Keuskupan Sibolga

Latest Post

 


Hari Raya Idul Adha 1445 H menjadi kesempatan bersilaturahmi dengan jajaran Korem 023 Kawal Samudra.

Pada kesempatan ini Senin, 17 Juni 2024 Bapa Uskup Sibolga Mgr. Fransiskus Sinaga menyerahkan hewan kurban berupa dua ekor kambing jantan yang diterima langsung oleh Danrem Kolonel Inf. Lukman Hakim.
Bapa Uskup didampingi Pst. Barto Sihite dan Pst. Ignatius Purwo OSC disambut langsung oleh Danrem 023 KS di pendopo setelah selesai sholat Ied. Turut hadir Mayor Inf. J. Situmeang umat Katolik Stasi Sarudik bersama rombongan.
Meski cuaca hujan, tidak mengurangi suasana kemeriahan Hari Raya Idul Adha dengan pemotongan hewan kurban.
Tampak ada 4 ekor sapi dan 9 ekor kambing sebagai hewan kurban.
Kepada para saudara kaum muslimin, selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 H.



 

Dokumentasi Penulis 

Senin, Pekan Biasa XI/B

17/6’24. Injil Mat 5:38-42


Pada masa Kerajaan Singosari ada kisah Keris Mpu Gandring yang melegenda. Kisah diawali dari Ken Arok yang berniat membunuh Tunggul Ametung agar bisa memperisteri Kendedes (istri Tunggul Ametung). Maka ia meminta Mpu Gandring menempah keris dengan waktu tertentu. Namun belum saatnya, Ken Arok sudah meminta Keris namun karena belum waktunya dan keris masih kasar, Mpu Gandring tidak menyerahkan keris itu. Ken Arok tak bisa menerima alasan itu, maka menusuk Mpu Gandring dengan keris yang sedang ia tempa. Sebelum mati Mpu Gandring mengutuk keris itu akan meminta balasan 6 nyawa. Dan benar “nyawa ganti nyawa”, Keris itu melenyapkan 6 nyawa: Mpu Gandring, Tunggul Ametung, Ken Arok, Ki Pengalasa, Anusapati dan Tohjaya.  

Dalam codex Hamurabi (1780 SM) di Kerajaan Babilonia hukum pembalasan ini sudah menjadi undang-undang.

Namun Injil Hari ini Yesus mengganti Hukum pembalasan dengan hukum cintakasih. “Aku berkata kepadamu, Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.”

Saudara-Saudari terkasih, 

Naluri balas-membalas  yang menjerat kita dalam spiral dendam yang tak berkesudahan diretas oleh Yesus dgn hukum Kasih. “Ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yg mereka perbuat” Berani mengatakan cukup adalah langkah awal yg membebaskan kita dari jerat abadi dendam. Krn membalas kejahatan dgn kejahatan baru mengubah kita menjadi sama jahatnya dengan si jahat. 

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm: Pastor Paroki St. Yohanes Penginjil Pinangsori)

Dokumen Komsos 



Salah satu dari ketiga Sakramen Inisiasi yang menandakan seseorang dewasa dalam iman ialah Sakramen Krisma. Kedua sakramen inisiasi lainnya ialah Baptis dan Ekaristi atau komuni pertama. Seseorang yang sudah menerima ketiga Sakramen Inisiasi tersebut boleh dinyatakan sebagai anggota penuh dalam Gereja Katolik.


Untuk boleh menerima Sakramen Krisma, seseorang harus terlebih dahulu sudah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi. Setelah keduanya lengkap, barulah ia diperkenankan menerima Sakramen Krisma.


Pelayan biasa untuk Sakramen Krisma ialah Uskup. Jika Uskup berhalangan maka Pastor Vikjen, Vikep atau juga Pastor Paroki boleh menerimakannya. Mereka disebut sebagai pelayan luar biasa (Lihat Kan 882, KHK 1983).


Hari ini, Minggu, 16 Juni 2024, Bapa Uskup Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga memimpin Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Stasi St. Paulus-Aek Badak. Terdapat sebanyak 89 peserta yang menerima Sakramen Krisma di gereja Stasi yang dibawah naungan Paroki St. Maria Bunda Padangsidempuan.


Bersama Bapa Uskup Frans, turut hadir Vikep Pro Opera Pastoralis, RD. Bartolomeus Sihite, Pastor Paroki St. Maria Bunda Padangsidempuan, RD. Roberd Simatupang dan Pastor Vikarisnya RD. Thomas Edison Duha.


Dalam homilinya, Bapa Uskup meminta agar para peserta penerimaan Sakramen Krisma tetap teguh dalam iman ke-Katolikan dan berani menjadi saksi Kristus sepenuhnya.

Dokumen Komsos 



Bapa Uskup juga berpesan agar para peserta berani mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan. "Dengan menerima Sakramen Krisma kalian juga dipanggil untuk mempercayakan hidup kalian sepenuhnya kepada Yesus dan Roh Kudus. Menerima Sakramen Krisma adalah tanda penerimaan dan kerja sama dengan Roh Kudus, yang akan memimpin dan menguatkan kalian dalam kehidupan iman", seru Bapa Uskup.


Selain itu Bapa Uskup meminta mereka agar semakin rajin ke Gereja. "Jangan pernah ragu menjadi katolik, dan juga jangan mengakui diri sebagai katolik, tapi jarang ke Gereja. Harus bangga menjadi orang katolik. Sebagai orang katolik senantiasa berani melepaskan segala keraguan dan kekhawatiran, dan percayakanlah hidup kalian kepada Tuhan. Dengan iman yang teguh dan hati yang terbuka, Roh Kudus akan membimbing dan mengajarkan kalian, memberikan kekuatan dan keberanian dalam menjalani hidup sebagai murid Kristus.Ingatlah janji Yesus, bahwa Dia akan mengirimkan Penghibur kepada kita. Berpeganglah pada janji itu, dan biarkanlah Roh Kudus bekerja dalam hidup kalian."

Dokumen Komsos 



Selamat kepada ke-89 orang yang sudah berniat maju sebagai anggota penuh Gereja Katolik. Berkat Tuhan melimpah selalu.

Ilustrasi diambil dari Internet 


16/06’24,  Mrk 4:26-34

Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko di surga, dan terkejut, menemukan Tuhan menjaga toko. “Tuhan, Engkau menjual apa di sini?” ia bertanya. “Apa saja yang menjadi keinginan hatimu,” kata Tuhan.
Spontan ia berteriak: “Aku minta: Kaya raya, anak-anak sukses dan masuk surga” Tuhan tersenyum. “Kukira, engkau menafsirkan-Ku salah, nak,” kata-Nya. “Kami tidak menjual buah di sini, hanya benih.”

Dalam Injil minggu ini Yesus berkata, “Kerajaan Allah itu seperti seseorang yang menanam benih di dalam tanah. Siang dan malam, entah orang itu tertidur atau terjaga, benih itu tetap bertumbuh, tetapi orang itu tidak mengetahui bagaimana benih itu bertumbuh. Kelak benih yang mungil ini akan jadi pohon yang bear tempat bersarang burung-burung. 

Saudara-saudari terkasih, Kitanya Tuhan punya cara kerja tersendiri. Kita manusia perlu belajar percaya sebab kasihnya tiada berkesudahan. Apapun situasi hidup Anda saat ini, benih kerajaan surga itu sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Mari kita tanam benih kebaikan, pendamaian, pengorbanan, usaha tiada henti.. menjadi tanda hadirnya Kerajaan Allah di dalam keluarga, komunitas, masyarakat … semesta.
Tuhan memberkati.

(Ditulis oleh Rm Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St. Yohanes Penginjil Pinangsori)

 

Ilustrasi diambil poskota.co.id

SUMPAH

Sabtu, Pekan Biasa X/B

15/6/‘24, Mat 5:33-37


Di suatu persidangan dengan kasus pembunuhan terjadi dialog berikut:

Hakim    : "Apakah anda yang membunuh korban?"

Terdakwa : "Bukan saya, Pak Hakim."

Hakim    : "Anda tahu tidak, hukuman apa yang akan dijatuhkan pada orang yang bersumpah palsu?"

Terdakwa : "Ya, saya tahu. Dan hukuman untuk orang yang bersumpah palsu lebih ringan dibandingkan dengan hukuman untuk seorang pembunuh." 🤣🥰🤢😭🤓

Dalam Bacaan Injil hari ini kita diperdengarkan bahwasanya: Tuhan tidak menghendaki orang percaya mengangkat sumpah sebagai sarana untuk menipu atau mengelabui sesamanya. Yang hendak ditekankan dalam Injil hari ini adalah “sumpah dusta” atau upaya untuk menutupi kebenaran dengan mengangkat sumpah. 

Saudara-saudari terkasih, Dalam Perjanjian Baru Allah ditampilkan sebagai saksi dalam Sumpah (Matius 26:63-64; 2 Korintus 1:23; 1 Tesalonika 2:5). Artinya Tradisi Sumpah dalam Gereja Katolik adalah Biblis dan sesuai Kehendak Allah. Misalnya Kaul biarawan-biarawati, tahbisan, sumpah jabatan dalam profesi kaum awam dll. Kiranya sumpah adalah sebuah komitmen yang nilainya bukan hanya sebagai formalitas tapi kesungguhan hati yang memiliki konsekwensi pada hidup kekal. Karena harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. 

Tuhan memberkati 

(Ditulis oleh Rm. Adytia Peranginangin OCarm, Pastor Paroki St. Yohanes Penginjil Pinangsori)

 

Dokumentasi Penulis 

Gereja Katolik di Era Modern

(Inspirasi dari Gianni Vattimo dalam Konteks Keuskupan Sibolga)


Di tengah dinamika dunia yang terus berubah, Gereja Katolik menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan dan bermakna bagi umatnya. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan ini adalah dengan mengambil inspirasi dari pemikiran tokoh-tokoh kontemporer, seperti Gianni Vattimo, seorang filsuf postmodern yang menawarkan perspektif baru mengenai iman dan kebenaran. Dalam konteks Keuskupan Sibolga, inspirasi dari Vattimo dapat memberikan wawasan berharga untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.

Siapa Gianni Vattimo? Gianni Vattimo adalah seorang filsuf Italia yang dikenal dengan kontribusinya dalam filsafat postmodern dan hermeneutika. Salah satu gagasan utama Vattimo adalah "penurunan" (weakening) metafisika, di mana ia menolak klaim kebenaran absolut dan universal. Sebaliknya, Vattimo mengusulkan pendekatan yang lebih rendah hati dan cair terhadap kebenaran, yang menekankan cinta dan dialog.

Vattimo berpendapat bahwa era modern menuntut kita untuk meninggalkan metafisika tradisional yang kaku dan absolut. Bagi Keuskupan Sibolga, ini berarti membuka diri terhadap interpretasi baru dari ajaran dan tradisi yang telah lama dipegang. Pendekatan ini bukan berarti meninggalkan doktrin fundamental, tetapi menafsirkan kembali dalam konteks yang lebih relevan bagi umat saat ini, khususnya dalam menghadapi masalah sosial dan budaya yang unik di wilayah Keuskupan Sibolga.

Iman yang lemah: cinta dan dialog antar umat di Keuskupan Sibolga

Salah satu konsep menarik dari Vattimo adalah "iman yang lemah." Ia menekankan bahwa iman tidak perlu keras dan dogmatis, tetapi bisa lebih lemah dalam arti lebih rendah hati dan terbuka terhadap dialog. Dalam konteks Keuskupan Sibolga, ini berarti menempatkan cinta dan dialog di pusat iman. Gereja di Sibolga dapat menjadi tempat di mana perbedaan dihargai dan setiap individu merasa diterima, terutama dalam masyarakat yang memiliki keragaman etnis dan budaya.

Relevansi dalam konteks yang modern 

Dunia modern penuh dengan isu-isu kompleks seperti hak asasi manusia, perubahan iklim, dan teknologi yang berkembang pesat. Gereja Katolik di Keuskupan Sibolga, dengan mengambil inspirasi dari Vattimo, dapat memainkan peran penting dengan menyesuaikan diri dan merespons isu-isu ini dengan cara yang relevan dan bermakna. Beberapa masalah spesifik yang dihadapi Keuskupan Sibolga, seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan, membutuhkan pendekatan yang inovatif dan inklusif.

Vattimo juga menekankan pentingnya dialog antaragama dan antarbudaya. Dalam dunia yang semakin pluralistik, Gereja Katolik di Sibolga dapat mengambil peran sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai tradisi dan budaya. Wilayah ini dikenal dengan keberagaman agama dan etnisnya, sehingga pendekatan yang lebih inklusif dan dialogis sangat penting untuk mempromosikan perdamaian dan saling pengertian di antara umat manusia.

Misi evangelisasi di era modern membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dengan inspirasi dari Vattimo, Keuskupan Sibolga dapat mengembangkan cara-cara baru untuk menyampaikan pesan Injil yang lebih sesuai dengan konteks zaman. Ini termasuk penggunaan media digital dan platform sosial untuk menjangkau lebih banyak orang, serta pengembangan program-program pastoral yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan umat.

Tantangan Sosial dan Ekonomi

Keuskupan Sibolga menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang signifikan, termasuk kemiskinan dan akses yang terbatas terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Dengan pendekatan yang terinspirasi dari Vattimo, Gereja dapat mengembangkan program-program yang memberdayakan komunitas lokal dan bekerja sama dengan organisasi lain untuk mengatasi masalah-masalah ini secara efektif.

Kesimpulan

Gianni Vattimo menawarkan perspektif yang kaya dan berharga bagi Gereja Katolik di era modern. Dengan menekankan cinta, dialog, dan keterbukaan, Gereja dapat memperbarui diri dan menjalankan misinya dengan cara yang lebih relevan dan bermakna. Dalam konteks Keuskupan Sibolga, inspirasi dari Vattimo dapat membantu Gereja dan para imam untuk menghadapi tantangan-tantangan lokal dengan bijaksana dan membawa pesan Injil yang relevan dan penuh kasih ke dalam kehidupan umat.

Oleh karena itu, marilah kita selalu menempatkan cinta dan keterbukaan di pusat kehidupan iman kita. Dengan hati yang penuh kasih dan pikiran yang terbuka, kita dapat menjalin hubungan yang lebih harmonis dengan sesama dan menciptakan komunitas yang lebih inklusif. Jangan takut untuk berdialog dan mendengarkan pandangan orang lain. Melalui dialog yang membangun, kita dapat memahami perbedaan dan menemukan kesamaan yang memperkuat persatuan kita sebagai umat. Gereja harus terus beradaptasi dan berinovasi untuk menjawab tantangan zaman. Gunakan teknologi dan metode baru untuk menjangkau lebih banyak orang dan menyampaikan pesan Injil dengan cara yang relevan bagi generasi saat ini. Dalam menghidupi nilai-nilai solidaritas kita harus bersama-sama mengatasi tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi. 

Untuk itu kita sebagai umat di Keuskupan Sibolga harus terus memperbarui spiritualitas kita dengan inspirasi dari pemikiran-pemikiran kontemporer yang menekankan cinta, rendah hati, dan dialog. Dengan demikian, kita dapat menjadi saksi kasih Kristus yang hidup di dunia modern dengan cara menghargai setiap perbedaan sebagai anugerah dari Tuhan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun komunitas yang lebih baik. 

(Ditulis oleh Viktorius Gulo Mahasiswa Fakultas Filsafat: Universitas Katolik Santo Thomas Medan medan)

Referensi

Vattimo, Gianni. Belief.  Stanford: University Press, 1999. 

Vattimo, Gianni. After Christianity.  Columbia: University Press, 2002. 






Dokumentasi Penulis 


 MEMBANGUN KELUARGA DI ERA POSTMODERN: PANDUAN SEDERHANA UNTUK KEHIDUPAN HARMONIS


Tokoh Postmodern: Jacques Derrida


Di era postmodern ini, membangun keluarga yang harmonis dapat menjadi tantangan tersendiri. Banyak perubahan dalam cara kita berkomunikasi, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia di sekitar kita. Namun, dengan memahami beberapa prinsip dasar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menciptakan keluarga yang kuat dan penuh kasih sayang. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi cara membangun keluarga yang harmonis di era postmodern dengan panduan dari pemikiran Jacques Derrida, pesan dari Paus, dan ajaran dari Katekismus Gereja Katolik (KGK).


Jacques Derrida dan Dekonstruksi dalam Keluarga


Jacques Derrida, seorang filsuf postmodern terkenal, memperkenalkan konsep dekonstruksi yang dapat membantu kita memahami dinamika keluarga di era ini. Dekonstruksi adalah metode analisis yang menyoroti bagaimana struktur-struktur yang tampak stabil sebenarnya penuh dengan ketidakpastian dan kompleksitas. Dalam konteks keluarga, ini berarti kita perlu mengakui bahwa tidak ada satu model keluarga yang sempurna dan berlaku untuk semua orang. Setiap keluarga unik dengan caranya sendiri.


Keluarga di era postmodern harus fleksibel dan adaptif. Misalnya, peran tradisional dalam keluarga sering kali mengalami perubahan. Kedua orang tua mungkin bekerja di luar rumah, dan tugas-tugas rumah tangga dibagi lebih merata. Ini adalah contoh bagaimana dekonstruksi dapat diterapkan: dengan meruntuhkan stereotip lama dan membangun struktur yang lebih sesuai dengan kenyataan kehidupan modern.


Pesan Paus tentang Keluarga


Paus Fransiskus sering menekankan pentingnya keluarga sebagai inti dari kehidupan masyarakat. Dalam ensiklik (Amoris Laetitia), Paus Fransiskus berbicara tentang pentingnya kasih dan kebersamaan dalam keluarga. Beliau menekankan bahwa setiap anggota keluarga harus saling mendukung dan memahami, serta menjalankan komunikasi yang terbuka dan jujur.


Pesan Paus Fransiskus relevan dalam konteks postmodern karena mengajak kita untuk kembali kepada nilai-nilai dasar cinta dan kebersamaan. Meskipun teknologi dan perubahan sosial membawa banyak tantangan, prinsip-prinsip dasar ini tetap penting. Paus mengingatkan kita bahwa cinta dan komitmen adalah fondasi yang tak tergantikan dalam membangun keluarga yang kokoh.


Ajaran Katekismus Gereja Katolik (KGK)


Katekismus Gereja Katolik (KGK) memberikan panduan yang jelas tentang peran dan tanggung jawab dalam keluarga. KGK mengajarkan bahwa keluarga adalah "gereja domestik" di mana nilai-nilai Kristen diajarkan dan dijalankan. Ajaran ini menekankan pentingnya pendidikan iman di rumah, serta pentingnya doa dan kehidupan sakramental.


KGK juga menekankan perlunya menghormati dan mendukung setiap anggota keluarga. Dalam era postmodern, di mana nilai-nilai tradisional sering kali dipertanyakan, ajaran ini memberikan panduan yang stabil dan bermakna. Menghormati orang tua, mendukung pasangan, dan mengasuh anak-anak dengan kasih sayang adalah prinsip-prinsip yang tetap relevan dan penting.


Cara Membangun Keluarga Harmonis


Untuk membangun keluarga harmonis di era postmodern, komunikasi terbuka adalah kunci. Pastikan setiap anggota keluarga merasa didengar dan dihargai dengan meluangkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan teknologi. Fleksibilitas dalam peran juga penting, mengingat bahwa peran dalam keluarga bisa berubah. Bersikap terbuka terhadap pembagian tugas rumah tangga dan tanggung jawab lainnya dapat membantu menciptakan keseimbangan yang lebih baik.


Pegang teguh nilai-nilai dasar seperti kasih, hormat, dan kejujuran, dan jadikan nilai-nilai ini sebagai fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan keluarga. Dukungan emosional juga sangat penting; di era yang penuh tekanan ini, memberikan dukungan dan pengertian kepada anggota keluarga dapat membuat perbedaan besar. Pendidikan iman tidak boleh diabaikan; ajak keluarga untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan bersama, seperti doa bersama dan menghadiri misa, untuk memperkuat ikatan spiritual dan memberikan kedamaian.


Selain itu, menghargai keberagaman dalam keluarga sangat penting. Setiap anggota keluarga memiliki keunikan masing-masing, dan dengan menghargai perbedaan tersebut, kekayaan yang dimiliki bisa menjadi sumber kekuatan yang besar. Dengan pendekatan ini, keluarga dapat menemukan cara terbaik untuk berkembang dan hidup harmonis di tengah tantangan era postmodern.

Penutup


Membangun keluarga yang harmonis di era postmodern memang memiliki tantangan tersendiri, namun dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip dari pemikiran Jacques Derrida, pesan Paus Fransiskus, dan ajaran Katekismus Gereja Katolik, kita dapat menciptakan lingkungan keluarga yang penuh cinta dan dukungan. Ingatlah bahwa setiap keluarga unik dan tidak ada satu jalan yang sempurna. Yang terpenting adalah komitmen untuk saling mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain dalam setiap langkah kehidupan.

(Ditulis oleh Kristianus Meo. Mahasiswa Fakultas Filsafat: Universitas Katolik Santo Thomas Medan)


Sumber:

Derrida, Jacques. Of Grammatology. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1997.

Paus Fransiskus. Amoris Laetitia (The Joy of Love). Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2016.

Katekismus Gereja Katolik. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 1992.


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget