Minggu, Pekan Biasa V, Tahun A “Garam dan Terang Dunia” (Romo Very Ara) Yesaya 58:7-10 Mazmur 112:4.5.6.7..8a.9 1 Korintus 2:1-5 Matius 5:13-16

 



Minggu, Pekan Biasa V, Tahun A

“Garam dan Terang Dunia”

Yesaya 58:7-10

Mazmur 112:4.5.6.7..8a.9

1 Korintus 2:1-5

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”

(Matius 5:13)

Adalah kisah mengenai seorang Hakim yang dikenal dan dikenang karena kejujurannya. Dia selalu menolak tawaran dari orang-orang yang ingin menyogoknya untuk memenangkan mereka dalam perkara yang sedang ditanganinya.

Pada suatu hari, dia dituduh dengan aneka hal yang tidak pernah dilakukannya. Walaupun demikian, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh tuduhan-tuduhan itu. Melihat keteguhan dan kejujurannya, salah seorang dari antara orang-orang yang berusaha menyogoknya bertanya kepadanya, “Mengapa Pak Hakim tidak membalas tuduhan-tuduhan itu?

Sang Hakim menjawab, “Di kampung saya hiduplah seorang janda bersama seekor anjingnya. Setiap saat, tatkala melihat bulan memancarkan sinarnya, anjing itu keluar dari rumah dan menggonggongnya.”

Kemudian, Sang Hakim mengalihkan pembicaraannya ke persoalan yang lain. Akhirnya, Si Penanya yang tidak puas dengan jawaban Sang Hakim bertanya, “Pak Hakim, bagaimana dengan anjing dan bulan itu?

Dengan sikap tenang, Sang Hakim menjawab, “Oh..., bulan itu tetap bersinar, walaupun anjing itu menggonggong sepanjang malam.”

*****************************88

Pesan cerita ini sangat jelas. Fungsi cahaya adalah memancarkan terang tanpa peduli, apakah kita menerima pancaran sinar-terangnya atau tidak. Bulan itu tetap bersinar, walaupun ada yang tidak menyukai terang yang dipancarkannya. Sang Hakim tdak terpancing untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia ingin bercahaya, walaupun banyak orang yang tidak menyukainya. Demikian juga dengan kita: kita seharusnya tidak pernah boleh goyah untuk melakukan kebaikan, walaupun begitu banyak orang yang tidak menyukai kita.

Dalam kisah Injil Minggu ini, Yesus menggunakan dua gambaran untuk menjelaskan keberadaan para pengikut-Nya dan misi perutusan mereka di tengah dunia. Gambaran pertama adalah garam: “Kamu adalah garam dunia.”

Dalam dunia kuno, garam memiliki nilai yang sangat tinggi. Garam berfungsi sebagai:

Pertama, untuk memurnikan. Bagi orang Roma, garam itu sangat murni karena dihasilkan oleh matahari dan air laut. Dalam dunia Romawi Kuno, garam menjadi bahan persembahan untuk para dewa. Ketika menyebut para pengikut-Nya sebagai garam, Yesus bermaksud menyatakan bahwa semua pengikut-Nya harus menjadi teladan kemurnian bagi sesama, seperti fungsi garam;

Kedua, garam itu mengawetkan. Orang-orang dari zaman Romawi Kuno menggunakan garam sebagai bahan pengawet. Garam menjadi kekuatan untuk menghindari terjadinya kebusukan. Demikianlah, semua pengikut Yesus harus memiliki kualitas iman yang akan memampukan mereka untuk menghindari kebusukan dalam kehidupan bersama;

Ketiga, garam menjadikan makanan terasa enak. Makanan tanpa garam akan terasa hambar. Demikian juga dengan semua pengikut Yesus: semua pengikut Yesus harus menjadi teladan baik dalam semua sisi kehidupan bersama dengan yang lain. Walaupun jumlahnya sedikit, para pengikut Yesus harus mampu mempengaruhi orang lain berkenaan dengan perbuatan baik.

Gambaran yang kedua adalah terang: “Kamu adalah terang dunia.” Fungsi terang, cahaya adalah memancarkan dan menuntun.” Ketika Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya adalah terang dunia, maka maksud yang terkandung di dalam-Nya adalah semua pengkikut-Nya harus menjadi pemimpin bagi yang lain. Kehidupan para pengikut Yesus harus memancarkan cinta dan kebaikan agar semua orang yang melihatnya tertarik untuk mengikuti-Nya. Kita tidak pernah boleh menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Walaupun garam dan terang memiliki fungsi masing-masing, namun garam dan terang yang dimaksudkan Yesus bukanlah bumbu sayuran atau garam yang ditambahkan ke dalam sup dan terang biasa, melainkan garam dan terang yang berperan sampai ke ujung bumi.

Apa yang dimaksudkan Yesus dengan garam dan terang yang sesungguhnya? Garam dan terang yang sesungguhnya adalah hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara bagi semua orang. Jika seorang pengikut Yesus tidak bersikap sebagai dan seperti seorang anak dan tidak bertindak sebagai seorang saudara, maka sesungguhnya orang demikian tidak bermakna/berfungsi di bumi. Dia tidak berperan dalam sejarah dunia.

Dengan menjadi garam dan terang dunia, semua pengikut Yesus menjadi misionaris. Yesus tidak berkata, “Kamu dapat menjadi garam dan terang,” tetapi “kamu adalah garam dan kamu adalah terang.” Menjadi misionaris tidak mengharuskan kita untuk beranjak ke tanah misi. Menjadi misionaris berarti mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik berdasarkan teladan kebaikan yang kita lakukan.

Karena itu, agar kita sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia, maka kita harus terus dan selalu berguru kepada-Nya. Kita harus belajar bagaimana menyerahkan nyawa dengan mencintai-mengasihi dan bersikap rendah hati.

Patut diakui bahwa sebagai pengikut Yesus, kita begitu mudah kehilangan cita rasa Yesus karena benih Sabda-Nya tidak berakar di hati dan kehidupan kita. Benih Sabda Yesus mengering setelah muncul tangkainya. Akhirnya, benih Sabda Yesus juga terhimpit oleh semak kepentingan dan egoisme diri.

Dalam konteks ini kita melihat adanya pertentangan/perlawanan antara akal duniawi dengan hikmat salib. Hidup kita, sebagai pengikut Yesus.  berada dalam jalan: perang antara cinta agapik, yaitu cinta yang rela membagi dan memberikan diri demi kebaikan bersama dengan cinta diri yang egoistis......

Terang yang lahir dari diri sendiri dan keinginan manusiawi, akan mudah redup, karena terhubung dengan kepentingan diri. Terang yang terpancar dari Salib dan Kebangkitan akan terpancar hingga kekal karena dalam terang salib dan kebangkitan, kita semua, pengikut Yesus, pribadi yang beriman akan menggarami dan mengerangi dunia dengan kasih dan kebaikan, cinta yang merangkul dan mengampuni serta cinta yang rela berbagi dan memberikan diri...

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica.....

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget