Refleksi Biblis Koordinasi Awal Tahun Keuskupan Sibolga 2026 (RD. Yusuf Nataeli Lase)
Refleksi Biblis
Koordinasi Awal Tahun Keuskupan Sibolga 2026
(RD. Yusuf Nataeli Lase)
Bacaan Kitab Suci: Yohanes 15:1- 8
Pendahuluan
Bapak Uskup, para imam, suster, dan Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus, pada akhir pertemuan Koordinasi Awal Tahun ini, setelah kita bersama-sama
melihat, mengoordinasikan, dan menata berbagai rencana pastoral untuk tahun
2026, kita diajak untuk berhenti sejenak. Kini, kita menempatkan semuanya dalam
terang Sabda Tuhan, agar menjiwai seluruh proses yang kita lalui.
Pada saat ini, kita tidak lagi berada pada
tataran teknis perencanaan program. Kita diajak untuk menempatkan seluruh
rencana pastoral Keuskupan Sibolga dalam terang iman, agar apa yang telah
dikoordinasikan sungguh menjadi bagian dari karya Allah sendiri, dan bukan
semata-mata hasil perencanaan manusiawi.
Sebagai Gereja, kita menyadari bahwa
perencanaan pastoral, betapapun sistematis dan matang, hanya menemukan maknanya
sejauh diletakkan dalam terang iman. Tanpa pendasaran rohani, kegiatan mudah
berubah menjadi rutinitas; sebaliknya, dengan pendasaran iman, seluruh karya
pastoral menjadi partisipasi dalam karya Allah yang melampaui perencanaan
manusiawi kita.
Dalam konteks inilah visi Keuskupan Sibolga
menjadi kunci untuk membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral yang telah
dibahas bersama. Visi Keuskupan Sibolga berbunyi: “Gereja Keuskupan Sibolga
berakar dalam iman, bertumbuh dalam persekutuan, dan berbuah dalam kesaksian”.
Visi ini bukan sekadar pernyataan arah pastoral, melainkan
mencerminkan dinamika hidup iman yang sangat alkitabiah. Kitab Suci
memperlihatkan bahwa hidup umat Allah selalu bergerak dari akar relasi dengan
Tuhan, menuju pertumbuhan dalam kebersamaan, dan akhirnya menghasilkan buah
yang memberi kehidupan bagi sesama.
I. Berakar dalam Iman
Kitab Suci kerap menggunakan gambaran akar untuk berbicara tentang
dasar kehidupan umat Allah. Nabi Yeremia menegaskan: “Diberkatilah orang
yang mengandalkan Tuhan… Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang
merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air; apabila datang panas terik, ia
tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer
17:7-8).
Akar tidak tampak ke permukaan, namun justru menentukan daya tahan
dan keberlangsungan hidup. Sebuah pohon dapat memiliki cabang yang rimbun dan
daun yang lebat, tetapi tanpa akar yang kuat, ia tidak akan bertahan menghadapi
panas dan kekeringan. Demikian pula iman dalam kehidupan Gereja: iman bukan
pertama-tama diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kedalaman relasi
dengan Allah yang menopang seluruh pelayanan.
Dalam Kitab Suci, krisis umat Allah hampir selalu bermula bukan
dari kurangnya aktivitas, melainkan dari rapuhnya relasi dengan Tuhan. Karena
itu, visi “berakar dalam iman” mengajak Gereja Keuskupan Sibolga untuk
membaca kembali seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026 dengan sikap
reflektif: apakah kegiatan-kegiatan tersebut sungguh meneguhkan iman umat dan
kepercayaan kepada Tuhan, ataukah berhenti pada pelaksanaan program semata.
Pelayanan yang tidak berakar dalam iman mudah menjadi rutinitas
yang melelahkan dan kehilangan daya rohani. Sebaliknya, kegiatan yang sederhana
tetapi berakar dalam iman sering menjadi ruang di mana Allah bekerja secara
diam-diam, membentuk umat, dan menumbuhkan ketahanan rohani. Karena itu, visi “berakar
dalam iman” mengajak kita untuk terlebih dahulu meneguhkan fondasi rohani,
sebelum memperluas atau melaksanakan program. Kalau akar iman ini rapuh,
seluruh pelayanan Gereja akan mudah kehilangan daya tahannya.
II. Bertumbuh dalam Persekutuan
Dari akar iman yang kokoh, Gereja dipanggil untuk bertumbuh, dan
pertumbuhan ini dalam Kitab Suci selalu bersifat komunal. Kisah Para Rasul
melukiskan Gereja perdana sebagai komunitas yang hidup dari persekutuan: “Mereka
bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam Persekutuan. Dan mereka selalu
berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).
Persekutuan di sini bukan sekadar kebersamaan struktural, melainkan
persekutuan hidup, di mana umat saling mendengarkan, saling menopang, dan
berjalan bersama. Gereja tidak pertama-tama dibangun oleh keseragaman program,
melainkan oleh kesediaan untuk berjalan bersama dalam terang Injil.
Dalam konteks Keuskupan kita, visi “bertumbuh dalam persekutuan”
menantang kita untuk melihat apakah matriks kegiatan pastoral tahun 2026
sungguh mendorong kerja sama, sinergi, dan rasa memiliki bersama antara paroki,
komisi, imam, dan seluruh umat Allah. Tanpa persekutuan, pelayanan mudah
berubah menjadi beban individual dan koordinasi menjadi formalitas belaka.
Sebaliknya, persekutuan yang hidup menjadikan pelayanan sebagai ungkapan
persaudaraan, memperkuat solidaritas pastoral, dan menolong Gereja menghadapi
tantangan bersama. Pertumbuhan Gereja selalu terjadi ketika umat Allah berjalan
bersama, bukan ketika masing-masing berjalan sendiri.
III. Berbuah dalam Kesaksian
Akar iman dan pertumbuhan persekutuan selalu diarahkan pada buah.
Yesus sendiri menegaskan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu
jika kamu berbuah banyak” (Yoh 15:8).
Buah tidak dihasilkan demi pohon itu sendiri, melainkan untuk
kehidupan orang lain. Demikian pula, kesaksian Gereja bukan pertama-tama
terletak pada kata-kata atau pernyataan, melainkan pada kehadiran konkret yang
membawa kehidupan, harapan, dan belas kasih.
Buah Injil selalu dikenali bukan dari apa yang dikatakan Gereja
tentang dirinya, melainkan dari apa yang dialami orang lain melalui
kehadirannya. Karena itu, visi “berbuah dalam kesaksian” mengajak kita
untuk melihat kembali seluruh kegiatan pastoral tahun 2026 dari sudut pandang
dampaknya: buah apa yang sungguh dirasakan oleh umat, oleh masyarakat, dan oleh
mereka yang terpinggirkan.
Kesaksian Injil menjadi nyata ketika Gereja hadir sebagai tanda
kehadiran Allah - dalam solidaritas, keadilan, dan pelayanan yang memanusiakan.
Kegiatan yang tidak menghasilkan buah kesaksian mengundang refleksi ulang
tentang arah dan tujuan pastoralnya.
Penutup
Visi Keuskupan Sibolga merupakan satu dinamika hidup Gereja:
berakar dalam iman, agar pelayanan tidak rapuh; bertumbuh dalam persekutuan,
agar Gereja tidak berjalan sendiri-sendiri; dan berbuah dalam kesaksian, agar
Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri.
Dalam terang visi ini, seluruh matriks kegiatan pastoral tahun 2026
dipanggil untuk dihidupi sebagai perjalanan iman bersama, bukan sekadar agenda
kerja. Kiranya pendasaran Kitab Suci ini meneguhkan arah pastoral kita,
sehingga seluruh pelayanan yang direncanakan sungguh dijiwai oleh iman,
diperkaya oleh persekutuan, dan menghasilkan buah kesaksian bagi dunia.






.jpeg)


