BERLANGKAH DALAN DAN DENGAN PENUH IMAN-HARAPAN,,

Tahun 2026

************************

St. Agustinus berkata: “Setiap saat, ketika kita memasuki Tahun yang Baru, kita sesungguhnya beranjak semakin dekat menyongsong akhirat dan hidup kita di bumi fana ini akan berakhir”. Namun, saya berani berkata kepadamu, saudara....

“Jangan pernah takut bahwa hidupmu akan berakhir dengan bertambahnya waktu (tahun). Kamu harus takut kalau hidupmu tidak pernah dimulai”.

Perkataan ini patut kita renungkan menjelang akhir tahun ini. Mengapa kita tidak boleh takut bahwa hidup ini akan berakhir? Karena....

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh kedalaman dan intensitasnya.

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa lama dan di mana kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalani dan mengisi hidup.

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh kuantitas/rentetan waktu hidup, melainkan oleh kualitas hidup.

Saat ini, kita berada di batas antara tahun yang silam dan tahun yang akan datang. Di tengah malam tadi, tahun 2025 sudah menjadi masa silam dan tidak akan pernah kembali. Di tengah malam ini juga, kita memasuki Tahun Baru, tahun 2026 yang belum terisi... belum dijalani. Namun, di detik awal tengah malam inilah, satu lembaran baru dalam buku kehidupan kita dibuka.

Sebagai seorang beriman, marilah kita membuka dan memasuki Tahun Baru 2026 ini dengan meletakan harapan kepada Allah. Meletakkan harapan berarti mempercayakan celah-celah kehidupan yang gelap dan penuh rahasia ke dalam tangan Allah. Apa yang seharusnya diharapkan?

Sepotong doa ini harus menjadi dasar harapan kita:

Yang saya harapkan:

o   Bukanlah supaya hidup saya bebas dari duka derita,

o   Bukanlah supaya jalan hidup saya ditaburi bunga mawar,

o   Bukanlah supaya tiada air mata yang membasahi pipi saya dan tiada penyakit yang menyiksa saya.

Saya tidak mengharapkan semuanya ini dalam kehidupan saya.

Yang saya harapkan adalah:

o   Supaya saya senantiasa mengenangkan hari-hari bahagia dalam kehidupan saya dengan penuh rasa syukur, 

o   Supaya saya tabah menghadapi semua cobaan dan tantangan, terutama di saat beban hidup saya terasa berat dan disaat sinar harapan meredup dalam diri saya.

Yang  saya harapkan adalah:

Semoga dalam susah dan senang, untung dan malang, senyum cinta, kerahiman dan belas kasih Allah senantiasa menerangi, menuntun dan meyakinkan saya dalam setiap derap langkah kehidupan saya bahwa Allah selalu menghendaki yang terbaik untuk saya.

Saat ini, saya sungguh-sungguh memasuki Gerbang Tahun Baru. Saya pun berkata kepada Malaikat yang berjaga:

Berikanlah kepada saya seberkas cahaya supaya saya bisa berjalan dengan langkah pasti untuk memasuki ketidakpastian hidup di tahun yang baru ini...

Malaikat Menjawab:

Masuklah ke dalam kegelapan dan letakanlah tanganmu ke dalam genggaman tangan Tuhan... Itu jauh lebih baik daripada seberkas cahaya dan jauh lebih pasti daripada jalan yang sudah dikenal...

Dalam kepasrahan, saya berucap:

Saya tidak tahu ke mana Tuhan menuntun saya. Namun, saya percaya bahwa Tuhan pasti dan selalu membuka pikiran dan hati saya saya untuk mengerti bahwa proses kehidupan yang dilalui semua manusia selalu berada pada rel yang sama:

o   Setiap keuntungan membawa serta kerugian,

o   Setiap kelebihan membawa serta kekurangan,

o   Setiap kegembiraan terkandung kesedihan,

o   Dan setiap harapan yang terpenuhi selalu ditantang oleh harapan yang sirnah.

Karena itu, saya harus menerima dengan penuh syukur atas naik turunnya kehidupan ini. Setiap suka dan duka serta untung dan malang dalam hidup ini akan memperkaya saya dengan caranya yang unik:

Saya membutuhkan malam supaya bisa tidur dan menimbah kekuatan baru,... Saya membutuhkan siang hari untuk bekerja, berkreasi dan menciptakan prestasi...

Ini berarti bahwa semua peristiwa hidup yang dialami memiliki makna yang unik dalam seluruh tatatan hidup agar saya menjadi lebih sehat, lebih matang, lebih dewasa dan lebih bahagia.

Oleh karena itu, saya harus bersyukur atas bayangan gelap kehidupan, sebab memiliki makna untuk saya...

o   Saya membutuhkan rasa cemas agar mampu menemukan perspektif baru..

o   Kemacetan dan kegagalan mengajarkan saya untuk bersikap rendah hati dan ikhlas...

o   Penyakit dan sakit menyadarkan saya mengenai pentingnya kesehatan... bahkan sangat mahal harganya...

o   Kelemahan dan ketidakberdayaan mengajarkan saya bahwa saya insan lemah yang selalu membutuhkan bantuan dan topangan Allah dan sesama...

o   Rasa sedih membantu saya untuk mengerti kesedihan dan kedukaan sesama...

o   Saya harus bisa menangis supaya bisa mengerti batin sesama yang tersayat kepedihan...

Dengan penuh rasa syukur, saya pun berdoa kepada-Nya... Tuhan, saya memohon kepada-Mu di awal Tahun Baru ini:

Tinggallah dekat kami supaya kami bisa menjajaki bahwa nama-Mu terpahat dalam sejarah hidup kami, sepanjang hayat kami dan sepanjang masa. Dengarkan suara hati kami, pandanglah duka-derita kami, pikullah juga beban kehidupan kami; berjalanlah mendahului kami untuk menuntun kami supaya kami sungguh-sungguh masuk ke dalam kebebasan dan ke dalam persekutuan dengan semua orang karena kami semua adalah anak-anak-Mu, anak-anak dari Bapa yang satu dan sama...

Selamat memasuki Tahun Baru 2026 dengan semangat kasih dan syukur untuk memulai secara baru. Peganglah prinsip ini: Jangan Pernah Berhenti untuk Memulai dan Jangan Pernah Memulai untuk Berhenti....

 

Buon Anno... 2026

Selamat Tahun Baru 2026.....

Dio Ti Benedica

 

Alfonsus Very Ara, Pr