Minggu Paskah V, 3 Mei 2026
Di Tempat Aku Berada
Kisah para Rasul 6:1-7
Mazmur 33:1-2,4.5, 18-19
1 Petrus 2:4-9
Yohanes 14:1-12
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu”
(Yohanes 14:2)
**************************
Hati yang Kaya dengan Kasih
Raja
George yang bijaksana
mulai uzur dan sakit-sakitan. Dia tidak mempunyai anak. Sebelum meninggalkan
bumi fana ini, dia ingin menunjuk seorang penggantinya menjadi raja. Persoalannya,
siapakah yang akan menggantikannya menjadi raja? Bagaimana cara memilih
penggantinya itu?
Karena ada ribuan pemuda yang
ingin menjadi raja di negeri itu, maka Raja George mengumumkan ke seluruh
penjuru kerajaan suatu maklumat yang isinya, “Barang siapa di antara para pemuda yang berkehendak dan bersedia
memenuhi persyaratan menjadi raja pengganti, diharpkan datang dan menjumpai Sri
Baginda yang mulia.“ Satu-satunya syarat adalah: Harus Mempunyai
Cinta yang Besar Terhadap Allah dan Sesama.”
Di sebuah kampung hiduplah
Peter, seorang pemuda yang sangat mencintai Allah dan sesama serta beriman teguh
kepada-Nya. Ketika mendengar maklumat kerajaan itu, dia merasa bahwa dirinya
memiliki peluang untuk menjadi pewaris tahta kerajaan. Dia yakin bahwa dirinya
memenuhi persyaratan untuk menjadi raja baru karena dia mencintai Allah dan
sesamanya.
Dengan penuh percaya diri,
Peter menyampaikan keinginannya kepada tetangga sekampungnya. Semua orang di
kampung yang sungguh-sungguh mengenal dan mencintainya karena kebaikannya
mengakui bahwa Peter memiliki untuk menjadi raja.
Tetapi sayang…. dia sangat
miskin. Dia tidak memiliki pakaian, sepatu dan uang untuk untuk menghadap sang
raja dan membiayai perjalanan menuju istana kerajaan.
Para penduduk kampung, dalam
kesederhanaannya, berusaha membantu Peter dengan mengumpulkan iuran untuk
membelikannya baju baru, sepatu yang mahal dan memberinya cukup uang sebagai
bekal perjalanan menuju ke istana kerajaan. Pada suatu hari, mereka
bersama-sama mengantar Peter ke depan gerbang desa dan mengucapkan selamat
jalan kepadanya.
Peter akhirnya tiba di istana.
Ketika hampir memasuki gerbang kerajaan, dia berpapasan dengan seorang pengemis yang malang. Peter tergerak hatinya
oleh belas kasihan kepada pengemis itu.
Peter bertanya:
“Apakah yang dapat aku lakukan
bagimu, saudaraku ?’
Pengemis itu menjawab:
“Kasihanilah
aku! Aku tidak mempunyai pakaian, sepatu, dan saat ini aku kedinginan.
Berbuatlah sesuatu untukku ! Tolonglah aku, tuan !”
Peter menyahut:
“Sahabat, aku
tidak mempunyai pakaian dan sepatu,
selain yang kupakai ini, tetapi jika kamu sungguh-sungguh memerlukannya, mari
kita bertukar pakaian!” Lalu Peter dan Pengemis itu bertukar pakaian.
Namun, setelah itu Peter mulai gelisah dan berpikir:
“Bagaimana aku bisa masuk ke
istana raja kalau hanya memakai pakaian kumal seperti ini. Mereka pasti akan
melemparkan aku keluar dari istana raja. Namun jika Kristus sendiri yang
berdiri di pintu gerbang istana dan meminta pakaianku, apakah aku akan
menolaknya? Tidak, sekali-kali tidak!”
Di saat Peter digelisahkan
oleh pikiran-pikirannya, penjaga pintu gerbang menanyakan maksud kedatangannya
ke istana. Peter menjawab bahwa dia ingin berjumpa dengan sang raja. Pejaga
pintu gerbang itu menghantarnya masuk dan menyuruhnya menunggu di suatu ruangan
yang megah.
Tidak lama kemudian, raja
memasuki ruangan itu. Peter merasa malu
dengan pakaian yang dikenakannya. Tetapi raja mendekatinya dan meletakkan
tangannya di bahunya sambil berkata:
“ Anakku terkasih ….engkau
akan menjadi raja !”
Peter sangat terkejut. Sang
raja menatapnya sambil berkata, “Lihatlah aku! Dapatkah engkau mengenaliku? Aku
adalah pengemis yang tadinya berdiri di pintu gerbang istana. Engkau berhasil
lulus ujian dan memenuhi syarat. Aku sungguh yakin dan percaya.
Peter
dinobatkan menjadi raja
karena dia memenuhi kriteria sebagaimana dikehendaki sang raja: memiliki hati
yang kaya dengan kasih. Peter yang mempunyai hati yang bersedia memberi dan
melayani memberikan cinta sehabis-habisnya demi kepentingan, kebahagiaan, dan
keselamatan orang lain, kendati untuk itu, dia harus berkorban.
Namun, lebih dari sikap kasih Peter,
Yesus, Sang Pemimpin Ilahi berusaha mengkonkritkan sikap memberi dan melayani;
mencintai sehabis-habisnya demi keselamatan orang lain melalui tindakan-tindakan
mesianik-Nya yang sulit dimengerti manusia, yaitu mencuci kaki serta
memecah-mecahkan dan membagi-bagikan Tubuh-Nya yang Maha Kudus sebagai Santapan
Rohani dengan Wafat di Salib yang hina.
*******************
Tatkala mendengar Sabda Yesus mengenai Rumah Bapa, “Di
rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat
bagimu,” kita pasti bertanya, “Di manakah Rumah Bapa?
Rumah Bapa tidak berada di wilayah teritorial tertentu. Rumah
Bapa yang Kekal ada dalam diri Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus yang selalu
menyembah Bapa-Nya dalam Roh dan Kebenaran. Anak-Nya adalah Sabda Kekal-Nya
yang menjadi Manusia dan tinggal di antara Manusia untuk menyatakan Wajah Cinta
dan Belas Kasih Bapa kepada manusia.
Agar kita sungguh-sungguh mengerti dan mengimani arti Rumah
Bapa yang Kekal, kita harus mendalami maksud kedatangan dua murid Yohanes
Pembaptis dan bertanya kepada Yesus, “Guru, di manakah Engkau tinggal?
Kedua murid dan kita, yang mengikuti Yesus, Anak Allah kiranya tahu, di manakah
Dia tinggal!
Pertama, tatkala kedua murid Yohanes Pembaptis dan kita, para pengikut-Nya menatap
Yesus di saat Dia membasuh kaki dan memberikan sepotong roti kepada Yudas,
sesungguhnya, mereka dan kita sudah mengetahui tempat tinggal-Nya. Tempat
tinggal Yesus adalah Cinta Allah, Bapa-Nya sendiri.
Rumah Bapa adalah Rumah Cinta, Persekutuan Cinta Bapa, Putra dan Roh Kudus:
Bapa tidak pernah terpisahkan dari Anak-Nya dan Anak tidak pernah terpisahkan
dari Bapa-Nya. Anak selalu bersatu dengan Bapa dan tinggal dalam Bapa-Nya. Bapa
dan Anak memiliki nefesy haya (napas kehidupan), spirit, vitalitas dan
kehendak yang satu dan sama, yaitu spirit Cinta. Bapa, Putra dan Roh Kudus
adalah Sang Cinta dan Cinta Agung Bapa, Putra dan Roh Kudus dinyatakan dalam
pemberian-Nya yang paling mulia di salib yang hina, yaitu Kasih (Putra
adalah Cinta yang dinyatakan dalam Pemberian. Pemberian cinta
inilah yang dinamakan Kasih).
Karena Rumah Bapa adalah Rumah Cinta Bapa, Putra dan Roh
Kudus, ini berarti bahwa dalam Diri Yesus, Anak Allah ada
Tempat Tinggal bagi Semua Orang yang menerima dan mengimani-Nya sebagai Allah
yang menjadi Manusia. Semua Rasul, Murid dan Orang yang Percaya kepada-Nya dan
tinggal dalam Kasih-Nya akan menjadi saudara bagi yang lain dalam dan
karena kasih. Semua orang yang percaya kepada Yesus, Sang Kasih, melakukan
pekerjaan kasih: saling mengasihi (cap kusus pengikut Yesus) akan Tinggal dalam
dan Besama Sang Kasih: Satu-satu bagi masing-masing saudara-Nya.
Siapa saja yang menerima Yesus dan mengasihi sesamanya dengan
Kasih (karena Yesus, Sang Kasih) Anak Allah akan menjadi anak-anak Allah dan
tinggal bersama-Nya. Yesus, Anak Allah adalah Sanktuarium, Tempat
Bagi Semua Manusia Menjumpai Allah dan Menemukan Wajah Allah Kasih Allah. Dalam Wajah Anak-Nya yang
menjadi Manusia, Tempat Kediaman Allah/ Rumah Allah berada di tengah-tengah
manusia.
Ini berarti bahwa Rumah Bapa dan Tinggal bersama-Nya
tidak dialami setelah kita mengalami kematian fisik/tubuh insani, melainkan saat
ini: Ketika kita tinggal dalam kasih-Nya: hidup saling mengasihi, saling
menerima kekurangan dan keterbatasan, saling mengampuni dan saling melayani. Di
saat kita tinggal dalam kasih-Nya, di saat ini juga kita sudah tinggal di Rumah
Bapa sebab Rumah/Tempat Kediaman yang disediakan Bapa bagi semua manusia,
ciptaan-Nya adalah Diri Anak-Nya.. Secara singkat harus dikatakan: memiliki
Yesus, Anak Allah, mendengarkan dan melakukan Kehendak-Nya, yaitu Saling
mengasihi, berarti kita sudah memiliki dan berada di Rumah Bapa.
Kedua, Setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dua murid Yohanes Pembaptis
yang bertanya, “Guru, di manakah Engkau tinggal? sungguh-sungguh percaya bahwa Tempat
Tinggal, Takhta Tertinggi dan Termulai Anak Allah, Raja Israel, bukanlah
istana yang megah, melainkan Salib yang Hina.
Mengapa harus di Salib yang Hina? Di Salib yang Hina,
Yesus, Sang Kasih serentak memacarkan keaguangan dan kemuliaan Cinta Kasih-Nya,
yaitu Cinta yang Rela Berkorban, Rela Mengabdi dan Rela Memberikan Diri hingga
Kosong/Kenosis demi keselamatan Kita, semua Manusia, Ciptaan-Nya. Salib adalah Puncak
Penyataan dan Pemberian Kasih dari Dia yang adalah Sang Kasih.
Salib yang Hina serentak menjadi dua lambang
kontradiksi/pertentangan dunia, yaitu bumi dan surga, timur dan barat, hitam
dan putih, keriting dan lurus, cantik/tampan, dan buruk rupa. Namun, setelah
Kematian Yesus, salib menjadi lambang siksaan yang diciptakan manusia untuk
saling menyingkirkan: Di salib, manusia yang terbatas, lemah, rapuh, berdosa
tampak sebagai pribadi yang perkasa dan berkuasa atas Allah dan sesama dengan
“mengadili Allah yang Tidak Terbatas, Allah yang tidak bersalah dengan
kesalahan kita, manusia sendiri. Di salib yang Hina, manusia yang terbatas
menyingkirkan Allah dengan menempatkan kemanusiaannya yang terbatas sebagai pusat
dan sumber kehidupan. Di salib, manusia yang terbatas, rapuh, lemah dan
berdosa membunuh dan menguburkan Allah, Sang Kebenaran dan Kebaikan, Sang
Cinta.
Kita, manusia tidak sadar bahwa kita hanyalah ciptaan
Allah. Kita, manusia, diciptakan Allah dari isi cinta-Nya sendiri. Karena sejak
awal kita diciptakan, Allah, Sang Cinta memanggil kita, “Dimanakah Engkau hai
Adam, hai Manusia. Ternyata, usaha Allah mencari kita untuk menyatakan bahwa
Dia sangat mencintai kita dan harus menyelamatkan kita justru diakhiri dengan
tindakan tragis dari kita: Kita Menyalibkan Dia, Sang Cinta. Di salib, Yesus,
Anak Allah, Sang Mempelai Cinta bersatu dengan kita semua, ciptaan-Nya, Sang
Pengantin Perempuan, yaitu Gereja, bersatu dalam Cinta yang Maha Kuat, Maha
Kuasa dari maut yaitu arogansi, kesombongan kita yang lahir dari ketidaksadaran
kita sebagai Ciptaan Allah Sang Cinta.
Salib, Takhta Yesus, Takhta Putra Allah serentak menjadi
Ranjang Pernikahan, Tempat Cinta Bapa dan Putra-Nya bagi kita, manusia,
ciptaan-Nya Tergenapi. Di kayu salib, Yesus, Putra Allah, Sang Mempelai Gereja,
yaitu kita umat-Nya tidak sendirian. Dia didampingi oleh dua orang penjahat
yang mewakili kita, umat ciptaan-Nya yang melalui peristiwa kematian, mewakili
Yesus.
Apakah kita menjadi pendamping Yesus yang Tersalib yang
Baik atau yang Jahat? Ingatlah, kita akan menjadi Pendamping Dia yang Tersalib
yang Baik dan layak Tinggal Bersama-Nya di Rumah-Nya, jika kita berada bersama
dan bersatu dengan Yesus, dalam diri sesama dengan tulus mengakui kesalahan dan
dosa kita serta tinggal dalam diri sesama yang menderita.
Yesus menyampaikan Sabda-Nya ini (Di rumah Bapa-Ku banyak
tempat tinggal) untuk mempersiapkan para Rasul, para Murid-Nya dan kita semua
yang percaya kepada-Nya akan saat kematian-Nya di kayu salib. Melalui
Kepergian-Nya, yaitu kematian-Nya, Dia mempersiapkan tempat di “Rumah Bapa”
bagi kita. Pada saat itulah, mata hati dan iman mereka dan iman kita baru
sungguh-sungguh terbuka melihat dan mengimani kedalaman dan keagungan Cinta
Kasih-Nya sebagai Anak Manusia (sungguh-sungguh manusia) dan Anak Allah
(sungguh-sungguh Allah).
Kepergian Yesus/kematian-Nya serentak diimani sebagai
saat kedatangan-Nya kembali kepada para Rasul, para Murid dan kepada kita semua
yang mengimani-Nya, sungguh Allah dan sungguh manusia. Kedatangan-Nya kembali
kepada kita pada saat kematian-Nya, bukanlah kedatangan-Nya kembali pada Akhir
Zaman, melainkan kedatangan-Nya saat ini (langsung) setelah kematian-Nya (masuk
ke dalam dunia penantian, dunia jiwa-jiwa menantikan kedatangaa-Nya): Sang
Kasih Mengalahkan kuasa maut.
Pada saat inilah, Kerajaan Allah tercipta di dunia ini dan
pada saat inilah Dia yang Wafat dan Bangkit menyatakan kemuliaan cinta kasih-Nya
sebagai Jaminan Tunggal bagi Kebangkitan semua orang yang percaya kepada-Nya
serta menjadi Jalan yang Benar menuju Kehidupan yang Kekal (via,
veritas, vita). Kedatangan-Nya setelah kebangkitan-Nya adalah
Kedatangan-Nya yang baru, dengan Tubuh dan Jiwa-Nya yang sudah dimuliakan,
kekal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu... Kedatangan-Nya setelah
kematian-Nya menghasilkan Persatuan Kasih yang Sempurna antara kita,
pengikut-Nya dengan Bapa dalam diri-Nya.
Walaupun demikian, kita para pengikut-Nya tidak mungkin
berada di Tempat Yesus Berada, sebelum Tubuh Insani-Nya mengalami kematian.
Tubuh Insani-Nya harus mati dan harus masuk ke dalam dunia orang mati (tempat
penantian jiwa-jiwa) untuk membuka jalan bagi kita menuju keselamatan, dalam
dan melalui kematian-Nya. Dalam dan melalui kematian-Nya, Dia menyatakan
Kebesaran, Kedalaman dan Keagungan Cinta Kasih-Nya demi keselamatan dan
kebahagiaan kekal bagi kita semua orang yang percaya kepada-Nya...
Selamat Bermenung...
Salam Kasih...
Buona Giornata...
Buona Pasqua...
Dio Ti Benedica....
Alfonsus Very Ara, Pr