Mei 2026

 


Pesan Paus Leo XIV dalam doa Regina Caeli: ‘mengantisipasi surga di bumi’

 

Pada doa Regina Caeli atau Ratu Surga di alun-alun Basilika St. Petrus, Bapa Suci mengatakan bahwa iman “membebaskan hati kita dari kecemasan kepemilikan dan pencapaian”, dan mengajak setiap orang Kristen untuk “mengungkapkan kepada semua bahwa persaudaraan dan damai adalah panggilan kita bersama” (03/05).

 

Dalam doa yang diadakan pada Pekan kelima Paskah tersebut, Bapa Suci mengatakan bahwa Sabda Yesus bagi kita mengambil dalam arti baru dalam terang kebangkitan, sebanyak yang mereka lakukan bagi Gereja perdana.  “Apa yang dulunya sulit didapatkan atau menjadi masalah bagi para Rasul kini mengembalikan ingatan mereka, menghangatkan hati mereka dan memberi mereka harapan”, kata Bapa Suci.

 

Merefleksikan isi Injil pada Perjamuan Malam Terakhir dalam terang Kebangkitan, Bapa Suci menggarisbawahi janji Kristus, yang membawa kita pada misteri agung dari kemenangan-Nya atas kematian: “Aku pergi untuk menyiapkan tempat bagi mu, dan aku akan kembali dan membawa mu ke tempat-Ku supaya di tempat di mana Aku berada kamu pun berada” (Yoh 14:3).

 

Logika baru tentang Persaudaraan

Bapa Suci mempertentangkan logika lama dunia, yang ditandai dengan ke-eksklusifan dan kompetisi, dengan Kerajaan Allah: “Dalam dunia lama yang masih kita jalani ini, yang menarik perhatian ialah banyaknya tempat eksklusif (...). Dalam dunia baru di mana Yesus bangkit untuk memimpin kita, bagaimanapun juga, apa yang paling bernilai ialah dalam jangkauan semua orang”.

 

Ini merupakan sebuah visi berdasarkan yang mana setiap orang diakui dalam keunikan mereka masing-masing: “tidak ada seorang pun yang dibingungkan dengan yang lain, tidak ada seorang pun yang hilang.”

 

“Ancaman yang mematikan ialah menghapus nama dan ingatan setiap orang, akan tetapi dalam Allah setiap orang penuh dalam dirinya sendiri. Sungguh, ini merupakan apa yang kita habiskan dalam seluruh hidup kita pencarian akan, terkadang menginginkan untuk melakukan apa pun hanya untuk memperoleh sebuah perhatian dan pengakuan kecil.”

 

Iman dan kebebasan

Kemudian, Bapa Suci mendesak pada pendengar untuk percaya pada Kristus: “Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1).

 

Iman jenis ini, lanjut Bapa Suci, “membebaskan hati kita dari kecemasan akan kepemilikan dan pencapaian, dari ilusi untuk mendapatkan tempat yang bergengsi demi memperoleh nilai”. Martabat manusia tidak ditentukan pada pengakuan sosial: “setiap orang telah memiliki nilai yang tak terhingga dalam misteri Allah, yang merupakan satu-satunya realitas sejati”.

 

Surga dan kasih persaudaraan

Bapa Suci juga menekankan bahwa setiap orang Kristiani dipanggil untuk “mengantisipasi surga di bumi dan menyingkapkannya kepada semua bahwa persaudaraan dan damai merupakan panggilan kita bersama.”

 

Dalam bentuk kasih ini, setiap orang menemukan identitas sejati mereka: “di tengah banyaknya saudara dan saudari, setiap orang menemukan bahwa mereka adalah ciptaan yang unik.”.

 

Pada bagian penutup, Bapa Suci mempercayakan pesan ini ke dalam perantaraan Perawan Maria, memohon doanya agar: “setiap komunitas Kristiani menjadi sebuah rumah yang terbuka untuk semua dan penuh perhatian untuk setiap orang”.

 

(Disadur dari vatican.va, “Pope at Regina Caeli: ‘Anticipate heaven on earth’, 03 Mei 2026).

 


Intensi Doa Bapa Suci di Bulan Mei:

 “Semoga setiap orang dapat makanan”

 

Bapa Suci Leo XIV mengeluarkan intensi doanya selama bulan Mei 2026 ini dan dia mengajak semua orang Katolik mendoakannya agar setiap orang memungkinkan mendapatkan makanan, sebagaimana yang ia tekankan bahwa terdapat jutaan saudara-saudari yang terus berjuang untuk mengatasi lapar sementara ada begitu banyak makanan yang terbuang percuma.

 

Bapa Suci mengajak setiap orang Katolik di seluruh dunia untuk bersama dia berdoa selama bulan Mei ini agar setiap orang bisa mendapatkan makanan. Ajakan ini dituangkan dalam sebuah video hari Kamis (31/04) dengan topik “Berdoa bersama Paus” yang dipersiapkan oleh “Pope’s Worldwide Prayer Network”.

 

Di dalam doanya, Bapa Suci menyadari bahwa ada begitu banyak saudara dan saudari yang masih berjuang untuk makan dan minum.

 

Dengan meratapi banyaknya makanan yang terbuang di atas meja kita, Bapa Suci berdoa agar Tuhan “membangunkan dalam diri kita sebuah kesadaran baru: bahwa kita belajar untuk bersyukur atas setiap makanan, mengonsumsi secara sederhana, berbagi dengan sukacita dan peduli terhadap hasil bumi sebagai sebuah anugerah dari-Mu, diperuntukkan bagi semua, bukan hanya sebagian orang”.

 

Bapa Suci berdoa agar Tuhan Yesus membuat kita mampu “mentransformasi logika mengonsumsi secara egois ke dalam budaya solider,” melalui komunitas-komunitas kita dengan gerakan-gerakan yang konkret, termasuk melalui kampanye, pengumpulan makanan dan membentuk gaya hidup yang dijalani secara sadar dan bertanggungjawab.

 

“Kamu yang mengutus kepada kami Putra terkasih-Mu, Yesus,  pecahkanlah roti demi kehidupan dunia”, doa Bapa Suci, “berilah kami sebuah hati yang baru, rasa lapar akan keadilan dan rasa haus akan persaudaraan”.

 

Bapa Suci menutup doanya dengan mengatakan: “semoga tidak ada orang yang terkecualikan dari meja makan bersama, dan semoga Roh-Mu mengajar kami untuk melihat makanan tidak sebagai sebuah obyek konsumsi tetapi sebagai sebuah tanda persekutuan dan kepedulian. Amin”.

 

Sebuah Isu Global

 

Berdasarkan “World Food Programme’s 2026 Global Outlook”, terdapat 318 juta orang tengah menghadapi krisi makanan atau bahkan situasinya menjadi sangat memburuk di tahun ini.

 

Lembaga tersebut memberi peringatan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa menambah 45 jutaan orang masuk ke dalam situasi krisis ini.

 

Dalam siaran pres yang menyertai video doa Bapa Suci tersebut, Pastor Cristóbal Fones, seorang direktur internasional dari Popes Worldwide Prayer Network, mengatakan bahwa intensi ini sangat berarti.

 

Doa ini, katanya, dari dari hati Bapa Suci. Itu (kesengsaraan akibat kelaparan) melukainya begitu dalam bahwa ada begitu banyak orang di dunia tidak bisa mengakses sesuatu yang sangat penting dan manusiawi seperti makanan. Inilah mengapa dia (Bapa Suci) meminta setiap orang untuk tidak bertahan pada sikap acuh tak acuh tetapi mengambil tindakan yang berarti, pertama dengan berdoa, kemudian dengan solidaritas.

 

Doa bersama dengan Bapa Suci

 

Dalam Nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

 

Allah Pencipta,

Kamu memberi kami bumi yang subur dan, dengan itu,

kami memperoleh roti setiap hari,

sebagai tanda Kasih dan penyertaan-Mu.

 

Hari ini kami mengetahui dengan penuh duka,

bahwa jutaan saudara/i kami masih berjuang melawan rasa lapar,

sementara ada begitu banyak makanan sisa di meja kami.

 

Bangunkanlah dalam diri kami, suatu kesadaran baru,

supaya kami belajar bersyukur atas setiap makanan,

mengkonsumsinya secara sederhana,

berbagi dengan sukacita,

dan peduli terhadap hasil bumi yang merupakan anugerah dari Mu,

ditujukan untuk semuanya, bukan hanya untuk beberapa saja.

 

Bapa yang Baik,

buatlah kami mampu mengubah logika konsumsi kami yang bersifat egois

ke dalam budaya solider.

Semoga komunitas-komunitas kami mempromosikan gerakan-gerakan konkret:

kampaye kesadaran, mengumpulkan makanan,

dan memiliki gaya hidup yang sadar dan bertanggungjawab.

 

Kamu, yang mengutus Putera terkasih-Mu kepada kami, Yesus,

pecahkanlah roti untuk kehidupan dunia,

berilah kami hati yang baru,

lapar akan keadilan dan haus akan persaudaraan.

Semoga tidak ada seorang pun yang terkecualikan dari meja makan bersama,

dan semoga Roh Kudus Mu mengajar kami untuk melihat makanan tidak hanya sebagai obyek konsumsi tetapi sebagai tanda persekutuan dan kepedulian. Amen.

 

(Disadur dari vaticannews.va, Popes May prayer intention: That everyone might have food, 30 April 2026)

 



Paus Leo kepada lembaga amal dari Keuskupan Agung Köln: Gereja harus bersaksi akan kebenaran dalam karya amal kasih

 

Dalam pertemuan dengan utusan dari Keuskupan Agung Köln, Jerman, Bapa Suci Leo XIV mendorong Gereja di semua negara untuk saling mendukung terhadap keuskupan lainnya dan memberikan kesaksian tentang kebenaran dalam karya amal kasih.

 

Paus Leo XIV bertemu dengan perwakilan Kantor Keuskupan untuk Gereja Universal dan Dialog dalam perayaan 50 tahun berdirinya lembaga tersebut di Keuskupan Agung Köln, Jerman (30/04).

 

Bapa Suci mengatakan bahwa terdapat kesempatan untuk merefleksikan universalitas Gereja dan betapa pentingnya dialog.

 

“Dalam terang Kebangkitan Kristus, Gereja menyadari dirinya sebagai adaan yang diutus untuk semua orang-tidak dengan paksaan, tetapi dengan melahirkan kesaksian akan kebenaran dalam karya amal kasih”, kata Bapa Suci. “Dialog, pada gilirannya, memperkuat persekutuan, membuka pemahaman dan melayani atas dasar damai”.

 

Melalui dialog dan persekutuan, Kristus membuat Gereja sebagai sebuah tanda persatuan dan harapan bagi dunia serta menarik segala sesuatu kepada diri-Nya.

 

Bapa Suci memuji Keuskupan Agung Köln atas keterbukaan dirinya sebagai “nabi” untuk Gereja universal, yang mewujud dalam ekspresi untuk mengumpulkan, saling berbagi dan berdialog.

 

Bapa Suci mengenang kembali tentang Keuskupan Agung Köln membangun hubungan kemitraan dengan Keuskupan Agung Tokyo pada tahun 1954 dan membentuk beberapa lembaga bantuan termasuk Misereor dan Adveniat.

 

“Visi Gereja yang sungguh universal, yang dipanggil untuk bersolider di luar batas Eropa dan didukung melalui budaya dialog, tetap menjadi inti dari identitas organisasi Anda”, kata Bapa Suci.

 

Sebagai informasi, Misereor dan Adveniat adalah dua organisasi bantuan internasional utama milik Gereja Katolik Jerman yang berfokus pada solidaritas global. Misereor berfokus melawan kemiskinan, kelaparan dan ketidakadilan di negara-negara selatan global yakni Afrika, Asia dan Amerika Latin, tanpa memandang suku, agama atau gender, sementara Adveniat berfokus pada dukungan bagi Gereja Katolik di Amerika Latin dan Karibia dalam pelayanan pastoral, pendidikan dan bantuan sosial masyarakat miskin.

 

Keuskupan Agung Köln juga menjadi sebuah anggota pendiri dari Meeting of Aid Agencies for Eastern Churches (ROACO), yang menawarkan bantuan untuk Gereja Timur dan daerah-daerah yang terdampak kelaparan, banjir dan perang.

 

Bantuan lain yang juga dipromosikan oleh Keuskupan Agung Köln ini ialah beasiswa studi untuk para seminaris dan asistensi untuk para imam yang tua.

 

Bapa Suci Leo juga mengenang kembali betapa Keuskupan Agung Köln juga turut membantu Keuskupan di Peru yang kala itu beliau adalah Uskupnya. Bantuan itu termasuk pembelian mesin produksi oksigen yang menyelamatkan banyak kehidupan.

 

“Melalui pelanan Anda yang luarbiasa”, kata Bapa Suci, “dimensi universalitas dari Gereja itu menjadi tampak dan konkret, membina solidaritas, memperteguh dasar kesatuan dan menjadi saksi Injil tentang kedamaian di dunia yang sering ditandai dengan perpecahan dan kesengsaraan”.

 

Pada bagian penutup dari sambutannya, Paus Leo XIV mengundang Keuskupan Agung Köln untuk melanjutkan misi cinta kasih, secara khusus dukungannya terhadap umat Kristen di Timur Tengah dan terhadap siapa saja yang dengan terpaksa meninggalkan tanah air mereka.

 

“Saya mendorong mu”, katanya, “untuk terus bertekad dalam misi cinta kasih ini, agar mereka tetap dapat merasakan kedekatan Gereja universal”.

 

(Disadur dari vaticannews.va, Pope Leo: Church must bear witness to truth in charity)

 




Minggu Paskah V, 3 Mei 2026

Di Tempat Aku Berada

Kisah para Rasul 6:1-7

Mazmur 33:1-2,4.5, 18-19

1 Petrus 2:4-9

Yohanes 14:1-12


“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.

Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu”

(Yohanes 14:2)

**************************

Hati yang Kaya dengan Kasih

Raja George yang bijaksana mulai uzur dan sakit-sakitan. Dia tidak mempunyai anak. Sebelum meninggalkan bumi fana ini, dia ingin menunjuk seorang penggantinya menjadi raja. Persoalannya, siapakah yang akan menggantikannya menjadi raja? Bagaimana cara memilih penggantinya itu?

Karena ada ribuan pemuda yang ingin menjadi raja di negeri itu, maka Raja George mengumumkan ke seluruh penjuru kerajaan suatu maklumat yang isinya, “Barang siapa di antara para pemuda yang berkehendak dan bersedia memenuhi persyaratan menjadi raja pengganti, diharpkan datang dan menjumpai Sri Baginda yang mulia.“ Satu-satunya syarat adalah: Harus Mempunyai Cinta yang Besar Terhadap Allah dan Sesama.”

Di sebuah kampung hiduplah Peter, seorang pemuda yang sangat mencintai Allah dan sesama serta beriman teguh kepada-Nya. Ketika mendengar maklumat kerajaan itu, dia merasa bahwa dirinya memiliki peluang untuk menjadi pewaris tahta kerajaan. Dia yakin bahwa dirinya memenuhi persyaratan untuk menjadi raja baru karena dia mencintai Allah dan sesamanya.

Dengan penuh percaya diri, Peter menyampaikan keinginannya kepada tetangga sekampungnya. Semua orang di kampung yang sungguh-sungguh mengenal dan mencintainya karena kebaikannya mengakui bahwa Peter memiliki untuk menjadi raja.

Tetapi sayang…. dia sangat miskin. Dia tidak memiliki pakaian, sepatu dan uang untuk untuk menghadap sang raja dan membiayai perjalanan menuju istana kerajaan.

Para penduduk kampung, dalam kesederhanaannya, berusaha membantu Peter dengan mengumpulkan iuran untuk membelikannya baju baru, sepatu yang mahal dan memberinya cukup uang sebagai bekal perjalanan menuju ke istana kerajaan. Pada suatu hari, mereka bersama-sama mengantar Peter ke depan gerbang desa dan mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Peter akhirnya tiba di istana. Ketika hampir memasuki gerbang kerajaan, dia berpapasan dengan seorang  pengemis yang malang. Peter tergerak hatinya oleh belas kasihan kepada pengemis itu.

 

Peter bertanya:

“Apakah yang dapat aku lakukan bagimu, saudaraku ?’

 

Pengemis itu menjawab:

“Kasihanilah aku! Aku tidak mempunyai pakaian, sepatu, dan saat ini aku kedinginan. Berbuatlah sesuatu untukku ! Tolonglah aku, tuan !”

 

Peter menyahut:

“Sahabat, aku tidak mempunyai pakaian dan  sepatu, selain yang kupakai ini, tetapi jika kamu sungguh-sungguh memerlukannya, mari kita bertukar pakaian!” Lalu Peter dan Pengemis itu bertukar pakaian.

 

Namun, setelah itu Peter mulai gelisah dan berpikir:

“Bagaimana aku bisa masuk ke istana raja kalau hanya memakai pakaian kumal seperti ini. Mereka pasti akan melemparkan aku keluar dari istana raja. Namun jika Kristus sendiri yang berdiri di pintu gerbang istana dan meminta pakaianku, apakah aku akan menolaknya? Tidak, sekali-kali tidak!”

Di saat Peter digelisahkan oleh pikiran-pikirannya, penjaga pintu gerbang menanyakan maksud kedatangannya ke istana. Peter menjawab bahwa dia ingin berjumpa dengan sang raja. Pejaga pintu gerbang itu menghantarnya masuk dan menyuruhnya menunggu di suatu ruangan yang megah.

Tidak lama kemudian, raja memasuki  ruangan itu. Peter merasa malu dengan pakaian yang dikenakannya. Tetapi raja mendekatinya dan meletakkan tangannya di bahunya sambil berkata:

“ Anakku terkasih ….engkau akan menjadi raja !”

Peter sangat terkejut. Sang raja menatapnya sambil berkata, “Lihatlah aku! Dapatkah engkau mengenaliku? Aku adalah pengemis yang tadinya berdiri di pintu gerbang istana. Engkau berhasil lulus ujian dan memenuhi syarat. Aku sungguh yakin  dan percaya.

Peter dinobatkan menjadi raja karena dia memenuhi kriteria sebagaimana dikehendaki sang raja: memiliki hati yang kaya dengan kasih. Peter yang mempunyai hati yang bersedia memberi dan melayani memberikan cinta sehabis-habisnya demi kepentingan, kebahagiaan, dan keselamatan orang lain, kendati untuk itu, dia harus berkorban.

Namun, lebih dari sikap kasih Peter, Yesus, Sang Pemimpin Ilahi berusaha mengkonkritkan sikap memberi dan melayani; mencintai sehabis-habisnya demi keselamatan orang lain melalui tindakan-tindakan mesianik-Nya yang sulit dimengerti manusia, yaitu mencuci kaki serta memecah-mecahkan dan membagi-bagikan Tubuh-Nya yang Maha Kudus sebagai Santapan Rohani dengan Wafat di Salib yang hina.

*******************

Tatkala mendengar Sabda Yesus mengenai Rumah Bapa, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu,” kita pasti bertanya, “Di manakah Rumah Bapa?

Rumah Bapa tidak berada di wilayah teritorial tertentu. Rumah Bapa yang Kekal ada dalam diri Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus yang selalu menyembah Bapa-Nya dalam Roh dan Kebenaran. Anak-Nya adalah Sabda Kekal-Nya yang menjadi Manusia dan tinggal di antara Manusia untuk menyatakan Wajah Cinta dan Belas Kasih Bapa kepada manusia.

Agar kita sungguh-sungguh mengerti dan mengimani arti Rumah Bapa yang Kekal, kita harus mendalami maksud kedatangan dua murid Yohanes Pembaptis dan bertanya kepada Yesus, “Guru, di manakah Engkau tinggal? Kedua murid dan kita, yang mengikuti Yesus, Anak Allah kiranya tahu, di manakah Dia tinggal!

Pertama, tatkala kedua murid Yohanes Pembaptis dan kita, para pengikut-Nya menatap Yesus di saat Dia membasuh kaki dan memberikan sepotong roti kepada Yudas, sesungguhnya, mereka dan kita sudah mengetahui tempat tinggal-Nya. Tempat tinggal Yesus adalah Cinta Allah, Bapa-Nya sendiri. Rumah Bapa adalah Rumah Cinta, Persekutuan Cinta Bapa, Putra dan Roh Kudus: Bapa tidak pernah terpisahkan dari Anak-Nya dan Anak tidak pernah terpisahkan dari Bapa-Nya. Anak selalu bersatu dengan Bapa dan tinggal dalam Bapa-Nya. Bapa dan Anak memiliki nefesy haya (napas kehidupan), spirit, vitalitas dan kehendak yang satu dan sama, yaitu spirit Cinta. Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Sang Cinta dan Cinta Agung Bapa, Putra dan Roh Kudus dinyatakan dalam pemberian-Nya yang paling mulia di salib yang hina, yaitu Kasih (Putra adalah Cinta yang dinyatakan dalam Pemberian. Pemberian cinta inilah yang dinamakan Kasih).

Karena Rumah Bapa adalah Rumah Cinta Bapa, Putra dan Roh Kudus, ini berarti bahwa dalam Diri Yesus, Anak Allah ada Tempat Tinggal bagi Semua Orang yang menerima dan mengimani-Nya sebagai Allah yang menjadi Manusia. Semua Rasul, Murid dan Orang yang Percaya kepada-Nya dan tinggal dalam Kasih-Nya akan menjadi saudara bagi yang lain dalam dan karena kasih. Semua orang yang percaya kepada Yesus, Sang Kasih, melakukan pekerjaan kasih: saling mengasihi (cap kusus pengikut Yesus) akan Tinggal dalam dan Besama Sang Kasih: Satu-satu bagi masing-masing saudara-Nya.

Siapa saja yang menerima Yesus dan mengasihi sesamanya dengan Kasih (karena Yesus, Sang Kasih) Anak Allah akan menjadi anak-anak Allah dan tinggal bersama-Nya. Yesus, Anak Allah adalah Sanktuarium, Tempat Bagi Semua Manusia Menjumpai Allah dan Menemukan Wajah Allah Kasih  Allah. Dalam Wajah Anak-Nya yang menjadi Manusia, Tempat Kediaman Allah/ Rumah Allah berada di tengah-tengah manusia.

Ini berarti bahwa Rumah Bapa dan Tinggal bersama-Nya tidak dialami setelah kita mengalami kematian fisik/tubuh insani, melainkan saat ini: Ketika kita tinggal dalam kasih-Nya: hidup saling mengasihi, saling menerima kekurangan dan keterbatasan, saling mengampuni dan saling melayani. Di saat kita tinggal dalam kasih-Nya, di saat ini juga kita sudah tinggal di Rumah Bapa sebab Rumah/Tempat Kediaman yang disediakan Bapa bagi semua manusia, ciptaan-Nya adalah Diri Anak-Nya.. Secara singkat harus dikatakan: memiliki Yesus, Anak Allah, mendengarkan dan melakukan Kehendak-Nya, yaitu Saling mengasihi, berarti kita sudah memiliki dan berada di Rumah Bapa.

Kedua, Setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dua murid Yohanes Pembaptis yang bertanya, “Guru, di manakah Engkau tinggal? sungguh-sungguh percaya bahwa Tempat Tinggal, Takhta Tertinggi dan Termulai Anak Allah, Raja Israel, bukanlah istana yang megah, melainkan Salib yang Hina.

Mengapa harus di Salib yang Hina? Di Salib yang Hina, Yesus, Sang Kasih serentak memacarkan keaguangan dan kemuliaan Cinta Kasih-Nya, yaitu Cinta yang Rela Berkorban, Rela Mengabdi dan Rela Memberikan Diri hingga Kosong/Kenosis demi keselamatan Kita, semua Manusia, Ciptaan-Nya. Salib adalah Puncak Penyataan dan Pemberian Kasih dari Dia yang adalah Sang Kasih.

Salib yang Hina serentak menjadi dua lambang kontradiksi/pertentangan dunia, yaitu bumi dan surga, timur dan barat, hitam dan putih, keriting dan lurus, cantik/tampan, dan buruk rupa. Namun, setelah Kematian Yesus, salib menjadi lambang siksaan yang diciptakan manusia untuk saling menyingkirkan: Di salib, manusia yang terbatas, lemah, rapuh, berdosa tampak sebagai pribadi yang perkasa dan berkuasa atas Allah dan sesama dengan “mengadili Allah yang Tidak Terbatas, Allah yang tidak bersalah dengan kesalahan kita, manusia sendiri. Di salib yang Hina, manusia yang terbatas menyingkirkan Allah dengan menempatkan kemanusiaannya yang terbatas sebagai pusat dan sumber kehidupan. Di salib, manusia yang terbatas, rapuh, lemah dan berdosa membunuh dan menguburkan Allah, Sang Kebenaran dan Kebaikan, Sang Cinta.

Kita, manusia tidak sadar bahwa kita hanyalah ciptaan Allah. Kita, manusia, diciptakan Allah dari isi cinta-Nya sendiri. Karena sejak awal kita diciptakan, Allah, Sang Cinta memanggil kita, “Dimanakah Engkau hai Adam, hai Manusia. Ternyata, usaha Allah mencari kita untuk menyatakan bahwa Dia sangat mencintai kita dan harus menyelamatkan kita justru diakhiri dengan tindakan tragis dari kita: Kita Menyalibkan Dia, Sang Cinta. Di salib, Yesus, Anak Allah, Sang Mempelai Cinta bersatu dengan kita semua, ciptaan-Nya, Sang Pengantin Perempuan, yaitu Gereja, bersatu dalam Cinta yang Maha Kuat, Maha Kuasa dari maut yaitu arogansi, kesombongan kita yang lahir dari ketidaksadaran kita sebagai Ciptaan Allah Sang Cinta.

Salib, Takhta Yesus, Takhta Putra Allah serentak menjadi Ranjang Pernikahan, Tempat Cinta Bapa dan Putra-Nya bagi kita, manusia, ciptaan-Nya Tergenapi. Di kayu salib, Yesus, Putra Allah, Sang Mempelai Gereja, yaitu kita umat-Nya tidak sendirian. Dia didampingi oleh dua orang penjahat yang mewakili kita, umat ciptaan-Nya yang melalui peristiwa kematian, mewakili Yesus.

Apakah kita menjadi pendamping Yesus yang Tersalib yang Baik atau yang Jahat? Ingatlah, kita akan menjadi Pendamping Dia yang Tersalib yang Baik dan layak Tinggal Bersama-Nya di Rumah-Nya, jika kita berada bersama dan bersatu dengan Yesus, dalam diri sesama dengan tulus mengakui kesalahan dan dosa kita serta tinggal dalam diri sesama yang menderita.

Yesus menyampaikan Sabda-Nya ini (Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal) untuk mempersiapkan para Rasul, para Murid-Nya dan kita semua yang percaya kepada-Nya akan saat kematian-Nya di kayu salib. Melalui Kepergian-Nya, yaitu kematian-Nya, Dia mempersiapkan tempat di “Rumah Bapa” bagi kita. Pada saat itulah, mata hati dan iman mereka dan iman kita baru sungguh-sungguh terbuka melihat dan mengimani kedalaman dan keagungan Cinta Kasih-Nya sebagai Anak Manusia (sungguh-sungguh manusia) dan Anak Allah (sungguh-sungguh Allah).

Kepergian Yesus/kematian-Nya serentak diimani sebagai saat kedatangan-Nya kembali kepada para Rasul, para Murid dan kepada kita semua yang mengimani-Nya, sungguh Allah dan sungguh manusia. Kedatangan-Nya kembali kepada kita pada saat kematian-Nya, bukanlah kedatangan-Nya kembali pada Akhir Zaman, melainkan kedatangan-Nya saat ini (langsung) setelah kematian-Nya (masuk ke dalam dunia penantian, dunia jiwa-jiwa menantikan kedatangaa-Nya): Sang Kasih Mengalahkan kuasa maut.

Pada saat inilah, Kerajaan Allah tercipta di dunia ini dan pada saat inilah Dia yang Wafat dan Bangkit menyatakan kemuliaan cinta kasih-Nya sebagai Jaminan Tunggal bagi Kebangkitan semua orang yang percaya kepada-Nya serta menjadi Jalan yang Benar menuju Kehidupan yang Kekal (via, veritas, vita). Kedatangan-Nya setelah kebangkitan-Nya adalah Kedatangan-Nya yang baru, dengan Tubuh dan Jiwa-Nya yang sudah dimuliakan, kekal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu... Kedatangan-Nya setelah kematian-Nya menghasilkan Persatuan Kasih yang Sempurna antara kita, pengikut-Nya dengan Bapa dalam diri-Nya.

Walaupun demikian, kita para pengikut-Nya tidak mungkin berada di Tempat Yesus Berada, sebelum Tubuh Insani-Nya mengalami kematian. Tubuh Insani-Nya harus mati dan harus masuk ke dalam dunia orang mati (tempat penantian jiwa-jiwa) untuk membuka jalan bagi kita menuju keselamatan, dalam dan melalui kematian-Nya. Dalam dan melalui kematian-Nya, Dia menyatakan Kebesaran, Kedalaman dan Keagungan Cinta Kasih-Nya demi keselamatan dan kebahagiaan kekal bagi kita semua orang yang percaya kepada-Nya...

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Giornata...

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget