Keuskupan Sibolga

Latest Post

 


Intensi Doa Bapa Suci di Bulan Mei:

 “Semoga setiap orang dapat makanan”

 

Bapa Suci Leo XIV mengeluarkan intensi doanya selama bulan Mei 2026 ini dan dia mengajak semua orang Katolik mendoakannya agar setiap orang memungkinkan mendapatkan makanan, sebagaimana yang ia tekankan bahwa terdapat jutaan saudara-saudari yang terus berjuang untuk mengatasi lapar sementara ada begitu banyak makanan yang terbuang percuma.

 

Bapa Suci mengajak setiap orang Katolik di seluruh dunia untuk bersama dia berdoa selama bulan Mei ini agar setiap orang bisa mendapatkan makanan. Ajakan ini dituangkan dalam sebuah video hari Kamis (31/04) dengan topik “Berdoa bersama Paus” yang dipersiapkan oleh “Pope’s Worldwide Prayer Network”.

 

Di dalam doanya, Bapa Suci menyadari bahwa ada begitu banyak saudara dan saudari yang masih berjuang untuk makan dan minum.

 

Dengan meratapi banyaknya makanan yang terbuang di atas meja kita, Bapa Suci berdoa agar Tuhan “membangunkan dalam diri kita sebuah kesadaran baru: bahwa kita belajar untuk bersyukur atas setiap makanan, mengonsumsi secara sederhana, berbagi dengan sukacita dan peduli terhadap hasil bumi sebagai sebuah anugerah dari-Mu, diperuntukkan bagi semua, bukan hanya sebagian orang”.

 

Bapa Suci berdoa agar Tuhan Yesus membuat kita mampu “mentransformasi logika mengonsumsi secara egois ke dalam budaya solider,” melalui komunitas-komunitas kita dengan gerakan-gerakan yang konkret, termasuk melalui kampanye, pengumpulan makanan dan membentuk gaya hidup yang dijalani secara sadar dan bertanggungjawab.

 

“Kamu yang mengutus kepada kami Putra terkasih-Mu, Yesus,  pecahkanlah roti demi kehidupan dunia”, doa Bapa Suci, “berilah kami sebuah hati yang baru, rasa lapar akan keadilan dan rasa haus akan persaudaraan”.

 

Bapa Suci menutup doanya dengan mengatakan: “semoga tidak ada orang yang terkecualikan dari meja makan bersama, dan semoga Roh-Mu mengajar kami untuk melihat makanan tidak sebagai sebuah obyek konsumsi tetapi sebagai sebuah tanda persekutuan dan kepedulian. Amin”.

 

Sebuah Isu Global

 

Berdasarkan “World Food Programme’s 2026 Global Outlook”, terdapat 318 juta orang tengah menghadapi krisi makanan atau bahkan situasinya menjadi sangat memburuk di tahun ini.

 

Lembaga tersebut memberi peringatan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa menambah 45 jutaan orang masuk ke dalam situasi krisis ini.

 

Dalam siaran pres yang menyertai video doa Bapa Suci tersebut, Pastor Cristóbal Fones, seorang direktur internasional dari Popes Worldwide Prayer Network, mengatakan bahwa intensi ini sangat berarti.

 

Doa ini, katanya, dari dari hati Bapa Suci. Itu (kesengsaraan akibat kelaparan) melukainya begitu dalam bahwa ada begitu banyak orang di dunia tidak bisa mengakses sesuatu yang sangat penting dan manusiawi seperti makanan. Inilah mengapa dia (Bapa Suci) meminta setiap orang untuk tidak bertahan pada sikap acuh tak acuh tetapi mengambil tindakan yang berarti, pertama dengan berdoa, kemudian dengan solidaritas.

 

Doa bersama dengan Bapa Suci

 

Dalam Nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

 

Allah Pencipta,

Kamu memberi kami bumi yang subur dan, dengan itu,

kami memperoleh roti setiap hari,

sebagai tanda Kasih dan penyertaan-Mu.

 

Hari ini kami mengetahui dengan penuh duka,

bahwa jutaan saudara/i kami masih berjuang melawan rasa lapar,

sementara ada begitu banyak makanan sisa di meja kami.

 

Bangunkanlah dalam diri kami, suatu kesadaran baru,

supaya kami belajar bersyukur atas setiap makanan,

mengkonsumsinya secara sederhana,

berbagi dengan sukacita,

dan peduli terhadap hasil bumi yang merupakan anugerah dari Mu,

ditujukan untuk semuanya, bukan hanya untuk beberapa saja.

 

Bapa yang Baik,

buatlah kami mampu mengubah logika konsumsi kami yang bersifat egois

ke dalam budaya solider.

Semoga komunitas-komunitas kami mempromosikan gerakan-gerakan konkret:

kampaye kesadaran, mengumpulkan makanan,

dan memiliki gaya hidup yang sadar dan bertanggungjawab.

 

Kamu, yang mengutus Putera terkasih-Mu kepada kami, Yesus,

pecahkanlah roti untuk kehidupan dunia,

berilah kami hati yang baru,

lapar akan keadilan dan haus akan persaudaraan.

Semoga tidak ada seorang pun yang terkecualikan dari meja makan bersama,

dan semoga Roh Kudus Mu mengajar kami untuk melihat makanan tidak hanya sebagai obyek konsumsi tetapi sebagai tanda persekutuan dan kepedulian. Amen.

 

(Disadur dari vaticannews.va, Popes May prayer intention: That everyone might have food, 30 April 2026)

 



Paus Leo kepada lembaga amal dari Keuskupan Agung Köln: Gereja harus bersaksi akan kebenaran dalam karya amal kasih

 

Dalam pertemuan dengan utusan dari Keuskupan Agung Köln, Jerman, Bapa Suci Leo XIV mendorong Gereja di semua negara untuk saling mendukung terhadap keuskupan lainnya dan memberikan kesaksian tentang kebenaran dalam karya amal kasih.

 

Paus Leo XIV bertemu dengan perwakilan Kantor Keuskupan untuk Gereja Universal dan Dialog dalam perayaan 50 tahun berdirinya lembaga tersebut di Keuskupan Agung Köln, Jerman (30/04).

 

Bapa Suci mengatakan bahwa terdapat kesempatan untuk merefleksikan universalitas Gereja dan betapa pentingnya dialog.

 

“Dalam terang Kebangkitan Kristus, Gereja menyadari dirinya sebagai adaan yang diutus untuk semua orang-tidak dengan paksaan, tetapi dengan melahirkan kesaksian akan kebenaran dalam karya amal kasih”, kata Bapa Suci. “Dialog, pada gilirannya, memperkuat persekutuan, membuka pemahaman dan melayani atas dasar damai”.

 

Melalui dialog dan persekutuan, Kristus membuat Gereja sebagai sebuah tanda persatuan dan harapan bagi dunia serta menarik segala sesuatu kepada diri-Nya.

 

Bapa Suci memuji Keuskupan Agung Köln atas keterbukaan dirinya sebagai “nabi” untuk Gereja universal, yang mewujud dalam ekspresi untuk mengumpulkan, saling berbagi dan berdialog.

 

Bapa Suci mengenang kembali tentang Keuskupan Agung Köln membangun hubungan kemitraan dengan Keuskupan Agung Tokyo pada tahun 1954 dan membentuk beberapa lembaga bantuan termasuk Misereor dan Adveniat.

 

“Visi Gereja yang sungguh universal, yang dipanggil untuk bersolider di luar batas Eropa dan didukung melalui budaya dialog, tetap menjadi inti dari identitas organisasi Anda”, kata Bapa Suci.

 

Sebagai informasi, Misereor dan Adveniat adalah dua organisasi bantuan internasional utama milik Gereja Katolik Jerman yang berfokus pada solidaritas global. Misereor berfokus melawan kemiskinan, kelaparan dan ketidakadilan di negara-negara selatan global yakni Afrika, Asia dan Amerika Latin, tanpa memandang suku, agama atau gender, sementara Adveniat berfokus pada dukungan bagi Gereja Katolik di Amerika Latin dan Karibia dalam pelayanan pastoral, pendidikan dan bantuan sosial masyarakat miskin.

 

Keuskupan Agung Köln juga menjadi sebuah anggota pendiri dari Meeting of Aid Agencies for Eastern Churches (ROACO), yang menawarkan bantuan untuk Gereja Timur dan daerah-daerah yang terdampak kelaparan, banjir dan perang.

 

Bantuan lain yang juga dipromosikan oleh Keuskupan Agung Köln ini ialah beasiswa studi untuk para seminaris dan asistensi untuk para imam yang tua.

 

Bapa Suci Leo juga mengenang kembali betapa Keuskupan Agung Köln juga turut membantu Keuskupan di Peru yang kala itu beliau adalah Uskupnya. Bantuan itu termasuk pembelian mesin produksi oksigen yang menyelamatkan banyak kehidupan.

 

“Melalui pelanan Anda yang luarbiasa”, kata Bapa Suci, “dimensi universalitas dari Gereja itu menjadi tampak dan konkret, membina solidaritas, memperteguh dasar kesatuan dan menjadi saksi Injil tentang kedamaian di dunia yang sering ditandai dengan perpecahan dan kesengsaraan”.

 

Pada bagian penutup dari sambutannya, Paus Leo XIV mengundang Keuskupan Agung Köln untuk melanjutkan misi cinta kasih, secara khusus dukungannya terhadap umat Kristen di Timur Tengah dan terhadap siapa saja yang dengan terpaksa meninggalkan tanah air mereka.

 

“Saya mendorong mu”, katanya, “untuk terus bertekad dalam misi cinta kasih ini, agar mereka tetap dapat merasakan kedekatan Gereja universal”.

 

(Disadur dari vaticannews.va, Pope Leo: Church must bear witness to truth in charity)

 




Minggu Paskah V, 3 Mei 2026

Di Tempat Aku Berada

Kisah para Rasul 6:1-7

Mazmur 33:1-2,4.5, 18-19

1 Petrus 2:4-9

Yohanes 14:1-12


“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.

Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu”

(Yohanes 14:2)

**************************

Hati yang Kaya dengan Kasih

Raja George yang bijaksana mulai uzur dan sakit-sakitan. Dia tidak mempunyai anak. Sebelum meninggalkan bumi fana ini, dia ingin menunjuk seorang penggantinya menjadi raja. Persoalannya, siapakah yang akan menggantikannya menjadi raja? Bagaimana cara memilih penggantinya itu?

Karena ada ribuan pemuda yang ingin menjadi raja di negeri itu, maka Raja George mengumumkan ke seluruh penjuru kerajaan suatu maklumat yang isinya, “Barang siapa di antara para pemuda yang berkehendak dan bersedia memenuhi persyaratan menjadi raja pengganti, diharpkan datang dan menjumpai Sri Baginda yang mulia.“ Satu-satunya syarat adalah: Harus Mempunyai Cinta yang Besar Terhadap Allah dan Sesama.”

Di sebuah kampung hiduplah Peter, seorang pemuda yang sangat mencintai Allah dan sesama serta beriman teguh kepada-Nya. Ketika mendengar maklumat kerajaan itu, dia merasa bahwa dirinya memiliki peluang untuk menjadi pewaris tahta kerajaan. Dia yakin bahwa dirinya memenuhi persyaratan untuk menjadi raja baru karena dia mencintai Allah dan sesamanya.

Dengan penuh percaya diri, Peter menyampaikan keinginannya kepada tetangga sekampungnya. Semua orang di kampung yang sungguh-sungguh mengenal dan mencintainya karena kebaikannya mengakui bahwa Peter memiliki untuk menjadi raja.

Tetapi sayang…. dia sangat miskin. Dia tidak memiliki pakaian, sepatu dan uang untuk untuk menghadap sang raja dan membiayai perjalanan menuju istana kerajaan.

Para penduduk kampung, dalam kesederhanaannya, berusaha membantu Peter dengan mengumpulkan iuran untuk membelikannya baju baru, sepatu yang mahal dan memberinya cukup uang sebagai bekal perjalanan menuju ke istana kerajaan. Pada suatu hari, mereka bersama-sama mengantar Peter ke depan gerbang desa dan mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Peter akhirnya tiba di istana. Ketika hampir memasuki gerbang kerajaan, dia berpapasan dengan seorang  pengemis yang malang. Peter tergerak hatinya oleh belas kasihan kepada pengemis itu.

 

Peter bertanya:

“Apakah yang dapat aku lakukan bagimu, saudaraku ?’

 

Pengemis itu menjawab:

“Kasihanilah aku! Aku tidak mempunyai pakaian, sepatu, dan saat ini aku kedinginan. Berbuatlah sesuatu untukku ! Tolonglah aku, tuan !”

 

Peter menyahut:

“Sahabat, aku tidak mempunyai pakaian dan  sepatu, selain yang kupakai ini, tetapi jika kamu sungguh-sungguh memerlukannya, mari kita bertukar pakaian!” Lalu Peter dan Pengemis itu bertukar pakaian.

 

Namun, setelah itu Peter mulai gelisah dan berpikir:

“Bagaimana aku bisa masuk ke istana raja kalau hanya memakai pakaian kumal seperti ini. Mereka pasti akan melemparkan aku keluar dari istana raja. Namun jika Kristus sendiri yang berdiri di pintu gerbang istana dan meminta pakaianku, apakah aku akan menolaknya? Tidak, sekali-kali tidak!”

Di saat Peter digelisahkan oleh pikiran-pikirannya, penjaga pintu gerbang menanyakan maksud kedatangannya ke istana. Peter menjawab bahwa dia ingin berjumpa dengan sang raja. Pejaga pintu gerbang itu menghantarnya masuk dan menyuruhnya menunggu di suatu ruangan yang megah.

Tidak lama kemudian, raja memasuki  ruangan itu. Peter merasa malu dengan pakaian yang dikenakannya. Tetapi raja mendekatinya dan meletakkan tangannya di bahunya sambil berkata:

“ Anakku terkasih ….engkau akan menjadi raja !”

Peter sangat terkejut. Sang raja menatapnya sambil berkata, “Lihatlah aku! Dapatkah engkau mengenaliku? Aku adalah pengemis yang tadinya berdiri di pintu gerbang istana. Engkau berhasil lulus ujian dan memenuhi syarat. Aku sungguh yakin  dan percaya.

Peter dinobatkan menjadi raja karena dia memenuhi kriteria sebagaimana dikehendaki sang raja: memiliki hati yang kaya dengan kasih. Peter yang mempunyai hati yang bersedia memberi dan melayani memberikan cinta sehabis-habisnya demi kepentingan, kebahagiaan, dan keselamatan orang lain, kendati untuk itu, dia harus berkorban.

Namun, lebih dari sikap kasih Peter, Yesus, Sang Pemimpin Ilahi berusaha mengkonkritkan sikap memberi dan melayani; mencintai sehabis-habisnya demi keselamatan orang lain melalui tindakan-tindakan mesianik-Nya yang sulit dimengerti manusia, yaitu mencuci kaki serta memecah-mecahkan dan membagi-bagikan Tubuh-Nya yang Maha Kudus sebagai Santapan Rohani dengan Wafat di Salib yang hina.

*******************

Tatkala mendengar Sabda Yesus mengenai Rumah Bapa, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu,” kita pasti bertanya, “Di manakah Rumah Bapa?

Rumah Bapa tidak berada di wilayah teritorial tertentu. Rumah Bapa yang Kekal ada dalam diri Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus yang selalu menyembah Bapa-Nya dalam Roh dan Kebenaran. Anak-Nya adalah Sabda Kekal-Nya yang menjadi Manusia dan tinggal di antara Manusia untuk menyatakan Wajah Cinta dan Belas Kasih Bapa kepada manusia.

Agar kita sungguh-sungguh mengerti dan mengimani arti Rumah Bapa yang Kekal, kita harus mendalami maksud kedatangan dua murid Yohanes Pembaptis dan bertanya kepada Yesus, “Guru, di manakah Engkau tinggal? Kedua murid dan kita, yang mengikuti Yesus, Anak Allah kiranya tahu, di manakah Dia tinggal!

Pertama, tatkala kedua murid Yohanes Pembaptis dan kita, para pengikut-Nya menatap Yesus di saat Dia membasuh kaki dan memberikan sepotong roti kepada Yudas, sesungguhnya, mereka dan kita sudah mengetahui tempat tinggal-Nya. Tempat tinggal Yesus adalah Cinta Allah, Bapa-Nya sendiri. Rumah Bapa adalah Rumah Cinta, Persekutuan Cinta Bapa, Putra dan Roh Kudus: Bapa tidak pernah terpisahkan dari Anak-Nya dan Anak tidak pernah terpisahkan dari Bapa-Nya. Anak selalu bersatu dengan Bapa dan tinggal dalam Bapa-Nya. Bapa dan Anak memiliki nefesy haya (napas kehidupan), spirit, vitalitas dan kehendak yang satu dan sama, yaitu spirit Cinta. Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Sang Cinta dan Cinta Agung Bapa, Putra dan Roh Kudus dinyatakan dalam pemberian-Nya yang paling mulia di salib yang hina, yaitu Kasih (Putra adalah Cinta yang dinyatakan dalam Pemberian. Pemberian cinta inilah yang dinamakan Kasih).

Karena Rumah Bapa adalah Rumah Cinta Bapa, Putra dan Roh Kudus, ini berarti bahwa dalam Diri Yesus, Anak Allah ada Tempat Tinggal bagi Semua Orang yang menerima dan mengimani-Nya sebagai Allah yang menjadi Manusia. Semua Rasul, Murid dan Orang yang Percaya kepada-Nya dan tinggal dalam Kasih-Nya akan menjadi saudara bagi yang lain dalam dan karena kasih. Semua orang yang percaya kepada Yesus, Sang Kasih, melakukan pekerjaan kasih: saling mengasihi (cap kusus pengikut Yesus) akan Tinggal dalam dan Besama Sang Kasih: Satu-satu bagi masing-masing saudara-Nya.

Siapa saja yang menerima Yesus dan mengasihi sesamanya dengan Kasih (karena Yesus, Sang Kasih) Anak Allah akan menjadi anak-anak Allah dan tinggal bersama-Nya. Yesus, Anak Allah adalah Sanktuarium, Tempat Bagi Semua Manusia Menjumpai Allah dan Menemukan Wajah Allah Kasih  Allah. Dalam Wajah Anak-Nya yang menjadi Manusia, Tempat Kediaman Allah/ Rumah Allah berada di tengah-tengah manusia.

Ini berarti bahwa Rumah Bapa dan Tinggal bersama-Nya tidak dialami setelah kita mengalami kematian fisik/tubuh insani, melainkan saat ini: Ketika kita tinggal dalam kasih-Nya: hidup saling mengasihi, saling menerima kekurangan dan keterbatasan, saling mengampuni dan saling melayani. Di saat kita tinggal dalam kasih-Nya, di saat ini juga kita sudah tinggal di Rumah Bapa sebab Rumah/Tempat Kediaman yang disediakan Bapa bagi semua manusia, ciptaan-Nya adalah Diri Anak-Nya.. Secara singkat harus dikatakan: memiliki Yesus, Anak Allah, mendengarkan dan melakukan Kehendak-Nya, yaitu Saling mengasihi, berarti kita sudah memiliki dan berada di Rumah Bapa.

Kedua, Setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dua murid Yohanes Pembaptis yang bertanya, “Guru, di manakah Engkau tinggal? sungguh-sungguh percaya bahwa Tempat Tinggal, Takhta Tertinggi dan Termulai Anak Allah, Raja Israel, bukanlah istana yang megah, melainkan Salib yang Hina.

Mengapa harus di Salib yang Hina? Di Salib yang Hina, Yesus, Sang Kasih serentak memacarkan keaguangan dan kemuliaan Cinta Kasih-Nya, yaitu Cinta yang Rela Berkorban, Rela Mengabdi dan Rela Memberikan Diri hingga Kosong/Kenosis demi keselamatan Kita, semua Manusia, Ciptaan-Nya. Salib adalah Puncak Penyataan dan Pemberian Kasih dari Dia yang adalah Sang Kasih.

Salib yang Hina serentak menjadi dua lambang kontradiksi/pertentangan dunia, yaitu bumi dan surga, timur dan barat, hitam dan putih, keriting dan lurus, cantik/tampan, dan buruk rupa. Namun, setelah Kematian Yesus, salib menjadi lambang siksaan yang diciptakan manusia untuk saling menyingkirkan: Di salib, manusia yang terbatas, lemah, rapuh, berdosa tampak sebagai pribadi yang perkasa dan berkuasa atas Allah dan sesama dengan “mengadili Allah yang Tidak Terbatas, Allah yang tidak bersalah dengan kesalahan kita, manusia sendiri. Di salib yang Hina, manusia yang terbatas menyingkirkan Allah dengan menempatkan kemanusiaannya yang terbatas sebagai pusat dan sumber kehidupan. Di salib, manusia yang terbatas, rapuh, lemah dan berdosa membunuh dan menguburkan Allah, Sang Kebenaran dan Kebaikan, Sang Cinta.

Kita, manusia tidak sadar bahwa kita hanyalah ciptaan Allah. Kita, manusia, diciptakan Allah dari isi cinta-Nya sendiri. Karena sejak awal kita diciptakan, Allah, Sang Cinta memanggil kita, “Dimanakah Engkau hai Adam, hai Manusia. Ternyata, usaha Allah mencari kita untuk menyatakan bahwa Dia sangat mencintai kita dan harus menyelamatkan kita justru diakhiri dengan tindakan tragis dari kita: Kita Menyalibkan Dia, Sang Cinta. Di salib, Yesus, Anak Allah, Sang Mempelai Cinta bersatu dengan kita semua, ciptaan-Nya, Sang Pengantin Perempuan, yaitu Gereja, bersatu dalam Cinta yang Maha Kuat, Maha Kuasa dari maut yaitu arogansi, kesombongan kita yang lahir dari ketidaksadaran kita sebagai Ciptaan Allah Sang Cinta.

Salib, Takhta Yesus, Takhta Putra Allah serentak menjadi Ranjang Pernikahan, Tempat Cinta Bapa dan Putra-Nya bagi kita, manusia, ciptaan-Nya Tergenapi. Di kayu salib, Yesus, Putra Allah, Sang Mempelai Gereja, yaitu kita umat-Nya tidak sendirian. Dia didampingi oleh dua orang penjahat yang mewakili kita, umat ciptaan-Nya yang melalui peristiwa kematian, mewakili Yesus.

Apakah kita menjadi pendamping Yesus yang Tersalib yang Baik atau yang Jahat? Ingatlah, kita akan menjadi Pendamping Dia yang Tersalib yang Baik dan layak Tinggal Bersama-Nya di Rumah-Nya, jika kita berada bersama dan bersatu dengan Yesus, dalam diri sesama dengan tulus mengakui kesalahan dan dosa kita serta tinggal dalam diri sesama yang menderita.

Yesus menyampaikan Sabda-Nya ini (Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal) untuk mempersiapkan para Rasul, para Murid-Nya dan kita semua yang percaya kepada-Nya akan saat kematian-Nya di kayu salib. Melalui Kepergian-Nya, yaitu kematian-Nya, Dia mempersiapkan tempat di “Rumah Bapa” bagi kita. Pada saat itulah, mata hati dan iman mereka dan iman kita baru sungguh-sungguh terbuka melihat dan mengimani kedalaman dan keagungan Cinta Kasih-Nya sebagai Anak Manusia (sungguh-sungguh manusia) dan Anak Allah (sungguh-sungguh Allah).

Kepergian Yesus/kematian-Nya serentak diimani sebagai saat kedatangan-Nya kembali kepada para Rasul, para Murid dan kepada kita semua yang mengimani-Nya, sungguh Allah dan sungguh manusia. Kedatangan-Nya kembali kepada kita pada saat kematian-Nya, bukanlah kedatangan-Nya kembali pada Akhir Zaman, melainkan kedatangan-Nya saat ini (langsung) setelah kematian-Nya (masuk ke dalam dunia penantian, dunia jiwa-jiwa menantikan kedatangaa-Nya): Sang Kasih Mengalahkan kuasa maut.

Pada saat inilah, Kerajaan Allah tercipta di dunia ini dan pada saat inilah Dia yang Wafat dan Bangkit menyatakan kemuliaan cinta kasih-Nya sebagai Jaminan Tunggal bagi Kebangkitan semua orang yang percaya kepada-Nya serta menjadi Jalan yang Benar menuju Kehidupan yang Kekal (via, veritas, vita). Kedatangan-Nya setelah kebangkitan-Nya adalah Kedatangan-Nya yang baru, dengan Tubuh dan Jiwa-Nya yang sudah dimuliakan, kekal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu... Kedatangan-Nya setelah kematian-Nya menghasilkan Persatuan Kasih yang Sempurna antara kita, pengikut-Nya dengan Bapa dalam diri-Nya.

Walaupun demikian, kita para pengikut-Nya tidak mungkin berada di Tempat Yesus Berada, sebelum Tubuh Insani-Nya mengalami kematian. Tubuh Insani-Nya harus mati dan harus masuk ke dalam dunia orang mati (tempat penantian jiwa-jiwa) untuk membuka jalan bagi kita menuju keselamatan, dalam dan melalui kematian-Nya. Dalam dan melalui kematian-Nya, Dia menyatakan Kebesaran, Kedalaman dan Keagungan Cinta Kasih-Nya demi keselamatan dan kebahagiaan kekal bagi kita semua orang yang percaya kepada-Nya...

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Giornata...

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

Minggu Paskah IV, 26 April 2026

Pencuri dan Perampok

Kisah para Rasul 21:14a, 36-41

Mazmur 23:1-3a, 3b.4.5.6.

1 Petrus 2:20b-25

Yohanes 10:1-10

*******************************

Setiap hari, di sebuah terminal kota sering terjadi keributan antara penumpang dengan  sopir angkot dan calo. Ada banyak penumpang yang diperas oleh sopir dan calo. Para penumpang yang seharusnya membayar Rp. 3.000 sering membayar Rp. 4.000 atau Rp. 5.000.

Apabila ada bus antar kota yang masuk terminal, sopir angkot dan calo berebutan penumpang bus tersebut. Mereka berlaku kasar (menarik tas penumpang) hanya demi pemasukan harian mereka. Akibatnya, banyak di antara penumpang yang kehilangan tas atau barang bawaan mereka yang lain.

Semrawutnya keadaan angkutan kota di terminal sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Akibatnya, perkelahian pun kerap terjadi; pemerasan menjadi pemandangan biasa dan permainan tarif terjadi sesuka perut sopir dan calo. Caci maki pun senantiasa menggema di terminal.

Ketika pejabat yang berurusan dengan terminal didatangi, dengan gaya seorang bos besar, dia pun menjawab: “Saya belum mendapat laporan!. Kalau pun ada bos yang berulah/bertingkah seperti ini, maka betapa pedihnya derita masyarakat.

Masyarakat memiliki gembala yang hatinya tidak pernah mengerti kesulitan yang mereka alami. Gembala masyarakat selalu membiarkan kawanan dombanya diterkam oleh serigala yang ganas, bahkan mereka sendirilah yang menjadi serigala bagi masyarakat.

*****************

Dalam Sabda Injil-Nya ini, di saat Yesus mengucapkan kalimat, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu...” pada saat itu, Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Allah yang Ber-Sabda; Allah yang mengenakan pada diri-Nya Daging Insani. Dia adalah Sabda Kekal Allah yang Mem-Pribadi; Allah yang Hidup dalam Rupa Manusia.

Kodrat Yesus sebagai Allah yang Ber-Sabda, yang mengenakan Daging Insani, dinyatakan dalam Sabda yang menyusul-Nya. Sabda yang Keluar dari Mutut-Nya adalah Sabda Kekal Allah.

Dalam Sabda-Nya ini, Yesus menyasar para Pemuka Bangsa Israel yang dipilih dan diutus Allah untuk menjadi “gembala“ yang berperan sebagai “penjaga kawanan Domba Israel,” yaitu Umat Beriman Pilihan Allah sendiri. Akan tetapi, mereka justru merampas kawanan domba Allah, yaitu Umat Israel dari rangkulan kasih-Nya seperti pencuri dan perampok.

Dengan penuh kewibawaan, para Pemuka Bangsa Yahudi mengajar dan membina umat Israel, Umat Beriman Pilihan Allah agar mereka memiliki pemahaman iman yang benar mengenai Allah. Namun, dalam kenyataannya,  mereka justru mencuri dan merampok iman Umat Beriman Pilihan Allah: mereka meletakan beban hukum yang sangat berat dan sangat sulit untuk dipenuhi oleh Umat Beriman Pilihan Allah; mereka mengutamakan dan memperjuangkan kepentingan sendiri tanpa mempedulikan Umat Beriman Pilihan Allah yang sangat dan selalu merindukan cinta, kasih sayang, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan. Mereka menjadikan Bait Suci sebagai tempat bisnis dan perjudian.

Apabila para Pemuka Bangsa Israel menjalankan fungsi mereka sesuai dengan Kehendak Allah dan menjawab kerinduan umat-Nya, mereka pasti tidak akan pernah takut menghadapi Yesus. Mereka pasti mendengarkan Yesus dengan sikap batin yang tenang, tanpa curiga. Akan tetapi, sikap mereka justru sebaliknya: mereka mencurigai, menolak dan membenci-Nya.

Sikap dan tindakan para pemuka Bangsa Yahudi sangat bertentangan dengan sikap dan tindakan Yesus. Kehadiran Yesus, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan justru mencerahkan, membuka pikiran dan hati, tidak pernah mencuri dan selalu memberikan kehidupan-Nya kepada mereka melalui Sabda Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya yang Merangkul dan Mengampuni. Yesus tidak pernah memeras, apalagi menghukum dan membunuh. Yesus justru mengalirkan kehidupan dan kemerdekaan, kebebasan dan keselamatan.

Setiap per-Kata-an, Sabda yang keluar dari mulut-Nya serentak menjadi Santapan dan Penunjuk Jalan. Sabda-Nya menerangi dan menanamkan rasa percaya diri dalam kawanan-Nya serta menuntun setiap kawanan-Nya untuk berkembang dalam kemerdekaan batin. Per-Kata-an, Sabda-Nya tidak memanjakan, tetapi tegas agar setiap kawanan-Nya mampu menjatuhkan pilihan yang jelas serta berkembang ke arah kepenuhan.

Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Gembala yang Baik. Dalam bahasa Yunani, kata yang dipergunakan adalah kalos: mulia, indah, sempurna, berharga, mengagumkan. Yesus adalah Gembala yang Baik, artinya Dia adalah Sang Gembala yang Sempurna dan Mengagumkan.

Sebagai Gembala yang Baik, Sempurna dan Mengagumkan, Yesus menunjukan jalan menuju kehidupan yang penuh, memberikan perhatian kepada yang lemah, tersesat dan membutuhkan; Dia hadir, mencintai dan mendukung kawanan domba-Nya.

 

o   Domba-domba tahu bahwa mereka membutuhkan gembala untuk memberikan mereka makan; memperhatikan, mencintai, menjaga, melindungi, menuntun dan membantu mereka untuk berkembang.

o   Domba-domba membutuhkan gembala yang baik, berbela rasa, kompeten; gembala yang serentak bertindak sebagai guru yang baik untuk membantu mereka berkembang.

o   Domba-domba membutuhkan keteladan gembala agar mereka berkembang dan mampu membuat pilihan yang baik.

o   Domba-domba juga membutuhkan keteladanan gembala agar berkembang menuju kematangan rohani; berkembang dalam hidup kasih dan doa.

 

Saat ini, banyak domba yang kesepian, kehilangan arah dalam kehidupan masyarakat yang kaya dan materialis:

o   Mereka mencari pribadi-pribadi yang bisa menjadi gembala untuk menuntun mereka menuju hidup yang baik dan sehat

o   Mereka mencari pribadi-pribadi yang bisa menjadi gembala untuk menuntun mereka agar bisa menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

o   Mereka mencari pribadi-pribadi gembala yang sungguh-sungguh memberikan perhatian; bisa menyelami dan memahami serta menghormati mereka.

 

Menjadi Gembala yang Baik Seperti Yesus

Namun, untuk menjadi gembala yang baik, kita harus belajar menjadi domba atau pengikut yang baik. Sebelum menegaskan keberadaan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik, Yesus menjadi Anak Domba yang Baik: Dia mendengarkan Bapa dan taat kepada-Nya.

Bukankah kita harus menjadi anak yang baik agar bisa menjadi orang tua yang baik? Apakah kita bisa mengajar orang lain kalau kita belum belajar dari orang lain? Bagaimana mungkin kita bisa mencintai kalau kita belum pernah dicintai?

Yesus, Cahaya Dunia, memanggil dan mendidik murid-murid-Nya untuk menjadi cahaya bagi dirinya dan dunia. Yesus, Gembala yang Baik memanggil dan mendidik kita untuk menjadi menjadi matang secara rohani agar kita bisa membantu pribadi-pribadi yang membutuhkan; untuk mencari pribadi-pribadi yang hilang, terpuruk, tertindas dan tersingkirkan.

Apabila kita adalah seorang gembala (Imam, Suster, Orang Tua, Guru), marilah kita renungkan perilaku kita di hadapan domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 

o   Sosok gembala yang baik adalah gembala yang mengenal pribadi-pribadi gembalaannya dengan namanya; Gembala yang mengambil dan memberikan waktu-hati untuk pribadi gembalaannya, rela dan terbuka untuk mendengarkan, menyatukan dirinya dengan pribadi gembalaannya serta tegas menyatakan kepada pribadi gembaannya itu bahwa dia dicintai, bermakna dan berharga.

o   Sesosok gembala hanya menjadi gembala yang baik apabila tidak memiliki keinginan untuk memiliki, menguasai dan memanipulasi, tetapi justru mempercayai, menghormati dan mengasihi.

o   Menjadi gembala yang Baik berarti keluar dari kungkungan egoisme agar bisa memberikan hati dan perhatian kepada setiap pribadi yang menjadi tanggungan kita; agar bisa menyatakan keindahan dan arti keberadaan setiap pribadi serta membantu mereka untuk berkembang, mengapai kehidupan yang penuh dan lebih manusiawi.

o   Menjadi gembala yang baik tidaklah muda sebab dituntut untuk mendengar dan menerima kenyataan orang lain dan konflik yang dialaminya. Menjadi gembala yang baik juga tidak muda sebab harus bersentuhan dengan ketakutan dan aneka hambatan dalam diri sendiri dalam berelasi dengan orang lain, atau untuk mencintai agar pribadi yang lain hidup.

 

Akhirnya, untuk menjadi gembala yang baik, seseorang tidak seharusnya sempurna, karena tiada seorang manusia pun yang sempurna. Untuk menjadi gembala yang Baik seseorang dituntut untuk bersikap rendah hati dan terbuka; mengenali kesalahan dan dorongan yang tidak teratur dalam dirinya dan dengan rendah hati memohonkan ampun-maaf apabila bertindak tidak adil.

Apakah kita sudah menjadi gembala yang baik bagi orang-orang yang dipercayakan kepada kita dan bagi orang-orang yang berada di sekitar kehidupan kita?

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih....

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica ......

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 


Minggu Paskah III, 19 Maret 2026

“Lamban Mengerti”

Lukas 24:13-35


 

Mendengar dan Mengerti Gaya Monyet

Pada suatu hari, Sang Pangeran Raja dan Permaisurinya bertamasya di taman kerajaan yang indah tanpa pengawalan prajurit kerajaan. Mereka hanya ditemani oleh seekor monyet jantan besar peliharaan yang didik dan akhirnya bertabiat seperti manusia. Monyet itu sangat di sayangi oleh Sang Pangeran karena cerdas, taat dan bersahabat.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, tersilir angin sepoi-sepoi basah yang meyerbakkan harum bunga di taman, Sang Pangeran pun terkantuk. Sang Pangeran ingin memulaskan rasa kantuknya dengan membaringkan badan bersama istrinya di sebuah pemondokan kerajaan di taman itu. Sebelemu tertidur, sang pangeran berpesan kepada monyet kesayangannya, “Berjagalah di saat kami tidur. Persenjantailah dirimu dengan pedang ini; jangan biarkan apa dan siapa pun mengganggu ketenangan tidur kami. Lawan dan bunuh, apa dan siapa saja jika dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan kami!

Setelah menerima pesan dari Sang Pangeran, Sang Pangeran pun tertidur pulas bersama istrinya. Tidak lama berselang, datang sepasang lalat hijau: jantan dan betina, hinggap persis di batang leher Sang Pangeran dan istrinya: Lalat jantan di batang leher Sang Permaisuri; sedangkan lalat betina di batang leher Sang Pangeran.

Melihat ulah kedua lalat yang mengorek dan mengganggu ketenangn Sang Pangeran dan Permaisuri, monyet itu pun teringat akan pesan Sang Pangeran, ““Berjagalah di saat kami tidur.; jangan biarkan apa dan siapa pun mengganggu ketenangan tidur kami. Lawan dan bunuh, apa dan siapa saja jika dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan kami. Pergunakan pedang ini jika perlu!

Tanpa berpikir panjang, monyet itu pun mengangkap pedang untuk membabat kedua lalat yang hinggap di batang leher Sang Pangeran dan Permaisurinya. Lalat mati, kedua batang leher pun terbabat. Sang Pangeran dan Permaisuri, dalam sekejap tidak bernyawa!

Sepandai-pandainnya seekor monyet, tetaplah monyet tidak akan pernah menjadi manusia, walaupun bisa bertabiat seperti manusia. Seekor monyet bisa menuruti perintah manusia, namun tidak akan pernah mendengar, mengerti, dan mencerna isi perintah manusia. Akhirnya, Sang Pangeran dan Permaisurinya wafat karena ulah si monyet yang tidak mengerti dan mencerna isi perintah yang sebenarnya.

 

Lamban Mengerti

Sudah sekian lama para murid berada bersama Yesus. Mereka mendengarkan pengajaran Yesus mengenai isi Kitab Suci berkenaan dengan kematian keji yang dialami-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya sesudah kematian, namun hati mereka begitu lamban untuk mengerti dan memahami arti perkataan Yesus itu. Hal ini tampak dalam keragu-raguan dan ketidakpercayaan para murid tatkala Yesus yang Bangkit “menjumpai” mereka.

Untuk membuka hati dan pikiran mereka agar bisa memahami nubuat Kitab Suci Perjanjian Lama dan nubuat-Nya sendiri berkenaan dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus mulai memperlihatkan Tubuh-Nya yang Terluka (tangan kaki akibat tusukan paku dan lambung akibat tusukan tombak) serta mengundang mereka untuk menatap-Nya dengan cermat supaya mereka bisa mengambil kesimpulan yang tepat. “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku, Aku sendirilah ini. Rabalah Aku dan lihatlah. Karena hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Yesus tidak mau kalau diri-Nya yang baru Bangkit dari alam maut dikatakan hantu; Dia mau para murid tetap melihat diri-Nya sebagai manusia utuh yang berdaging dan berdarah. Persoalannya, Thomas, salah seorang Rasul-Nya tidak percaya kalau dia sendiri tidak melihat dan mencucukkan jarinya ke dalam luka belas paku dan tusukan tombak.

Hal yang sama terjadi ketika Yesus yang Bangkit datang menjumpai mereka di tepi danau. Mereka tidak mengerti dan tidak percaya akan anugerah yang turun atas diri mereka pada saat itu. Tidak! Mereka tidak percaya, walaupun mereka merasa girang dan heran, sebab rasa girang belum tentu bernilai bagi iman.

Untuk membantu para murid-Nya yang sedang kacau pemikiran mereka, Yesus berusaha meyakinkan mereka dengan mengambil sepotong ikan goreng dan memakannya di depan mata mereka. Yesus rela merendahkan diri dengan berbuat apa saja agar para murid-Nya mengerti, percaya dan yakin akan realitas kehadiran dan kebangkitan-Nya. Walaupun sudah bangkit dan tidak membutuhkan ikan goreng, Yesus bersedia makan, asalkan para murid dan kita semua memasuki jalan iman untuk menerima dan percaya akan realitas kebangkitan yang dialami-Nya.

Kini, Yesus tampaknya tidak berdaya; Yesus sepertinya menemukan jalan buntu untuk meyakinkan kedua murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Ketika jalan peyakinan diri akan realitas kebangkitan-Nya dengan penampilan fisik-Nya menemukan jalan buntu, Yesus berusaha membuka pikiran mereka dengan menggunakan dasar-dasar yang diambil dari Kitab Suci sendiri sehingga mereka mengerti dan memahami isi Kitab Suci itu sendiri, terutama nubuat tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang semuanya sudah tersedia di dalam Kitab Suci.

Yang patut dipertanyakan, “Mengapa kedua murid dan terutama kedua yang sedang menuju Emaus lamban untuk mengerti dan memahami isi nubuat Kitab Suci mengenai kematian dan kebangkitan Yesus?

Pertama, mereka lamban mengerti atau tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama serta Sabda Yesus dan nubuat-Nya mengenai kematian dan kebangkitan-Nya karena hati dan pikiran mereka saat itu hanya tertuju pada kubur. Yesus, Sang Guru mati di salib dan dikuburkan. Perjalanan kehidupan dan karya Yesus sudah berakhir di salib dan di kubur-Nya; Semuanya sudah selesai. Mereka tidak seperti Yohanes Rasul yang melihat kubur Yesus dan percaya: Dia melihat kubur kosong dan percaya bahwa Yesus bangkit, seperti yang sudah dinubuatkan-Nya. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan yang Wafat dan Dimakamkan Bangkit dan Hidup.

Kedua, mereka juga lamban mengerti, tidak mengerti mengenai nubuat Perjanjian Lama dan nubuat Yesus sendiri mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, bahkan tidak mengenal Yesus yang Bangkit sedang berada bersama dan menemani perjalanan mereka karena mata dan hati mereka atau penglihatan mereka dihalangi/ditutupi oleh cita-cita, keinginan, harapan dan mimpi mereka tatkala memutuskan untuk mengikuti Yesus. Mereka mengikuti Yesus, Sang Guru karena ingin mendapat posisi di sisi kiri dan kanan jika Yesus menjadi Raja Bangsa mereka. Namun, mimpi mereka sirnah karena Sang Guru yang diikuti dan dikagumi ternyata mengalami kematian tragis di kayu salib

Ketiga, mereka lamban mengerti, bahkan tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama dan nubuat Yesus sendiri mengenai kematian dan kebangkitan-Nya sebab selama mengikuti Yesus, mereka mendengarkan ajaran Yesus sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa sebagai murid, tugas mereka yang paling utama adalah mendengarkan Sang Guru. Mereka mengerti bahwa “Percaya akan pemberitaan Kitab Suci yang diperoleh dari pendengaran” merupakan dasar yang memungkinan mereka untuk mengerti isi Kitab Suci dan memampukan mereka untuk melaksanakan tugas kerasulan kepada sesama. Persoalannya, dalam mendengarkan pengajaran Injil Yesus, mereka tidak membuka diri seutuhnya terhadap pelbagai informasi yang terlontar dari mulut Yesus. Mereka tidak berani dan tidak bersikap rendah hati dalam mendengarkan pengajaran Yesus. Hal ini terjadi karena di dalam mendengarkan Yesus, mereka hanya menerima apa yang cocok dan berkenan dengan pendirian mereka.

Patut diakui bahwa kendati mereka dekat dengan Yesus, mereka tidak menerima dua kenyataan yang tidak terpisahkan dari jatidiri Yesus sebagai Mesias, yaitu Yesus harus menderita dan harus bangkit dari antara orang mati. Padahal iman yang benar dan otentik akan penderitaan, kematian dan kebangkitan harus diterima sebagai lingkaran yang utuh, tidak terpisahkan antara Jumat Agung dan Paskah Kebangkitan; antara cinta, korban dan kemuliaan; antara kerja keras dan keberhasilan. Tidak mungkin ada Paskah Kebangkitan, tanpa Jumat Agung. Karena dasar iman inilah, maka Yesus yang Bangkit dan Hidup datang menjumpai mereka dengan membawa serta luka di kedua tangan dan kaki-Nya serta luka di lambung-Nya. Dengan memperlihatkan luka bekas paku dan tombak di tangan, kaki dan lambung-Nya, Yesus menyatakan kepada mereka dan kita semua bahwa Dia yang Bangkit dan Hidup, saat ini, di hadapan dan bersama mereka dan kita adalah Dia yang dibunuh dan wafat di salib yang hina di Jumat Agung...

 

Bagi kita saat ini, perlu disadari bahwa:

Pertama, ada di antara kita yang menjadi pengikut Yesus Kristus yang Bangkit karena memiliki mimpi dan kepentingan tertentu yang ingin diperoleh dari Yesus. Kita pun merasa kecewa ketika mimpi-mimpi kita tidak terpenuhi di saat kita bermohon kepada-Nya. Kita tidak sadar dan tidak percaya bahwa setiap saat Yesus yang Bangkit selalu mendekati kita....berjalan bersama kita... menjawab semua keinginan dan harapan kita dengan cara-Nya. Dia yang Bangkit mendekati, berjalan bersama dan memenuhi harapan kita dalam diri setiap pribadi yang setiap saat bersama kita; berbagi cerita, berbagi rasa dan harapan. Apakah mata kita terhalang untuk melihat kehadiran Dia yang Bangkit dalam diri semua orang yang selalu bersama kita?

Kedua, kita dituntut untuk mendengar dan mengerti Sabda Yesus sesuai dengan Pikiran dan Kehendak Yesus, bukan membaca dan menafsirkan-Nya sesuai dengan pikiran, keinginan dan kepentingan kita. Jika kita mendengar dan mengerti Sabda Yesus sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita, kita akan menjadi penganut HKBP (Seharusnya Huria Kristen Batak Protestan, namun sering menjadi Huria Katolik Berbauh Protesta). Karena itu, marilah kita membangun sikap mendengarkan yang benar, yang memungkinkan kita mengerti dan memahami isi Kitab Suci tidak. Sikap yang tepat dalam mendengarkan Sabda Yesus menuntut dari kita, bukan hanya kemauan untuk mengosongkan diri sampai ke tingkat tertentu, melainkan juga berani membuka diri untuk menerima segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera dan tidak berkenan di hati kita. Kita mungkin cenderung mendengarkan sebagai guru, bukan untuk belajar, melainkan untuk menguji orang lain. Salah satu sifat dari seorang murid, hamba Allah, sebagaimana dikatakan Yesaya adalah mempertajam pendengaran agar kita dapat mendengarkan suara Allah sebagai seorang Murid. Kita memohonkan telinga seorang murid untuk mendengarkan Yesus yang berbicara kepada kita.

Ketiga, kita harus mencari Yesus, bukan di Kubur, melainkan dalam Dunia Orang-orang yang Hidup. Yesus Kristus adalah Sabda Kekal Allah yang Menjadi dan Hidup dalam Rupa Manusia dan Tinggal di antara kita, manusia. Dia adalah Sang Hidup, sumber dan asal semua kehidupan dari semua ciptaan, terutama manusia. Sabda Kekal Allah, Sang Hidup TIDAK AKAN PERNAH MATI. Yang mengalami siksaan, penderitaan dan kematian di salib adalah Tubuh Insani dari Sang Sabda Kekal yang mengenakan pada diri-Nya Daging Insani. Tubuh Insani Yesus harus mengalami kematian sebagai wujud ketundukan-Nya kepada hukum biologis dan jalan bagi-Nya untuk masuk ke dalam dunia orang mati (tempat penantian) untuk memberikan Kesaksian kepada jiwa-jiwa yang berada di tempat penantian bahwa semua jiwa yang mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya, walaupun memiliki kesalahan dosa akan mengalami kebangkitan bersama-Nya. Dialah Jaminan Tunggal bagi kebangkitan dan keselamatan jiwa-jiwa yang percaya kepada-Nya.

 

Membeo

Pendeta John mendapat kehormatan untuk melayani jemaat di Sulawesi Utara (Manado) sebagai guru Sekolah Minggu. Di awal karyanya, pendeta John bercerita tentang perjalanan kehidupan Yesus mulai dari peristiwa kelahiran hingga kematian-Nya di kayu salib. Hanya sekilas saja pendeta John menyinggung soal kebangkitan Yesus. Minggu berikutnya, pendeta John bermaksud menguji daya ingatan anak Sekolah Minggunya dengan mengajukan beberapa pertanyaan:

“Jadi, adik-adik…, Tuhan Yesus lahir di Betlehen dan berbaring di dalam palu…?

“Ngannnnnn….,” jawab anak Sekolah Minggu serempak.

“Betul, anak pintar! Ketika hidup di dunia ini, Tuhan Yesus banyak membuat mukjizat seperti menyembuhkan orang sa….?”

“Kit…,” jawab anak-anak dengan nada yang mantap dan keras.

“Wah, hebat. Ternyata kalian masih ingat cerita Minggu yang lalu. Nah, sekarang…karena Yesus banyak melakukan mukjizat, Tuhan Yesus disiksa, dipukuli, dicambuk dan akhirnya Tuhan Yesus mati. Namun pada hari ketiga, Tuhan Yesus kemudian bang….bang….?

Semua Anak Sekolah Minggu tampak bingung sebab cerita Minggu sebelumnya paparan mengenai kebangkitan Yesus hanya disampaikan sepintas lalu. Mereka saling memandang, sampai akhirnya seorang anak kecil mengacungkan tangan dan memberanikan diri untuk menjawab. Namun sebelumnya, anak itu meminta pendeta John untuk mengulangi pertanyaannya, “Sesudah Tuhan Yesus banyak melakukan mukjizat, Tuhan Yesus disiksa, dipukuli, dicambuk dan akhirnya Tuhan Yesus mati. Namun pada hari ketiga, Tuhan Yesus kemudian bang….bang….?

Anak itu spontan menjawab, “Bangka-bangka!!!!” (bangka-bangka artinya bengkak-bengkak). Tidak jarang, kita hanya membeo dalam membaca Kitab Suci sehingga kerap salah menafsir dan memahami pesan intinya.

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget