Paskah Kebangkitan Tuhan 04-05 April 2026 “Dan Batu itu Sudah Terguling” (RD. Very Ara) Markus 16,1-8

 


Paskah Kebangkitan Tuhan

04-05 April 2026

********************

“Dan Batu itu Sudah Terguling”

Markus 16,1-8


Perangkap Maut

Pada suatu ketika, seekor tikus berkata, “Setiap hari dunia ini sepertinya semakin sempit. Dulu, dunia ini sangat luas sehingga saya bisa berlari ke sana ke mari. Saya merasa bahagia karena bisa memandang jauh ke depan dan bisa melihat tembok kiri dan kanan.

Namun, sekarang dinding-dinding tembok yang lebar itu semakin dekat satu dengan yang lainnya sehingga ketika tiba di kamar yang terakhir, di sebuah sudut, saya sudah menemukan perangkap untuk menangkap saya. Tidak ada kemungkinan lain ... saya harus masuk ke dalam perangkap itu.

Ketika Tikus berada di sudut rumah itu, tiba-tiba terdengar suara persis berada di belakangnya yang berkata, “Engkau harus mengubah arah lompatanmu”. Dia menoleh ke belakang. Dia sangat terkejut karena di hadapannya berdiri seekor kucing yang siap memangsanya. Dengan bringas kucing itu menerkamnya.

Tidak ada jalan bagi tikus untuk menyelamatkan dirinya: Maju, masuk perangkap dan mati! Mundur, berbalik, diterkam, mati!

**************************

Gambaran Hidup Manusia

Kisah tikus ini adalah sebuah gambaran yang nyata mengenai kehidupan kita. Pada awal kehidupan, di hadapan kita terbentang kemungkinan yang tidak terbatas dan sangat luas. Namun, dari hari ke hari, minggu, bulan dan tahun ke tahun, hidup ini justru menjadi sempit. Kita seolah terdesak dan terpojok ke sudut kehidupan yang sama sekali tidak memiliki jalan keluar.

 

Setiap saat, ada sel-sel kehidupan kita yang berubah menjadi tua:

o   Wajah yang montok berubah menjadi keriput.

o   Badan yang gemuk dan tambun berubah menjadi kurus.

o   Rambut yang hitam berubah menjadi putih-ubanan.

o   Gigi yang penuh berubah menjadi ompong.

Proses ini sangat alami dan tiada seorang pun dari kita yang mampu menghindarinya. Tiada seorang penguasa dunia pun yang mampu menangkal proses ini. Kita tidak bisa mengelak dan tidak bisa mempertahankan keabadian diri kita. Di akhir dinding kehidupan ini, perangkap maut menanti kita. Apabila kita luput dari perangkap maut, maka maut (seperti kucing dalam kisah tadi) akan menerkam kita.

 

Maut Tidak Terelakkan!

Kisah Injil ini sungguh-sungguh menyapa situasi hidup kita saat ini. Injil tidak berkisah mengenai jalan keluar di hari Paskah di alam yang indah. Ketiga wanita berjalan menuju makam Tuhan. Mereka membawa minyak untuk mengurapi jenazah Tuhan, sama seperti kehadiran kita yang membawa serta bunga untuk diletakan sebagai harum-haruman di makam atau membawa sesuatu yang berkenan, terutama kehadiran, rasa haru dan duka, serta tangisan sebagai wujud keterlibatan kita bersama keluarga yang ditinggalkan

Perjalanan menuju kubur bukanlah perjalanan Paskah. Mereka berada dalam situasi Jumat Kelabu. Mereka datang dengan membawa harapan terakhir, yaitu memberikan milik kepunyaan mereka, harta mereka yang layak diberikan kepada jenazah Tuhan, Guru mereka.

Tuhan sudah mati. Sejarah kehidupan mereka bersama Tuhan, kini berakhir. Apa yang tertinggal dalam kenangan mereka?

Dengan minyak dan balsem, mereka hanya ingin memperpanjang kehadiran jenazah Tuhan supaya tidak cepat membusuk. Inilah yang menyenangkan mereka. Ini saja. Mereka tahu bahwa tiada seorangpun yang mampu menangkal sengatan maut/kematian. Mereka hanya bertanya cemas, “Siapakah yang bisa menggulingkan batu besar itu dari pintu kubur?

Tampaknya penginjil sengaja melukiskan bahwa batu itu sangat besar. Sama seperti tembok dalam kisah tadi yang menuntun tikus kepada maut: Siapakah yang mampu menggulingkan batu besar itu dari pintu kubur?

Batas yang memisahkan hidup dan maut sama seperti batu besar itu. Secanggih apa pun peralatan modern saat ini tidak akan pernah sanggup menggulingkan batu maut. Maut tidak bisa ditarik, tidak bisa dibatalkan dalam kehidupan kita.

Dia sudah Bangkit!

Di titik nol kemanusiaan kita, kita sungguh-sungguh berada pada batas akhir kesanggupan kita. Pada saat itulah Allah berkarya. Batu maut yang besar terguling dan digulingkan dengan kekuatan Ilahi-Nya. Tembok-tembok maut yang kokoh runtuh; kematian dihancurkan oleh Tuhan: “Kamu mencari Yesus dari Nazaret, yang disalibkan. Dia sudah bangkit; Dia tidak ada di sini. Tempat-Nya di dalam kubur sudah kosong.

 

Yakinlah...

Di mana ada maut,

di sana muncul warta mengenai kehidupan baru.

Di mana kematian bercokol,

datanglah warta mengenai kehidupan baru!

 

Warta ini bukanlah kebetulan. Sejak awal kehadiran-Nya Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai pembawa hidup. Di saat kita mendekati kematian; di saat kita nyaris terkubur bersama segudang harapan karena penderitaan yang kita alami, di sana Tuhan menciptakan hidup. Sepanjang hidup dan karya-Nya, Tuhan menghadapi konflik terbuka menghadapi maut, sebuah pertarungan antara hidup dan mati (mors et vita duello). Yesus bertarung dengan penguasa maut yang haus kuasa, jahat dan biadab hingga berujung pada kematian tragis di kayu salib. Namun, Dia yang tersalib dan mati secara keji, kini Hidup dan Meraja. Dia mengalahkan penguasa maut yang biadab dengan kelemahan kasih-Nya di salib, bukan dengan kekuatan senjata. Kemenangan-Nya tampak dalam ketidakberdayaan kuasa maut membusukan raga-Nya. Dia bangkit dengan tubuh baru, tubuh yang mulia dan kudus.

Peralihan dari kematian menuju kehidupan bukanlah tanpa perjuangan yang hebat. Maut adalah penguasa terbesar yang tidak hanya menguasa kehidupan kita di saat yang terakhir. Maut tidak boleh diremehkan karena selalu menuntut korban. Yesus sendiri tidak terhindar dari bahaya maut ini: Penguasa atas Hidup dan Pemilik Hidup pun mengalami kematian (dux vitae mortuus).

 

Kematian: Akhir Segalanya?

Kita pasti memahami, apa artinya jika ada seseorang yang dibunuh untuk memberikan hidup bagi sesamanya. Yesus pun demikian. Dia sendiri mengatakan: Aku adalah kehidupan, namun mati. Jika demikian adanya, maka kematian Tuhan justru menjadi akhir bagi segalanya. Namun justru pada titik inilah Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Dalam kematian-Nya, Dia mengalahkan kematian. Batu maut yang besar, batas akhir maut dan kehidupan terguling: Penguasa hidup yang mati, kini hidup dan meraja.

Tuhan bangkit. Inilah dasar harapan kita. Inilah yang membuka perpektif hidup yang baru bagi kita. Kisah tikus dan kucing kini berubah: manusia dan dunia tidak lagi terpaksa masuk ke dalam perangkap maut...atau berbalik akan diterkam oleh sang maut. Tidak lagi. Maut dan kematian dikalahkan. Batu besar di pintu makam itu sudah terguling. Maut sudah dikalahkan.

Arti Paskah!

Paskah kebangkitan bagi kita dan terutama saudara kita ini berarti:

o   Allah sendirilah yang menggulingkan batu itu.

o   Allah sendirilah yang mengalahkan maut.

o   Perjalanan ke makam berubah menjadi perjalanan menuju kehidupan.

 

Arah kehidupan kita harus lain:

o   Bukan dari kehidupan menuju kematian, melainkan dari kematian menuju kehidupan!

o   Bukan dari terang ke terang, melainkan dari gelap menuju terang!

o   Bukan dari atas ke bawah, melainkan dari bawah ke atas.

o   Membiarkan Tuhan bertindak dan melakukan hal yang besar dalam ketidakberdayaan kita.

o   Biarkan Tuhan sendiri yang menggulingkan batu maut itu.

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget