Minggu, Pekan Biasa III Tahun A “Kerajaan Surga Sudah Dekat” (Romo Very Ara) Yesaya 8:23b-9:3 Mazmur 27:1.4.13.14 1 Korintus 1:10-13.17 Matius 4:12-23

 



Minggu, Pekan Biasa III

Tahun A

“Kerajaan Surga Sudah Dekat”

Yesaya 8:23b-9:3

Mazmur 27:1.4.13.14

1 Korintus 1:10-13.17

Matius 4:12-23


“Sejak itu, Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah. Sebab Kerajaan Surga sududah dekat”

(Matius 4”17)

Kehidupan Kekal

Orang Bijak Berkata:

o   Allah tidak akan pernah menciptakan ikan sebelum Dia menciptakan lautan, tempat bagi ikan untuk berenang.

o   Allah tidak akan pernah menciptakan burung, sebelum Dia menciptakan angkasa yang luas, tempat bagi burung untuk terbang.

o   Dan Allah tidak akan pernah menciptakan kehidupan kekal dalam jiwa manusia sebelum Dia menciptakan Kemuliaan Surgawi baginya.

**********************************

Setelah mendengar berita mengenai penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memilih Kapernaum sebagai kota pewartaan-Nya. Berkat keputusan-Nya ini, tergenapilah nubuat Nabi yang sejak dahulu menghibur para penduduk daerah Kapernaum, walaupun mereka tidak pernah dianggap suci oleh penduduk Yerusalem.

Yesus mulai berkarya sebagai Pewarta Kabar Baik kepada warga Kapernaum. Dia memaklumkan kedatangan Hari Tuhan yang sebelumnya dikotbahkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus berkata tegas, “Bertobatlah.” Dengan seruan tegas ini, Yesus sejatinya berkata, “Arahkan dirimu, pikiran dan hatimu kepada Cahaya. Bukalah matamu, sebab inilah syarat utama untuk memasuki kehidupan baru.

Bertobat searti dengan mengubah cara berpikir karena sadar dan beriman bahwa Allah sungguh-sungguh berbeda dari apa yang dipikirkan atau dibayangkan oleh manusia tentang Dia. Allah yang benar adalah Allah yang selalu mengarahkan pikiran dan hati-Nya kepada manusia. Karena itu, Allah menjadi manusia: Dia Ada, Hadir dan Bertindak demi kehidupan dan keselamatan manusia. Allah datang untuk mencari manusia dan tinggal diantara manusia. Allah serentak mencari dan menunggu, apakah kita, umat manusia bersedia menjumpai-Nya?

Yesus juga berseru dengan suara tegas, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Kini Allah Ada dan Hadir di bumi. Allah tinggal di antara dan bersama, kita, manusia, ciptaan-Nya: Allah itu Ada, Hadir dan Tinggal di bumi searti dengan Allah Meraja di Bumi. Di saat Allah itu Ada, Hadir, Tinggal dan Meraja di bumi, maka bumi dan semua penghuninya, terutama manusia mengalami kemerdekaan, sebab dalam Kerajaan Surga, yaitu Kerajaan Allah, Sang Bapa mengasihi semua manusia sebagai anak-Nya sendiri tanpa batas.

Dalam kata-kata pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Surga terkandung Kebahagiaan Kekal. Mengapa? Kerajaan Surga, Kerajaan Bapa adalah Kerajaan Kehidupan yang dipimpin oleh Allah sendiri. Allah memimpin kehidupan manusia dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan demi terciptanya keselamatan dan kedamaian bagi manusia. Allah tidak memimpin manusia dengan tangan besi, tetapi dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan-Nya yang merangkul semua manusia, ciptaan-Nya, tanpa pandang buluh. Daya cinta Allah sangat radikal karena menembus batas yang tidak bisa dilampaui manusia, yaitu mencintai para musuh; mencintai dan merangkul kembali kita, anak-anak-Nya yang selalu mengingkari kebesaran cinta-Nya, bahkan memusuhi-Nya.

Tahkta Allah, Pemimpin Kehidupan kita adalah Hati kita, Manusia Ciptaan-Nya. Apabila kita memberikan tempat di hati kita sebagai Tahkta bagi-Nya untuk berkuasa, memimpin kehidupan kita dengan kuasa cinta, kerahiman, belas kasih dan keadilan, sejatinya, saat ini, kita sudah mengalami keselamatan dan kebahagiaan kekal. Hidup yang dipimpin Allah berarti menjadikan Allah sebagai Pusat dan Sumber Kehidupan. Hidup yang dipimpin Allah adalah hidup di alam Keselamatan bersama-Nya dalam Kemuliaan-Nya.

Keselamatan dan kebahagiaan kekal, kita alami saat ini, ketika kita mengikuti dan menghidupi seruan Yesus di awal penampilan-Nya di hadapan umum, yaitu: pertama, bertobat: Tidak menjadikan diri dan kehidupan kehidupan kita sebagai pusat, tetapi Allah, Sang Pencipta, Penyelenggara, Pembaharu dan Penyelamat kita; kedua, membiarkan Allah bertakhta dan meraja di hati kita serta memimpin diri dan kehidupan kita; ketiga, apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah, setia mendengarkan Sabda-Nya, taat dan tulus melakukan pekerjaan-Nya, maka hidup kita sungguh-sungguh dipimpin-Nya. Pada saat ini juga, kita sudah mengalami kehidupan kekal.

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita sungguh-sungguh bertobat, memberikan tempat di hati kita bagi Allah untuk bertakhta serta membiarkan diri dan kehidupan kita dipimpin oleh Allah?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget