Maret 2026



 


Minggu Pra-Paskah III, Tahun A

“Berilah Aku Minum”

Keluaran 17:3-7

Mazmur 95:1.2.6.7.8.9

Roma 5:1-2,5-8

Yohanes 4:5-42

“Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimbah air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!”

(Yohanes 4:7)

***********************************

Beberapa abad yang lalu, hiduplah seorang filsuf Jerman keturunan Yahudi bernama Moses Mendelssohn. Di cerdas yang penuh kasih. Hanya satu kekurangannya: dia bungkuk. Namun dalam kesadaran akan dirinya yang bungkuk inilah, dia jatuh cinta pada Gretchen, seorang wanita muda yang cantik dan menarik, putri seorang bankir kaya.

Beberapa saat Mendelssohn menungguh. Pada suatu saat, dia berani meminta izin kepada ayahnya, sang bankir kaya, untuk menjumpai Gretchen dengan alasan bahwa dia ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Sang ayah memberikan izin kepadanya.

Mendelssohn segera naik ke lantai dua dan menjumpai gadis itu yang sedang sibuk menyulam. Selama percakapan di antara mereka, Gretchen, wanita muda yang cantik dan menarik itu, tidak pernah memandang wajah Mendelssohn.

Akhirnya, percakapan di antara mereka berujung pada persoalan perkawinan. Gretchen bertanya kepada Mendelssohn: “Apakah kamu percaya pada peribahasa lama yang mengatakan bahwa perkawinan itu sudah ditakdirkan dari surga?

Mendelssohn menjawab, “Tentu, saya percaya! Dan justru pada saat kita berbicara mengenai hal ini, saya ingin mengatakan kepadamu bahwa ada kejadian luar biasa yang terjadi pada diri saya. Seperti kita ketakui bersama  bahwa bila ada seorang anak laki-laki lahir, para Malaikat mengumumkan  peristiwa itu agar semua orang bisa mengetahuinya. Anak laki-laki kecil ini ditakdirkan untuk mendapatkan seorang gadis sebagai istrinya. Hal ini sudah ditakdirkan dari atas sehingga tiada seorang pun yang bisa mengubahnya. Maka, ketika saya lahir, para Malaikat mengumumkan mengenai diri saya. Namun, kemudian mereka berhenti dan menambahkan, ‘Tetapi sayang, bakal istri Mendelssohn akan bungkuk.’ Kemudian saya berteriak di hadapan isi Surga, ‘Oh, Tuhan... Jangan! Seorang gadis yang bungkuk akan sangat mudah tersiksa dan terluka batinnya, karena akan menjadi sasaran gurauan banyak orang. Jangan, Tuhan! Gadis itu harus cantik. Tuhan, saya mohon, biarlah saya saja yang bungkuk dan biarkan dia tetap cantik dan bertubuh indah.”

Tahukah kamu, Gretchen? Allah mendengarkan doa saya dan saya merasa gembira. Sayalah anak-laki-laki itu dan kamulah gadis itu!

Sekarang, Gretchen melihat Mendelssohn sebagai sosok laki-laki yang sama sekali berbeda. Akhirnya, dia pun menjadi Istri Mendelssohn yang setia dan penuh kasih...

*********************

Kisah ini memperlihatkan kepada kita sisi perjumpaan yang mempersatukan karena kekuatan batin-rohani yang dinyatakan dalam kesediaan dan kerelaan Gretchen untuk menderita bagi Mendelssohn, seorang pria yang bertubuh bungkuk. Kekuatan itu mengalir dari hatinya yang penuh cinta: di mana ada cinta, di sana ada kesediaan untuk menerima dan memberikan diri demi kebahagiaan pribadi yang dicintai.

Dalam Kitab Kejadian dilukiskan mengenai kisah perjumpaan cinta antara Yakub dengan Rahel, calon istrinya dekat sumur. Dalam perjumpaan itu, Yakub menyatakan isi cintanya dengan mengungkapkan kata-kata rayuan kepada Rahel, bahkan menciumnya. Akhirnya, cinta manusiawi mempersatukan Yakub dan Rachel.

Dalam Injil Yohanes dikisahkan bahwa dekat Sumur Yakub, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan. Sama seperti Mendelssohn dan Yakub yang mendekati wanita pujaan mereka dengan kata-kata rayuan manusiawi, bahkan mencium (Yakub mencium Rahel) karena gerakan cinta manusiawi yang menggelora dalam diri mereka (gerakan cinta dari bawah,  pria dan wanita), Yesus juga mendekati wanita Samaria dengan kata-kata rayuan. Akan tetapi, kata-kata Yesus adalah Rayuan Cinta Ilahi (gerakan cinta dari atas, Allah dan manusia). Yesus berkata kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Ini adalah rayuan yang penuh kerendahan hati. Rayuan Ilahi, rayuan kerendahan hati ini  bisa diartikan demikian, “Terimalah Aku, walaupun Aku seorang Asing bagimu.”

Mengapa diartikan demikian? Akarnya adalah: Yesus sungguh-sungguh mengetahui bahwa yang merindukan air bukanlah Dia saja, melainkan wanita itu juga. Perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria di Sumur Yakub merupakan pengalaman rohani yang sangat dalam dan penuh makna. Secara bertahap, wanita Samaria mengenal siapakah pria yang sedang berbicara dengannya. Pada awalnya, dia menyapa pria itu sebagai orang Yahudi; kemudian dia menyapa pria itu dengan Tuan, Nabi, Mesias-Kristus dan akhirnya mengalami-Nya sebagai Sang Juruselamat dunia.

Di sumur Yakub terjadi perjumpaan untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Yesus merasa letih dan haus; wanita Samaria datang untuk menimbah air: letih mencari perhentian versus datang mencari sumber; haus versus air, pria versus wanita; orang Yahudi versus Samaria.

Sumur Yakub adalah warisan nenek moyang Israel (Yakub). Warisan ini dimiliki oleh wanita Samaria. Biasanya air sumur tidak mengalir, menggenang statis: sementara sumber air itu mencakup sumur dan air yang mengalir. Wanita Samaria memiliki sumur dan Yesus adalah Sumber Airnya. Awalnya, Yesus merasa haus dan meminta air. Namun, kemudian, wanita Samaria yang menimbah air dan Yesus memberikan Air Kehidupan kepadanya.

Ada sebuah pertukaran kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan antara Yesus dengan wanta Samaria. Yesus haus akan air karena berjalan kesiangan dan keletihan. Sementara wanita Samaria merindukan adanya Sumber Air yang tidak akan pernah habis. Dia merindukan air bagaikan tanah kering dan tandus merindukan air, bagaikan rusa yang mendambakan air. Inilah sikap batin wanita Samaria: dia merindukan dan menantikan Air Hidup.

Pada hari Jumat Agung, kerinduan Wanita Samaria ini terpenuhi karena di Hari yang Agung ini, Yesus akan mengalirkan Air Kehidupan kepadanya dan kepada semua umat manusia. Air Kehidupan itu mengalir dari Lambung/Hati-Nya Tertikam. Air Kehidupan itu adalah Air Kasih.

Yesus tahu bahwa semua manusia merindukan-Nya sebab Dialah Sang Kasih, Sumber Air Kasih bagi semua manusia. Walaupun demikian, Yesus tidak pernah memaksakan setiap manusia untuk menerima Air Kasih-Nya dan mengasihi-Nya. Dia menunggu setiap manusia untuk datang kepada-Nya: Yesus melebihi Sumur Yakub sebab Dia adalah Sumber Air Kasih, Sumber Air Kesegaran, Kehidupan dan Keselamatan yang tidak akan pernah mati.

Yesus sangat berbeda dengan para Nabi dahulu yang cenderung memaksakan manusia untuk mencintai Allah dengan menyebut daftar dosa manusia. Yesus mendekati semua manusia dengan rayuan Cinta Kasih-Nya, yaitu Cinta Ilahi, Cinta yang Merangkul dan Mengampuni semua manusia; Cinta yang Rela Membagi, Memberi dan Mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan bagi semua dan setiap manusia yang bersedia menimbah Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan yang mengalir dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam.

Hati Yesus yang Tertikam di Jumat Agung adalah Sumur yang Mengalirkan Sumber Cinta yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia yang berdosa, sebagaimana Dia mengalirkan daya pengampunan-Nya kepada Wanita Samaria yang memiliki enam orang suami yang sesungguhnya hanyalah selingkuhan, suami simpanan-pelacuran (penyembahan berhala) karena dewa-dewa yang disembah wanita itu dan orang Samaria umumnya adalah dewa-dewi asing.

Daya rangkul dan pengampunan Yesus dinyatakan dalam penyataan diri-Nya sebagai mempelai ketujuh (tujuh sebagai angka sempurna), yaitu sebagai suami yang sesungguhnya. Kalau dihubungkan dengan penyembahan berhala orang Samaria, Yesus (ketujuh) menjadi kesempuraan kultus atau penyembahan. Dia adalah Sang Mempelai yang menjumpai pengantin-Nya di Sumur Yakub. Dia adalah Sang Mempelai yang membiarkan Lambung/Hati-Nya Tertikam agar bisa mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Sumber Air Kehidupan dan Keselamatan bagi kita semua, pengantin-Nya.

Berkat penyataan diri Yesus sebagai Sang Mempela dan Sang Sumber Air Kasih, maka perjumpaan di Sumur Yakub berubah menjadi pewartaan. Dalam perjumpaan itu, ada pemulihan hubungan antara mempelai wanita yang telah melacurkan dirinya dengan dewa-dewi lain dengan Mempelainya yang sesungguhnya. Akibat dari perjumpaan rohani ini adalah: wanita Samaria menjadi pewarta pertama kepada kaumnya. Inilah pengalaman rohani yang berimplikasi pada inisiatif untuk tugas pewartaan. Semua pengalaman rohani, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan harus diungkapkan dan diwartakan. Pengalaman bersama Tuhan tidaklah egois-individualis, tetapi eklesial dan komunitaris.

Inilah perbedaan antara perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel dengan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria. Perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel berujung pada persatuan antara kedua pribadi menjadi suami-istri; sedangkan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria berujung pada pertobatan, pengakuan iman, persatuan dan pewartaan.

Yesus bekerja dalam diri kita agar perjumpaan kita dengan-Nya, terutama dalam peristiwa Jumat Agung, saat Tuhan memperlihatkan dan mengalirkan dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam Sumber Air Kasih yang memberikan kesegaran, kehidupan dan keselamatan bagi kita, kita pun diberdayakan untuk menjadi Pewarta Kasih yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia dalam Kasih-Nya...

Apakah kita bersedia berjumpa dengan Yesus yang Lambung/Hati-Nya Tertikam dan membiarkan Lambung/Hati-Nya yang Tertikam itu Terbuka agar kita bisa melihat dan mengalami kedalaman dan kebesaran Cinta-Nya, yang menjadi Sumber Kesegaran, Kehidupan dan Keselamatan bagi kita serta berusaha mewartakan-Nya sebagai Allah, Sang Cinta yang Menyegarkan, Menghidupkan dan Menyelamatkan melalui perkataan dan perbuatan kita?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE 52

“SIGNIS Indonesia: Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”

Bandung 24 Februari – 1 Maret 2026.


SIGNIS INDONESIA

Signis adalah Asosiasi Katolik internasional umat beriman untuk Komunikasi. Signis diakui oleh Takhta Suci sebagai Asosiasi Internasional Umat Beriman. Signis memiliki status konsultatif dengan UNESCO, Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Dewan Eropa. Selain Signis internasional ada juga Signis Indonesia. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial serta bagian dari SIGNIS Internasional, jaringan global yang fokus pada pengembangan media beretika, mendukung hak asasi manusia, dan memperkuat komunikasi lintas budaya.


Di Indonesia, Signis bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. Para anggota SIGNIS Indonesia tahun 2026 ini mengadakan rapat anggota signis indonesia ke 52 “Signis Indonesia: Artificial Inteligence dalam tantangan iman,”di Bandung 24 Februari - 1 Maret 2026. Artificial Inteligence dalam Terang Iman menjadi peluang dan tantangan komunikasi pastoral khususnya tema penting dalam rapat anggota atau sidang SIGNIS Indonesia ke-52Sidang SIGNIS Indonesia ke-52 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, dari tanggal 24 Februari  sampai 2 Maret 2026, dihadiri oleh 32 anggota, dengan tema Artificial Inteligence dalam Terang Iman: Peluang dan Tantangan Komunikasi Pastoral. 

Dalam khotbahnya, Yang Mulia Mgr. Agustinus, selaku Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia, menyampaikan bahwa Gereja adalah persekutuan yang Hidup dari komunikasi. Inti dari Gereja adalah persekutuan yang berpusat pada Kristus dan diilhami oleh Roh Kudus. Namun, persekutuan hanya dapat benar-benar terjadi jika ada komunikasi yang lancar. Tanpa komunikasi, misi Gereja tidak akan berdampak, oleh karena itu SIGNIS melambangkan tanda dan api. Signis mewakili kobaran api misi Gereja yang tidak boleh disembunyikan. Komunikasi menjadi ujung tombak untuk membawa semangat dan jiwa Gereja keluar, agar tidak terperangkap di dalam tembok internal dan ego sektoral.

Para peserta mengikuti hari studi sesuai dengan tema pertemuan SIGNIS ke-52 ini, pembicaranya adalah Suryatin Setiawan beserta timnya. Beliau adalah praktisi di bidang teknologi informasi yang menyampaikan presentasi berjudul “Prompt Engineering: Seni Berkomunikasi dengan Teknologi Kecerdasan Buatan.” Dengan semangat persaudaraan dan dalam terang iman, anggota SIGNIS Indonesia mendorong program-program yang akan dilaksanakan dengan fokus pada upaya menjaga keutuhan ciptaan.

Rapat Anggota tahunan ini dibuka secara resmi dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Sejumlah agenda penting mewarnai pertemuan ini, hari studi pertama seminar bersama anggota dari Bapak Hendro Setiawan, hari studi kedua oleh Pastor Noegroho Agoeng, Hari studi ketiga refleksi bersama masing masing regio, hari studi keempat Laporan karya:

A.    Capaian utama tahun 2025-2026

1.     Kerjasama, Kolaborasi dan Jejaring

2.     Pelatihan Media Sosial, Pewartaan Digital, Jurnalisme dan Riset

3.     Pengadaan Alat, Infrastruktur dan Perpanjangan Perizinan

4.     Produksi Film

5.     Workshop dan Waste Management Enterprise

B.    Prioritas lembaga untuk tahun 2026:

1.     Fundraising untuk kemandirian finansial

2.     Pelatihan untuk kaum muda dan perempuan

3.     Pemberdayaan SDM yang professional

4.     Media Misi yang mandiri, kredible dan berkelanjutan

5.     Kemitraan

6.     Pembangunan Infrasturktur

 

C.    Kemudian dilanjutkan dengan Rapat Regio

D.    Program Nasional Informasi Signis Asia - Dunia

E.    Penerimaan Anggota

F.     Pemilihan BP 

AAgenda penting lainnya dalam pertemuan ini adalah pemilihan pengurus periode 2026-2030, sebagai berikut:

Presiden Signis Indonesia 2026- 2030
RD Heribertus Ratu 
Ketua Regio Signis 2026-2030K

Sumatera : RD Adiputra Adrianus Lumban Tobing

Jawa : RD. Reynaldo Antoni Haryanto

Kalimantan : RD. Suhanedi Kusmantoro

Nusa Tenggara : RD. Herman Yoseph Babey

MAM : RD Emanuel ND

Papua : B. Onisemus Sarway

Tim Asistensi

RD. Benedektus Nugroho Susanto

B. Paulus Mashuri

RD. Titus Jatra Kelana

RP. Paulus Tumayang OFM

RD. Yohanes Kari


G.    Pemilihan BP dan Serah Terima

Badan Pengurus Harian

Ketua: RD Heribertus Ratu 
Wakil Ketua: Ibu Bernadetta Widiandajani
Sekretaris: RD Tiburtius Plasidus Mari 
Bendahara: RD Reynaldo Antoni Haryanto

Anggota: RD Suhanedi Kusmantoro

H.    Venue dan Keputusan Rapat

I.      Cultural Visit komunitas Sunda Katolik

J.     Misa Penutup/ Katedral Bandung

Penutup dan Refleksi

               Kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), menghadirkan peluang dan kejutan yang signifikan. Teknologi ini telah menyentuh dan meresap ke berbagai aspek kehidupan. Munculnya refleksi baru, seperti teologi digital dan ontologi digital, menimbulkan tantangan teologis dan filosofis, mempertanyakan makna realitas hidup di era AI. Namun, Gereja tidak perlu takut atau gentar, selama tetap berpegang teguh pada identitas dan misi Kristus. Untuk tujuan ini, AI adalah produk dari kecerdasan manusia. Manusia dipanggil untuk terus menemukan dan mengembangkan teknologi. Namun, yang terpenting Artificial Inteligence harus berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan firman yang hidup dan berdampak, bukan menggantikan peran manusia atau mengosongkan pesan. Uskup berharap, oleh karena itudiharapkan Artificial Inteligence sebagai alat komunikasi Gereja harus terus membawa energi, makna, dan kekuatan transformatif seperti hujan yang memperkaya bumi. 

    Pertemuan SIGNIS diharapkan bukan hanya sekadar acara formal, tetapi juga percikan yang membangkitkan pelayanan, sehingga lebih banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan. Kehadiran perwakilan SIGNIS dari berbagai keuskupan di Indonesia dimana masing masing diutus baik Komsos dan radio. Dalam refleksi bersama masing masing menunjukkan bagaimana komunikasi Katolik terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman di keuskupannya sendiri.

Poin Pertama:

Pastor Antonius Stephen Lalu, Ketua SIGNIS Indonesia, menjelaskan bahwa para pekerja media Katolik, terdiri dari tim komunikasi sosial (Komsos) dan Radio dari berbagai Keuskupan. Setiap tahunnya SIGNIS Indonesia berkumpul untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat karya pewartaan. Tahun 2026, panitia Signis mengambil tema Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”. SIGNIS Indonesia ingin menjadi Sains Ignis yakni membawa dan mengomunikasikan tanda-tanda zaman, menyebarkan semangat laksana api yang membakar hati, seperti pengalaman murid-murid Emaus yang berkobar penuh sukacita setelah bertemu Yesus,” ujar Pastor Antonius.

Poin Kedua :

Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo  dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadi komunikator yang handal di era pengharapan ini. Beliau menekankan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar soal teknologi atau sarana, tetapi lebih pada bagaimana media dapat menciptakan hubungan yang penuh kasih dan relasi yang bermakna. “Kita tentu tidak bisa menjauh dari media komunikasi sosial, tetapi kita harus menggunakannya sebagai alat pewartaan. Jika manusia berjalan dengan kepala tertunduk, tanpa melihat kiri dan kanan, tanpa senyuman, tanpa sapa, tanpa salam maka manusia itu seperti robot yang hidup tanpa hati, maka kita kehilangan esensi komunikasi yang sejati,” ungkap Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.

Melalui renungan Bapa Uskup, kami disadarkan bahwa Komsos adalah corong pewartaan iman di Keuskupan. Komsos sebagai wadah bagi pengajaran dan refleksi iman yang mampu  menyampaikan warta ke segala penjuru. Pada ahirnya mimpi dan harapan iman sampai pada seluruh umat. Melalui pewartaan yang dipublikasikan melalui media sendiri, maka umat mampu mengetahui segala informasi terbaru perihal peristiwa yang terjadi.

















MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget