpa kelemahan...

o   Hilangnya kepekaan akan dosa merupakan sesuatu yang sangat tragis dalam kehidupan kita, seperti hilangnya rasa sakit dalam diri Si Anak Perempuan yang mengalami gangguan dalam sistem syarafnya.

o   Hilangnya kepekaan akan dosa menyebabkan hilangnya kepekaan akan Allah serta daya cinta-Nya yang merangkul dan mengampuni.

o   Hilangnya kepekaan akan dosa menyebabkan hilangnya harapan akan pengampunan, hilangnya hasrat untuk mengampuni dan gelapnya niat untuk berdamai dengan Allah dan sesama.

******************************

Sabda Yesus ini sungguh-sungguh revolusioner. Dalam kata-kata-Nya ini terungkap sikap-Nya yang sangat tegas-jelas: “Jangan mengikuti upacara keagamaan apa pun selama kita belum atau tidak berdamai dengan siapa pun (saudara) yang menjadi lawan atau musuh kita.”

Sebelum kita bersujud di hadapan Bapa Surgawi, kita tidak hanya dituntut untuk mengampuni dosa dan kesalahan saudara kita karena saudara kita sudah melakukan sesuatu yang tidak baik kepada kita, tetapi kita harus berdamai dengan saudara kita karena dia (saudara kita itu) juga pasti merasa disakiti, bahkan dirugikan oleh perbuatan kita kepadanya.

Kita tidak akan pernah bersukacita sebagai anak Allah selama tali persaudaraan kita terputus dengan sesama kita. Kita tidak pernah boleh berkata, “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun kepadanya. Ini bukan urusan saya. Ini urusan dia.” Kita harus sadar bahwa hidup dalam permusuhan berarti hidup dalam kesalahan dan dosa serta dikuasai oleh dosa. Hati kita tidak akan pernah merasa tenang dan damai apabila kita hidup dalam situasi batin demikian.

Sabda Revolusioner Yesus yang menuntut kita untuk berdamai dengan siapa pun (saudara) yang menjadi lawan atau musuh kita sebelum kita bersujud di hadapan Bapa Surgawi untuk menyerahkan korban persembahkan kita di atas Mezba-Nya yang Mahakudus sesungguhnya memperlihatkan kerekatan hubungan antara pengampunan dari Allah dengan pengampunan terhadap sesama. Sabda Revolusioner ini sudah ditegaskan Yesus dalam ajaran-Nya tentang Doa-Nya kepada para Murid-Nya: “Ampunilah kami akan dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami,....(Lukas 11,4).

Dalam doa ini ditegaskan bahwa sesudah kita mengampuni sesama atas kesalahan dan dosannya kepada kita, kita layak menghadap Allah untuk memohonkan pengampunan dari-Nya. Ini berarti bahwa hanya ketika kita mampu dan sudah mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, maka kita dipandang layak untuk memohonkan pengampunan dari Allah. Dengan demikian tampak bahwa pengampunan kepada sesama menjadi syarat untuk memperoleh pengampunan dari Allah serta menjadi syarat kelayakan untuk mempersembahkan diri kita kepada-Nya.

Walaupun demikian, dalam kenyataannya tidaklah terjadi demikian sebab pengampunan Allah tidak diperoleh dengan cara paksaan. Pengampunan merupakan tindakan bebas Allah dan diterima sebagai anugerah. Kita diperkenankan untuk memohonkan pengampunan dari Allah, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Lukas 11,9). Karena itu, kita harus setia menunggu, sembari membuka pintu hati kita untuk menerima apa yang dikerjakan Allah dalam diri dan kehidupan kita. Kita hanya bisa berharap kepada cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya apabila kita sudah mengampuni sesama. Namun, hal itu sama sekali tidak akan mengurangi kebebasan Allah. Sesungguhnya, yang terjadi adalah: Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita sehingga Dia menuntut agar kita masing-masing rela mengampuni sesama. Kenyataan ini dikisahkan Yesus dalam perumpamaan-Nya tentang “Hamba yang tidak tahu berbelaskasih” (Matius 18,21-35).

Hamba yang berhutang kepada tuannya dan mendapatkan belaskasihannya karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya seharusnya menaruh cinta dan belaskasihan kepada sesamanya yang berhutang kepadanya. Namun, karena dia tidak berbelas kasih kepada sesamanya, maka tuannya pun murka terhadapnya.

Dengan Sabda Revolusioner ini, kita diingatkan dan dituntut bahwa selama kita tidak mempedulikan sesama dalam arti spiritual/iman, tidak memberikan pengampunan, sesungguhnya, kita sudah membunuh dan membinasakan sesama sebagai saudara kita. Dengan bertindak demikian, sesungguhnya, kita tidak lagi menjadi anak Allah.

Persoalannya,...

o   Kita tidak akan pernah mampu mengampuni sesama apabila kepekaan kita akan semua kesalahan dan dosa dalam diri kita sendiri sudah menghilang, seperti menghilangnya rasa sakit dalam diri Si Anak yang mengalami gangguan dalam sistem syarafnya.

o   Kita hanya bisa mengampuni dan berdamai dengan sesama dan Allah, apabila kita menyadari kelemahan dan kerapuhan dalam diri kita: kita pernah, bahkan sering jatuh ke dalam kesalahan dan dosa secara menyedihkan dan merasa diri tidak berdaya serta tidak berharga di mata Allah dan sesama... Pada momen inilah, kita akan mengagumi kekuatan dan keagungan cinta Allah yang merangkul dan mengampuni.

o   Iman akan daya cinta Allah yang merangkul dan mengampuni akan menggerakan kita untuk mengampuni dan berdamai dengan sesama yang bersalah kepada kita,  kapan dan di mana saja, terutama sebelum kita menghadap Allah untuk memohon pengampunan-Nya serta mempersembahkan diri kita kepada-Nya.

Bagaimana dengan kita?

o   Apakah kita sadar bahwa hanya ketika kita sudah mengampuni dan berdamai dengan sesama kita, maka kita pun akan diampuni Allah dan persembahan hidup kita dalam doa berkenan di hadapan-Nya?

o    Apakah kita sadar bahwa syarat pengampunan dari Allah adalah kerelaan kita kita mengampuni dan berdamai dengan sesama?

 

Selamat Bermenung...

Salah Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica......

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 



Refleksi Biblis

Koordinasi Awal Tahun Keuskupan Sibolga 2026

(RD. Yusuf Nataeli Lase)

 

Bacaan Kitab Suci: Yohanes 15:1- 8

Pendahuluan

Bapak Uskup, para imam, suster, dan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, pada akhir pertemuan Koordinasi Awal Tahun ini, setelah kita bersama-sama melihat, mengoordinasikan, dan menata berbagai rencana pastoral untuk tahun 2026, kita diajak untuk berhenti sejenak. Kini, kita menempatkan semuanya dalam terang Sabda Tuhan, agar menjiwai seluruh proses yang kita lalui.

Pada saat ini, kita tidak lagi berada pada tataran teknis perencanaan program. Kita diajak untuk menempatkan seluruh rencana pastoral Keuskupan Sibolga dalam terang iman, agar apa yang telah dikoordinasikan sungguh menjadi bagian dari karya Allah sendiri, dan bukan semata-mata hasil perencanaan manusiawi.

Sebagai Gereja, kita menyadari bahwa perencanaan pastoral, betapapun sistematis dan matang, hanya menemukan maknanya sejauh diletakkan dalam terang iman. Tanpa pendasaran rohani, kegiatan mudah berubah menjadi rutinitas; sebaliknya, dengan pendasaran iman, seluruh karya pastoral menjadi partisipasi dalam karya Allah yang melampaui perencanaan manusiawi kita.

Dalam konteks inilah visi Keuskupan Sibolga menjadi kunci untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral yang telah dibahas bersama. Visi Keuskupan Sibolga berbunyi: “Gereja Keuskupan Sibolga berakar dalam iman, bertumbuh dalam persekutuan, dan berbuah dalam kesaksian”.

Visi ini bukan sekadar pernyataan arah pastoral, melainkan mencerminkan dinamika hidup iman yang sangat alkitabiah. Kitab Suci memperlihatkan bahwa hidup umat Allah selalu bergerak dari akar relasi dengan Tuhan, menuju pertumbuhan dalam kebersamaan, dan akhirnya menghasilkan buah yang memberi kehidupan bagi sesama.

 


I. Berakar dalam Iman

Kitab Suci kerap menggunakan gambaran akar untuk berbicara tentang dasar kehidupan umat Allah. Nabi Yeremia menegaskan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan… Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air; apabila datang panas terik, ia tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:7-8).

Akar tidak tampak ke permukaan, namun justru menentukan daya tahan dan keberlangsungan hidup. Sebuah pohon dapat memiliki cabang yang rimbun dan daun yang lebat, tetapi tanpa akar yang kuat, ia tidak akan bertahan menghadapi panas dan kekeringan. Demikian pula iman dalam kehidupan Gereja: iman bukan pertama-tama diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kedalaman relasi dengan Allah yang menopang seluruh pelayanan.

Dalam Kitab Suci, krisis umat Allah hampir selalu bermula bukan dari kurangnya aktivitas, melainkan dari rapuhnya relasi dengan Tuhan. Karena itu, visi “berakar dalam iman” mengajak Gereja Keuskupan Sibolga untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dengan sikap reflektif: apakah kegiatan-kegiatan tersebut sungguh meneguhkan iman umat dan kepercayaan kepada Tuhan, ataukah berhenti pada pelaksanaan program semata.

Pelayanan yang tidak berakar dalam iman mudah menjadi rutinitas yang melelahkan dan kehilangan daya rohani. Sebaliknya, kegiatan yang sederhana tetapi berakar dalam iman sering menjadi ruang di mana Allah bekerja secara diam-diam, membentuk umat, dan menumbuhkan ketahanan rohani. Karena itu, visi “berakar dalam iman” mengajak kita untuk terlebih dahulu meneguhkan fondasi rohani, sebelum memperluas atau melaksanakan program. Kalau akar iman ini rapuh, seluruh pelayanan Gereja akan mudah kehilangan daya tahannya.

 


II. Bertumbuh dalam Persekutuan

Dari akar iman yang kokoh, Gereja dipanggil untuk bertumbuh, dan pertumbuhan ini dalam Kitab Suci selalu bersifat komunal. Kisah Para Rasul melukiskan Gereja perdana sebagai komunitas yang hidup dari persekutuan: “Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam Persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

Persekutuan di sini bukan sekadar kebersamaan struktural, melainkan persekutuan hidup, di mana umat saling mendengarkan, saling menopang, dan berjalan bersama. Gereja tidak pertama-tama dibangun oleh keseragaman program, melainkan oleh kesediaan untuk berjalan bersama dalam terang Injil.

Dalam konteks Keuskupan kita, visi “bertumbuh dalam persekutuan” menantang kita untuk melihat apakah matriks kegiatan pastoral tahun 2026 sungguh mendorong kerja sama, sinergi, dan rasa memiliki bersama antara paroki, komisi, imam, dan seluruh umat Allah. Tanpa persekutuan, pelayanan mudah berubah menjadi beban individual dan koordinasi menjadi formalitas belaka. Sebaliknya, persekutuan yang hidup menjadikan pelayanan sebagai ungkapan persaudaraan, memperkuat solidaritas pastoral, dan menolong Gereja menghadapi tantangan bersama. Pertumbuhan Gereja selalu terjadi ketika umat Allah berjalan bersama, bukan ketika masing-masing berjalan sendiri.




III. Berbuah dalam Kesaksian

Akar iman dan pertumbuhan persekutuan selalu diarahkan pada buah. Yesus sendiri menegaskan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh 15:8).

Buah tidak dihasilkan demi pohon itu sendiri, melainkan untuk kehidupan orang lain. Demikian pula, kesaksian Gereja bukan pertama-tama terletak pada kata-kata atau pernyataan, melainkan pada kehadiran konkret yang membawa kehidupan, harapan, dan belas kasih.

Buah Injil selalu dikenali bukan dari apa yang dikatakan Gereja tentang dirinya, melainkan dari apa yang dialami orang lain melalui kehadirannya. Karena itu, visi “berbuah dalam kesaksian” mengajak kita untuk melihat kembali seluruh kegiatan pastoral tahun 2026 dari sudut pandang dampaknya: buah apa yang sungguh dirasakan oleh umat, oleh masyarakat, dan oleh mereka yang terpinggirkan.

Kesaksian Injil menjadi nyata ketika Gereja hadir sebagai tanda kehadiran Allah - dalam solidaritas, keadilan, dan pelayanan yang memanusiakan. Kegiatan yang tidak menghasilkan buah kesaksian mengundang refleksi ulang tentang arah dan tujuan pastoralnya.

 


Penutup

Visi Keuskupan Sibolga merupakan satu dinamika hidup Gereja: berakar dalam iman, agar pelayanan tidak rapuh; bertumbuh dalam persekutuan, agar Gereja tidak berjalan sendiri-sendiri; dan berbuah dalam kesaksian, agar Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri.



Dalam terang visi ini, seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dipanggil untuk dihidupi sebagai perjalanan iman bersama, bukan sekadar agenda kerja. Kiranya pendasaran Kitab Suci ini meneguhkan arah pastoral kita, sehingga seluruh pelayanan yang direncanakan sungguh dijiwai oleh iman, diperkaya oleh persekutuan, dan menghasilkan buah kesaksian bagi dunia.

 



Minggu, Pekan Biasa V, Tahun A

“Garam dan Terang Dunia”

Yesaya 58:7-10

Mazmur 112:4.5.6.7..8a.9

1 Korintus 2:1-5

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”

(Matius 5:13)

Adalah kisah mengenai seorang Hakim yang dikenal dan dikenang karena kejujurannya. Dia selalu menolak tawaran dari orang-orang yang ingin menyogoknya untuk memenangkan mereka dalam perkara yang sedang ditanganinya.

Pada suatu hari, dia dituduh dengan aneka hal yang tidak pernah dilakukannya. Walaupun demikian, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh tuduhan-tuduhan itu. Melihat keteguhan dan kejujurannya, salah seorang dari antara orang-orang yang berusaha menyogoknya bertanya kepadanya, “Mengapa Pak Hakim tidak membalas tuduhan-tuduhan itu?

Sang Hakim menjawab, “Di kampung saya hiduplah seorang janda bersama seekor anjingnya. Setiap saat, tatkala melihat bulan memancarkan sinarnya, anjing itu keluar dari rumah dan menggonggongnya.”

Kemudian, Sang Hakim mengalihkan pembicaraannya ke persoalan yang lain. Akhirnya, Si Penanya yang tidak puas dengan jawaban Sang Hakim bertanya, “Pak Hakim, bagaimana dengan anjing dan bulan itu?

Dengan sikap tenang, Sang Hakim menjawab, “Oh..., bulan itu tetap bersinar, walaupun anjing itu menggonggong sepanjang malam.”

*****************************88

Pesan cerita ini sangat jelas. Fungsi cahaya adalah memancarkan terang tanpa peduli, apakah kita menerima pancaran sinar-terangnya atau tidak. Bulan itu tetap bersinar, walaupun ada yang tidak menyukai terang yang dipancarkannya. Sang Hakim tdak terpancing untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia ingin bercahaya, walaupun banyak orang yang tidak menyukainya. Demikian juga dengan kita: kita seharusnya tidak pernah boleh goyah untuk melakukan kebaikan, walaupun begitu banyak orang yang tidak menyukai kita.

Dalam kisah Injil Minggu ini, Yesus menggunakan dua gambaran untuk menjelaskan keberadaan para pengikut-Nya dan misi perutusan mereka di tengah dunia. Gambaran pertama adalah garam: “Kamu adalah garam dunia.”

Dalam dunia kuno, garam memiliki nilai yang sangat tinggi. Garam berfungsi sebagai:

Pertama, untuk memurnikan. Bagi orang Roma, garam itu sangat murni karena dihasilkan oleh matahari dan air laut. Dalam dunia Romawi Kuno, garam menjadi bahan persembahan untuk para dewa. Ketika menyebut para pengikut-Nya sebagai garam, Yesus bermaksud menyatakan bahwa semua pengikut-Nya harus menjadi teladan kemurnian bagi sesama, seperti fungsi garam;

Kedua, garam itu mengawetkan. Orang-orang dari zaman Romawi Kuno menggunakan garam sebagai bahan pengawet. Garam menjadi kekuatan untuk menghindari terjadinya kebusukan. Demikianlah, semua pengikut Yesus harus memiliki kualitas iman yang akan memampukan mereka untuk menghindari kebusukan dalam kehidupan bersama;

Ketiga, garam menjadikan makanan terasa enak. Makanan tanpa garam akan terasa hambar. Demikian juga dengan semua pengikut Yesus: semua pengikut Yesus harus menjadi teladan baik dalam semua sisi kehidupan bersama dengan yang lain. Walaupun jumlahnya sedikit, para pengikut Yesus harus mampu mempengaruhi orang lain berkenaan dengan perbuatan baik.

Gambaran yang kedua adalah terang: “Kamu adalah terang dunia.” Fungsi terang, cahaya adalah memancarkan dan menuntun.” Ketika Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya adalah terang dunia, maka maksud yang terkandung di dalam-Nya adalah semua pengkikut-Nya harus menjadi pemimpin bagi yang lain. Kehidupan para pengikut Yesus harus memancarkan cinta dan kebaikan agar semua orang yang melihatnya tertarik untuk mengikuti-Nya. Kita tidak pernah boleh menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Walaupun garam dan terang memiliki fungsi masing-masing, namun garam dan terang yang dimaksudkan Yesus bukanlah bumbu sayuran atau garam yang ditambahkan ke dalam sup dan terang biasa, melainkan garam dan terang yang berperan sampai ke ujung bumi.

Apa yang dimaksudkan Yesus dengan garam dan terang yang sesungguhnya? Garam dan terang yang sesungguhnya adalah hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara bagi semua orang. Jika seorang pengikut Yesus tidak bersikap sebagai dan seperti seorang anak dan tidak bertindak sebagai seorang saudara, maka sesungguhnya orang demikian tidak bermakna/berfungsi di bumi. Dia tidak berperan dalam sejarah dunia.

Dengan menjadi garam dan terang dunia, semua pengikut Yesus menjadi misionaris. Yesus tidak berkata, “Kamu dapat menjadi garam dan terang,” tetapi “kamu adalah garam dan kamu adalah terang.” Menjadi misionaris tidak mengharuskan kita untuk beranjak ke tanah misi. Menjadi misionaris berarti mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik berdasarkan teladan kebaikan yang kita lakukan.

Karena itu, agar kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia, maka kita harus terus dan selalu berguru kepada-Nya. Kita harus belajar bagaimana menyerahkan nyawa dengan mencintai-mengasihi dan bersikap rendah hati.

Patut diakui bahwa sebagai pengikut Yesus, kita begitu mudah kehilangan cita rasa Yesus karena benih Sabda-Nya tidak berakar di hati dan kehidupan kita. Benih Sabda Yesus mengering setelah muncul tangkainya. Akhirnya, benih Sabda Yesus juga terhimpit oleh semak kepentingan dan egoisme diri.

Dalam konteks ini kita melihat adanya pertentangan/perlawanan antara akal duniawi dengan hikmat salib. Hidup kita, sebagai pengikut Yesus.  berada dalam jalan: perang antara cinta agapik, yaitu cinta yang rela membagi dan memberikan diri demi kebaikan bersama dengan cinta diri yang egoistis......

Terang yang lahir dari diri sendiri dan keinginan manusiawi, akan mudah redup, karena terhubung dengan kepentingan diri. Terang yang terpancar dari Salib dan Kebangkitan akan terpancar hingga kekal karena dalam terang salib dan kebangkitan, kita semua, pengikut Yesus, pribadi yang beriman akan menggarami dan mengerangi dunia dengan kasih dan kebaikan, cinta yang merangkul dan mengampuni serta cinta yang rela berbagi dan memberikan diri...

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica.....

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 


Minggu Biasa IV

01 Februari 2026

Berbahagialah Orang Miskin

Matius 5,1-12

***************************

Tom Dooley sungguh-sungguh tanggap terhadap dunianya di tahun 1950-an. Setelah menamatkan Sekolah Kodekteran dan menyelesaikan Wajib Dinas Militer di Ankatan Laut, Dooley datang ke Asia untuk memberikan pelayanan medis kepada orang-orang miskin.

Pilihan Dooley ini sungguh mengejutkan dunia, mengingat Dooley  berasal dari keluarga kaya raya dan menikmati kehidupan yang menyenangkan. Mengomentari keputusan Dooley ini, Majalah Guideposts berkomentar:

Seandainya seseorang diperkenankan untuk dilahirkan sesuai dengan keinginannya, saya akui bahwa kelahiran saya sungguh-sungguh diinginkan. Hidup yang menyenangkan datang dengan mudahnya dalam keluarga saya. Ada banyak utang yang tersedia; memiliki kuda sendiri; bersekolah di luar negeri, dan terlatih sehingga diangkat menjadi seorang pemain piano dalm sebuha Konser.

Walaupun demikian, keluarga Dooley sangat parktis dan sangat religius. Dooley senduiri pernah berkata, ‘Keluarga kami adalah keluarga yang rajin berdoa. Kami berdoa bersama di waktu pagi, pada saat bangun tidur di pagi hari; pada saat kami duduk bersama di meja makan; ketika selesai makan....’ Ketika kami hendak tidur dan banyak waktu di antara kejadian-kejadian itu.

Dooley juga berkata, “Keluarga kami rajin berdoa dan rajin membaca Kitab Suci. Sabda yang paling menyenangkan dan menyukakan hati saya adalah “Sabda Bahagia” dalam Kotbah di Bukit. Bagi saya, ‘Penyataan ‘Terberkati” berarti “bahagia.” Sabda inilah sejalan dengan keinginan dan harapan saya sebab dalam pernyataan Sabda ini ditemukan “Dasar/Landasan asar Hukum” yang menggerakan hati saya untuk meninggalkan semua keluarga dan semua harta duniawi yang kami miliki untuk melayani Orang Miskin di Asia demi kebahagiaan iman dan batin saya.

 

Berbahagialah (Makarios)

Dalam pandangan Yesus, orang miskin yang berbahagia....

o   Bukan hanya orang-orang yang tidak memiliki harta, para peminta, pengemis, bertubuh kurus, pucat dan lemah sebab kekurangan gizi.

o   Bukan hanya orang yang tertindas, hina dan sengsara karena orang lain.

o   Bukan hanya orang-orang yang tidak bisa membuka mulut untuk membela diri dan menuntut hak pribadi.

o   Bukan orang-orang yang berkedudukan rendah, sial, sering dihina dan dipermainkan orang jahat.

o   Orang miskin yang berbahagia bukan hanya kaum hina dina, melainkan juga orang kaya raya.

Mengapa?

Semua manusia adalah ciptaan Allah yang tergantung sepenuhnya kepada-Nya. Karena itu, ketika Yesus berkata “berbahagialah orang miskin,” maksudnya:

o   Berbahagialah orang-orang yang penuh ketulusan dan kerendahan hati menyerahkan diri seutuhkan kepada Allah.

o   Berbahagialah orang-orang yang mengandalkan Allah dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah.

Orang-orang yang mengandalkan Allah adalah orang-orang yang walaupun memiliki harta berlimpah, namun tidak terikat pada harta, tidak diikat oleh hartanya sehingga tidak membutuhkan Allah dan sesama.

Orang miskin seperti yang dimasudkan Yesus adalah orang yang miskin dalam Roh. Orang yang miskin dalam Roh adalah orang-orang miskin papa dan orang kaya yang tidak terikat pada harta/kekayaan dan dengan kerendahan hati yang mendalam menyerahkan diri secara total kepada Allah, mengandalkan Allah dan berpasrah kepada-Nya. Ini berarti unsur utama yang ditekankan Yesus bukan hanya ketidakterikatan pada harta, melainkan kerendahan hati mendalam yang memuncak pada sikap penyerahan total kepada Allah. Orang-orang demikian akan diberikan karunia Kerajaan Allah.

Orang miskin dalam konteks ini adalah klien/sahabat Allah dan dibela oleh para nabi. Mereka dipilih Allah sebagai pewaris keselamatan. Ketika Yesus mengucapkan, “Berbahagialah orang miskin,” Dia sesungguhnya berkata, “Berbahagialah para klien Allah, yaitu orang-orang yang berkekurangan dalam segala hal, namun tidak berkekurangan Allah.” Allah berpihak kepada mereka bukan karena status mereka yang miskin, bukan juga karena penderitaan akibat kemalangan yang menimpa mereka setiap hari, melainkan pilihan hati mereka yang bebas dan utuh, yaitu Allah sendiri.

o   Orang miskin yang berbahagia bukan hanya kaum hina dina, melainkan juga orang kaya raya. Orang miskin seperti yang dimasudkan Yesus adalah orang yang miskin dalam Roh.

o   Orang yang miskin dalam Roh adalah orang-orang miskin papa dan orang kaya yang tidak terikat pada harta/kekayaan dan dengan kerendahan hati yang mendalam menyerahkan diri secara total kepada Allah, mengandalkan Allah dan berpasrah kepada-Nya.

Ini berarti bahwa unsur utama yang ditekankan Yesus bukan hanya ketidakterikatan pada harta, melainkan kerendahan hati mendalam yang memuncak pada sikap penyerahan total kepada Allah dengan ketulusan untuk melayani sesama, seperti yang dilakukan oleh Tom Dooley. Orang-orang demikian akan diberikan karunia Kerajaan Allah.

Apakah kita juga termasuk dalam kawanan orang miskin yang berbahagia karena dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati menyerahkan diri seutuhkan kepada Allah; mengandalkan Allah dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah dengan dan dalam ketulusan melayani Allah dalam diri sesama yang membutuhkan?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget