Keuskupan Sibolga

Latest Post

 


Makna Simbolis Ikan Mas bagi Suku Batak Toba
(Fr. Alesandro Neil Limbong)


Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya, suku, bangsa, maupun bahasa. Keanekaragaman ini mencerminkan kekhasan Nusantara yang penuh dengan kekayaan, baik dari segi natural maupun kultural. Ada lebih dari 300 suku yang tersebar di penjuru Indonesia.[1] Di antara banyaknya suku yang tersebar, ada satu suku yang mungkin sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia itu sendiri yakni suku Batak Toba. Suku Batak Toba dikenal karena memiliki kekayaan budaya, tradisi, maupun adat-istiadat yang khas. Keberadaan kebudayaan, tradisi, maupun adat istiadat ini menandakan bahwa orang Batak masih mewarisi dan menghidupi beberapa warisan yang telah disampaikan oleh para leluhur mereka.

Sebagaimana kebudayaan identik dengan simbol-simbol, suku Batak juga menerapkan hal yang demikian. Ada banyak simbol, entah dalam bentuk benda maupun makhluk hidup, yang digunakan oleh orang Batak guna mengungkapkan makna atau manifestasi tertentu terhadap suatu hal. Salah satu diantaranya adalah ikan mas. Bagi orang Batak (biasa disebut halak hita Batak), ikan mas merupakan ikan yang berharga dalam kebudayaan adat Batak Toba.

Kalau kita mau melihat lebih jauh lagi, makna simbolis ikan mas ini lebih tepatnya menggambarkan kehidupan/kepribadian maupun tujuan dari orang Batak itu sendiri.  Contoh konkritnya adalah ungkapan “hamoraon, hagabeon, hasangapon”. Hamoraon artinya kekayaan, Hagabeon artinya kesuksesan, memiliki keturunan, dan Hasangapon yang artinya adalah kehormatan. Selain itu, kehidupan ikan mas yang berada di dalam air, atau di Danau Toba benar-benar menyimbolkan kehidupan orang Batak, di mana ikan tersebut selalu berenang ‘bersama-sama ke depan’, atau dalam bahasa Batak “mudur-udur atau sauduran”. Sifat ikan mas ini adalah cerminan dari kehidupan orang Batak, dimana setiap kegiatan pasti dijalankan secara bersama-sama, baik upacara adat, keseharian, pergaulan, dst.

Sebagian orang Batak percaya bahwa suatu benda yang memiliki keindahan sekaligus menakutkan dan menggetarkan akan dianggap sebagai barang sakral dan memiliki roh. Dari sebab itulah setiap orang tidak boleh sembarangan mengambil, merusak, atau menyalahgunakannya. Misalnya ikan mas di Danau Toba yang sudah berukuran tidak normal (besar) diyakini sebagai penjaga danau tersebut. Itulah sebabnya setiap orang harus Marsattabi (meminta izin, memberi hormat) sebelum melakukan kegiatan di danau Toba.

Karena keindahan ikan mas ini, akhirnya orang Batak juga menganggap ikan tersebut sebagai simbol berkat. Hingga akhirnya ikan itu dijadikan sebagai persembahan yang penuh dengan berkat dari Yang Mahakuasa di dalam acara adat Batak. Orang Batak menyebutnya “dekke simudur-udur”. Dekke simudur-udur adalah simbol berkat, harapan, atau doa yang diberikan kepada seseorang. Bagi orang Batak, berkat itu termanifestasi dalam bentuk ikan mas atau dekke simudur-udur. Mengapa harus ikan mas? Karena ikan mas itu indah dan layak untuk dipersembahkan kepada Yang Mahakuasa.

Secara kuantitatif, dekke simudur-udur tidak terlalu mempersoalkan jumlah ikan yang harus diberikan. Memang pada umumnya disediakan 3 ekor. Penyerahan dekke simudur-udur umumnya diberikan kepada pasutri yang baru menikah, suami istri yang baru mendapatkan anak, acara adat, syukuran (lulus kuliah, tahbisan, dll) Paborhatton (memberangkatkan anak yang hendak merantau), dan masih banyak lagi. Melalui penyerahan dekke simudur-udur tersebut, mereka sangat berharap semoga orang-orang yang diberi dekke simudur-ud
ur
ini mampu menjalani kehidupan layaknya seperti ikan mas yang selalu bersama-sama dan maju ke depan dengan harapan dan tujuan yang dicita-citakan. [
Penulis adalah calon imam Diosesan Keuskupan Sibolga, Tingkat II]



[1] L.A.S. Gunawan, Filsafat Nusantara: Sebuah Pemikiran Tentang Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 2020), hlm.11.



Pesta Yubileum St. Elisabeth Stasi Lobutua Paroki St. Fransiskus Assisi Pangaribuan Andam Dewi Dekanat Tapanuli ke-55 tahun Minggu, 4 Desember 2022. Pada pesta yubileum ini perayaan ekaristi dipimpin oleh Bapa Uskup Mgr. Fransiskus Sinaga didampingi oleh pastor Ekonom Pst. Alboin Simatupang Pr, pastor Paroki Pangaribuan Pst. Albert Simbolon OFMCap serta pastor rekan dan diakon. Setelah acara perayaan ekaristi, para undangan lintas agama disambut oleh umat Stasi Lobutua dengan tortor.


Pesta Yubileum St. Elisabeth Stasi Lobutua Paroki St. Fransiskus Assisi Pangaribuan Andam Dewi Dekanat Tapanuli ke-55 tahun Minggu, 4 Desember 2022. Pada pesta yubileum ini perayaan ekaristi dipimpin oleh Bapa Uskup Mgr. Fransiskus Sinaga didampingi oleh pastor Ekonom Pst. Alboin Simatupang Pr, pastor Paroki Pangaribuan Pst. Albert Simbolon OFMCap serta pastor rekan dan diakon. Sebelum acara peryaan ekaristi dimulai, Bapa Uskup dan rombongan disambut oleh umat Stasi Lobutua dengan pengalungan bunga dan tortor.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget