Keuskupan Sibolga

Latest Post

 


Minggu Biasa IV

01 Februari 2026

Berbahagialah Orang Miskin

Matius 5,1-12

***************************

Tom Dooley sungguh-sungguh tanggap terhadap dunianya di tahun 1950-an. Setelah menamatkan Sekolah Kodekteran dan menyelesaikan Wajib Dinas Militer di Ankatan Laut, Dooley datang ke Asia untuk memberikan pelayanan medis kepada orang-orang miskin.

Pilihan Dooley ini sungguh mengejutkan dunia, mengingat Dooley  berasal dari keluarga kaya raya dan menikmati kehidupan yang menyenangkan. Mengomentari keputusan Dooley ini, Majalah Guideposts berkomentar:

Seandainya seseorang diperkenankan untuk dilahirkan sesuai dengan keinginannya, saya akui bahwa kelahiran saya sungguh-sungguh diinginkan. Hidup yang menyenangkan datang dengan mudahnya dalam keluarga saya. Ada banyak utang yang tersedia; memiliki kuda sendiri; bersekolah di luar negeri, dan terlatih sehingga diangkat menjadi seorang pemain piano dalm sebuha Konser.

Walaupun demikian, keluarga Dooley sangat parktis dan sangat religius. Dooley senduiri pernah berkata, ‘Keluarga kami adalah keluarga yang rajin berdoa. Kami berdoa bersama di waktu pagi, pada saat bangun tidur di pagi hari; pada saat kami duduk bersama di meja makan; ketika selesai makan....’ Ketika kami hendak tidur dan banyak waktu di antara kejadian-kejadian itu.

Dooley juga berkata, “Keluarga kami rajin berdoa dan rajin membaca Kitab Suci. Sabda yang paling menyenangkan dan menyukakan hati saya adalah “Sabda Bahagia” dalam Kotbah di Bukit. Bagi saya, ‘Penyataan ‘Terberkati” berarti “bahagia.” Sabda inilah sejalan dengan keinginan dan harapan saya sebab dalam pernyataan Sabda ini ditemukan “Dasar/Landasan asar Hukum” yang menggerakan hati saya untuk meninggalkan semua keluarga dan semua harta duniawi yang kami miliki untuk melayani Orang Miskin di Asia demi kebahagiaan iman dan batin saya.

 

Berbahagialah (Makarios)

Dalam pandangan Yesus, orang miskin yang berbahagia....

o   Bukan hanya orang-orang yang tidak memiliki harta, para peminta, pengemis, bertubuh kurus, pucat dan lemah sebab kekurangan gizi.

o   Bukan hanya orang yang tertindas, hina dan sengsara karena orang lain.

o   Bukan hanya orang-orang yang tidak bisa membuka mulut untuk membela diri dan menuntut hak pribadi.

o   Bukan orang-orang yang berkedudukan rendah, sial, sering dihina dan dipermainkan orang jahat.

o   Orang miskin yang berbahagia bukan hanya kaum hina dina, melainkan juga orang kaya raya.

Mengapa?

Semua manusia adalah ciptaan Allah yang tergantung sepenuhnya kepada-Nya. Karena itu, ketika Yesus berkata “berbahagialah orang miskin,” maksudnya:

o   Berbahagialah orang-orang yang penuh ketulusan dan kerendahan hati menyerahkan diri seutuhkan kepada Allah.

o   Berbahagialah orang-orang yang mengandalkan Allah dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah.

Orang-orang yang mengandalkan Allah adalah orang-orang yang walaupun memiliki harta berlimpah, namun tidak terikat pada harta, tidak diikat oleh hartanya sehingga tidak membutuhkan Allah dan sesama.

Orang miskin seperti yang dimasudkan Yesus adalah orang yang miskin dalam Roh. Orang yang miskin dalam Roh adalah orang-orang miskin papa dan orang kaya yang tidak terikat pada harta/kekayaan dan dengan kerendahan hati yang mendalam menyerahkan diri secara total kepada Allah, mengandalkan Allah dan berpasrah kepada-Nya. Ini berarti unsur utama yang ditekankan Yesus bukan hanya ketidakterikatan pada harta, melainkan kerendahan hati mendalam yang memuncak pada sikap penyerahan total kepada Allah. Orang-orang demikian akan diberikan karunia Kerajaan Allah.

Orang miskin dalam konteks ini adalah klien/sahabat Allah dan dibela oleh para nabi. Mereka dipilih Allah sebagai pewaris keselamatan. Ketika Yesus mengucapkan, “Berbahagialah orang miskin,” Dia sesungguhnya berkata, “Berbahagialah para klien Allah, yaitu orang-orang yang berkekurangan dalam segala hal, namun tidak berkekurangan Allah.” Allah berpihak kepada mereka bukan karena status mereka yang miskin, bukan juga karena penderitaan akibat kemalangan yang menimpa mereka setiap hari, melainkan pilihan hati mereka yang bebas dan utuh, yaitu Allah sendiri.

o   Orang miskin yang berbahagia bukan hanya kaum hina dina, melainkan juga orang kaya raya. Orang miskin seperti yang dimasudkan Yesus adalah orang yang miskin dalam Roh.

o   Orang yang miskin dalam Roh adalah orang-orang miskin papa dan orang kaya yang tidak terikat pada harta/kekayaan dan dengan kerendahan hati yang mendalam menyerahkan diri secara total kepada Allah, mengandalkan Allah dan berpasrah kepada-Nya.

Ini berarti bahwa unsur utama yang ditekankan Yesus bukan hanya ketidakterikatan pada harta, melainkan kerendahan hati mendalam yang memuncak pada sikap penyerahan total kepada Allah dengan ketulusan untuk melayani sesama, seperti yang dilakukan oleh Tom Dooley. Orang-orang demikian akan diberikan karunia Kerajaan Allah.

Apakah kita juga termasuk dalam kawanan orang miskin yang berbahagia karena dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati menyerahkan diri seutuhkan kepada Allah; mengandalkan Allah dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah dengan dan dalam ketulusan melayani Allah dalam diri sesama yang membutuhkan?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 



Minggu, Pekan Biasa III

Tahun A

“Kerajaan Surga Sudah Dekat”

Yesaya 8:23b-9:3

Mazmur 27:1.4.13.14

1 Korintus 1:10-13.17

Matius 4:12-23


“Sejak itu, Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah. Sebab Kerajaan Surga sududah dekat”

(Matius 4”17)

Kehidupan Kekal

Orang Bijak Berkata:

o   Allah tidak akan pernah menciptakan ikan sebelum Dia menciptakan lautan, tempat bagi ikan untuk berenang.

o   Allah tidak akan pernah menciptakan burung, sebelum Dia menciptakan angkasa yang luas, tempat bagi burung untuk terbang.

o   Dan Allah tidak akan pernah menciptakan kehidupan kekal dalam jiwa manusia sebelum Dia menciptakan Kemuliaan Surgawi baginya.

**********************************

Setelah mendengar berita mengenai penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memilih Kapernaum sebagai kota pewartaan-Nya. Berkat keputusan-Nya ini, tergenapilah nubuat Nabi yang sejak dahulu menghibur para penduduk daerah Kapernaum, walaupun mereka tidak pernah dianggap suci oleh penduduk Yerusalem.

Yesus mulai berkarya sebagai Pewarta Kabar Baik kepada warga Kapernaum. Dia memaklumkan kedatangan Hari Tuhan yang sebelumnya dikotbahkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus berkata tegas, “Bertobatlah.” Dengan seruan tegas ini, Yesus sejatinya berkata, “Arahkan dirimu, pikiran dan hatimu kepada Cahaya. Bukalah matamu, sebab inilah syarat utama untuk memasuki kehidupan baru.

Bertobat searti dengan mengubah cara berpikir karena sadar dan beriman bahwa Allah sungguh-sungguh berbeda dari apa yang dipikirkan atau dibayangkan oleh manusia tentang Dia. Allah yang benar adalah Allah yang selalu mengarahkan pikiran dan hati-Nya kepada manusia. Karena itu, Allah menjadi manusia: Dia Ada, Hadir dan Bertindak demi kehidupan dan keselamatan manusia. Allah datang untuk mencari manusia dan tinggal diantara manusia. Allah serentak mencari dan menunggu, apakah kita, umat manusia bersedia menjumpai-Nya?

Yesus juga berseru dengan suara tegas, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Kini Allah Ada dan Hadir di bumi. Allah tinggal di antara dan bersama, kita, manusia, ciptaan-Nya: Allah itu Ada, Hadir dan Tinggal di bumi searti dengan Allah Meraja di Bumi. Di saat Allah itu Ada, Hadir, Tinggal dan Meraja di bumi, maka bumi dan semua penghuninya, terutama manusia mengalami kemerdekaan, sebab dalam Kerajaan Surga, yaitu Kerajaan Allah, Sang Bapa mengasihi semua manusia sebagai anak-Nya sendiri tanpa batas.

Dalam kata-kata pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Surga terkandung Kebahagiaan Kekal. Mengapa? Kerajaan Surga, Kerajaan Bapa adalah Kerajaan Kehidupan yang dipimpin oleh Allah sendiri. Allah memimpin kehidupan manusia dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan demi terciptanya keselamatan dan kedamaian bagi manusia. Allah tidak memimpin manusia dengan tangan besi, tetapi dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan-Nya yang merangkul semua manusia, ciptaan-Nya, tanpa pandang buluh. Daya cinta Allah sangat radikal karena menembus batas yang tidak bisa dilampaui manusia, yaitu mencintai para musuh; mencintai dan merangkul kembali kita, anak-anak-Nya yang selalu mengingkari kebesaran cinta-Nya, bahkan memusuhi-Nya.

Tahkta Allah, Pemimpin Kehidupan kita adalah Hati kita, Manusia Ciptaan-Nya. Apabila kita memberikan tempat di hati kita sebagai Tahkta bagi-Nya untuk berkuasa, memimpin kehidupan kita dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan, sejatinya, saat ini, kita sudah mengalami keselamatan dan kebahagiaan kekal. Hidup yang dipimpin Allah berarti menjadikan Allah sebagai Pusat dan Sumber Kehidupan. Hidup yang dipimpin Allah adalah hidup di alam Keselamatan bersama-Nya dalam Kemuliaan-Nya.

Keselamatan dan kebahagiaan kekal, kita alami saat ini, ketika kita mengikuti dan menghidupi seruan Yesus di awal penampilan-Nya di hadapan umum, yaitu: pertama, bertobat: Tidak menjadikan diri dan kehidupan kehidupan kita sebagai pusat, tetapi Allah, Sang Pencipta, Penyelenggara, Pembaharu dan Penyelamat kita; kedua, membiarkan Allah bertakhta dan meraja di hati kita serta memimpin diri dan kehidupan kita; ketiga, apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah, setia mendengarkan Sabda-Nya, taat dan tulus melakukan pekerjaan-Nya, maka hidup kita sungguh-sungguh dipimpin-Nya. Pada saat ini juga, kita sudah mengalami kehidupan kekal.

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita sungguh-sungguh bertobat, memberikan tempat di hati kita bagi Allah untuk bertakhta serta membiarkan diri dan kehidupan kita dipimpin oleh Allah?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 




Minggu Biasa II

18 Januari 2026

Yesus, Anak Domba Allah

Yesaya 49:3,5-6

Mazmur 40:2, 4ab, 7-8a,8b-9,10

1 Korintus 1:1-3

Yohanes 1,29-34

************************

 

Pada bulan April 1865, Jenazah Presiden Abraham Lincoln yang terbunuh dibaringkan selama beberapa jam di Cleveland, Ohio. Jenasah Sang Presiden sedang dalam perjalanan dari Washintong D. C. ke Springfield, Illinois, tempat pemakamannya.

Dalam deretan panjang para pelayat, ada seorang wanita kulit hitam bersama bocah lelakinya yang masih kecil. Ketika keduanya tiba di depan jenazah Sang Presiden, wanita kulit hitam itu mengangkat putranya seraya berkata dengan suara serak, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela mati untukmu.”

Adalah benar perkataan wanita kulit hitam bahwa Presiden Abraham Lincoln rela mati untuk anaknya dan untuk semua warga Amerika yang berkulit hitam. Sesungguhnya, Abraham Lincoln adalah Pahlawan dalam Kehidupan Nyata yang sangat berbeda dengan para pahlawan lainnya, seperti perawat, guru, dll. Mereka juga menyelamat manusia: anak-anak yang diperlakukan secara kasar, remaja yang melarikan diri, penduduk lanjut usia yang dieksploitasi. Akan tetapi, mereka lakukan tanpa pengorbanan diri yang tinggi.

Abraham Lincoln, Pahlawan Kehidupan Nyata memiliki kisah yang berbeda. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa berperang melawan kejahatan menuntut kerelaan untuk menderita, bahkan menuntut pengobanan dan kehilangan nyawa. Akan tetapi, penderitaan dan pengorbanan Yesus melampaui penderitaan dan pengorbanan Abraham Lincoln. Penderitaan dan pengorbanan Yesus adalah Penderitaan Hamba Yahwe, Anak Domba yang Dibawah ke Tempat Pembantaian demi keselamatan seluruh umat manusia, bukan untuk sekelompok manusia.

****************************

Pewahyuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dinyatakan tatkala Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus mendatangi-Nya, dia pun bernubuat: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”.

Kita patut bertanya, “Bukankah hal yang aneh kalau Yohanes Pembaptis dengan penuh kemeriahannya justru memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba, Sang Anak Domba Allah, Binatang Kecil yang Lemah Lembut?

Dalam arti tertentu, seruan Yohanes, “Lihatlah Anak Domba Allah” sejajar dengan jawaban penuh misteri atas pertanyaan Ishak, anak terkasih Abraham. Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi ayah dari banyak orang “lebih banyak daripada semua bintang-bintang di langit” (Kej 22,17).

Namun, Allah meminta kepadanya untuk mengorbankan anak yang dikasihinya itu. Keduanya bergegas ke gunung: Ishak membawa kayu, sedangkan Abraham membawa pisau dan api. Ishak berkata, “Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu? Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku” (Kej 22,7-8).

Jawabannya justru diberikan oleh Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Untuk memahami makna terdalam dari anak domba bagi kaum Yahudi, kita harus mengerti kisah Kitab Keluaran.

 

o   Darah anak domba justru menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan memungkinkan mereka berlangkah menuju alam kemerdekaan, ke Tanah Terjanji.

o   Dalam pesta Paskah, kaum Israel merayakan kemerdekaan ini dengan menyantap anak domba yang dibakar di atas perapian.

 

Nabi Yesaya berbicara mengenai “Hamba Yahwe yang Menderita;” dia disiksa karena dosa manusia dan demi keselamatan dan kedamaian manusia: “Ia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian... Ia tidak membuka mulutnya... Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yes 53,7.12).

Di hadapan kekuasaan dan kekuatan dasyat pasukan kekaisaran, berdirilah Anak Domba Allah. Apa yang dilakukan Anak Domba itu? Anak Domba Allah merobohkan tembok-tembok ketakutan, agresi, kekerasan dan dosa yang memenjarakan manusia dalam dirinya sendiri dan mendorong mereka untuk mencari kemuliaan dirinya sendiri. Dia akan menyebarkan dalam diri setiap manusia hidup yang baru, yaitu hidup yang menyatu dengan Allah, sesama dan dengan batin yang paling dalam sembari menyebarkan benih-benih demi perdamaian universal.

Dalam dunia kita saat ini, hidup beberapa nabi hebat seperti Yohanes Pembaptis. Mereka menyiapkan hati kita untuk menerima Yesus. Tetapi, kita harus ingat bahwa ketika Yesus datang,...

 

o   Dia tidak datang sebagai Anak Domba yang Penuh Kuasa, tetapi sebagai Anak Domba yang Lemah Lembut, Pilihan Allah yang Terkasih.

o   Dia datang dengan cara yang sangat sederhana, membuka hati kita bagi sesama dengan menghembuskan napas cinta, damai dan berkas cahaya yang tenang, dengan pelukan dan ciuman yang lembut.

o   Dia datang di kedalaman batin kita, ruang suci dalam batin kita, yaitu harta termulia yang kita miliki, yang tersembunyi di balik semua bentuk ketakutan, tembok-tembok dan kemarahan yang ada dalam diri kita agar kita bisa berkembang dalam Roh Kasih-Nya.

 

Dari dulu hingga saat ini, Yohanes pembaptis mengundang kita untuk peka terhadap suara dan kehadiran Yesus yang Lembut; dia mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dan terbuka untuk membangun persahabatan dengan-Nya. Kita dipanggil dan diundang untuk menjadi pengikut Sang Anak Domba yang Lebut, bukan menjadi penguasa.

Walaupun Yohanes mengenal Yesus sebagai Anak Domba, Sosok Yang dipilih Allah, dia tidak berhenti membaptis orang untuk bisa mengikuti Yesus. Dia terus membaptis dan mendesak mereka untuk menjadi murid-murid, Yesus, Anak Domba Allah. Sesungguhnya sangat wajar apabila dia mengirim semua muridnya kepada Yesus. Namun, kenyataannya dia, nabi terakhir justru melanjutkan perutusannya sebagai nabi Yahudi. Tindakannya ini memperlihatkan betapa pentingnya iman dan tindakan iman kita saat ini: menunjuk dan menuntun semua orang untuk berjumpa dan akhirnya mengimani Yesus, sebagai Anak Domba Allah..

Wanita kulit hitam dengan suara keras dan serak berani berkata, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela mati untukmu.” Yohanes Pembaptis dengan suara lantang berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang Menghapus Dosa Dunia. Apakah kita bersedia menunjuk dan menuntut orang-orang yang belum mengenal Yesus untuk berjumpa dengan-Nya, mengalami kasih-Nya melalui cara hidup, perkataan dan perbuatan kita yang sesuai dengan ajaran Yesus, Sang Anak Domba Allah sendiri?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 




Pesta Pembaptisan Tuhan

“Baptis: Cinta dan Pengampunan”

Yesaya 42:1-4.6.7

Mazmur 29:1a.2.3ac-4,3b,9b-10

Kisah para Rasul 10:34-38

Matius 3:13-17

*****************************

Minggu, 11 Januari 2026

“Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencoba mencegah Dia, katanya, ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku”

(Matius 3:13-14)

 

Pastor Paul Belliveau adalah seorang Imam Misionaris dari Flushing, New York. Dia berkarya di sebuah Paroki Perkampungan, Honduras, tempat tinggal para pengungsi. Di paroki ini tertampung lebih dari sepuluh ribu pengungsi dari El-Salvador.

Pada suatu hari, tentara El-Salvador mengempung perkambungan pengungsi ini. Mereka memperlakukan warga perkampungan tersebut seperti sebuah penjara.

Pada hari Minggu, Pastor Paul memberikan homilinya dengan menggunakan bahasa kebencian dengan menekankan tiga kata kunci: tuduhan, kutukan dan pembasmian. Dia memperlihatkan bahwa baik pemberontak maupun tentara El-Salvador menggunakan kata-kata tersebut dalam program radio mereka.

Pastor Paul menyimpulkan isi homilinya dengan kalimat ini: Yesus menolak untuk terlibat dalam permainan ini. Yesus justru menggunakan bahasa Cinta, yaitu pengampunan di tengah-tengah kebencian.” Hati semua orang Katolik yang mendengar kesimpulan himili Pastor Paul, baik dari pihak pemberontak/pengungsi maupun tentara El-Salvador menjadi sedih.

Seusai misa, seorang pemuda Katolik merebut mikrofon dan berterian, “Pastor Paul berkata bahwa kita semua harus mencintai dan mengampuni, tetapi itu semua omong kosong.” Orang Katolik lain juga berteriak dalam mikrofon yang sama, “Pastor Paul tidak memahami situasi kita... Kita harus melawan kebencian dengan kebencian, bukan dengan cinta dan pengampunan.”

 

Membenamkan Diri:

Dibaptis dengan Kenyataan Hidup Manusia yang Berdosa

Yesus mengawali karya Mesianik-Nya di tempat Yohanes Pembaptis membaptis semua orang yang datang kepadanya. Sebelum dibaptis, mereka mengaku dosa mereka. Namun, Yesus yang tidak berdosa, juga datang kepadanya untuk dibaptis. Untuk apa? Yesus yang tidak berdosa memberikan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis sebagai penyataan Cinta-Nya yang mendalam dengan menyatukan diri-Nya dengan semua manusia pendosa; Penyataan Kesediaan-Nya untuk dibaptis dengan kenyataan hidup manusia yang berdosa serta Penyataan Kesetiaan dan Kerelaan-Nya untuk menanggung semua dosa kita, umat manusia.

Dalam peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan, Yesus memberikan diri-Nya dibaptis dengan membenamkan diri-Nya; Dia masuk ke dalam sungai Yordan, tempat pembuangan semua kesalahan dan dosa manusia. Semua orang yang sudah dibaptis keluar dari air Yordan dalam keadaan bersih karena:

Pertama, Yesus yang tidak berdosa menceburkan/membenamkan diri-Nya ke dalam air Yordan yang kotor serta membiarkan diri-Nya dibaptis dengan kesalahan dan dosa semua umat manusia.

Kedua, Yesus membiarkan diri-Nya dibaptis dengan kesalahan dan dosa kita, umat manusia agar Dia bisa mengangkat dan membersikan semua kesalahan dan dosa kita, sehingga kita yang sudah dibaptis dan dibersihkan menemukan jalan untuk kembali kepada Bapa yang selalu dan setia menantikan kedatangan anak-anak-Nya.

Ketiga, Yesus membiarkan diri-Nya dibaptis dengan semua kesalahan dan dosa kita sebagai penyataan penyatuan diri-Nya yang utuh dan mendalam dengan kita, semua manusia yang berdosa. Rasul Paulus berkata, “Dia yang tidak berdosa membiarkan diri-Nya berdosa agar Dia bisa menyelamatkan kita, manusia yang penuh dosa.”

 

Baptisan: Cinta dan Pengampunan...

Peristiwa pembaptisan Yesus adalah peristiwa yang sangat istimewa. Dalam peristiwa pembaptisan-Nya di sungai Yordan, Yesus menyatakan Wajah Allah, Bapa-Nya yang sesungguhnya, yaitu Bapa yang Maha Cinta, Maha Rahim, Maha Belas Kasih dan Maha Pengampun.

Dalam kekuatan dan keagungan cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya, Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya mengampuni semua kesalahan dan dosa kita. Allah membebaskan kita semua yang bersalah dari hukuman yang menyudutkan dan mengucilkan kita dari rangkulan cinta-Nya serta menuntun kita untuk menyerahkan dan memercayakan seluruh diri kita kepada kehendak Allah. Allah mengampuni kita bukan karena jasa kita, melainkan semata-mata karena kedalaman cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya kepada kita.

Sebagai pribadi yang dibaptis, kita sudah dibersihkan dan diampuni. Kita menjadi milik Allah dan Gereja, Tubuh Mistik-Nya. Berkat kekuatan rahmat yang ditanamkan Allah pada saat kita diciptakan dan dibaptis, kita sejatinya adalah pribadi/insan pencinta dan pengampun. Kodrat kita, ciptaan yang terbaptis sebagai insan pencinta dan pengampun bersumber dari atau lahir dari inti iman kita akan cinta, kerahiman dan belas kasih Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus: Dia, Sang Cinta sudah menanamkan cinta dan lebih dahulu mencintai dan mengampuni kita.

Sebagai insan pencinta dan pengampun, kita harus yakin bahwa dalam cinta, ada pengampunan. Di setiap pengampunan, wajah Allah, Sang Cinta yang penuh kerahiman dan belas kasih dinyatakan kepada sesama dalam dan melalui wajah kita: perkataan dan perbuatan kita. Pada tahapan ini, kita, pribadi yang dibaptis dituntut untuk selalu sadar dan beriman bahwa cinta dan pengampunan adalah hakikat Allah sebagai Bapa yang Maharahim dan Mahakasih dan hakikat diri kita sebagai manusia, ciptaan Allah serta pribadi yang dibaptis.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa cinta, kerahiman, belas kasih, kemurahan hati dan pengampunan merupakan kebutuhan mendesak di zaman ini. Manusia yang dikuasai oleh nafsu duniawi semakin menjauhkan diri dari kehidupan yang dikehendaki Allah: manusia dikuasai oleh kecurigaan, persaingan, kebencian dan balas dendam. Dunia harus menemukan wajah Allah yang penuh cinta, kerahiman dan belas kasih dalam diri kita, pribadi yang dibaptis agar pikiran dan hati mereka dibentuk untuk hidup dalam cinta kasih dan pengampunan. Mengampuni merupakan keputusan aktif untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan Allah dalam diri sesama. Kita semua, pribadi-pribadi yang dibaptis harus memiliki keutamaan dan kerelaan untuk mencintai dan mengampuni tanpa syarat dan tanpa batas. Kita hanya diselamatkan oleh cinta dan pengampunan. Semua manusia membutuhkan cinta kasih yang mengampuni tanpa syarat.

Cinta, kerahiman dan belas kasih Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus jauh lebih besar dari semua kesalahan dan dosa kita. Hati-Nya adalah Cinta-Nya, yaitu Cinta yang penuhi kerahiman dan kasih sayang. Dengan kekuatan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya, Allah memulihkan kembali relasi kita dengan-Nya yang rusak karena kesalahan dan dosa kita agar kita menjadi baik dan sempurna. Belas kasih Allah mengatasi semua dendam dan kemurkaan. Allah adalah Bapa yang mencintai anak-anak-Nya tanpa syarat dan selalu memberikan hati-Nya untuk menyelamatkan kita, kendatipun kita tidak setia. Karena itu, para pemazmur menyerukan madah: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (bdk. Mzm 103:8, 145:8)”

Paus Fransiskus menegaskan bahwa sikap cinta dan pengampunan akan membawa perubahan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang menerima pengampunan.  Cinta, belas kasih, kerahiman dan pengampunan akan membangkitkan sukacita. Pengampunan membuat hati terbuka pada harapan akan hidup baru untuk berubah. Sukacita pengampunan tidak terungkapkan, tetapi selalu menaungi hidup manusia serta tidak terbatas oleh waktu, keadaan, dan tempat. Sumbernya adalah cinta, belas kasih dan kerahimam Allah yang datang menjumpai dan menyatukan diri-Nya dengan manusia untuk meruntuhkan tembok egoisme yang mengelilingi manusia, agar pada gilirannya, manusia menjadi sebagai sarana belas kasih.

Pengampunan sangat berarti bagi manusia yang dikuasai oleh dosa. Kesadaran akan keberdosaan diri, membuat manusia jatuh dalam kesedihan. Karena itu, kata-kata kuno yang mendorong jemaat perdana untuk senatiasa bersyukur harus senantiasa direnungkan:

Kenakan dirimu dengan sukacita cinta dan pengampunan karena selalu direstui dan diterima Allah. Bergembiralah dalam sukacita cinta dan pengampunan itu. Setiap orang yang bersukacita dalam cinta dan pengampunan melakukan apa yang baik, memikirkan apa yang baik, dan memandang rendah kesedihan. Semua orang yang mengesampingkan kesedihan dan mengenakan sukacita cinta dan pengampunan akan hidup dalam Allah.”

 

Apakah kita, kaum terbaptis sadar dan beriman bahwa sukacita akan memenuhi hati kita apabila dengan kekuatan cinta, kita rela dan tulus mengampuni sesama? Inilah kodrat dan nilai hidup tertinggi dan termulai dari kita, pribadi yang dibaptis: menjadi insan pencinta dan pengampun....

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr





    Kerendahan hati iman adalah sikap batin yang mengakui ketergantungan total pada Tuhan, menyadari keterbatasan diri, dan tunduk pada kehendak-Nya, bukan sekadar tidak sombong atau sederhana. Sikap ini melibatkan penyerahan diri, tidak mengandalkan kekuatan sendiri, dan sungguh memprioritaskan Tuhan di atas ambisi pribadi, seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri dan melayani. Sikap ini adalah fondasi atau dasar iman yang kuat, memungkinkan kita menerima kasih karunia dan perlindungan ilahi. 

Ciri-ciri Kerendahan Hati Iman Kristiani:

  • Menyadari Keterbatasan: Mengakui bahwa segala kemampuan berasal dari Tuhan dan manusia itu terbatas.
  • Tunduk pada Kehendak Tuhan: Menerima kedaulatan-Nya dan taat pada perintah-Nya, seperti dalam doa dan hidup sehari-hari.
  • Tidak Sombong : Menghindari keangkuhan dan sikap merasa lebih dari orang lain, bahkan dalam keberhasilan.
  • Bergantung Penuh: Menggantungkan diri sepenuhnya pada kekuatan Tuhan, bukan kekuatan sendiri, terutama saat menghadapi kesulitan.
  • Melayani Sesama: Mengambil teladan Kristus dengan merendahkan diri untuk melayani, bukan meninggikan diri. 

Hubungan dengan Iman:

  1. Fondasi Iman: Kerendahan hati memungkinkan iman yang jujur dan penyerahan diri yang penuh kepada Tuhan.
  2. Menerima Kasih Karunia: Orang yang rendah hati lebih mudah menerima kasih karunia dan bimbingan ilahi. Perumpamaan pemungut cukai yang berdoa dengan rendah hati (Lukas 18:9-14) menunjukkan bahwa ia pulang dalam keadaan dibenarkan, bukan orang Farisi yang sombong. 

    Sikap ini menghasilkan kesalehan, rasa aman, dan kepuasan. Mendatangkan kehormatan dari Tuhan, karena Tuhan menentang yang sombong tetapi mengasihani yang rendah hati.

 



Hari Raya Penampakan Tuhan

“Di Betlehem”

Matius 2:1-12

Minggu, 4 Januari 2026

“Dan engkau Betlehem... Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil;... dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku”

(Matius 2:5-6)

******************************

 

Pada suatu malam yang terang, seorang putri kecil bermain petak umpet bersama anak-anak sekampunya. Karena alasan yang sungguh-sungguh tidak diketahui, anak-anak sekampung berhenti bermain, sementara putri kecil ini masih bersembunyi. Putri kecil ini mulai menangis.

Kakeknya yang sudah tua keluar dari rumah mereka untuk mencari tahu, apa yang membuat cucunya menangis. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Sang Kakek berkata kepada cucunya:

“Cucuku, janganlah menangis karena anak-anak itu tidak datang mencari dan menemukanmu. Sebaiknya, kamu belajar dari kekecewaanmu malam ini: kehidupan ini diibaratkan dengan sebuah permainan antara Allah dan manusia. Kita, manusia selalu tidak jujur dalam permainan sehingga Allah selalu menangis. Kita tidak sadar bahwa Allah sudah datang untuk mencari kita. Setiap saat, Allah menunggu kita untuk menemukan-Nya, namun kita justru mencari-Nya di tempat yang lain sesuai dengan pikiran kita.”

 

Mengapa Betlehem?

Setelah dikejutkan oleh para Majus yang mencari Sang Raja Baru, Herodes memanggil semua Imam kepala dan ahli Taurat. Berdasarkan nubuat Kitab Suci, mereka pun mengetahui bahwa tempat kelahiran Sang Raja Baru adalah Betlehem. Akan tetapi, mereka sendiri tidak sudi bergerak menuju Betlehem untuk mencari dan menemukan-Nya. Mengapa?

Seperti Raja Herodes, para Imam dan ahli Taurat, mayoritas manusia di bumi ini mengetahui kebenaran, namun justru menjauhinya. Hati mereka tidak tergerak untuk mencari dan menemukan-Nya sebab mereka tidak menerima kalau “Sang Mesias lahir di tempat yang terpencil/kecil/udik.” Padahal inilah sifat Allah dan pilihan-Nya. Israel dipilih Allah sebab bangsa ini kecil di masa itu. Daud pun dipilih dan diurapi menjadi raja karena dialah yang terkecil dari semua saudaranya.

Betlehem adalah sebuah dusun kecil, sederhana dan tidak dikenal. Dusun ini terletak lebih kurang delapan kilometer, bagian Selatan Yerusalem. Betlehem tidak memiliki arti apa pun dan tidak sebanding dengan Yerusalem: ciri yang paling unik dari dusun kecil ini adalah kesunyian. Situasi ini sangat kontras dengan Yerusalem yang menjadi pusat Kerajaan Israel, pusat kegiatan politik, kebudayaan dan keagamaan. Yerusalem diwarnai dengan kesibukan, kebisingan dan persaingan.

Uniknya, kesunyian Betlehem justru digemahkan dan dimadahkan dalam Syair Natal. Betlehem digelari kota yang sunyi senyap, tenang dan tenteram. Bagi Mikha (Mikha 5, 1), Betlehem adalah “yang terkecil di tanah Yehuda”.

Penginjil Lukas menempatkan Betlehem dalam posisi yang kontras dengan Roma: Roma memperlihatkan kemegahan, keperkasaan, kemasyuran serta kekasaran. Semua kekuasaan dan kekuatan berada di tangan Kaisar, diatur dan dikendalikan seturut kemauannya. Betlehem menyingkapkan kelembutan, keluwesan, keserhanaan dan karya yang agung. Dari kesunyian, kelembutan, kelusan dan kesehanaan datang Sang Juru Selamat.

Walaupun Betlehem hanyalah sebuah dusun kecil, namun dari kekecilannya lahir sejumlah sosok terkenal dalam sejarah penyelamatan, terutama Boas yang memperisterikan Rut (Rut 2, 4), Isai, ayah Daud (Rut 4, 22; I Samuel 16, 1), anak-anak Zeruya: Yoab, Abisai dan Asael (II Samuel 2, 18-32), Daud (I Samuel 17, 12). Daud diurapi menjadi Raja di dusun kecil ini. Karena Daud, dusun kecil Betlehem ini disebut Kota Daud (I Samuel 20, 6; Lukas 2, 4-11).

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa satu tunas akan keluar dari tunggul Isai, yaitu dari Wangsa Daud (Yesaya 11, 1-10). Dalam nubuatnya, Mikha menyebutkan bahwa Betlehem akan menjadi tempat kelahiran Sang Mesias, pemimpin bangsa Israel (Mikha 5, 1), “Dan engkau hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit seorang yang akan memerintah Israel”.

Ketika Natal tiba, kita pasti membayangkan dan memikirkan Betlehem. Alam pikiran dan bayangan kita tertuju pada malam yang dingin, bintang yang bertaburan, penginapan yang penuh, penolakkan, padang, palungan, lembu-lembu dan para gembala yang berjaga.

Matheus berkisah bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, di tanah Yudea seturut nubuat Nabi Mikha. Lukas bercerita mengenai kedatangan Malaikat Tuhan. Dia datang memberitakan kabar suka cita, yaitu kelahiran Sang Juru Selamat kepada para gembala. Serombongan bala tentara Surgawi bernyanyi memuliakan Allah: kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Setelah para Malaikat meninggalkan mereka, para gembala berkata satu kepada yang lain: “Mari kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang dikatakan Malaikat Tuhan kepada kita”.

Ajakan para gembala ini serentak menjadi ajakan bagi kita dan semua orang yang berkenan kepada Allah: kita diajak untuk pergi ke Betlehem. Namun,...

 

o   Betlehem bukanlah tempat, melainkan suasana yang mendukung dan memotivasi kita untuk berkembang dalam iman dan semua aspeknya berkat perjumpaan dengan Sang Mesias;

o   Betlehem bukanlah pilihan, melainkan program hidup bagi kita dan semua orang pilihan Allah.

 

Apa yang Diharapkan dari Betlehem?

Pada Hari Raya Penampakkan Tuhan ini, kita diajak untuk pergi ke Betlehem, tempat Sang Juru Selamat dibaringkan. Apa artinya Betlehem bagi kita, orang-orang yang berkenan kepada Allah?

Pertama, di Betlehem kita akan menjumpai Sang Bayi Al masih yang berbaring lemah di palungan. Bayi itu adalah Iesu (Yesus: Allah yang menyelamatkan), Sang Juru Selamat, Kristus, Tuhan.

Dalam diri-Nya, janji Allah bagi manusia terpenuhi, “Hari ini telah lahir bagi Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud. Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan”.

Allah hadir dalam rupa Seorang Bayi, seorang Anak Kecil yang Lemah. Kita pasti bertanya, “Mengapa Allah tidak hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia? Apabila Tuhan hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia, Allah pasti mendapatkan tempat penginapan yang layak di kota Betlehem.

Jalan pikiran Allah berbeda dengan jalan pikiran manusia. Dengan memilih rupa Bayi yang Lemah, Allah ingin mengubah pandangan manusia yang terlalu mengagungkan dan mendewakan hal-hal duniawi serta mengabaikan hal-hal yang kecil, walaupun sangat berarti untuk kehidupan. Manusia sibuk memperjuangkan nama baik, pengaruh, kekayaan dan kekuasaan. Allah adalah urusan kecil yang sama sekali tidak menambah apa pun untuk kehidupan sehingga sering dilupakan. Manusia baru mengingat dan memberikan tempat kepada-Nya setelah menuntaskan urusan duniawi.

Kehadiran Allah dalam rupa Bayi yang Lemah ingin mengubah pandangan hidup manusia yang selalu meremehkan hal-hal yang kecil, walaupun sangat penting. Allah itu sangat penting, walaupun hadir dalam wujud “Orang Kecil”.

Allah mencintai segala sesuatu yang dipandang hina di mata manusia. Dia mencintai Bayi yang Lemah dan Tidak Berdaya; Dia mencintai orang-orang polos hatinya, palungan ternak dan para penjaga ternak. Dia tidak jijik dengan bauh busuk yang menyengat, dengan kebodohan dan kekotoran lahiriah, dengan orang-orang yang remehkan. Dia menghindari istana, kaum bangsawan dan orang-orang yang membuat dirinya agung. Dia mendatangi dan menjumpai orang-orag yang disisihkan dan dibuang dari pusat kehidupan karena dipandang tidak bermartabat.

 

Kedua, di Betlehem, kita diajak untuk mempercayakan segala sesuatu yang tidak berarti, yang kecil, yang kurang dipeduli, yang berada di luar perhitungan manusiawi kepada Allah, yang akan menuntun kita kepada suatu akhir yang dasyat, ke masa depan yang cerah. “Betlehem, Efrata” dapat dijumpai di mana-mana, terutama:

 

o   Di saat penindasan berubah menjadi pengamanan; di saat rasa cemas berubah menjadi rasa gembira;

o   Di saat rasa tertekan berubah menjadi rasa yang penuh kebebasan;

o   Di saat rasa resah berubah menjadi rasa aman; di saat suasana cekcok berubah menjadi tenteram;

o   Di saat orang yang tidak memiliki tumpangan, diberikan tumpangan;

o   Di saat orang yang dirugikan, dipulihkan nasibnya;

o   Di saat air mata berubah menjadi gelak tawa.

 

Di mana ada Betlehem, di sana ada Natal dan ada Sang Mesias yang Hina. Sebab itu, Betlehem bukan lagi menjadi sebuah kota semata, melainkan suatu program hidup.

Karena itu, Saya berkata kepada Anda, “Tuhan boleh lahir seribu kali di Betlehem, tetapi jika Tuhan tidak pernah lahir dalam hidup kita, maka sia-sialah pesta Natal.”

 

Kita hanya bisa menjumpai Allah apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita ke tempat Dia berada, yaitu di antara yang Terkecil dan di antara Orang-orang Kecil. Akal budi kita mencari Allah, Sang Juru Selamat, namun hanya Sabda Allah dan Terang-Nya yang bisa menyatakan dan menuntun kita untuk menemukan-Nya. Akal budi berkata, “Sang Juru Selamat sudah Hadir dan Tinggal di antara kita,  manusia,” namun hanya Wahyu Allah dan Terang-Nya yang bisa menjelaskan identitas-Nya kepada kita.

 

Karena alasan inilah, maka:

 

o   Bintang Ajaib yang dilihat, menerangi dan menuntun para Majus padam/tidak menyinarkan Terang-Nya di Yerusalem, terutama di hati Raja Herodes.

o   Bintang Ajaib yang sesungguhnya bukanlah meteor yang bertaburan di langit, melainkan Terang Sang Mesias yang Baru Lahir: Dia sendirilah yang menuntun pikiran dan hati kita untuk menemukan-Nya. Akal budi tidak berdaya di saat menghadapi Sang Terang Sabda Allah, sebagaimana bintang lenyap di saat matahari bersinar terang.

o   Apakah kita bersedia diterangi oleh Sang Bintang, yaitu Mesias dalam Rupa Bayi yang Hina untuk menemukan-Nya di tempat Dia berada? Palungan, tempat Dia berbaring adalah Hati Kita....

 

Ingatlah:

o   Hati kita adalah Palungan-Nya... Hati kita adalah Takhtah-Nya... Janganlah mencari Dia di tempat yang lain....

o   Karena itu... temukan Dia di kedalaman Hati Kita dengan sikap imam yang jujur, polos, tanpa kepalsuan, tanpa pencitraan.... apabila kita mencari Dia dengan kepalsuan dan pencitraan.... kita tidak akan pernah menemukan-Nya...

 

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buon Natale e Buon Anno...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget