Minggu Pra-Paskah I/A-1 Minggu 22 Februari 2026
Gong, Pertarungan Dimulai Melawan Kekuatan Jahat
Kejadian 2:7-9;3:1-7
Mazmur 51:3.4.5.6.a.12.13. 14.17
Roma 5:12-19
Matius 4,1-11
Dalam
bukunya yang berjudul Winning by Letting
Go, Elisabeth Brenner berkisah mengenai cara jitu bagi orang-orang
pedalaman India untuk menangkap seekor monyet:
o Mereka harus membuatkan sebuah kotak tertutup dan melubanginya
pada sebuah sisi kotak itu sebesar tangan monyet.
o Mereka meletakan kacang goreng/rebus di dalam kotak itu.
Apabila
seekor monyet berusaha menggenggam kacang yang ada dalam kotak itu, maka sangat
mustahil baginya untuk bisa mengeluarkan tangannya apabila posisi tangannya
tergenggam. Dalam situasi itu, monyet hanya memiliki dua pilihan:
o Melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya dan meninggalkan
kotak itu dengan bebas.
o Ngotot untuk mendapatkan kacang itu dan akhirnya terperangkap.
Biasanya,
monyet lebih memilih kacang dan mempertahankannya berada dalam genggamannya,
walaupun akhirnya terperangkap.
**************************
Situasi Yesus di padang gurun tidak
jauh berbeda dengan situasi monyet ketika harus menjatuhkan pilihan.
Perbedaannya:
o
Monyet lebih memilih
kepentingannya sesaat daripada kehidupannya yang panjang. Dia jatuh ke dalam
perangkap manusia.
o
Yesus tidak jatuh ke
dalam perangkap Iblis, karena Dia memiliki visi dan prinsip hidup yang jelas:
Dia tidak mempertahankan kepentingan dan keinginan manusiawi-Nya, melainkan
kepentingan Allah.
Dikisahkan bahwa Yesus “dipimpin”
oleh Roh ke padang gurun. Dalam teks asli Yunani dikatakan bahwa Roh “ekballei”
Yesus ke padang gurun: Roh mengusir, melemparkan Yesus ke luar. Maksudnya,
Yesus yang dipenuhi dengan Roh Kudus sungguh-sungguh dikuasai oleh kekuatan
yang dasyat dan kekuatan itu akan menyatakan dirinya dalam seluruh tindakan
hidup-Nya. Kekuatan itu akhirnya memimpin-Nya ke padang gurun, yaitu tempat
yang paling tepat untuk berdialog dengan Allah; tempat yang paling nyaman untuk
bermenung sebelum mengambil sebuah keputusan mengenai langkah-langkah ke depan.
Saat dan kurun waktu
yang lama di padang gurun adalah saat dan suatu tahapan yang paling penting dan paling
menentukan dalam kehidupan-Nya. Pada saat dan
kurun waktu yang lama itu, Dia harus memilih dan harus menentukan pilihan-Nya:
menjadi Mesias seperti yang diimpikan oleh kaum-Nya sendiri atau Mesias Ilahi?
Apabila Dia harus menjadi mesias duniawi, maka Dia
harus tampil sebagai:
o
Seorang panglima yang
gagah-perkasa supaya bisa mengusir penjajah Roma, bisa menguasai rakyat, bisa
menegakkan perdamaian dan kesejahteraan, bahkan dengan tangan besi.
o
Dia bisa menjamin
kehidupan rakyat-Nya dengan makanan. Rakyat manakah yang tidak mengharapkan
kepada penguasa untuk menjamin makanan baginya?
o
Dia juga bisa menjadikan
diri-Nya sebagai manusia yang serba bisa. Dia harus tampil di hadapan umum
dengan segudang kehebatan-Nya serta menguasai segalanya.
o
Cita-cita semua penguasa
adalah menguasai seluruh dunia, seperti Alexander dari Makedonia, Napoleon,
Hittler, dll. Kaum Yahudi yakin bahwa Mesias memiliki kuasa mutlak dan tidak
akan pernah bisa dilawan oleh siapa pun.
Yesus tidak terperangkap oleh
pemikiran kaum sebangsa-Nya. Dia justru memilih jalan yang lain, yaitu jalan
yang tidak dianjurkan Iblis. Dia menghormati manusia seutuhnya.
o
Dia ingin menjadi Mesias
yang tidak memaksa dengan kekuasaan dan dengan tangan besi.
o
Dia ingin bergaul dan
dekat dengan siapa saja. Dia berjuang untuk meyakinkan, bukan menguasai.
o
Dia lemah lembut dan
miskin ketika menawarkan Kerajaan Allah kepada dunia. Dia bertindak secara
murni.
o
Dia tidak akan berpegang
pada pedoman si jahat, yaitu tujuan akan menghalalkan semua cara.
o
Dia tidak akan
membebaskan bangsa-Nya dari pernjajahan Romawi, sebab penjajahan dosa jauh
lebih mematikan daripada penjajahan asing.
o
Dia melayani
sampah-sampah masyarakat, berpihak pada yang dianiaya, dikucilkan dan yang
dicap tidak bermartabat.
Yesus terbuka terhadap gerakan Roh
yang Baik, yaitu Roh Bapa-Nya sendiri. Roh Bapa tidak memaksa-Nya, tetapi
menuntun-Nya. Roh Kudus yang sama pasti tidak akan pernah memaksa pikiran dan hati
kita untuk menerima pimpinan-Nya. Namun, setiap hati yang terbuka dan menerima
pergerakan Roh Bapa adalah hati yang terbuka dan bersedia dipimpin oleh Allah
sendiri sehingga bisa masuk dan mengalami setiap peristiwa yang tidak pernah
dialami. Jalan Tuhan, bukanlah jalan kita. Apakah kita pernah mengalami sesuatu
yang menyenangkan atau membuat pikiran dan hati berantakkan? Sikap hati yang
manakah sehingga mampu menerima campur tangan Allah dalam setiap peristiwa
hidup kita?
o
Sebelum tampil di
hadapan umum, Yesus menyepi di padang gurun. Dia sadar setiap langkah
menentukan jalan hidup-Nya ke depan sehingga harus dipikirkan dan
dipertimbangkan secara matang, terutama arah dan tujuan langkah yang dituju.
“Apakah kita pernah duduk tenang, walau sesaat untuk merenungkan isi hidup, isi
panggilan dalam keluarga dan komunitas?
o
Yesus menyepi dalam
kurun waktu yang lama. Yesus tidak melamun atau tidur-tiduran untuk
bermalas-masalan. Dia menyiapkan diri-Nya untuk menyambut tugas mulia yang
diberikan Bapa kepada-Nya. Pada momen itu, Dia diuji, terutama kesetiaannya
kepada Allah, Bapa-Nya oleh iblis, sosok yang mengerikan, bertanduk dan berekor
kelicikan. Iblis itu ada dalam hati saya, terutama ketika hati kita tertutup
kepada Allah dan sesama dan berani berkata, “Saya tidak butuh Allah dan
sesama”. Iblis yang berakar di hati adalah ibilis licik yang cenderung
menggeser peranan Allah dari kedudukan-Nya dan mengusir sesame dari kehidupan
kita. Apakah yang kita lakukan untuk mematikan iblis ini di hati kita?
o
Apabila kita mampu
mematahkan kecenderungan hati yang jahat, kita mampu mengusir dan mengalahkan
iblis licik di hati kita. Hati kita akan tenang, walaupun banyak alasan dalam
hidup ini untuk gelisah dan perjuangan hidup di dunia ini sangat berat. Dunia
ini bukan firdaus yang nyaman, namun kita lupa bahwa kehancuran firdaus
kehidupan kita terjadi ketika kita menutup hati kepada suara Allah, bisikan
kasih sesama, sapaan yang menguatkan, senyuman yang penuh kehangatan dan
kata-kata yang memotivasi daya hidup dan senyuman lembut yang menguatkan
langkah yang lemah.
Ingatlah….
Sumber
iblis/kejahatan itu bukan berada di luar, tetapi di dalam diri kita sendiri,
yaitu di dalam aku yang tertutup, aku yang egois, aku yang kejam, aku yang
sirik, aku yang dendam, aku yang tidak pernah puas, aku yang tidak pernah
memahami dan menerima yang lain.
Karena itu…
Isilah hati kita dengan cinta. Cinta akan mengubah yang pahit
menjadi manis, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi
telaga, derita menjadi nikmat, kemarahan menjadi rahmat, dan musuh menjadi
sahabat. Cinta akan mengikis hati yang egois, hati yang tidak pernah puas, hati
yang tidak pernah memahami dan hati yang tidak pernah menerima Allah dan sesama
dalam kehidupan pribadi.... Cinta menuntun kita kepada kebaikan dan kebenaran;
mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah...
Selamat Bermenung....
Salam Kasih....
Buona Domenica...
Dio Ti Benedica....
Alfonsus Very Ara, Pr

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.