Keuskupan Sibolga

Latest Post

KRISIS HATI MANUSIA MODERN: 

Merefleksikan "Dilexit Nos" No. 9-14, Dalam Kacamata Visi Keuskupan Sibolga.

(Rekoleksi Kaum Berjubah Wilayah Dekanat Kepulauan Nias)


Selasa, 17 Maret 2026, Para Pastor, Suster, Frater dan Bruder yang berkarya di Dekenat Kepulauan Nias Keuskupan Sibolga berkumpul di Paroki Roh Kudus Lahusa Gomo, Nias Selatan untuk mengikuti Rekoleksi bersama menjelang masa Paskah. Rekoleksi ini dipimpin oleh Romo Sixtus Zalukhu, Pr, Pastor Paroki Lahusa Gomo dengan tema: KRISIS HATI MANUSIA MODERN: Merefleksikan "Dilexit Nos" No. 9-14, Dalam Kacamata Visi Keuskupan Sibolga.

Turut hadir dalam Rekoleksi ini adalah Pater Purwo, OSC, Vikjend Keuskupan Sibolga dan para pengurus Dekenat kepulauan Nias dengan jumlah peserta yang hadir adalah 160 orang. 

Dalam renungannya, pastor Sixtus mengajak para para Pastor, Suster, Frater dan Bruder tentang pentingnya menemukan kembali Cinta Hati Kudus Yesus di dalam tugas dan pelayanan di tengah dunia yang semakin dangkal akibat krisis. Dunia saat ini semacam kehilangan "hati" dan terjebak di dalam kedangkalan, konsumerisme dan peperangan. Di tengah krisis dunia yang semakin marak seperti itu, para Pastor, Frater, Suster dan Bruder diajak untuk sejenak kembali ke pusat iman, yaitu Hati Kudus Yesus yang merupakan simbol Kasih Allah sebagai kekuatan utama yang membawa harapan, yang bisa menyembuhkan perpecahan dan bisa menggerakan umat yang dilayani untuk membangun dunia  yang lebih manusiawi. 

Acara rekoleksi ini kemudian dilanjutkan dengan ibadat tobat dan penerimaan sakramen tobat bagi semua peserta rekoleksi yang dipimpin oleh Pastor Kanisius Jeramu, Pr Pastor Vikaris Paroki Roh Kudus Lahusa Gomo. Setelah itu dilanjutkan dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh Pater Purwo OSC, Vikjend Keuskupan Sibolga. Acara rekoleksi ini berpuncak pada acara jamuan kasih, makan siang bersama yang disiapkan oleh Para Pastor, Frater, Suster yang berkarya di paroki Lahusa Gomo dan para pengurus inti gereja yang berada di pusat paroki.







 


"Serahkanlah Perbuatanmu kepada Tuhan supaya Tercapailah Rencanamu"  
Amsal 16:3.
 (Rekoleksi Kaum Berjubah di Wilayah Dekanat Tapanuli )

Kamis 19 Maret 2026, rekoleksi Kaum Berjubah Dekanat Tapanuli dengan tema "serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan supaya tercapailah rencanamu"  Amsal 16:3. Rekoleksi ini dipimpin oleh Komunitas Pastoran dan Susteran Paroki St. Ludovikus Sipeapea.. Rekoleksi dilaksanakan di Gereja St. Yosep Pandan. Peserta yang hadir 153 peserta dari kaum berjubah baik Imam, Bruder, Frater  dan Suster yang berkarya di wilayah Dekanat Tapanuli Keuskupan Sibolga.

 

Permenungan dalam rekoleksi, Pastor Pio Silalahi mengambil tema dari Amsal 16:3, "Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu." Bagi "kaum berjubah" ayat ini bukan sekadar motivasi keberhasilan, melainkan dasar hidup panggilan dalam pelayanan dan hidup sehari-hari. Bagi "Kaum Berjubah" istilah yang merujuk pada para pelayan Tuhan yakni Imam, Bruder, Frater dan Suster dimana mereka yang mengabdikan hidup dalam pelayanan.



Pastor Pio menegaskan bahwa ayat ini mengandung refleksi teologis yang mendalam mengenai otoritas, motivasi, dan penyerahan diri. Amsal 16:3 menegaskan bahwa rencana akan berhasil jika berpusat pada Tuhan. Kaum berjubah dipanggil untuk menjaga motivasi hati melayani karena kasih kepada Tuhan, bukan demi pengakuan, popularitas, atau kenyamanan pribadi.

Kata "terlaksanalah" dalam ayat ini tidak selalu berarti rencana kita berhasil menurut standar duniawi tetapi berhasil menurut kehendak Tuhan. Menyerahkan perbuatan mencakup ketekunan dan kejujuran dalam perkara-perkara kecil. Pelayanan bukan sekadar khotbah di mimbar, melainkan gaya hidup sehari-hari yang memuliakan Tuhan.

Dalam Permenungannya, Pastor Pio Silalahi OFMCap. Memberikan permenungan dan beberapa poin untuk direnungkan sebagai berikut:

1. Penyerahan diri secara total bagi Allah

            Bagi mereka yang berada dalam posisi kepemimpinan spiritual, ada godaan besar untuk merasa bahwa keberhasilan pelayanan adalah hasil dari kepintaran berkhotbah atau manajemen gereja yang hebat.  Kaum berjubah dipanggil untuk melepaskan kendali mutlak atas hasil pelayanan dan mengaku bahwa Tuhanlah penggerak sejati di balik setiap rencana. 

2. Mengenal panggilan bersumber dari kehendak Allah

Amsal 16:2 yang mendahului ayat ini mengingatkan bahwa "Tuhanlah yang menguji hati".  Jubah yang dipakai adalah simbol kekudusan, namun motivasi di balik pelayanan harus selalu dimurnikan. Rencana yang terlaksana bukan berarti setiap keinginan manusiawi dikabulkan, melainkan bahwa rencana yang selaras dengan kehendak Allah akan ditegakkan oleh-Nya. Kaum berjubah harus memastikan bahwa rencana mereka bukanlah ambisi pribadi yang dibungkus dengan bahasa rohani. 

3. Bertanggung jawab dalam karya sebagai lanjutan Karya Allah bagi sesama.

Menyerahkan perbuatan bukan berarti menjadi pasif atau abai terhadap tugas pastoral. Kaum berjubah dipanggil untuk merencanakan dengan hikmat dan bekerja dengan tekun, namun tetap menaruh seluruh kepercayaan pada kedaulatan Tuhan. Keberhasilan tersebut harus berjalan di bawah pimpinan Roh Kudus. 

4. Menghadirkan sikap Kerendahan Hati sebagai dasar hidup dalam panggilan.

Dalam pelayanan, tidak jarang rencana mengalami tantangan atau tampak gagal secara manusiawi. Dengan menyerahkan segala perbuatan kepada Tuhan, kaum berjubah belajar untuk tidak menjadi sombong saat berhasil dan tidak putus asa saat menghadapi hambatan.

            Kegiatan ini juga diakhiri dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga. Dalam khobah, Bapa uskup menegaskan bahwa menjadi orang terpanggil berarti siap menyerahkan hidup secara total hanya pada kehendak Allah, sebagaimana dalam perayaan St. Yosep yang dirayakan pada 19 maret, dimana totalitas hidup Yosep yang bersedia menjadi penjaga keluarga Nazareth menjadi cerminan tanggungjawab penuh pada tugas keberlanjutan karya keselamatan dari Allah. KIta Kaum Berjubah belajar dan siap meneladani apa yang dihidup oleh St. Yosep yakni tidak menolak tetapi menerima apa yang diinginkan oleh Tuhan.

Bapa Uskup juga menghimbau untuk Kaum Berjubah yang hadir, bahwa harus mampu memulai dari diri sendiri dalam menanggapi panggilan Tuhan, kemudian dilanjutkan dalam komunitas hinggga melaksanakannya dalam karya masing masing untuk menghidupkan spiritualitas iman dalam diri umat beriman. Bapa Uskup juga, meminta agar dalam karya harus percaya bahwa semua selaras dengan karya dan kehendak Tuhan demi kebahagiaan umat beriman.

Kaum Berjubah memiliki kesempatan besar untuk dapat mewujudnyatakan kehendak Tuhan yakni menhadirkan kebahagiaan dan sukacita ditengah tengah umat yang merindukan Kehadirah Tuhan yang nyata. Bapa Uskup juga berterima kasih atas partisipasi dan kehadiran Kaum Berjubah ditengah masyarakat saat bencana alam yang lalu, karena bersedia hadir dan ikut berpastisipasi dalam membantu pemerintah saat penaggulangan bencana alam, semoga tetap setia hadir sebagai saudara bagi umat yang membutuhkan dan utamanya pada proses pemulihan bencana alam ini, tetap hadir dan menolong agar cepat terpulihkan.













 





Minggu Pra-Paskah IV, 15 Maret 2026

Lahir Buta, Dosa Orang Tua?

1 Samuel 16:1b.6,7,10-13a

Mazmur 23:1.3a.3b-4.5.6

Efesus 5:8-14

Yohanes 9,1-41

 

Pada suatu ketika, seorang ibu muda melahirkan bayinya. Dokter mendekatinya dan berkata kepadanya, “Ibu, saya sangat menyesal. Tetapi ibu harus kuat untuk menerima kejutan terbesar dalam hidup Ibu”.

Dengan berlinang air mata dan bibir gemetaran, Ibu muda itu bertanya, “Dokter, apakah bayi saya akan sembuh.. atau dia akan segera mati?

Hati Ibu muda itu sangat hancur sehingga dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dokter pun berkata kepada Ibu muda itu, “Bayi ibu tidak akan mati. Dia akan buta dan tuli selamanya”. Saat itu, tangisan Ibu muda ini sungguh menyayat hati... Dia pun berkata, “Buta dan tuli... oh anakku yang malang... mau jadi apa? Tetapi, yakinlah, ibu akan selalu mencintaimu...”

Mendengar tangisan Ibu muda itu, Dokter bergumam di dalam hatinya, “Inilah adalah pengalaman yang sangat menyedihkan. Ini adalah kasus terburuk yang saya hadapi...adalah lebih baik, jika bayi itu meninggal di saat kelahirannya”.

Walau memilukan, Ibu muda itu merawat dan mendidik bayinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Akhirnya bayi yang tuli dan buta itu bertumbuh menjadi seorang Helen Keller, salah seorang  manusia yang terkenal, berguna dan bahagia. Dengan menggunakan indera penciuman dan peraba, dia rajin belajar untuk berbicara dan menulis. Kisahnya meluas dan dia diundang untuk berbicara kepada pelbagai kelompok  di seluruh dunia. Dia menyelesaikan Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi dan menulis sejumlah buku untuk memotivasi dan menyemangati manusia yang cacat dan sehat.

************************

Di saat meninggalkan Bait Allah, Yesus dan para murid-Nya berjumpa dengan seorang pengemis yang buta sejak lahir. Para murid bertanya kepada Yesus, “Mengapa seorang lahir cacat? Siapakah yang bersalah? Walaupun bahasa pertanyaannya berbeda, namun isi pertanyaan para murid kepada Yesus sama dengan isi pertanyaan ibu muda ketika mendengar bahwa bayinya lahir dalam keadaan: “Buta dan tuli... oh anakku yang malang... mau jadi apa? Namun, satu hal menarik yang terlontar dari mulut ibu muda ini, “Tetapi, yakinlah, ibu akan selalu mencintaimu...”

Berkenaan dengan pertanyaan para murid, siapakah yang bersalah, jika seseorang dilahirkan cacat? Terhadap pertanyaan ini Yesus menjelaskan bahwa:

Pertama, lahir dalam keadaan cacat bukanlah hukuman Allah atas dosa kedua orang tua. Anak yang lahir cacat berakar pada keterbatasan diri kita sebagai manusia. Semua manusia adalah ciptaan Allah yang terbatas. Tiada seorang manusia pun yang sempurna. Cacat sejak lahir bukan karena dosa dan bukan karena hukuman Allah, melainkan karena keterbatasan sel/benih yang ada dalam diri orang tua. Keterbatasan dan kekurangan sel/benih ini tidak pernah disadari oleh manusia. Keterbatasan sel/benih dalam diri orang karena kekurangan gizi, konsumsi obat kimia yang berlebihan, konsumsi makanan kimia yang tidak layak untuk kondisi tubuh, konsumsi minuman yang merusak tubuh). Kenyataan ini menegaskan bahwa cacat sejak lahir bukan karena dosa orang tua dan bukan hukuman Allah, melainkan karena keterbatasan dalam diri kedua orang tua.

Kedua, orang yang lahir cacat derajatnya sama dengan manusia yang lahir dalam keadaan normal. Orang cacat adalah pribadi yang bermartabat istimewa dan penting di hadapan Allah. Setiap pribadi, entah yang normal, entah yang cacat diciptakan Allah, untuk kemuliaan Allah dan diutus untuk menyempurnakan karya-karya Allah dalam diri kita masing-masing.

Hellen Keller, seorang bayi yang dalam keadaan tuli dan buta karena kelemahan sel/benih kedua orang tuanya bertumbuh menjadi seorang  manusia yang terkenal, berguna dan bahagia. Dengan menggunakan indera penciuman dan peraba, dia rajin belajar untuk berbicara dan menulis hingga akhirnya dia bisa menulis sejumlah buku untuk memotivasi dan menyemangati manusia yang cacat dan sehat. Dalam ketulian dan kebutaannya, kemuliaan Allah dinyatakan dalam dirinya dan dalam cinta kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti melimpahkan cinta mereka kepadanya. Hanya ketika Hellen tuli dan buta, dia bisa mengajar, memotivasi dan menyemangati semua orang cacat adan orang sehat. Hanya ketika Hellen tuli dan buta, kuasa Allah dinyatakan kepada dunia melalui kebesaran dan keagungan cinta kedua orang tuanya yang tiada henti mengalirkan isi cinta mereka kepada Hellen. Karya agung Allah disempurnakan dalam ketulian dan kebutaan Hellen dan disempurnakan oleh cinta kedua orang tuanya (Renungkan: Kita memiliki anak yang sehat, tanpa cacat. Sesungguhnya karya agung Allah dinyatakan dalam diri mereka. Namun orang tua justru membiarkan anak berlumuran kotoran, tampa memandikan, tanpa memoleskan mereka dengan bedak. Apakah dengan cara demikian, kedua orang tua yang sehat meneruskan dan menyatakan kemuliaan Allah?).

Ketiga, harus diakui bahwa orang cacat memiliki banyak kelemahan apabila dihubungkan dengan kemampuan untuk melihat dan mendengar, pengetahuan dan kekuasaan. Namun, mereka memiliki hati yang penuh kasih. Sebagai manusia yang terbatas, mereka membutuhkan bantuan orang sehat. Mereka merindukan kehadiran sesama, mendambakan persahabatan serta sentuhan kasih dari Allah. Mereka menjadi pribadi yang terbuka kepada Allah dan mengandalkan Allah. Karena itu, Yesus menyatakan bahwa orang yang lahir buta diciptakan bagi kasih sebab keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki justru mengarahkan mereka kepada Allah. Dari keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki, mereka berseru kepada Allah dan menemukan Allah secara baru, yaitu Allah yang penuh kasih dan lembut hati, berbela rasa dan baik hati.

Berbeda dengan orang cacat, kita orang sehat berjuang untuk mencari pengaruh, pujian dan kekayaan untuk diri sendiri. Akibatnya, kita kerap menutup diri terhadap Allah dan sesama karena merasa cukup dengan diri sendiri. Ironisnya, di saat mengalami kegagalan, sakit, kelemahan dan kesepian, kita baru sadar bahwa kita bukanlah manusia yang mahakuasa dan tidak cukup dengan diri sendiri. Kita membutuhkan Allah dan sesama.

*******************

Seorang imam mendirikan sebuah yayasan untuk merawat umatnya yang cacat agar dia bisa menjadi imam yang baik dengan melakukan kebaikan kepada orang cacat. Imam ini tidak pernah berpikir bahwa justru orang cacat inilah yang akan berbuat baik kepadanya.

Pada suatu saat, Uskupnya menjumpainya dan bertanya kepadanya, “Sungguhkan Anda mendirikan yayasan ini untuk berbuat baik kepada orang-orang yang kurang beruntung? Iman itu dengan jujur menjawab, “Justru orang yang kurang beruntung inilah yang berbuat baik kepada saya. Orang-orang yang saya bantu inilah yang membantu saya. Mereka mengajarkan saya untuk mencintai dan menghidupi hal yang paling berharga dalam diri saya, yaitu “bela rasa.”



 


Minggu Pra-Paskah III, Tahun A

“Berilah Aku Minum”

Keluaran 17:3-7

Mazmur 95:1.2.6.7.8.9

Roma 5:1-2,5-8

Yohanes 4:5-42

“Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimbah air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!”

(Yohanes 4:7)

***********************************

Beberapa abad yang lalu, hiduplah seorang filsuf Jerman keturunan Yahudi bernama Moses Mendelssohn. Di cerdas yang penuh kasih. Hanya satu kekurangannya: dia bungkuk. Namun dalam kesadaran akan dirinya yang bungkuk inilah, dia jatuh cinta pada Gretchen, seorang wanita muda yang cantik dan menarik, putri seorang bankir kaya.

Beberapa saat Mendelssohn menungguh. Pada suatu saat, dia berani meminta izin kepada ayahnya, sang bankir kaya, untuk menjumpai Gretchen dengan alasan bahwa dia ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Sang ayah memberikan izin kepadanya.

Mendelssohn segera naik ke lantai dua dan menjumpai gadis itu yang sedang sibuk menyulam. Selama percakapan di antara mereka, Gretchen, wanita muda yang cantik dan menarik itu, tidak pernah memandang wajah Mendelssohn.

Akhirnya, percakapan di antara mereka berujung pada persoalan perkawinan. Gretchen bertanya kepada Mendelssohn: “Apakah kamu percaya pada peribahasa lama yang mengatakan bahwa perkawinan itu sudah ditakdirkan dari surga?

Mendelssohn menjawab, “Tentu, saya percaya! Dan justru pada saat kita berbicara mengenai hal ini, saya ingin mengatakan kepadamu bahwa ada kejadian luar biasa yang terjadi pada diri saya. Seperti kita ketakui bersama  bahwa bila ada seorang anak laki-laki lahir, para Malaikat mengumumkan  peristiwa itu agar semua orang bisa mengetahuinya. Anak laki-laki kecil ini ditakdirkan untuk mendapatkan seorang gadis sebagai istrinya. Hal ini sudah ditakdirkan dari atas sehingga tiada seorang pun yang bisa mengubahnya. Maka, ketika saya lahir, para Malaikat mengumumkan mengenai diri saya. Namun, kemudian mereka berhenti dan menambahkan, ‘Tetapi sayang, bakal istri Mendelssohn akan bungkuk.’ Kemudian saya berteriak di hadapan isi Surga, ‘Oh, Tuhan... Jangan! Seorang gadis yang bungkuk akan sangat mudah tersiksa dan terluka batinnya, karena akan menjadi sasaran gurauan banyak orang. Jangan, Tuhan! Gadis itu harus cantik. Tuhan, saya mohon, biarlah saya saja yang bungkuk dan biarkan dia tetap cantik dan bertubuh indah.”

Tahukah kamu, Gretchen? Allah mendengarkan doa saya dan saya merasa gembira. Sayalah anak-laki-laki itu dan kamulah gadis itu!

Sekarang, Gretchen melihat Mendelssohn sebagai sosok laki-laki yang sama sekali berbeda. Akhirnya, dia pun menjadi Istri Mendelssohn yang setia dan penuh kasih...

*********************

Kisah ini memperlihatkan kepada kita sisi perjumpaan yang mempersatukan karena kekuatan batin-rohani yang dinyatakan dalam kesediaan dan kerelaan Gretchen untuk menderita bagi Mendelssohn, seorang pria yang bertubuh bungkuk. Kekuatan itu mengalir dari hatinya yang penuh cinta: di mana ada cinta, di sana ada kesediaan untuk menerima dan memberikan diri demi kebahagiaan pribadi yang dicintai.

Dalam Kitab Kejadian dilukiskan mengenai kisah perjumpaan cinta antara Yakub dengan Rahel, calon istrinya dekat sumur. Dalam perjumpaan itu, Yakub menyatakan isi cintanya dengan mengungkapkan kata-kata rayuan kepada Rahel, bahkan menciumnya. Akhirnya, cinta manusiawi mempersatukan Yakub dan Rachel.

Dalam Injil Yohanes dikisahkan bahwa dekat Sumur Yakub, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan. Sama seperti Mendelssohn dan Yakub yang mendekati wanita pujaan mereka dengan kata-kata rayuan manusiawi, bahkan mencium (Yakub mencium Rahel) karena gerakan cinta manusiawi yang menggelora dalam diri mereka (gerakan cinta dari bawah,  pria dan wanita), Yesus juga mendekati wanita Samaria dengan kata-kata rayuan. Akan tetapi, kata-kata Yesus adalah Rayuan Cinta Ilahi (gerakan cinta dari atas, Allah dan manusia). Yesus berkata kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Ini adalah rayuan yang penuh kerendahan hati. Rayuan Ilahi, rayuan kerendahan hati ini  bisa diartikan demikian, “Terimalah Aku, walaupun Aku seorang Asing bagimu.”

Mengapa diartikan demikian? Akarnya adalah: Yesus sungguh-sungguh mengetahui bahwa yang merindukan air bukanlah Dia saja, melainkan wanita itu juga. Perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria di Sumur Yakub merupakan pengalaman rohani yang sangat dalam dan penuh makna. Secara bertahap, wanita Samaria mengenal siapakah pria yang sedang berbicara dengannya. Pada awalnya, dia menyapa pria itu sebagai orang Yahudi; kemudian dia menyapa pria itu dengan Tuan, Nabi, Mesias-Kristus dan akhirnya mengalami-Nya sebagai Sang Juruselamat dunia.

Di sumur Yakub terjadi perjumpaan untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Yesus merasa letih dan haus; wanita Samaria datang untuk menimbah air: letih mencari perhentian versus datang mencari sumber; haus versus air, pria versus wanita; orang Yahudi versus Samaria.

Sumur Yakub adalah warisan nenek moyang Israel (Yakub). Warisan ini dimiliki oleh wanita Samaria. Biasanya air sumur tidak mengalir, menggenang statis: sementara sumber air itu mencakup sumur dan air yang mengalir. Wanita Samaria memiliki sumur dan Yesus adalah Sumber Airnya. Awalnya, Yesus merasa haus dan meminta air. Namun, kemudian, wanita Samaria yang menimbah air dan Yesus memberikan Air Kehidupan kepadanya.

Ada sebuah pertukaran kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan antara Yesus dengan wanta Samaria. Yesus haus akan air karena berjalan kesiangan dan keletihan. Sementara wanita Samaria merindukan adanya Sumber Air yang tidak akan pernah habis. Dia merindukan air bagaikan tanah kering dan tandus merindukan air, bagaikan rusa yang mendambakan air. Inilah sikap batin wanita Samaria: dia merindukan dan menantikan Air Hidup.

Pada hari Jumat Agung, kerinduan Wanita Samaria ini terpenuhi karena di Hari yang Agung ini, Yesus akan mengalirkan Air Kehidupan kepadanya dan kepada semua umat manusia. Air Kehidupan itu mengalir dari Lambung/Hati-Nya Tertikam. Air Kehidupan itu adalah Air Kasih.

Yesus tahu bahwa semua manusia merindukan-Nya sebab Dialah Sang Kasih, Sumber Air Kasih bagi semua manusia. Walaupun demikian, Yesus tidak pernah memaksakan setiap manusia untuk menerima Air Kasih-Nya dan mengasihi-Nya. Dia menunggu setiap manusia untuk datang kepada-Nya: Yesus melebihi Sumur Yakub sebab Dia adalah Sumber Air Kasih, Sumber Air Kesegaran, Kehidupan dan Keselamatan yang tidak akan pernah mati.

Yesus sangat berbeda dengan para Nabi dahulu yang cenderung memaksakan manusia untuk mencintai Allah dengan menyebut daftar dosa manusia. Yesus mendekati semua manusia dengan rayuan Cinta Kasih-Nya, yaitu Cinta Ilahi, Cinta yang Merangkul dan Mengampuni semua manusia; Cinta yang Rela Membagi, Memberi dan Mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan bagi semua dan setiap manusia yang bersedia menimbah Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan yang mengalir dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam.

Hati Yesus yang Tertikam di Jumat Agung adalah Sumur yang Mengalirkan Sumber Cinta yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia yang berdosa, sebagaimana Dia mengalirkan daya pengampunan-Nya kepada Wanita Samaria yang memiliki enam orang suami yang sesungguhnya hanyalah selingkuhan, suami simpanan-pelacuran (penyembahan berhala) karena dewa-dewa yang disembah wanita itu dan orang Samaria umumnya adalah dewa-dewi asing.

Daya rangkul dan pengampunan Yesus dinyatakan dalam penyataan diri-Nya sebagai mempelai ketujuh (tujuh sebagai angka sempurna), yaitu sebagai suami yang sesungguhnya. Kalau dihubungkan dengan penyembahan berhala orang Samaria, Yesus (ketujuh) menjadi kesempuraan kultus atau penyembahan. Dia adalah Sang Mempelai yang menjumpai pengantin-Nya di Sumur Yakub. Dia adalah Sang Mempelai yang membiarkan Lambung/Hati-Nya Tertikam agar bisa mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Sumber Air Kehidupan dan Keselamatan bagi kita semua, pengantin-Nya.

Berkat penyataan diri Yesus sebagai Sang Mempela dan Sang Sumber Air Kasih, maka perjumpaan di Sumur Yakub berubah menjadi pewartaan. Dalam perjumpaan itu, ada pemulihan hubungan antara mempelai wanita yang telah melacurkan dirinya dengan dewa-dewi lain dengan Mempelainya yang sesungguhnya. Akibat dari perjumpaan rohani ini adalah: wanita Samaria menjadi pewarta pertama kepada kaumnya. Inilah pengalaman rohani yang berimplikasi pada inisiatif untuk tugas pewartaan. Semua pengalaman rohani, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan harus diungkapkan dan diwartakan. Pengalaman bersama Tuhan tidaklah egois-individualis, tetapi eklesial dan komunitaris.

Inilah perbedaan antara perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel dengan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria. Perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel berujung pada persatuan antara kedua pribadi menjadi suami-istri; sedangkan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria berujung pada pertobatan, pengakuan iman, persatuan dan pewartaan.

Yesus bekerja dalam diri kita agar perjumpaan kita dengan-Nya, terutama dalam peristiwa Jumat Agung, saat Tuhan memperlihatkan dan mengalirkan dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam Sumber Air Kasih yang memberikan kesegaran, kehidupan dan keselamatan bagi kita, kita pun diberdayakan untuk menjadi Pewarta Kasih yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia dalam Kasih-Nya...

Apakah kita bersedia berjumpa dengan Yesus yang Lambung/Hati-Nya Tertikam dan membiarkan Lambung/Hati-Nya yang Tertikam itu Terbuka agar kita bisa melihat dan mengalami kedalaman dan kebesaran Cinta-Nya, yang menjadi Sumber Kesegaran, Kehidupan dan Keselamatan bagi kita serta berusaha mewartakan-Nya sebagai Allah, Sang Cinta yang Menyegarkan, Menghidupkan dan Menyelamatkan melalui perkataan dan perbuatan kita?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE 52

“SIGNIS Indonesia: Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”

Bandung 24 Februari – 1 Maret 2026.


SIGNIS INDONESIA

Signis adalah Asosiasi Katolik internasional umat beriman untuk Komunikasi. Signis diakui oleh Takhta Suci sebagai Asosiasi Internasional Umat Beriman. Signis memiliki status konsultatif dengan UNESCO, Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Dewan Eropa. Selain Signis internasional ada juga Signis Indonesia. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial serta bagian dari SIGNIS Internasional, jaringan global yang fokus pada pengembangan media beretika, mendukung hak asasi manusia, dan memperkuat komunikasi lintas budaya.


Di Indonesia, Signis bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. Para anggota SIGNIS Indonesia tahun 2026 ini mengadakan rapat anggota signis indonesia ke 52 “Signis Indonesia: Artificial Inteligence dalam tantangan iman,”di Bandung 24 Februari - 1 Maret 2026. Artificial Inteligence dalam Terang Iman menjadi peluang dan tantangan komunikasi pastoral khususnya tema penting dalam rapat anggota atau sidang SIGNIS Indonesia ke-52Sidang SIGNIS Indonesia ke-52 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, dari tanggal 24 Februari  sampai 2 Maret 2026, dihadiri oleh 32 anggota, dengan tema Artificial Inteligence dalam Terang Iman: Peluang dan Tantangan Komunikasi Pastoral. 

Dalam khotbahnya, Yang Mulia Mgr. Agustinus, selaku Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia, menyampaikan bahwa Gereja adalah persekutuan yang Hidup dari komunikasi. Inti dari Gereja adalah persekutuan yang berpusat pada Kristus dan diilhami oleh Roh Kudus. Namun, persekutuan hanya dapat benar-benar terjadi jika ada komunikasi yang lancar. Tanpa komunikasi, misi Gereja tidak akan berdampak, oleh karena itu SIGNIS melambangkan tanda dan api. Signis mewakili kobaran api misi Gereja yang tidak boleh disembunyikan. Komunikasi menjadi ujung tombak untuk membawa semangat dan jiwa Gereja keluar, agar tidak terperangkap di dalam tembok internal dan ego sektoral.

Para peserta mengikuti hari studi sesuai dengan tema pertemuan SIGNIS ke-52 ini, pembicaranya adalah Suryatin Setiawan beserta timnya. Beliau adalah praktisi di bidang teknologi informasi yang menyampaikan presentasi berjudul “Prompt Engineering: Seni Berkomunikasi dengan Teknologi Kecerdasan Buatan.” Dengan semangat persaudaraan dan dalam terang iman, anggota SIGNIS Indonesia mendorong program-program yang akan dilaksanakan dengan fokus pada upaya menjaga keutuhan ciptaan.

Rapat Anggota tahunan ini dibuka secara resmi dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Sejumlah agenda penting mewarnai pertemuan ini, hari studi pertama seminar bersama anggota dari Bapak Hendro Setiawan, hari studi kedua oleh Pastor Noegroho Agoeng, Hari studi ketiga refleksi bersama masing masing regio, hari studi keempat Laporan karya:

A.    Capaian utama tahun 2025-2026

1.     Kerjasama, Kolaborasi dan Jejaring

2.     Pelatihan Media Sosial, Pewartaan Digital, Jurnalisme dan Riset

3.     Pengadaan Alat, Infrastruktur dan Perpanjangan Perizinan

4.     Produksi Film

5.     Workshop dan Waste Management Enterprise

B.    Prioritas lembaga untuk tahun 2026:

1.     Fundraising untuk kemandirian finansial

2.     Pelatihan untuk kaum muda dan perempuan

3.     Pemberdayaan SDM yang professional

4.     Media Misi yang mandiri, kredible dan berkelanjutan

5.     Kemitraan

6.     Pembangunan Infrasturktur

 

C.    Kemudian dilanjutkan dengan Rapat Regio

D.    Program Nasional Informasi Signis Asia - Dunia

E.    Penerimaan Anggota

F.     Pemilihan BP 

AAgenda penting lainnya dalam pertemuan ini adalah pemilihan pengurus periode 2026-2030, sebagai berikut:

Presiden Signis Indonesia 2026- 2030
RD Heribertus Ratu 
Ketua Regio Signis 2026-2030K

Sumatera : RD Adiputra Adrianus Lumban Tobing

Jawa : RD. Reynaldo Antoni Haryanto

Kalimantan : RD. Suhanedi Kusmantoro

Nusa Tenggara : RD. Herman Yoseph Babey

MAM : RD Emanuel ND

Papua : B. Onisemus Sarway

Tim Asistensi

RD. Benedektus Nugroho Susanto

B. Paulus Mashuri

RD. Titus Jatra Kelana

RP. Paulus Tumayang OFM

RD. Yohanes Kari


G.    Pemilihan BP dan Serah Terima

Badan Pengurus Harian

Ketua: RD Heribertus Ratu 
Wakil Ketua: Ibu Bernadetta Widiandajani
Sekretaris: RD Tiburtius Plasidus Mari 
Bendahara: RD Reynaldo Antoni Haryanto

Anggota: RD Suhanedi Kusmantoro

H.    Venue dan Keputusan Rapat

I.      Cultural Visit komunitas Sunda Katolik

J.     Misa Penutup/ Katedral Bandung

Penutup dan Refleksi

               Kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), menghadirkan peluang dan kejutan yang signifikan. Teknologi ini telah menyentuh dan meresap ke berbagai aspek kehidupan. Munculnya refleksi baru, seperti teologi digital dan ontologi digital, menimbulkan tantangan teologis dan filosofis, mempertanyakan makna realitas hidup di era AI. Namun, Gereja tidak perlu takut atau gentar, selama tetap berpegang teguh pada identitas dan misi Kristus. Untuk tujuan ini, AI adalah produk dari kecerdasan manusia. Manusia dipanggil untuk terus menemukan dan mengembangkan teknologi. Namun, yang terpenting Artificial Inteligence harus berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan firman yang hidup dan berdampak, bukan menggantikan peran manusia atau mengosongkan pesan. Uskup berharap, oleh karena itudiharapkan Artificial Inteligence sebagai alat komunikasi Gereja harus terus membawa energi, makna, dan kekuatan transformatif seperti hujan yang memperkaya bumi. 

    Pertemuan SIGNIS diharapkan bukan hanya sekadar acara formal, tetapi juga percikan yang membangkitkan pelayanan, sehingga lebih banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan. Kehadiran perwakilan SIGNIS dari berbagai keuskupan di Indonesia dimana masing masing diutus baik Komsos dan radio. Dalam refleksi bersama masing masing menunjukkan bagaimana komunikasi Katolik terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman di keuskupannya sendiri.

Poin Pertama:

Pastor Antonius Stephen Lalu, Ketua SIGNIS Indonesia, menjelaskan bahwa para pekerja media Katolik, terdiri dari tim komunikasi sosial (Komsos) dan Radio dari berbagai Keuskupan. Setiap tahunnya SIGNIS Indonesia berkumpul untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat karya pewartaan. Tahun 2026, panitia Signis mengambil tema Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”. SIGNIS Indonesia ingin menjadi Sains Ignis yakni membawa dan mengomunikasikan tanda-tanda zaman, menyebarkan semangat laksana api yang membakar hati, seperti pengalaman murid-murid Emaus yang berkobar penuh sukacita setelah bertemu Yesus,” ujar Pastor Antonius.

Poin Kedua :

Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo  dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadi komunikator yang handal di era pengharapan ini. Beliau menekankan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar soal teknologi atau sarana, tetapi lebih pada bagaimana media dapat menciptakan hubungan yang penuh kasih dan relasi yang bermakna. “Kita tentu tidak bisa menjauh dari media komunikasi sosial, tetapi kita harus menggunakannya sebagai alat pewartaan. Jika manusia berjalan dengan kepala tertunduk, tanpa melihat kiri dan kanan, tanpa senyuman, tanpa sapa, tanpa salam maka manusia itu seperti robot yang hidup tanpa hati, maka kita kehilangan esensi komunikasi yang sejati,” ungkap Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.

Melalui renungan Bapa Uskup, kami disadarkan bahwa Komsos adalah corong pewartaan iman di Keuskupan. Komsos sebagai wadah bagi pengajaran dan refleksi iman yang mampu  menyampaikan warta ke segala penjuru. Pada ahirnya mimpi dan harapan iman sampai pada seluruh umat. Melalui pewartaan yang dipublikasikan melalui media sendiri, maka umat mampu mengetahui segala informasi terbaru perihal peristiwa yang terjadi.

















MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget