Keuskupan Sibolga

Latest Post

 

RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE 52

“SIGNIS Indonesia: Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”

Bandung 24 Februari – 1 Maret 2026.


SIGNIS INDONESIA

Signis adalah Asosiasi Katolik internasional umat beriman untuk Komunikasi. Signis diakui oleh Takhta Suci sebagai Asosiasi Internasional Umat Beriman. Signis memiliki status konsultatif dengan UNESCO, Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Dewan Eropa. Selain Signis internasional ada juga Signis Indonesia. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial serta bagian dari SIGNIS Internasional, jaringan global yang fokus pada pengembangan media beretika, mendukung hak asasi manusia, dan memperkuat komunikasi lintas budaya.


Di Indonesia, Signis bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. Para anggota SIGNIS Indonesia tahun 2026 ini mengadakan rapat anggota signis indonesia ke 52 “Signis Indonesia: Artificial Inteligence dalam tantangan iman,”di Bandung 24 Februari - 1 Maret 2026. Artificial Inteligence dalam Terang Iman menjadi peluang dan tantangan komunikasi pastoral khususnya tema penting dalam rapat anggota atau sidang SIGNIS Indonesia ke-52Sidang SIGNIS Indonesia ke-52 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, dari tanggal 24 Februari  sampai 2 Maret 2026, dihadiri oleh 32 anggota, dengan tema Artificial Inteligence dalam Terang Iman: Peluang dan Tantangan Komunikasi Pastoral. 

Dalam khotbahnya, Yang Mulia Mgr. Agustinus, selaku Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia, menyampaikan bahwa Gereja adalah persekutuan yang Hidup dari komunikasi. Inti dari Gereja adalah persekutuan yang berpusat pada Kristus dan diilhami oleh Roh Kudus. Namun, persekutuan hanya dapat benar-benar terjadi jika ada komunikasi yang lancar. Tanpa komunikasi, misi Gereja tidak akan berdampak, oleh karena itu SIGNIS melambangkan tanda dan api. Signis mewakili kobaran api misi Gereja yang tidak boleh disembunyikan. Komunikasi menjadi ujung tombak untuk membawa semangat dan jiwa Gereja keluar, agar tidak terperangkap di dalam tembok internal dan ego sektoral.

Para peserta mengikuti hari studi sesuai dengan tema pertemuan SIGNIS ke-52 ini, pembicaranya adalah Suryatin Setiawan beserta timnya. Beliau adalah praktisi di bidang teknologi informasi yang menyampaikan presentasi berjudul “Prompt Engineering: Seni Berkomunikasi dengan Teknologi Kecerdasan Buatan.” Dengan semangat persaudaraan dan dalam terang iman, anggota SIGNIS Indonesia mendorong program-program yang akan dilaksanakan dengan fokus pada upaya menjaga keutuhan ciptaan.

Rapat Anggota tahunan ini dibuka secara resmi dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Sejumlah agenda penting mewarnai pertemuan ini, hari studi pertama seminar bersama anggota dari Bapak Hendro Setiawan, hari studi kedua oleh Pastor Noegroho Agoeng, Hari studi ketiga refleksi bersama masing masing regio, hari studi keempat Laporan karya:

A.    Capaian utama tahun 2025-2026

1.     Kerjasama, Kolaborasi dan Jejaring

2.     Pelatihan Media Sosial, Pewartaan Digital, Jurnalisme dan Riset

3.     Pengadaan Alat, Infrastruktur dan Perpanjangan Perizinan

4.     Produksi Film

5.     Workshop dan Waste Management Enterprise

B.    Prioritas lembaga untuk tahun 2026:

1.     Fundraising untuk kemandirian finansial

2.     Pelatihan untuk kaum muda dan perempuan

3.     Pemberdayaan SDM yang professional

4.     Media Misi yang mandiri, kredible dan berkelanjutan

5.     Kemitraan

6.     Pembangunan Infrasturktur

 

C.    Kemudian dilanjutkan dengan Rapat Regio

D.    Program Nasional Informasi Signis Asia - Dunia

E.    Penerimaan Anggota

F.     Pemilihan BP 

AAgenda penting lainnya dalam pertemuan ini adalah pemilihan pengurus periode 2026-2030, sebagai berikut:

Presiden Signis Indonesia 2026- 2030
RD Heribertus Ratu 
Ketua Regio Signis 2026-2030K

Sumatera : RD Adiputra Adrianus Lumban Tobing

Jawa : RD. Reynaldo Antoni Haryanto

Kalimantan : RD. Suhanedi Kusmantoro

Nusa Tenggara : RD. Herman Yoseph Babey

MAM : RD Emanuel ND

Papua : B. Onisemus Sarway

Tim Asistensi

RD. Benedektus Nugroho Susanto

B. Paulus Mashuri

RD. Titus Jatra Kelana

RP. Paulus Tumayang OFM

RD. Yohanes Kari


G.    Pemilihan BP dan Serah Terima

Badan Pengurus Harian

Ketua: RD Heribertus Ratu 
Wakil Ketua: Ibu Bernadetta Widiandajani
Sekretaris: RD Tiburtius Plasidus Mari 
Bendahara: RD Reynaldo Antoni Haryanto

Anggota: RD Suhanedi Kusmantoro

H.    Venue dan Keputusan Rapat

I.      Cultural Visit komunitas Sunda Katolik

J.     Misa Penutup/ Katedral Bandung

Penutup dan Refleksi

               Kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), menghadirkan peluang dan kejutan yang signifikan. Teknologi ini telah menyentuh dan meresap ke berbagai aspek kehidupan. Munculnya refleksi baru, seperti teologi digital dan ontologi digital, menimbulkan tantangan teologis dan filosofis, mempertanyakan makna realitas hidup di era AI. Namun, Gereja tidak perlu takut atau gentar, selama tetap berpegang teguh pada identitas dan misi Kristus. Untuk tujuan ini, AI adalah produk dari kecerdasan manusia. Manusia dipanggil untuk terus menemukan dan mengembangkan teknologi. Namun, yang terpenting Artificial Inteligence harus berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan firman yang hidup dan berdampak, bukan menggantikan peran manusia atau mengosongkan pesan. Uskup berharap, oleh karena itudiharapkan Artificial Inteligence sebagai alat komunikasi Gereja harus terus membawa energi, makna, dan kekuatan transformatif seperti hujan yang memperkaya bumi. 

    Pertemuan SIGNIS diharapkan bukan hanya sekadar acara formal, tetapi juga percikan yang membangkitkan pelayanan, sehingga lebih banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan. Kehadiran perwakilan SIGNIS dari berbagai keuskupan di Indonesia dimana masing masing diutus baik Komsos dan radio. Dalam refleksi bersama masing masing menunjukkan bagaimana komunikasi Katolik terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman di keuskupannya sendiri.

Poin Pertama:

Pastor Antonius Stephen Lalu, Ketua SIGNIS Indonesia, menjelaskan bahwa para pekerja media Katolik, terdiri dari tim komunikasi sosial (Komsos) dan Radio dari berbagai Keuskupan. Setiap tahunnya SIGNIS Indonesia berkumpul untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat karya pewartaan. Tahun 2026, panitia Signis mengambil tema Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”. SIGNIS Indonesia ingin menjadi Sains Ignis yakni membawa dan mengomunikasikan tanda-tanda zaman, menyebarkan semangat laksana api yang membakar hati, seperti pengalaman murid-murid Emaus yang berkobar penuh sukacita setelah bertemu Yesus,” ujar Pastor Antonius.

Poin Kedua :

Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo  dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadi komunikator yang handal di era pengharapan ini. Beliau menekankan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar soal teknologi atau sarana, tetapi lebih pada bagaimana media dapat menciptakan hubungan yang penuh kasih dan relasi yang bermakna. “Kita tentu tidak bisa menjauh dari media komunikasi sosial, tetapi kita harus menggunakannya sebagai alat pewartaan. Jika manusia berjalan dengan kepala tertunduk, tanpa melihat kiri dan kanan, tanpa senyuman, tanpa sapa, tanpa salam maka manusia itu seperti robot yang hidup tanpa hati, maka kita kehilangan esensi komunikasi yang sejati,” ungkap Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.

Melalui renungan Bapa Uskup, kami disadarkan bahwa Komsos adalah corong pewartaan iman di Keuskupan. Komsos sebagai wadah bagi pengajaran dan refleksi iman yang mampu  menyampaikan warta ke segala penjuru. Pada ahirnya mimpi dan harapan iman sampai pada seluruh umat. Melalui pewartaan yang dipublikasikan melalui media sendiri, maka umat mampu mengetahui segala informasi terbaru perihal peristiwa yang terjadi.

















 




Minggu Pra-Paskah II 01 Maret 2026

Putra Kesayangan Bapa

Kejadian 12:1-4a

Mazmur 33:4.5.18.19.20.22

2 Timoteus 1:8b-10

Matius 17:1-8

********************************

 

Pada suatu ketika, sekelompok orang buta yang ingin mengetahui bagaimanakah rupa seekor gajah diantar ke Kebun Binatang, tempat gajah dirawat. Karena buta, maka mereka tidak bisa menggunakan mata untuk melihat. Agar mereka bisa mengenal bagaimana rupa seekor gajah, maka mereka memohon agar mereka diperkenankan untuk menyentuh dan meraba-raba gajah dengan tangan mereka. Setelah mendapatkan giliran masing-masing, mereka kembali ke tempat mereka.

Orang yang menghantar mereka bertanya kepada mereka bagaimanakah gajah menurut mereka. Setiap orang buta memberikan jawaban yang berbeda.

 

o   Bagi si buta yang memegang telinga gajah, dia berkata bahwa gajah itu seperti nyiru, alat penampih: lebar dan bisa mengipas-ngipas.

o   Bagi si buta yang meraba kaki gajah, dia berkata bahwa gajah itu seperti pohon yang berdiri kokoh. Gajah itu sangat kuat dan tidak akan tumbang.

o   Bagi si buta yang kebetulan memegang gadingnya, dia berkata bahwa gajah itu keras seperti besi.

 

Masing-masing orang buta memberikan gambaran yang berbeda mengenai gajah. Gambaran itu lahir dari pengalaman mereka masing-masing tatkala menyentuh atau merabah salah satu bagian dari tubuh gajah.

*******************

Sama seperti orang buta dalam kisah ini, kita, para pengikut Yesus Kristus zaman ini menggambarkan Wajah-Nya dengan aneka lukisan sesuai dengan pengalaman kita masing-masing. Ada yang menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang Baik, Sahabat Orang Berdosa, Raja Orang Yahudi, Orang Nazaret, dan lain-lain. Semua gambaran dan sebutan ini hanya mengungkapkan salah satu kebenaran mengenai Yesus Kristus. Karena itu, kita harus ingat bahwa kebenaran iman mengenai Yesus Kristus justru melampaui semua gambaran kita tentang Dia.

**********************

Dalam kisah Injil Minggu Pra-Paskah II ini, Allah Bapa sendiri menyatakan kepada kita siapakah Yesus yang sesungguhnya sehingga kita tidak perlu meraba seperti orang buta untuk mengenal Allah. Allah Bapa sendiri memperkenalkan bahwa Yesus adalah Putra Kesayangan-Nya. Dia adalah Allah yang Menjelma menjadi Manusia. Hanya melalui Dia, Putra Kesayangan-Nya, kita mengenal Allah.

Penyataan Yesus sebagai Putra Kesayangan Allah itu terjadi dalam situasi yang sangat mempesona dan menakjubkan. Penginjil Matius melukiskannya sebagai berikut: "WajahNya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. Maka tampaklah kepada murid-muridNya Musa dan Elia yang sedang berbicara dengan Dia." Kemudian, mereka mendengar suara Allah yang berseru, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkankah Dia".

Peristiwa ini terjadi  di puncak Tabor, di saat Yesus bergerak menuju Yerusalem. Apa makna peristiwa ini bagi Yesus dan para muridNya?

 

Pertama, peristiwa perubahan rupa Yesus merupakan penyataan diri Yesus yang sesungguhnya. Dia bukanlah manusia biasa. Dia adalah Putra Kesayangan Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah Mesias Penyelamat yang diutus untuk menyatakan cinta dan kemuliaan Allah demi keselamatan manusia. Dalam diri-Nya, Allah membuka selubung rahasia-Nya dengan memancarkan kemuliaan-Nya yang sesungguhnya. Persoalannya, mengapa para Rasul dan kita yang mengikuti-Nya belum percaya bahwa Dia sungguh-sungguh Allah?

 

Kedua, peristiwa ini dinyatakan Allah di saat Yesus akan beranjak menuju Yerusalem untuk memperlihatkan hubungan antara kemuliaan Yesus sebagai Mesias, Anak Kesayangan Allah dengan jalan penderitaan, jalan salib yang harus dilalui-Nya demi keselamatan manusia. Bagi orang Romawi, salib adalah tragedi, tempat hukuman bagi para penjahat. Namun bagi Yesus dan kita, pengikut-Nya, salib merupakan jalan cinta dan korban demi kemenangan, keselamatan dan kemuliaan. Bagi Yesus dan kita, pengikutNya, jalan penderitaan dan salib bukanlah jalan yang hina, melainkan jalan menuju kemenangan, keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan. Inilah logika Allah yang harus didengar dan dimengerti oleh kita semua, ciptaan-Nya, terutama pengikut yang setia kepada-Nya.

 

Ketiga, kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Kesayangan Allah sama sekali tidak membebaskan-Nya dari jalan penderitaan dan salib. Cinta Bapa terhadap Putra Kesayangan-Nya sama sekali tidak disurutkan atau dikurangi oleh penderitaan dan salib Putra-Nya. Allah justru menunjukan keagungan dan kemuliaan cinta-Nya kepada kita, manusia dalam kerelaan Putra Kesayangan-Nya untuk menjalani penderitaan dengan memanggul salib karena kejahatan dan dosa kita demi keselamatan kita. Melalui jalan penderitaan dan salib, Putra Kesayangan Allah menyatakan bahwa mencinta manusia bukan berarti harus mengakhiri dan melenyapkan penderitaan kita, melainkan turut menderita dan turut menanggung penderitaan kita. Apabila Putra Kesayangan Allah hadir untuk melenyapkan penderitaan kita berarti Dia tidak menghendaki kita menjadi manusia. Penderitaan tidak harus dilenyapkan sebab melenyapkan penderitaan dan salib berarti melenyapkan kemanusiaan kita. Penderitaan dan salib bukan berasal dari Allah, melainkan berasal dari kodrat kemanusiaan kita: Kita adalah ciptaan. Kita terbatas, rapuh dan lemah. Kita menderita karena adanya kekurangan dan keterbatasan dalam diri kita sebagai ciptaan.

 

Ingatlah:

Tiada seorang manusia yang sempurna. Hanya Allah sendirilah yang sempurna dan tidak terbatas. Penderitaan justru terjadi karena kita tidak menerima keterbatasan kita sebagai ciptaan. Apakah kita sadar bahwa virus corona menjadi bukti nyata bahwa manusia China di Wuhan ingin menunjukan kehebatan mereka dalam semua bidang kehidupan, termasuk dalam pembangunan pusat nuklir supaya mereka bisa menguasai dunia. Pipa nuklir bocor dan akibatnya racun nuklir menyebarkan virus corona. Manusia Wuhan dan dunia menjadi korban karena manusia China tidak mengakui keterbatasan mereka. Inilah sumber penderitaan dan salib bagi manusia yang sesungguhnya, bukan Allah.

 

Keempat, demi keselamatan kita, ciptaan yang terbatas, Putra Kesayangan Allah harus menjadi manusia dan harus menderita. Dengan menjadi Manusia, Putra Kesayangan Allah yang tidak terbatas menjadikan diri-Nya terbatas dalam daging manusiawi, menjadi lemah dan tidak berdaya. Justru dalam keterbatasan, kelemahan dan ketidakberdayaan-Nya di jalan penderitaan dan salib, Dia yang menanggung penderitaan dan salib kita menyatakan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, dasyat, mulia dan menyelamatkan. KemuliaanNya di Tabor adalah Pancaran Kemuliaan dan Keagungan Kebangkitan-Nya. Inilah jalan penderitaan dan salib Anak Kesayangan Allah: jalan menuju kemuliaan. Jalan inilah yang harus diikuti oleh kita, manusia yang terbatas. Jalan inilah yang dinyatakan Allah dalam gema suaraNya: Dengarkanlah Dia..

Jalan penderitaan dan salib Putra Kesayangan Allah adalah jalan kita, jalan semua manusia. Apabila Putra Kesayangan Allah, Sang Guru bagi semua manusia rela melalui jalan penderitaan dan salib sebelum memperoleh kemenangan dan kemuliaan, maka jalan yang sama harus menjadi jalan kita.

 

Ingatlah:

o   Tiada kemenangan, keberhasilan, keselamatan dan kebahagiaan tanpa kerelaan dan kesabaran untuk memanggul salib (tanggung jawab) kita masing-masing.

o   Tiada Paskah tanpa Jumat Agung.

o   Tiada kemuliaan Tabor tanpa kerelaan untuk turun dan beranjak sambil memikul salib menuju Yerusalem.

o   Paskah Kemenengan, Kebangkitan dan Kemuliaan hanya diraih apabila ada cinta korban di Jumat Agung.

 

Di jalan penderitaan dan salib, kita menemukan sosok Allah yang sesungguhnya. Di jalan penderitaan dan salib, kita dan semua manusia menemukan kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Relakah kita memikul salib, melalui jalan penderitaan untuk menemukan kemuliaan Tabor, kemuliaan kita sebagai ciptaan Allah yang kudus dan mulia?

*******************

Sidharta Gautama hidup di masa yang sama dengan Yeremia. Mereka berdua dianugerahi “penglihatan” 500 tahun ke depan mengenai datangnya Juru Selamat. Di salah satu kutipan Kitab Suci agama Buddha yang tertulis di Tembok Vihara di Chiang Mai terpahat tentang hal ini.

Ada seorang pendeta Hindu bertanya kepada  Sidharta Gautama, Gurunya “Apakah Perbuatan Baik bisa menghapus dosa?

Sidharta Gautama menjawab, “Dosa tidak bisa dihapus dengan perbuatan baik. Itu hanya mengubah statusmu menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan statusmu pada saat dilahirkan di bumi. Akan tetapi, kamu tetap akan jauh dari Pintu Surga.”

Pendeta Hindu itu bertanya lagi, “Bagaimanakah dosa-dosa kami dihapus supaya Reinkarnasi berhenti dan kami bisa masuk Surga.”

Sidharta Gautama menjawab, “Nanti akan datang seorang Penyelamat manusia yang bisa menghapus dosa sehingga kamu bisa masuk Surga. Ikutlah dia dan tinggalkan cara cara lamamu. Semua itu tidak akan menyelamatkan..”

Pendeta itu bertanya lagi, “Bagaimana ciri si Penyelamat itu?

Sidharta Gautama menjawab, “Orang itu di tangan dan kakinya ada lubang bekas Kung Ca <sebutan satu benda masa itu yang bentuknya seperti Paku Besar> dan lambung nya berlubang seperti bekas ditusuk.”

Namun, ayat yang tertulis dalam Kitab Tripitaka ini dibuang di seluruh dunia karena takut kalau orang Buddha akan menjadi Kristen.

Akan tetapi, jejak dari isi kata-kata yang ada dalam Seluruh Kitab Tripitaka yang diukur di dinding sebuah Vihara/Kuil di Chiang Mai ini tidak bisa terhapuskan. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa Buddha menubuatkan kedatangan Yesus Kristus. Buddha yang hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Yeremia dan Yehezkiel sekitar 500 SM justru menuntut murid-muridnya untuk menunggu kedatangan Yesus Kristus.

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica...

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr


Pertemuan On Going Formation (OGF) Regio Sumatera 2026 bertema “Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan” dilaksanakan pada 23–27 Februari 2026 di Hotel Axana, Padang. Kegiatan ini dihadiri oleh uskup dan imam diosesan (tahbisan 21+ tahun) se-Sumatera, dibuka oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin. 

Detail Utama OGF Regio Sumatera 2026:

Waktu: 23–27 Februari 2026.

Lokasi: Ballroom Hotel Axana, Padang.

Tema: “Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan” (Flp. 4:4).

Peserta: Uskup dan Imam Diosesan Regio Sumatera (usia tahbisan 21 tahun ke atas).

Agenda: Misa pembukaan, sesi pembinaan, dan ibadat. 

Misa pembukaan pada 23 Februari 2026 dipimpin oleh Uskup Keuskupan Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, didampingi Uskup Agung Medan (Mgr. Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap.), Uskup Agung Palembang (Mgr. Yohanes Harun Yuwono), dan Uskup Tanjungkarang (Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo). 

Sesi pertama dibawakan oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin mengenai “Memaknai Bersukacita dalam Panggilan menurut Kitab Suci” 

"Yesus kadang hadir dalam situasi atau wajah orang-orang yang sering kita tidak duga. Menemukan wajah Tuhan dalam wajah diri orang paling hina membutuhkan sikap batin dan pergumulan. Mereka yang tulus melayani Tuhan dalam diri orang-orang yang paling kecil mampu menemukan sukacita dalam pelayanan, yang justru sering mereka tidak sadari telah melakukan perbuatan baik kepada Tuhan sendiri"

Demikian isi ringkas kotbah Mgr. Vitus Subianto Solichin, SX pada misa pembukaan Pertemuan On Going Formation Imam-Imam Diosesan Keuskupan-Keuskupan se-regio Sumatera yang dilangsungkan di Katedral St. Theresia Lieseux, Padang, Senin (23/02). 

Hadir dalam misa pembukaan empat orang Uskup se-Regio Sumatera: Mgr. Vitus, Uskup Keuskupan Padang; Mgr. Cornelius Sipayung, OFM Cap, Uskup Agung Keuskupan Medan; Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Keuskupan Palembang; Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, Uskup Keuskupan Tanjung Karang, Mgr. Adrianus Sunarko. Hadir juga sebagai tamu kehormatan RD. Maxi Un Bria, Ketua Unio Indonesia (Unindo).

Para imam yang hadir dari keenam Keuskupan di Regio Sumatera adalah mereka yang usia Tahbisan imamatnya sudah 21 tahun ke atas, berjumlah 86 orang. Seorang Uskup dan beberapa imam lain karena perubahan jadwal pesawat, terpaksa tidak bisa hadir pada misa pembukaan ini, baru bisa bergabung dalam acara hari berikutnya. 

Selain para Uskup dan para imam misa ini juga dihadiri oleh para Suster dan awam umat Paroki Katedral St. Theresia Padang, serta dimeriahkan dengan koor yang dibawakan anak-anak didik Seminari Menengah Maria Nirmala, Padang. 

Dalam kata sambutannya, RD. Bagus menyambut kehadiran para peserta dan para Uskup serta berharap Pertemuan On Going Formation dapat berlangsung dengan baik dan para peserta selalu semangat menjalani kegiatan-kegiatan dalam suka cita hari demi hari.

Misa ini diakhiri acara pembukaan kata-kata sambutan dan pemukulan gong sebagai tanda pembukaan Pertemuan On Going Formation.




Pertemuan SIGNIS Regio Sumatera

“Framing dan Konvergensi Media Pastoral”

(Romo Adrian Tobing)

Pengantar :

Framing  dan Konvergensi adalah tema besar yang menjadi inspirasi pertemuan bersama anggota SIGNIS Keuskupan Se-Regio Sumatera. Framing merupakan proses penentuan cara menyajikan informasi dengan menyoroti aspek-aspek tertentu, menggunakan kata-kata atau sudut pandang spesifik, untuk mampu memengaruhi audiens agar memahami dan langsung bereaksi terhadap suatu isu atau peristiwa. Sementara itu, konvergensi dalam konteks media merujuk pada penggabungan berbagai jenis media dan teknologi komunikasi, di mana konten dapat diakses melalui berbagai platform (kerangka kerja). Informasi dibingkai dalam konteks tertentu, sehingga media menyajikan realitas dengan penekanan pada aspek tertentu untuk membentuk pemahaman yang diinginkan. Maka diharapkan agar setiap Keuskupan harus memiliki media sosial sebagai sarana informasi untuk menyuarakan iman ke seluruh umat.

Point Pertama :

Setelah penyambutan dan registrasi para peserta oleh panitia, dilanjutkan Ekaristi bersama yaitu Misa Pembukaan Pelatihan SIGNIS Regio Sumatera. Dalam renungan Mgr. Adrianus Sunarko “Spes et confundi dalam konteks Maria Berdukacita merujuk pada peran Bunda Maria dalam menghadapi penderitaan Yesus yang begitu mendalam, di mana ia berdiri teguh pada imannya meskipun dipenuhi dukacita yang mengiris hati. 

Maria adalah saksi yang mulia, dimana Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman yang kuat di tengah penderitaan dan tetap berharap, karena penderitaan bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Kita diundang untuk belajar dari keteguhan Maria, memohon kekuatannya untuk menghadapi duka, serta menyerahkan diri kepada perlindungan Maria yang mendampingi dan membawa kita kepada Yesus, Putranya. Pokok-pokok Renungan Spes et confundi, Dukacita dan Iman yang teguh.

Penderitaan dan Harapan yang dapat kita renungkan ini menekankan bahwa harapan (spes) dan kebingungan atau kepedihan (confundi) hidup berdampingan. Meskipun penderitaan itu nyata dan menyakitkan, Maria mengajarkan kita untuk tidak putus asa, tetapi tetap berharap akan pemulihan dan kebangkitan yang dijanjikan Tuhan. Kita bisa mengarahkan pandangan kita kepada Maria, yang memahami perjuangan kita dan akan membimbing kita kepada Yesus. 

 

 

 

 

 

Point Kedua :

Perkenalan dari setiap Keuskupan ada 6 Keuskupam,

Keuskupan Agung Medan    : 2 Peserta,

Keuskupan Sibolga               : 5 Peserta,

Keuskupan Padang               : 2 Peserta,

Keuskupan Palembang         : 5 Peserta,

Keuskupan Tanjung Karang : 5 Peserta dan,

Keuskupan Pangkal Pinang : 10 Peserta

Poin Ketiga:

Kata Sambutan dari Romo Anton Moa. Romo Anton Moa sekaligus juga Vikjen Keuskupan Pangkal Pinang menyambut para peserta dengan penuh sukacita. Beliau berpesan semoga melalui pertemuan “Pelatihan SIGNIS Regio Sumatera ini, para pengurus SIGNIS Keuskupan bersama Para Volunteer mampu membawa sukacita melalui media sosial Keuskupan masing masing. Menjadi pembawa kebenaran berita dan mampu menganalisis tanda tanda zaman sebagai pewartaan yang nyata.

Point Keempat :

Kata Sambutan dari Ketua Signis Regio Sumatera Romo Kornelius Anjarsi, menegaskan agar setiap pengurus dan utusan dari setiap Keuskupan se-Regio Sumatera sungguh-sungguh membawa sukacita dan melalui media sosial mampu menyampaikan pemberitaan yang benar dan penuh dengan iman. Romo Kornelius Anjarsi juga menyampaikan thema pertemuan SIGNIS 2023 di Ruteng yakni “Media dan Ekologi” , Pertemuan SIGNIS 2024 di Rapat Anggota Signis Indonesia Ke 51 “SIGNIS Indonesia Berziarah Bersama dalam Pengharapan,” di Palembang 17-21 Februari 2025. Maka dalam diskusi bersama para ketua SIGNIS / Komsos Keuskupan se-Regio Sumatera mengambil thema “Framing dan Konvergensi media pastoral” di Keuskupan Pangkal Pinang tanggal 15-17 September 2025. Ketua SIGNIS Regio Sumatera sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Point Kelima :

Mgr. Adrianus Sunarko, Memperkenalkan Situasi Keuskupan Pangkal Pinang. Keuskupan Pangkalpinang adalah Keuskupan sufragan di Indonesia yang melayani umat Katolik di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Keuskupan ini berdiri sebagai Prefektur Apostolik pada tahun 1923, kemudian menjadi Vikariat Apostolik pada 1951, dan akhirnya Keuskupan pada tahun 1961. Sekarang Keuskupan Pangkalpinang merupakan bagian dari Provinsi Gerejawi Keuskupan Agung Palembang. 

A. Sejarah Singkat 

·         1923: Berdiri sebagai Prefektur Apostolik Bangka-Biliton, terpisah dari Prefektur Apostolik Sumatra.

·         1951: Statusnya ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Pangkalpinang.

·         1961: Ditingkatkan lagi menjadi Keuskupan Pangkalpinang.

·         2003: Pergantian metropolit dari Keuskupan Agung Medan ke Keuskupan Agung Palembang.

B. Wilayah Pelayanan 

·         Keuskupan ini mencakup seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.

C. Pimpinan Keuskupan 

·         Saat ini, Keuskupan Pangkalpinang dipimpin oleh Uskup Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM.

D. Struktur dan Pelayanan

·         Keuskupan Pangkalpinang terbagi menjadi dua kevikepan, yang masing-masing dipimpin oleh seorang vikaris episkopal (vikep). 

·         Fungsi kevikepan adalah untuk mengoordinasikan kegiatan pastoral, liturgi, pendidikan, dan karya sosial di paroki-paroki di wilayahnya. 

·         Selain itu, Keuskupan juga peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup dengan mengacu pada ajaran Gereja. 

 

Hari Kedua

Konferensi  oleh Bapak Josie Susilo Handrianto

Point Keenam :

“Framing Pastoral di Era Digital”

Dunia digital adalah lingkungan yang dibentuk oleh teknologi informasi dan komunikasi, meliputi semua yang berkaitan dengan komputer, internet, dan jaringan, di mana informasi dan komunikasi diproses, disimpan, dan ditransmisikan menggunakan perangkat lunak dan keras digital. Era ini memungkinkan aktivitas menjadi lebih praktis dan terhubung, dengan perkembangan seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan aplikasi digital yang mengubah cara kita belajar, bekerja, dan berinteraksi. Namun, ia juga menghadirkan tantangan seperti risiko konten berbahaya dan kebutuhan akan literasi digital untuk penggunaan yang bijak dan aman. 

Poin Ketujuh :

Konvergensi media pastoral adalah penggabungan media tradisional dan digital untuk meningkatkan pelayanan pastoral atau pelayanan rohani. Tujuannya adalah untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan, membangun komunitas, dan memberikan bimbingan rohani secara lebih luas dan efektif di era digital. 

 “Konvergensi Media Sosial Gereja Peluang dan Tantangan

Konvergensi ini memadukan tiga elemen utama, yaitu Komputasi, Komunikasi dan Konten. Komputasi: Pemanfaatan perangkat dan teknologi digital, seperti ponsel pintar dan laptop. Komunikasi: Penggunaan internet dan jaringan digital untuk berinteraksi. Konten: Materi-materi pastoral, seperti khotbah, renungan, dan informasi kegiatan gereja, yang didistribusikan dalam format digital. 

Peran dan Contoh Dalam Pelayanan Pastoral

Konvergensi media mengubah cara pelayanan pastoral, dari yang semula hanya tatap muka menjadi model yang lebih fleksibel dan menjangkau lebih banyak orang. 

·       Penyebaran materi rohani: Gereja dapat mengunggah video khotbah, rekaman audio, atau renungan harian yang dapat diakses jemaat kapan saja.

·       Pembangunan komunitas online: Media sosial digunakan untuk menciptakan forum diskusi, grup doa, atau platform berbagi pengalaman iman bagi jemaat yang terpisah jarak.

·       Konseling pastoral daring: Bimbingan rohani dapat diberikan melalui media digital kepada jemaat yang membutuhkan.

·       Penjangkauan global: Konten dapat disebarkan ke audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak dapat datang secara fisik ke gereja karena lokasi, pekerjaan, atau kondisi kesehatan.

·       Strategi komunikasi terpadu: Pesan pastoral disampaikan secara konsisten melalui berbagai platform, seperti situs web, media sosial, dan layanan streaming misa, untuk memperkuat dampaknya. 

Tantangan Konvergensi Media Pastoral

Meskipun memberikan banyak keuntungan, konvergensi media juga menghadirkan sejumlah tantangan bagi pelayanan pastoral: 

·       Penyebaran informasi yang tidak akurat: Risiko penyebaran hoaks atau informasi yang tidak sesuai dengan ajaran agama dapat menyesatkan umat.

·       Kurangnya kedalaman interaksi: Komunikasi digital sering kali tidak memiliki kedalaman yang sama dengan interaksi tatap muka.

·       Kesenjangan akses: Tidak semua jemaat memiliki akses atau kemampuan teknologi yang sama, terutama di daerah yang koneksi internetnya terbatas.

·       Ketergantungan teknologi: Penggunaan media digital yang berlebihan dapat berpotensi mengalihkan perhatian dari kehidupan rohani dan realitas tatap muka.

·       Mempertahankan relevansi: Gereja perlu terus berinovasi agar pesan pastoralnya tetap relevan dan menarik bagi generasi muda yang terbiasa dengan dunia digital. 

Penutup :

Pastoral Digital

Pastoral digital Regio Sumatera merupakan pelayanan penggembalaan spiritual dan dukungan rohani yang dilakukan dengan menggunakan teknologi dan media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, podcast, dan video konferensi, untuk menjangkau umat, khususnya kaum muda, serta membangun komunitas dan menyediakan bimbingan di era digital. Ini merupakan respons gereja terhadap tantangan dan peluang yang muncul dari perkembangan teknologi, memungkinkan penyampaian ajaran, konseling, dan kegiatan keagamaan secara lebih luas, fleksibel, dan kreatif. 

Mengapa Pastoral Digital Penting? Menjangkau Generasi Muda, Remaja dan kaum muda di era digital sulit dijangkau dengan metode pastoral tradisional, sehingga teknologi menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan iman secara relevan. Memperluas jangkauan pelayanan teknologi memungkinkan gereja untuk melayani umat yang terhalang jarak atau waktu, memastikan keberlanjutan ibadah dan dukungan spiritual. Fleksibilitas dan Aksesibilitas, Layanan pastoral digital menawarkan fleksibilitas bagi umat dan konselor untuk berinteraksi kapan saja dan di mana saja. Membangun komunitas, media digital dapat digunakan untuk mengadakan sesi diskusi Alkitab, doa bersama, dan kegiatan gereja lainnya secara daring, memperkuat rasa memiliki dan keterlibatan komunitas. 

Platform dan metode yang digunakan yaitu Facebook, Instagram, TikTok dan Youtube. Media sosial ini digunakan untuk menyebarkan pesan dukungan, inspirasi, ajaran rohani, dan informasi kegiatan gereja. Aplikasi Pesan dan Konferensi Video. Blog dan Podcast, Menyajikan konten audio dan tulisan yang dapat diakses kapan saja untuk dukungan spiritual yang mendalam. Tantangan dalam Pastoral Digital. Pastoral digital menjadi pelengkap strategis untuk memperluas dan memperkaya pelayanan Gereja di dunia yang semakin terhubung dengan teknologi. Gereja perlu mengembangkan strategi pastoral digital yang efektif, bijak, dan etis untuk menjawab kebutuhan zaman.

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget