Keuskupan Sibolga

Latest Post

 



Refleksi Biblis

Koordinasi Awal Tahun Keuskupan Sibolga 2026

(RD. Yusuf Nataeli Lase)

 

Bacaan Kitab Suci: Yohanes 15:1- 8

Pendahuluan

Bapak Uskup, para imam, suster, dan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, pada akhir pertemuan Koordinasi Awal Tahun ini, setelah kita bersama-sama melihat, mengoordinasikan, dan menata berbagai rencana pastoral untuk tahun 2026, kita diajak untuk berhenti sejenak. Kini, kita menempatkan semuanya dalam terang Sabda Tuhan, agar menjiwai seluruh proses yang kita lalui.

Pada saat ini, kita tidak lagi berada pada tataran teknis perencanaan program. Kita diajak untuk menempatkan seluruh rencana pastoral Keuskupan Sibolga dalam terang iman, agar apa yang telah dikoordinasikan sungguh menjadi bagian dari karya Allah sendiri, dan bukan semata-mata hasil perencanaan manusiawi.

Sebagai Gereja, kita menyadari bahwa perencanaan pastoral, betapapun sistematis dan matang, hanya menemukan maknanya sejauh diletakkan dalam terang iman. Tanpa pendasaran rohani, kegiatan mudah berubah menjadi rutinitas; sebaliknya, dengan pendasaran iman, seluruh karya pastoral menjadi partisipasi dalam karya Allah yang melampaui perencanaan manusiawi kita.

Dalam konteks inilah visi Keuskupan Sibolga menjadi kunci untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral yang telah dibahas bersama. Visi Keuskupan Sibolga berbunyi: “Gereja Keuskupan Sibolga berakar dalam iman, bertumbuh dalam persekutuan, dan berbuah dalam kesaksian”.

Visi ini bukan sekadar pernyataan arah pastoral, melainkan mencerminkan dinamika hidup iman yang sangat alkitabiah. Kitab Suci memperlihatkan bahwa hidup umat Allah selalu bergerak dari akar relasi dengan Tuhan, menuju pertumbuhan dalam kebersamaan, dan akhirnya menghasilkan buah yang memberi kehidupan bagi sesama.

 


I. Berakar dalam Iman

Kitab Suci kerap menggunakan gambaran akar untuk berbicara tentang dasar kehidupan umat Allah. Nabi Yeremia menegaskan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan… Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air; apabila datang panas terik, ia tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:7-8).

Akar tidak tampak ke permukaan, namun justru menentukan daya tahan dan keberlangsungan hidup. Sebuah pohon dapat memiliki cabang yang rimbun dan daun yang lebat, tetapi tanpa akar yang kuat, ia tidak akan bertahan menghadapi panas dan kekeringan. Demikian pula iman dalam kehidupan Gereja: iman bukan pertama-tama diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kedalaman relasi dengan Allah yang menopang seluruh pelayanan.

Dalam Kitab Suci, krisis umat Allah hampir selalu bermula bukan dari kurangnya aktivitas, melainkan dari rapuhnya relasi dengan Tuhan. Karena itu, visi “berakar dalam iman” mengajak Gereja Keuskupan Sibolga untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dengan sikap reflektif: apakah kegiatan-kegiatan tersebut sungguh meneguhkan iman umat dan kepercayaan kepada Tuhan, ataukah berhenti pada pelaksanaan program semata.

Pelayanan yang tidak berakar dalam iman mudah menjadi rutinitas yang melelahkan dan kehilangan daya rohani. Sebaliknya, kegiatan yang sederhana tetapi berakar dalam iman sering menjadi ruang di mana Allah bekerja secara diam-diam, membentuk umat, dan menumbuhkan ketahanan rohani. Karena itu, visi “berakar dalam iman” mengajak kita untuk terlebih dahulu meneguhkan fondasi rohani, sebelum memperluas atau melaksanakan program. Kalau akar iman ini rapuh, seluruh pelayanan Gereja akan mudah kehilangan daya tahannya.

 


II. Bertumbuh dalam Persekutuan

Dari akar iman yang kokoh, Gereja dipanggil untuk bertumbuh, dan pertumbuhan ini dalam Kitab Suci selalu bersifat komunal. Kisah Para Rasul melukiskan Gereja perdana sebagai komunitas yang hidup dari persekutuan: “Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam Persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

Persekutuan di sini bukan sekadar kebersamaan struktural, melainkan persekutuan hidup, di mana umat saling mendengarkan, saling menopang, dan berjalan bersama. Gereja tidak pertama-tama dibangun oleh keseragaman program, melainkan oleh kesediaan untuk berjalan bersama dalam terang Injil.

Dalam konteks Keuskupan kita, visi “bertumbuh dalam persekutuan” menantang kita untuk melihat apakah matriks kegiatan pastoral tahun 2026 sungguh mendorong kerja sama, sinergi, dan rasa memiliki bersama antara paroki, komisi, imam, dan seluruh umat Allah. Tanpa persekutuan, pelayanan mudah berubah menjadi beban individual dan koordinasi menjadi formalitas belaka. Sebaliknya, persekutuan yang hidup menjadikan pelayanan sebagai ungkapan persaudaraan, memperkuat solidaritas pastoral, dan menolong Gereja menghadapi tantangan bersama. Pertumbuhan Gereja selalu terjadi ketika umat Allah berjalan bersama, bukan ketika masing-masing berjalan sendiri.




III. Berbuah dalam Kesaksian

Akar iman dan pertumbuhan persekutuan selalu diarahkan pada buah. Yesus sendiri menegaskan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh 15:8).

Buah tidak dihasilkan demi pohon itu sendiri, melainkan untuk kehidupan orang lain. Demikian pula, kesaksian Gereja bukan pertama-tama terletak pada kata-kata atau pernyataan, melainkan pada kehadiran konkret yang membawa kehidupan, harapan, dan belas kasih.

Buah Injil selalu dikenali bukan dari apa yang dikatakan Gereja tentang dirinya, melainkan dari apa yang dialami orang lain melalui kehadirannya. Karena itu, visi “berbuah dalam kesaksian” mengajak kita untuk melihat kembali seluruh kegiatan pastoral tahun 2026 dari sudut pandang dampaknya: buah apa yang sungguh dirasakan oleh umat, oleh masyarakat, dan oleh mereka yang terpinggirkan.

Kesaksian Injil menjadi nyata ketika Gereja hadir sebagai tanda kehadiran Allah - dalam solidaritas, keadilan, dan pelayanan yang memanusiakan. Kegiatan yang tidak menghasilkan buah kesaksian mengundang refleksi ulang tentang arah dan tujuan pastoralnya.

 


Penutup

Visi Keuskupan Sibolga merupakan satu dinamika hidup Gereja: berakar dalam iman, agar pelayanan tidak rapuh; bertumbuh dalam persekutuan, agar Gereja tidak berjalan sendiri-sendiri; dan berbuah dalam kesaksian, agar Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri.



Dalam terang visi ini, seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dipanggil untuk dihidupi sebagai perjalanan iman bersama, bukan sekadar agenda kerja. Kiranya pendasaran Kitab Suci ini meneguhkan arah pastoral kita, sehingga seluruh pelayanan yang direncanakan sungguh dijiwai oleh iman, diperkaya oleh persekutuan, dan menghasilkan buah kesaksian bagi dunia.

 



Minggu, Pekan Biasa V, Tahun A

“Garam dan Terang Dunia”

Yesaya 58:7-10

Mazmur 112:4.5.6.7..8a.9

1 Korintus 2:1-5

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”

(Matius 5:13)

Adalah kisah mengenai seorang Hakim yang dikenal dan dikenang karena kejujurannya. Dia selalu menolak tawaran dari orang-orang yang ingin menyogoknya untuk memenangkan mereka dalam perkara yang sedang ditanganinya.

Pada suatu hari, dia dituduh dengan aneka hal yang tidak pernah dilakukannya. Walaupun demikian, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh tuduhan-tuduhan itu. Melihat keteguhan dan kejujurannya, salah seorang dari antara orang-orang yang berusaha menyogoknya bertanya kepadanya, “Mengapa Pak Hakim tidak membalas tuduhan-tuduhan itu?

Sang Hakim menjawab, “Di kampung saya hiduplah seorang janda bersama seekor anjingnya. Setiap saat, tatkala melihat bulan memancarkan sinarnya, anjing itu keluar dari rumah dan menggonggongnya.”

Kemudian, Sang Hakim mengalihkan pembicaraannya ke persoalan yang lain. Akhirnya, Si Penanya yang tidak puas dengan jawaban Sang Hakim bertanya, “Pak Hakim, bagaimana dengan anjing dan bulan itu?

Dengan sikap tenang, Sang Hakim menjawab, “Oh..., bulan itu tetap bersinar, walaupun anjing itu menggonggong sepanjang malam.”

*****************************88

Pesan cerita ini sangat jelas. Fungsi cahaya adalah memancarkan terang tanpa peduli, apakah kita menerima pancaran sinar-terangnya atau tidak. Bulan itu tetap bersinar, walaupun ada yang tidak menyukai terang yang dipancarkannya. Sang Hakim tdak terpancing untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia ingin bercahaya, walaupun banyak orang yang tidak menyukainya. Demikian juga dengan kita: kita seharusnya tidak pernah boleh goyah untuk melakukan kebaikan, walaupun begitu banyak orang yang tidak menyukai kita.

Dalam kisah Injil Minggu ini, Yesus menggunakan dua gambaran untuk menjelaskan keberadaan para pengikut-Nya dan misi perutusan mereka di tengah dunia. Gambaran pertama adalah garam: “Kamu adalah garam dunia.”

Dalam dunia kuno, garam memiliki nilai yang sangat tinggi. Garam berfungsi sebagai:

Pertama, untuk memurnikan. Bagi orang Roma, garam itu sangat murni karena dihasilkan oleh matahari dan air laut. Dalam dunia Romawi Kuno, garam menjadi bahan persembahan untuk para dewa. Ketika menyebut para pengikut-Nya sebagai garam, Yesus bermaksud menyatakan bahwa semua pengikut-Nya harus menjadi teladan kemurnian bagi sesama, seperti fungsi garam;

Kedua, garam itu mengawetkan. Orang-orang dari zaman Romawi Kuno menggunakan garam sebagai bahan pengawet. Garam menjadi kekuatan untuk menghindari terjadinya kebusukan. Demikianlah, semua pengikut Yesus harus memiliki kualitas iman yang akan memampukan mereka untuk menghindari kebusukan dalam kehidupan bersama;

Ketiga, garam menjadikan makanan terasa enak. Makanan tanpa garam akan terasa hambar. Demikian juga dengan semua pengikut Yesus: semua pengikut Yesus harus menjadi teladan baik dalam semua sisi kehidupan bersama dengan yang lain. Walaupun jumlahnya sedikit, para pengikut Yesus harus mampu mempengaruhi orang lain berkenaan dengan perbuatan baik.

Gambaran yang kedua adalah terang: “Kamu adalah terang dunia.” Fungsi terang, cahaya adalah memancarkan dan menuntun.” Ketika Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya adalah terang dunia, maka maksud yang terkandung di dalam-Nya adalah semua pengkikut-Nya harus menjadi pemimpin bagi yang lain. Kehidupan para pengikut Yesus harus memancarkan cinta dan kebaikan agar semua orang yang melihatnya tertarik untuk mengikuti-Nya. Kita tidak pernah boleh menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Walaupun garam dan terang memiliki fungsi masing-masing, namun garam dan terang yang dimaksudkan Yesus bukanlah bumbu sayuran atau garam yang ditambahkan ke dalam sup dan terang biasa, melainkan garam dan terang yang berperan sampai ke ujung bumi.

Apa yang dimaksudkan Yesus dengan garam dan terang yang sesungguhnya? Garam dan terang yang sesungguhnya adalah hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara bagi semua orang. Jika seorang pengikut Yesus tidak bersikap sebagai dan seperti seorang anak dan tidak bertindak sebagai seorang saudara, maka sesungguhnya orang demikian tidak bermakna/berfungsi di bumi. Dia tidak berperan dalam sejarah dunia.

Dengan menjadi garam dan terang dunia, semua pengikut Yesus menjadi misionaris. Yesus tidak berkata, “Kamu dapat menjadi garam dan terang,” tetapi “kamu adalah garam dan kamu adalah terang.” Menjadi misionaris tidak mengharuskan kita untuk beranjak ke tanah misi. Menjadi misionaris berarti mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik berdasarkan teladan kebaikan yang kita lakukan.

Karena itu, agar kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia, maka kita harus terus dan selalu berguru kepada-Nya. Kita harus belajar bagaimana menyerahkan nyawa dengan mencintai-mengasihi dan bersikap rendah hati.

Patut diakui bahwa sebagai pengikut Yesus, kita begitu mudah kehilangan cita rasa Yesus karena benih Sabda-Nya tidak berakar di hati dan kehidupan kita. Benih Sabda Yesus mengering setelah muncul tangkainya. Akhirnya, benih Sabda Yesus juga terhimpit oleh semak kepentingan dan egoisme diri.

Dalam konteks ini kita melihat adanya pertentangan/perlawanan antara akal duniawi dengan hikmat salib. Hidup kita, sebagai pengikut Yesus.  berada dalam jalan: perang antara cinta agapik, yaitu cinta yang rela membagi dan memberikan diri demi kebaikan bersama dengan cinta diri yang egoistis......

Terang yang lahir dari diri sendiri dan keinginan manusiawi, akan mudah redup, karena terhubung dengan kepentingan diri. Terang yang terpancar dari Salib dan Kebangkitan akan terpancar hingga kekal karena dalam terang salib dan kebangkitan, kita semua, pengikut Yesus, pribadi yang beriman akan menggarami dan mengerangi dunia dengan kasih dan kebaikan, cinta yang merangkul dan mengampuni serta cinta yang rela berbagi dan memberikan diri...

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica.....

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 


Minggu Biasa IV

01 Februari 2026

Berbahagialah Orang Miskin

Matius 5,1-12

***************************

Tom Dooley sungguh-sungguh tanggap terhadap dunianya di tahun 1950-an. Setelah menamatkan Sekolah Kodekteran dan menyelesaikan Wajib Dinas Militer di Ankatan Laut, Dooley datang ke Asia untuk memberikan pelayanan medis kepada orang-orang miskin.

Pilihan Dooley ini sungguh mengejutkan dunia, mengingat Dooley  berasal dari keluarga kaya raya dan menikmati kehidupan yang menyenangkan. Mengomentari keputusan Dooley ini, Majalah Guideposts berkomentar:

Seandainya seseorang diperkenankan untuk dilahirkan sesuai dengan keinginannya, saya akui bahwa kelahiran saya sungguh-sungguh diinginkan. Hidup yang menyenangkan datang dengan mudahnya dalam keluarga saya. Ada banyak utang yang tersedia; memiliki kuda sendiri; bersekolah di luar negeri, dan terlatih sehingga diangkat menjadi seorang pemain piano dalm sebuha Konser.

Walaupun demikian, keluarga Dooley sangat parktis dan sangat religius. Dooley senduiri pernah berkata, ‘Keluarga kami adalah keluarga yang rajin berdoa. Kami berdoa bersama di waktu pagi, pada saat bangun tidur di pagi hari; pada saat kami duduk bersama di meja makan; ketika selesai makan....’ Ketika kami hendak tidur dan banyak waktu di antara kejadian-kejadian itu.

Dooley juga berkata, “Keluarga kami rajin berdoa dan rajin membaca Kitab Suci. Sabda yang paling menyenangkan dan menyukakan hati saya adalah “Sabda Bahagia” dalam Kotbah di Bukit. Bagi saya, ‘Penyataan ‘Terberkati” berarti “bahagia.” Sabda inilah sejalan dengan keinginan dan harapan saya sebab dalam pernyataan Sabda ini ditemukan “Dasar/Landasan asar Hukum” yang menggerakan hati saya untuk meninggalkan semua keluarga dan semua harta duniawi yang kami miliki untuk melayani Orang Miskin di Asia demi kebahagiaan iman dan batin saya.

 

Berbahagialah (Makarios)

Dalam pandangan Yesus, orang miskin yang berbahagia....

o   Bukan hanya orang-orang yang tidak memiliki harta, para peminta, pengemis, bertubuh kurus, pucat dan lemah sebab kekurangan gizi.

o   Bukan hanya orang yang tertindas, hina dan sengsara karena orang lain.

o   Bukan hanya orang-orang yang tidak bisa membuka mulut untuk membela diri dan menuntut hak pribadi.

o   Bukan orang-orang yang berkedudukan rendah, sial, sering dihina dan dipermainkan orang jahat.

o   Orang miskin yang berbahagia bukan hanya kaum hina dina, melainkan juga orang kaya raya.

Mengapa?

Semua manusia adalah ciptaan Allah yang tergantung sepenuhnya kepada-Nya. Karena itu, ketika Yesus berkata “berbahagialah orang miskin,” maksudnya:

o   Berbahagialah orang-orang yang penuh ketulusan dan kerendahan hati menyerahkan diri seutuhkan kepada Allah.

o   Berbahagialah orang-orang yang mengandalkan Allah dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah.

Orang-orang yang mengandalkan Allah adalah orang-orang yang walaupun memiliki harta berlimpah, namun tidak terikat pada harta, tidak diikat oleh hartanya sehingga tidak membutuhkan Allah dan sesama.

Orang miskin seperti yang dimasudkan Yesus adalah orang yang miskin dalam Roh. Orang yang miskin dalam Roh adalah orang-orang miskin papa dan orang kaya yang tidak terikat pada harta/kekayaan dan dengan kerendahan hati yang mendalam menyerahkan diri secara total kepada Allah, mengandalkan Allah dan berpasrah kepada-Nya. Ini berarti unsur utama yang ditekankan Yesus bukan hanya ketidakterikatan pada harta, melainkan kerendahan hati mendalam yang memuncak pada sikap penyerahan total kepada Allah. Orang-orang demikian akan diberikan karunia Kerajaan Allah.

Orang miskin dalam konteks ini adalah klien/sahabat Allah dan dibela oleh para nabi. Mereka dipilih Allah sebagai pewaris keselamatan. Ketika Yesus mengucapkan, “Berbahagialah orang miskin,” Dia sesungguhnya berkata, “Berbahagialah para klien Allah, yaitu orang-orang yang berkekurangan dalam segala hal, namun tidak berkekurangan Allah.” Allah berpihak kepada mereka bukan karena status mereka yang miskin, bukan juga karena penderitaan akibat kemalangan yang menimpa mereka setiap hari, melainkan pilihan hati mereka yang bebas dan utuh, yaitu Allah sendiri.

o   Orang miskin yang berbahagia bukan hanya kaum hina dina, melainkan juga orang kaya raya. Orang miskin seperti yang dimasudkan Yesus adalah orang yang miskin dalam Roh.

o   Orang yang miskin dalam Roh adalah orang-orang miskin papa dan orang kaya yang tidak terikat pada harta/kekayaan dan dengan kerendahan hati yang mendalam menyerahkan diri secara total kepada Allah, mengandalkan Allah dan berpasrah kepada-Nya.

Ini berarti bahwa unsur utama yang ditekankan Yesus bukan hanya ketidakterikatan pada harta, melainkan kerendahan hati mendalam yang memuncak pada sikap penyerahan total kepada Allah dengan ketulusan untuk melayani sesama, seperti yang dilakukan oleh Tom Dooley. Orang-orang demikian akan diberikan karunia Kerajaan Allah.

Apakah kita juga termasuk dalam kawanan orang miskin yang berbahagia karena dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati menyerahkan diri seutuhkan kepada Allah; mengandalkan Allah dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah dengan dan dalam ketulusan melayani Allah dalam diri sesama yang membutuhkan?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 



Minggu, Pekan Biasa III

Tahun A

“Kerajaan Surga Sudah Dekat”

Yesaya 8:23b-9:3

Mazmur 27:1.4.13.14

1 Korintus 1:10-13.17

Matius 4:12-23


“Sejak itu, Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah. Sebab Kerajaan Surga sududah dekat”

(Matius 4”17)

Kehidupan Kekal

Orang Bijak Berkata:

o   Allah tidak akan pernah menciptakan ikan sebelum Dia menciptakan lautan, tempat bagi ikan untuk berenang.

o   Allah tidak akan pernah menciptakan burung, sebelum Dia menciptakan angkasa yang luas, tempat bagi burung untuk terbang.

o   Dan Allah tidak akan pernah menciptakan kehidupan kekal dalam jiwa manusia sebelum Dia menciptakan Kemuliaan Surgawi baginya.

**********************************

Setelah mendengar berita mengenai penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memilih Kapernaum sebagai kota pewartaan-Nya. Berkat keputusan-Nya ini, tergenapilah nubuat Nabi yang sejak dahulu menghibur para penduduk daerah Kapernaum, walaupun mereka tidak pernah dianggap suci oleh penduduk Yerusalem.

Yesus mulai berkarya sebagai Pewarta Kabar Baik kepada warga Kapernaum. Dia memaklumkan kedatangan Hari Tuhan yang sebelumnya dikotbahkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus berkata tegas, “Bertobatlah.” Dengan seruan tegas ini, Yesus sejatinya berkata, “Arahkan dirimu, pikiran dan hatimu kepada Cahaya. Bukalah matamu, sebab inilah syarat utama untuk memasuki kehidupan baru.

Bertobat searti dengan mengubah cara berpikir karena sadar dan beriman bahwa Allah sungguh-sungguh berbeda dari apa yang dipikirkan atau dibayangkan oleh manusia tentang Dia. Allah yang benar adalah Allah yang selalu mengarahkan pikiran dan hati-Nya kepada manusia. Karena itu, Allah menjadi manusia: Dia Ada, Hadir dan Bertindak demi kehidupan dan keselamatan manusia. Allah datang untuk mencari manusia dan tinggal diantara manusia. Allah serentak mencari dan menunggu, apakah kita, umat manusia bersedia menjumpai-Nya?

Yesus juga berseru dengan suara tegas, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Kini Allah Ada dan Hadir di bumi. Allah tinggal di antara dan bersama, kita, manusia, ciptaan-Nya: Allah itu Ada, Hadir dan Tinggal di bumi searti dengan Allah Meraja di Bumi. Di saat Allah itu Ada, Hadir, Tinggal dan Meraja di bumi, maka bumi dan semua penghuninya, terutama manusia mengalami kemerdekaan, sebab dalam Kerajaan Surga, yaitu Kerajaan Allah, Sang Bapa mengasihi semua manusia sebagai anak-Nya sendiri tanpa batas.

Dalam kata-kata pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Surga terkandung Kebahagiaan Kekal. Mengapa? Kerajaan Surga, Kerajaan Bapa adalah Kerajaan Kehidupan yang dipimpin oleh Allah sendiri. Allah memimpin kehidupan manusia dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan demi terciptanya keselamatan dan kedamaian bagi manusia. Allah tidak memimpin manusia dengan tangan besi, tetapi dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan-Nya yang merangkul semua manusia, ciptaan-Nya, tanpa pandang buluh. Daya cinta Allah sangat radikal karena menembus batas yang tidak bisa dilampaui manusia, yaitu mencintai para musuh; mencintai dan merangkul kembali kita, anak-anak-Nya yang selalu mengingkari kebesaran cinta-Nya, bahkan memusuhi-Nya.

Tahkta Allah, Pemimpin Kehidupan kita adalah Hati kita, Manusia Ciptaan-Nya. Apabila kita memberikan tempat di hati kita sebagai Tahkta bagi-Nya untuk berkuasa, memimpin kehidupan kita dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan, sejatinya, saat ini, kita sudah mengalami keselamatan dan kebahagiaan kekal. Hidup yang dipimpin Allah berarti menjadikan Allah sebagai Pusat dan Sumber Kehidupan. Hidup yang dipimpin Allah adalah hidup di alam Keselamatan bersama-Nya dalam Kemuliaan-Nya.

Keselamatan dan kebahagiaan kekal, kita alami saat ini, ketika kita mengikuti dan menghidupi seruan Yesus di awal penampilan-Nya di hadapan umum, yaitu: pertama, bertobat: Tidak menjadikan diri dan kehidupan kehidupan kita sebagai pusat, tetapi Allah, Sang Pencipta, Penyelenggara, Pembaharu dan Penyelamat kita; kedua, membiarkan Allah bertakhta dan meraja di hati kita serta memimpin diri dan kehidupan kita; ketiga, apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah, setia mendengarkan Sabda-Nya, taat dan tulus melakukan pekerjaan-Nya, maka hidup kita sungguh-sungguh dipimpin-Nya. Pada saat ini juga, kita sudah mengalami kehidupan kekal.

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita sungguh-sungguh bertobat, memberikan tempat di hati kita bagi Allah untuk bertakhta serta membiarkan diri dan kehidupan kita dipimpin oleh Allah?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 




Minggu Biasa II

18 Januari 2026

Yesus, Anak Domba Allah

Yesaya 49:3,5-6

Mazmur 40:2, 4ab, 7-8a,8b-9,10

1 Korintus 1:1-3

Yohanes 1,29-34

************************

 

Pada bulan April 1865, Jenazah Presiden Abraham Lincoln yang terbunuh dibaringkan selama beberapa jam di Cleveland, Ohio. Jenasah Sang Presiden sedang dalam perjalanan dari Washintong D. C. ke Springfield, Illinois, tempat pemakamannya.

Dalam deretan panjang para pelayat, ada seorang wanita kulit hitam bersama bocah lelakinya yang masih kecil. Ketika keduanya tiba di depan jenazah Sang Presiden, wanita kulit hitam itu mengangkat putranya seraya berkata dengan suara serak, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela mati untukmu.”

Adalah benar perkataan wanita kulit hitam bahwa Presiden Abraham Lincoln rela mati untuk anaknya dan untuk semua warga Amerika yang berkulit hitam. Sesungguhnya, Abraham Lincoln adalah Pahlawan dalam Kehidupan Nyata yang sangat berbeda dengan para pahlawan lainnya, seperti perawat, guru, dll. Mereka juga menyelamat manusia: anak-anak yang diperlakukan secara kasar, remaja yang melarikan diri, penduduk lanjut usia yang dieksploitasi. Akan tetapi, mereka lakukan tanpa pengorbanan diri yang tinggi.

Abraham Lincoln, Pahlawan Kehidupan Nyata memiliki kisah yang berbeda. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa berperang melawan kejahatan menuntut kerelaan untuk menderita, bahkan menuntut pengobanan dan kehilangan nyawa. Akan tetapi, penderitaan dan pengorbanan Yesus melampaui penderitaan dan pengorbanan Abraham Lincoln. Penderitaan dan pengorbanan Yesus adalah Penderitaan Hamba Yahwe, Anak Domba yang Dibawah ke Tempat Pembantaian demi keselamatan seluruh umat manusia, bukan untuk sekelompok manusia.

****************************

Pewahyuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dinyatakan tatkala Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus mendatangi-Nya, dia pun bernubuat: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”.

Kita patut bertanya, “Bukankah hal yang aneh kalau Yohanes Pembaptis dengan penuh kemeriahannya justru memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba, Sang Anak Domba Allah, Binatang Kecil yang Lemah Lembut?

Dalam arti tertentu, seruan Yohanes, “Lihatlah Anak Domba Allah” sejajar dengan jawaban penuh misteri atas pertanyaan Ishak, anak terkasih Abraham. Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi ayah dari banyak orang “lebih banyak daripada semua bintang-bintang di langit” (Kej 22,17).

Namun, Allah meminta kepadanya untuk mengorbankan anak yang dikasihinya itu. Keduanya bergegas ke gunung: Ishak membawa kayu, sedangkan Abraham membawa pisau dan api. Ishak berkata, “Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu? Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku” (Kej 22,7-8).

Jawabannya justru diberikan oleh Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Untuk memahami makna terdalam dari anak domba bagi kaum Yahudi, kita harus mengerti kisah Kitab Keluaran.

 

o   Darah anak domba justru menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan memungkinkan mereka berlangkah menuju alam kemerdekaan, ke Tanah Terjanji.

o   Dalam pesta Paskah, kaum Israel merayakan kemerdekaan ini dengan menyantap anak domba yang dibakar di atas perapian.

 

Nabi Yesaya berbicara mengenai “Hamba Yahwe yang Menderita;” dia disiksa karena dosa manusia dan demi keselamatan dan kedamaian manusia: “Ia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian... Ia tidak membuka mulutnya... Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yes 53,7.12).

Di hadapan kekuasaan dan kekuatan dasyat pasukan kekaisaran, berdirilah Anak Domba Allah. Apa yang dilakukan Anak Domba itu? Anak Domba Allah merobohkan tembok-tembok ketakutan, agresi, kekerasan dan dosa yang memenjarakan manusia dalam dirinya sendiri dan mendorong mereka untuk mencari kemuliaan dirinya sendiri. Dia akan menyebarkan dalam diri setiap manusia hidup yang baru, yaitu hidup yang menyatu dengan Allah, sesama dan dengan batin yang paling dalam sembari menyebarkan benih-benih demi perdamaian universal.

Dalam dunia kita saat ini, hidup beberapa nabi hebat seperti Yohanes Pembaptis. Mereka menyiapkan hati kita untuk menerima Yesus. Tetapi, kita harus ingat bahwa ketika Yesus datang,...

 

o   Dia tidak datang sebagai Anak Domba yang Penuh Kuasa, tetapi sebagai Anak Domba yang Lemah Lembut, Pilihan Allah yang Terkasih.

o   Dia datang dengan cara yang sangat sederhana, membuka hati kita bagi sesama dengan menghembuskan napas cinta, damai dan berkas cahaya yang tenang, dengan pelukan dan ciuman yang lembut.

o   Dia datang di kedalaman batin kita, ruang suci dalam batin kita, yaitu harta termulia yang kita miliki, yang tersembunyi di balik semua bentuk ketakutan, tembok-tembok dan kemarahan yang ada dalam diri kita agar kita bisa berkembang dalam Roh Kasih-Nya.

 

Dari dulu hingga saat ini, Yohanes pembaptis mengundang kita untuk peka terhadap suara dan kehadiran Yesus yang Lembut; dia mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dan terbuka untuk membangun persahabatan dengan-Nya. Kita dipanggil dan diundang untuk menjadi pengikut Sang Anak Domba yang Lebut, bukan menjadi penguasa.

Walaupun Yohanes mengenal Yesus sebagai Anak Domba, Sosok Yang dipilih Allah, dia tidak berhenti membaptis orang untuk bisa mengikuti Yesus. Dia terus membaptis dan mendesak mereka untuk menjadi murid-murid, Yesus, Anak Domba Allah. Sesungguhnya sangat wajar apabila dia mengirim semua muridnya kepada Yesus. Namun, kenyataannya dia, nabi terakhir justru melanjutkan perutusannya sebagai nabi Yahudi. Tindakannya ini memperlihatkan betapa pentingnya iman dan tindakan iman kita saat ini: menunjuk dan menuntun semua orang untuk berjumpa dan akhirnya mengimani Yesus, sebagai Anak Domba Allah..

Wanita kulit hitam dengan suara keras dan serak berani berkata, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela mati untukmu.” Yohanes Pembaptis dengan suara lantang berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang Menghapus Dosa Dunia. Apakah kita bersedia menunjuk dan menuntut orang-orang yang belum mengenal Yesus untuk berjumpa dengan-Nya, mengalami kasih-Nya melalui cara hidup, perkataan dan perbuatan kita yang sesuai dengan ajaran Yesus, Sang Anak Domba Allah sendiri?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget