Minggu, 11 April 2026 (Pekan II Paskah) "Taruhlah jarimu di sini....." (Yoh 20:27) RD Veri Ara
Minggu, 11 April 2026 (Pekan II Paskah)
"Taruhlah jarimu di sini....."
(Yoh 20:27)
Bacaan I
Kisah Para Rasul 2:42-47.
Bacaan II
1Petrus 1:3-9
Injil Yohanes 20:19-31.
**************************
Pada tanggal 23
September 1968, Santo Padre Pio, seorang imam Capusin meninggal dunia di sebuah
biara di Italia. Selama 50 tahun, dia menyandang stigmata, yaitu luka-luka pada
tangan, kaki dan lambung. Luka-luka itu tidak pernah sembuh. Banyak orang
mengakui bahwa luka-luka itu adalah luka-luka Yesus sendiri
Manusia dari seluruh
penjuru dunia datang menjumpai Santo Padre Pio untuk mengaku dosa dan merayakan
Ekaristi yang dipimpinnya. Di samping stigmata, Santo Padre Pio juga memiliki
banyak kekuatan rohani, terutama kemampuan untuk menyembuhkan dan mengerti
bahasa jiwa serta kebutuhan mereka.
Ketika mempersembahkan
misa, Santo Padre Pio sendiri dan juga semua umat yang ikut dalam perayaan itu
menyadari bahwa Santo Padre Pio membawa dalam dirinya luka-luka Yesus saat di
dera dan disalibkan oleh para serdadu. Luka-luka ini mendatangkan penderitaan
yang tiada duanya bagi Santo Padre Pio.
Ketika Santo Padre Pio
mempersembahkan misa, umat melihat darah yang menetes dari tangannya.
Sayangnya, darah yang menetes itu hanya terlihat ketika dia mempersembahkan
misa. Pada kesempatan lain, umat juga melihat Santo Padre Pio sedang memanggul
salib dan sedang menangis. Di saat dia melihat ke arah Hosti yang sudah
Dikonsekrir, wajahnya kelihatannya seperti wajah Malaikat. Semua umat yang
mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Santo Padre Pio mengalami
suasana batin yang penuh kedamaian.
Bagi kebanyakan orang,
kisah hidup Santo Padre Pio mirip dengan dongeng suci yang terjadi di Abad
Pertengahan. Padahal Santo Padre Pio adalah seorang manusia saleh yang hidup di
zaman ini. Dia sudah menjalani pelbagai tes medis untuk mengetahui sebab-sebab
dari luka-lukanya. Namun semua hasil tes menunjukan bahwa apa yang dialami
Santo Padre Pio tidak bisa dijelaskan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran.
Demikian juga dengan penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan oleh Santo Padre
Pio terhadap orang-orang sakit yang datang kepadanya. Alasan inilah yang
memotivasi begitu banyak manusia dari seluruh penjuru dunia, baik yang berbeda
agama maupun yang tidak beragama datang menjumpai Santo Padre Pio.
*******************
Luka-luka di
tangan, kaki dan lambung Santo Padre Pio menuntun semua orang yang mengunjungi
dan melihatnya (termasuk kita) untuk meng’amin’i dan meng’iman’i
tanpa ragu akan luka-luka Yesus Kristus akibat deraan para serdadu hingga
mengalami kematian tragis di atas kayu salib. Ironisnya, mereka dan kita tidak
mampu melihat adanya luka-luka di tangan, kaki dan lambung kita sendiri akibat
dosa-dosa kita yang membuat tangan, kaki dan lambung Yesus Kristus terluka dan
wafat di salib yang hina.
Kisah Injil hari
ini menampilkan kepada kita sisi kehidupan Yesus Bangkit dengan sangat kontras:
Yesus Disalibkan dan Mati di Kayu Salib, namun Bangkit; Yesus Terluka, namun Mulia.
Tanda pengenal yang khas dalam diri Yesus adalah Salib dan luka-luka-Nya,
derita dan sengsara-Nya yang sesungguhnya salib dan luka-luka kita sendiri.
Yesus ditampilkan sebagai sosok yang gagal, namun menjadi pemenang jaya; Yesus
yang tampaknya lemah, namun menjadi kuat dan tampil sebagai pemenang yang jaya.
Inilah rahasia Paskah!
Thomas, seorang manusia
pembimbang dan peragu mengalami sosok Yesus dalam perpaduan yang kontras ini.
Dia berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku
mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam
lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” bahwa Dia sungguh-sungguh Bangkit.
Di saat Thomas
dikuasai oleh keraguannya akan kebangkitan Yesus, pada momen itulah Yesus yang
Bangkit menjumpainya dan para murid-Nya yang sedang berkumpul dalam sekat
tertutup karena ketakutan. Yesus yang Bangkit tidak hanya memperlihatkan
diri-Nya, tetapi juga berseru kepada Thomas peragu, "lihatlah...",
"taruhlah" dan "cucukanlah ke dalam lambung-Ku".
Kata-kata yang
diucapkan oleh Yesus yang Bangkit kepada Thomas ini tidak hanya dimaksudkan
agar Thomas dan semua murid-Nya “mengenal-Nya” dan “percaya” bahwa “Dia
sungguh-sungguh Bangkit dan Hidup”, tetapi juga agar “mereka dituntun untuk melihat
luka-luka dalam diri mereka karena kurang percaya supaya bisa mengalami
kebangkitan dalam kehidupan iman mereka. Penampilan Yesus sebagai Manusia yang
Menderita, Terluka, Bangkit dan Hidup di hadapan Thomas dan para murid-Nya
serta ajakan-Nya agar Thomas melihat, menaruh dan mencucukkan tangannya ke
dalam lambung-Nya yang ditembusi tombak membuat Thomas terkesan serta percaya.
Thomas menjawab, “Ya Tuhanku dan Allahku! Dalam pernyataan Thomas ini terungkap:
o
Rasa tersentuh karena
Yesus yang Bangkit menunjukkan luka-luka-Nya!
o
Rasa tersentuh karena
Yesus yang Bangkit tampil sebagai seorang Manusia yang Lemah!
o
Rasa tersentuh karena
Yesus yang Bangkit menunjukkan bahwa Dia pernah Menderita.
o
Rasa tersentuh karena
Yesus yang Bangkit menunjukkan kemanusiaan-Nya yang senasib dengan Thomas;
pernah Terluka dan sebagai Orang yang Terluka!
Perasaan
tersentuh yang meliputi diri Thomas karena Yesus yang Bangkit mendesaknya untuk
melihat, menaruh dan mencucukan jarinya ke dalam lambung-Nya yang terluka akan
kita alami apabila kita melihat “Paskah Kebangkitan Yesus Kristus dalam satu
lintasan yang utuh antara penderitaan-wafat-kebangkitan”. Thomas, para murid dan
kita dituntun oleh Yesus yang Bangkit untuk mengalami Kebangkitan-Nya. Namun,
pengalaman kebangkitan tidak pernah terpisahkan dari penderitaan dan
kematian-Nya. Kebangkitan mulia hanya mungkin terjadi dan dialami dalam
peziarahan iman kita apabila dengan cinta dan korban, kita bersedia agar 'tangan
dan kaki kita ditembus paku' dan 'lambung kita ditikam tombak'.
Ingatlah dan
renungkalah:
o
Yesus yang Bangkit tetap
dan selalu “Menunjukan Diri-Nya yang Terluka”, kapan dan di mana saja.
o
Yesus yang Bangkit juga
tetap dan selalu menuntut kita untuk 'menaruh jari', dan 'mencucukan tangan
kita ke dalam lambung-Nya agar kita ditarik untuk sungguh-sungguh masuk dan
bersatu dalam Tubuh-Nya yang Menderita.
o
Kemenangan jaya,
kebangkitan yang mulia akan kita alami dalam hidup, apabila kita
sungguh-sungguh masuk dan bersatu dengan Tubuh Yesus yang Terluka dan Menderita.
Caranya:
Dengan menunjukkan
luka-luka-Nya kepada Thomas dan para murid-Nya, Yesus juga mengajarkan agar
kita:
o
Tidak seharusnya melihat
kekuatan dan prestasi kita yang hebat dan luar biasa; tetapi harus berani
memperlihatkan kelemahan dan luka-luka batin kita.
o
Berani dan terbuka
memperlihatkan sisi lemah kehidupan kita; melihat dan menerima luka-luka kita,
maka kita akan dipulihkan dan disembuhkan.
o
Menerima sesuatu yang
terluka dalam diri dan kehidupan kita sehingga bisa diobati dan disembuhkan!
o
Membuka diri kepada
Tuhan, walau terluka, kita akan mengalami sinar hijau yang lembut dan memiliki
kekuatan yang menyembuhkan … kegersangan batin akan membuahkan hidup yang
sehat; hidup yang penuh sebagaimana fajar pagi yang menampilkan awal hari yang
baru!
Persoalannya, apakah kita berani
menunjukkan luka-luka dalam diri kita? Apakah kita berani menunjukkan sisi
gelap dalam kehidupan kita? Apakah kita berani menunjukkan sisi negatif dari kepribadian
kita? Apakah kita berani menunjukkan dan mengakui kelemahan kita? Apakah kita
berani mengakui ketidakmampuan kita? Apakah kita berani menunjukkan tekanan
batin kita? Apakah kita berani mengakui bahwa kita lemah, tidak penting?
Patut diakui bahwa kita tidak rela
menunjukkan sisi gelap kehidupan kita. Kita ingin menjadi sebuah iklan/reklame yang
tidak akan pernah memperlihatkan bahwa produksi diri kita itu jelek… jika
tidak, semua produksi diri kita tidak bakalan laku; pabrik kehidupan kita bisa
ditutup dan kita akan menjadi penganggur yang tidak laku.
Selamat Bermenung...
Salam Kasih....
Buoama Pasqua e Buona Giornata...
Dio Ti Benedica....
Alfonsus Very Ara, Pr
.png)
.png)



.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
