Minggu Biasa II
18 Januari 2026
Yesus, Anak Domba
Allah
Yesaya 49:3,5-6
Mazmur 40:2, 4ab,
7-8a,8b-9,10
1 Korintus 1:1-3
Yohanes 1,29-34
************************
Pada bulan April 1865, Jenazah Presiden Abraham Lincoln
yang terbunuh dibaringkan selama beberapa jam di Cleveland, Ohio. Jenasah Sang
Presiden sedang dalam perjalanan dari Washintong D. C. ke Springfield,
Illinois, tempat pemakamannya.
Dalam deretan panjang para pelayat, ada seorang wanita
kulit hitam bersama bocah lelakinya yang masih kecil. Ketika keduanya tiba di
depan jenazah Sang Presiden, wanita kulit hitam itu mengangkat putranya seraya
berkata dengan suara serak, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini
rela mati untukmu.”
Adalah benar perkataan wanita kulit hitam bahwa Presiden
Abraham Lincoln rela mati untuk anaknya dan untuk semua warga Amerika yang
berkulit hitam. Sesungguhnya, Abraham Lincoln adalah Pahlawan dalam Kehidupan
Nyata yang sangat berbeda dengan para pahlawan lainnya, seperti perawat, guru,
dll. Mereka juga menyelamat manusia: anak-anak yang diperlakukan secara kasar,
remaja yang melarikan diri, penduduk lanjut usia yang dieksploitasi. Akan
tetapi, mereka lakukan tanpa pengorbanan diri yang tinggi.
Abraham Lincoln, Pahlawan Kehidupan Nyata memiliki kisah
yang berbeda. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa berperang melawan kejahatan
menuntut kerelaan untuk menderita, bahkan menuntut pengobanan dan kehilangan
nyawa. Akan tetapi, penderitaan dan pengorbanan Yesus melampaui penderitaan dan
pengorbanan Abraham Lincoln. Penderitaan dan pengorbanan Yesus adalah
Penderitaan Hamba Yahwe, Anak Domba yang Dibawah ke Tempat Pembantaian demi
keselamatan seluruh umat manusia, bukan untuk sekelompok manusia.
****************************
Pewahyuan bahwa Yesus adalah Anak Allah
dinyatakan tatkala Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan. Ketika Yohanes Pembaptis
melihat Yesus mendatangi-Nya, dia pun bernubuat: “Lihatlah Anak Domba Allah
yang menghapus dosa dunia”.
Kita patut bertanya, “Bukankah hal yang
aneh kalau Yohanes Pembaptis dengan penuh kemeriahannya justru memperkenalkan
Yesus sebagai Anak Domba, Sang Anak Domba Allah, Binatang Kecil yang Lemah
Lembut?
Dalam arti tertentu, seruan Yohanes,
“Lihatlah Anak Domba Allah” sejajar dengan jawaban penuh misteri atas
pertanyaan Ishak, anak terkasih Abraham. Allah telah berjanji kepada Abraham
bahwa dia akan menjadi ayah dari banyak orang “lebih banyak daripada semua
bintang-bintang di langit” (Kej 22,17).
Namun, Allah meminta kepadanya untuk
mengorbankan anak yang dikasihinya itu. Keduanya bergegas ke gunung: Ishak
membawa kayu, sedangkan Abraham membawa pisau dan api. Ishak berkata, “Bapa, di
sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran
itu? Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban
bakaran bagi-Nya, anakku” (Kej 22,7-8).
Jawabannya justru diberikan oleh
Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Untuk memahami makna terdalam
dari anak domba bagi kaum Yahudi, kita harus mengerti kisah Kitab Keluaran.
o
Darah anak domba justru menyelamatkan
bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan memungkinkan mereka berlangkah menuju
alam kemerdekaan, ke Tanah Terjanji.
o
Dalam pesta Paskah, kaum Israel
merayakan kemerdekaan ini dengan menyantap anak domba yang dibakar di atas
perapian.
Nabi Yesaya berbicara mengenai “Hamba Yahwe
yang Menderita;” dia disiksa karena dosa manusia dan demi keselamatan dan
kedamaian manusia: “Ia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian... Ia
tidak membuka mulutnya... Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk
pemberontak-pemberontak” (Yes 53,7.12).
Di hadapan kekuasaan dan kekuatan
dasyat pasukan kekaisaran, berdirilah Anak Domba Allah. Apa yang dilakukan Anak
Domba itu? Anak Domba Allah merobohkan tembok-tembok ketakutan, agresi,
kekerasan dan dosa yang memenjarakan manusia dalam dirinya sendiri dan
mendorong mereka untuk mencari kemuliaan dirinya sendiri. Dia akan menyebarkan
dalam diri setiap manusia hidup yang baru, yaitu hidup yang menyatu dengan
Allah, sesama dan dengan batin yang paling dalam sembari menyebarkan
benih-benih demi perdamaian universal.
Dalam dunia kita saat ini, hidup
beberapa nabi hebat seperti Yohanes Pembaptis. Mereka menyiapkan hati kita
untuk menerima Yesus. Tetapi, kita harus ingat bahwa ketika Yesus datang,...
o
Dia tidak datang sebagai Anak Domba
yang Penuh Kuasa, tetapi sebagai Anak Domba yang Lemah Lembut, Pilihan Allah
yang Terkasih.
o
Dia datang dengan cara yang sangat
sederhana, membuka hati kita bagi sesama dengan menghembuskan napas cinta, damai
dan berkas cahaya yang tenang, dengan pelukan dan ciuman yang lembut.
o
Dia datang di kedalaman batin kita,
ruang suci dalam batin kita, yaitu harta termulia yang kita miliki, yang
tersembunyi di balik semua bentuk ketakutan, tembok-tembok dan kemarahan yang
ada dalam diri kita agar kita bisa berkembang dalam Roh Kasih-Nya.
Dari dulu hingga saat ini, Yohanes
pembaptis mengundang kita untuk peka terhadap suara dan kehadiran Yesus yang Lembut;
dia mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dan terbuka untuk membangun
persahabatan dengan-Nya. Kita dipanggil dan diundang untuk menjadi pengikut
Sang Anak Domba yang Lebut, bukan menjadi penguasa.
Walaupun Yohanes mengenal Yesus sebagai
Anak Domba, Sosok Yang dipilih Allah, dia tidak berhenti membaptis orang untuk
bisa mengikuti Yesus. Dia terus membaptis dan mendesak mereka untuk menjadi murid-murid,
Yesus, Anak Domba Allah. Sesungguhnya sangat wajar apabila dia mengirim semua
muridnya kepada Yesus. Namun, kenyataannya dia, nabi terakhir justru melanjutkan
perutusannya sebagai nabi Yahudi. Tindakannya ini memperlihatkan betapa
pentingnya iman dan tindakan iman kita saat ini: menunjuk dan menuntun semua
orang untuk berjumpa dan akhirnya mengimani Yesus, sebagai Anak Domba Allah..
Wanita kulit hitam dengan suara keras
dan serak berani berkata, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela
mati untukmu.” Yohanes Pembaptis dengan suara lantang berkata, “Lihatlah Anak
Domba Allah yang Menghapus Dosa Dunia. Apakah kita bersedia menunjuk dan
menuntut orang-orang yang belum mengenal Yesus untuk berjumpa dengan-Nya,
mengalami kasih-Nya melalui cara hidup, perkataan dan perbuatan kita yang
sesuai dengan ajaran Yesus, Sang Anak Domba Allah sendiri?
Selamat
Bermenung....
Salam
Kasih...
Buona
Domenica...
Dio
Ti Benedica.....
Alfonsus
Very Ara, Pr

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.