Minggu, Pekan Biasa VI Tahun A “Segeralah Berdamai” (Romo Very Ara) Sirakh 15:15-20 Mazmur 119:1.2.4.5.17.18.33.34 1 Korintus 2:6-10 Matius 5:13-37
Minggu, Pekan Biasa VI Tahun A
“Segeralah Berdamai”
Sirakh 15:15-20
Mazmur 119:1.2.4.5.17.18.33.34
1 Korintus 2:6-10
Matius 5:13-37
“Tinggallah persembahanmu di depan mezbah itu dan
pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan
persembahanmu itu. segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama
dengan dia di tengah jalan”
(Matius 5:24-25)
Seorang
Ibu mempunyai seorang bayi perempuan yang tidak bisa merasakan sakit karena
adanya gangguan pada sistem syarafnya. Pada suatu hari, Si Ibu mendengar
anaknya yang berada di kamar yang lain itu tertawa. Di saat Si Ibu melihatnya,
dia menemukan anak perempuannya itu sedang menggigit ujung jarinya yang
tampaknya mengeluarkan darah segar. Anak perempuan itu tampak sangat senang
membuat gambar dengan darahnya yang mengucur dari ujung jarinya.
Hilangnya
rasa sakit dalam tubuh kita sangat mirip dengan hilangnya kepekaan kita akan
dosa-dosa kita. saya sangat yakin bahwa kepekaan kita akan dosa-dosa kita
bertautan erat dengan kepekaan akan Allah dan kedalaman cinta-Nya kepada kita.
Apabila kita dekat dengan Allah, kita akan peka terhadap dosa-dosa kita dan
semakin mengagumi cinta-Nya. sebaliknya, apabila kita jauh dari Allah,
kesadaran kita akan dosa dan cinta Allah semakin kecil dan menghilang yang
menjadi syarat penting bagi kita untuk menyadari dan mengakui kondisi manusiawi
kita yang sesungguhnya.
Saya pun menyimpulkan:
o
Hilangnya
kepekaan akan dosa menjadikan kita sebagai pribadi yang benar, tanpa cacat,
tanpa kelemahan...
o
Hilangnya
kepekaan akan dosa merupakan sesuatu yang sangat tragis dalam kehidupan kita,
seperti hilangnya rasa sakit dalam diri Si Anak Perempuan yang mengalami
gangguan dalam sistem syarafnya.
o
Hilangnya
kepekaan akan dosa menyebabkan hilangnya kepekaan akan Allah serta daya
cinta-Nya yang merangkul dan mengampuni.
o
Hilangnya
kepekaan akan dosa menyebabkan hilangnya harapan akan pengampunan, hilangnya
hasrat untuk mengampuni dan gelapnya niat untuk berdamai dengan Allah dan
sesama.
******************************
Sabda Yesus ini sungguh-sungguh revolusioner. Dalam
kata-kata-Nya ini terungkap sikap-Nya yang sangat tegas-jelas: “Jangan
mengikuti upacara keagamaan apa pun selama kita belum atau tidak berdamai
dengan siapa pun (saudara) yang menjadi lawan atau musuh kita.”
Sebelum kita bersujud di hadapan Bapa Surgawi, kita tidak
hanya dituntut untuk mengampuni dosa dan kesalahan saudara kita karena saudara
kita sudah melakukan sesuatu yang tidak baik kepada kita, tetapi kita harus
berdamai dengan saudara kita karena dia (saudara kita itu) juga pasti merasa
disakiti, bahkan dirugikan oleh perbuatan kita kepadanya.
Kita tidak akan pernah bersukacita sebagai anak Allah
selama tali persaudaraan kita terputus dengan sesama kita. Kita tidak pernah
boleh berkata, “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun kepadanya. Ini bukan
urusan saya. Ini urusan dia.” Kita harus sadar bahwa hidup dalam permusuhan
berarti hidup dalam kesalahan dan dosa serta dikuasai oleh dosa. Hati kita
tidak akan pernah merasa tenang dan damai apabila kita hidup dalam situasi
batin demikian.
Sabda Revolusioner Yesus yang menuntut kita untuk
berdamai dengan siapa pun (saudara) yang menjadi lawan atau musuh kita sebelum
kita bersujud di hadapan Bapa Surgawi untuk menyerahkan korban persembahkan
kita di atas Mezba-Nya yang Mahakudus sesungguhnya memperlihatkan kerekatan
hubungan antara pengampunan dari Allah dengan
pengampunan terhadap sesama. Sabda Revolusioner ini sudah ditegaskan Yesus
dalam ajaran-Nya tentang Doa-Nya kepada para Murid-Nya: “Ampunilah kami akan
dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada
kami,....(Lukas 11,4).
Dalam doa ini ditegaskan bahwa sesudah kita
mengampuni sesama atas kesalahan dan dosannya kepada kita, kita layak menghadap
Allah untuk memohonkan pengampunan dari-Nya. Ini berarti bahwa hanya ketika
kita mampu dan sudah mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, maka kita
dipandang layak untuk memohonkan pengampunan dari Allah. Dengan demikian tampak
bahwa pengampunan kepada sesama menjadi syarat untuk memperoleh pengampunan dari Allah serta menjadi syarat kelayakan untuk
mempersembahkan diri kita kepada-Nya.
Walaupun demikian, dalam kenyataannya
tidaklah terjadi demikian sebab pengampunan Allah tidak diperoleh dengan cara
paksaan. Pengampunan merupakan tindakan bebas Allah dan diterima sebagai
anugerah. Kita diperkenankan untuk memohonkan pengampunan dari Allah, seperti
yang diajarkan Yesus sendiri, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah,
maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Lukas
11,9). Karena itu, kita harus setia menunggu, sembari membuka pintu hati kita
untuk menerima apa yang dikerjakan Allah dalam diri dan kehidupan kita. Kita
hanya bisa berharap kepada
cinta,
kerahiman
dan belas kasih-Nya apabila kita sudah mengampuni sesama. Namun, hal itu sama
sekali tidak akan mengurangi kebebasan Allah. Sesungguhnya, yang terjadi
adalah: Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita sehingga Dia menuntut agar kita
masing-masing rela mengampuni sesama. Kenyataan ini dikisahkan Yesus dalam
perumpamaan-Nya tentang “Hamba yang tidak tahu berbelaskasih” (Matius
18,21-35).
Hamba yang berhutang kepada tuannya dan
mendapatkan belaskasihannya karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya
seharusnya menaruh cinta dan belaskasihan kepada sesamanya yang berhutang
kepadanya. Namun, karena dia tidak berbelas kasih kepada sesamanya, maka
tuannya pun murka terhadapnya.
Dengan Sabda Revolusioner ini, kita diingatkan dan
dituntut bahwa selama kita tidak mempedulikan sesama dalam arti spiritual/iman,
tidak memberikan pengampunan, sesungguhnya, kita sudah membunuh dan
membinasakan sesama sebagai saudara kita. Dengan bertindak demikian,
sesungguhnya, kita tidak lagi menjadi anak Allah.
Persoalannya,...
o
Kita
tidak akan pernah mampu mengampuni sesama apabila kepekaan kita akan semua
kesalahan dan dosa dalam diri kita sendiri sudah menghilang, seperti
menghilangnya rasa sakit dalam diri Si Anak yang mengalami gangguan dalam
sistem syarafnya.
o
Kita
hanya bisa mengampuni dan berdamai dengan sesama dan Allah, apabila kita menyadari
kelemahan dan kerapuhan dalam diri kita: kita pernah, bahkan sering jatuh ke
dalam kesalahan dan dosa secara menyedihkan dan merasa diri tidak berdaya serta
tidak berharga di mata Allah dan sesama... Pada momen inilah, kita akan
mengagumi kekuatan dan keagungan cinta Allah yang merangkul dan mengampuni.
o
Iman
akan daya cinta Allah yang merangkul dan mengampuni akan menggerakan kita untuk
mengampuni dan berdamai dengan sesama yang bersalah kepada kita, kapan dan di mana saja, terutama sebelum kita
menghadap Allah untuk memohon pengampunan-Nya serta mempersembahkan diri kita
kepada-Nya.
Bagaimana dengan kita?
o
Apakah
kita sadar bahwa hanya ketika kita sudah mengampuni dan berdamai dengan sesama
kita, maka kita pun akan diampuni Allah dan persembahan hidup kita dalam doa
berkenan di hadapan-Nya?
o
Apakah kita sadar bahwa syarat pengampunan
dari Allah adalah kerelaan kita kita mengampuni dan berdamai dengan sesama?
Selamat Bermenung...
Salah Kasih....
Buona Domenica....
Dio Ti Benedica......
Alfonsus Very Ara, Pr







.jpeg)


