Pertemuan SIGNIS Regio Sumatera “Framing dan Konvergensi Media Pastoral” (Romo Adrian Tobing)

Pertemuan SIGNIS Regio Sumatera

“Framing dan Konvergensi Media Pastoral”

(Romo Adrian Tobing)

Pengantar :

Framing  dan Konvergensi adalah tema besar yang menjadi inspirasi pertemuan bersama anggota SIGNIS Keuskupan Se-Regio Sumatera. Framing merupakan proses penentuan cara menyajikan informasi dengan menyoroti aspek-aspek tertentu, menggunakan kata-kata atau sudut pandang spesifik, untuk mampu memengaruhi audiens agar memahami dan langsung bereaksi terhadap suatu isu atau peristiwa. Sementara itu, konvergensi dalam konteks media merujuk pada penggabungan berbagai jenis media dan teknologi komunikasi, di mana konten dapat diakses melalui berbagai platform (kerangka kerja). Informasi dibingkai dalam konteks tertentu, sehingga media menyajikan realitas dengan penekanan pada aspek tertentu untuk membentuk pemahaman yang diinginkan. Maka diharapkan agar setiap Keuskupan harus memiliki media sosial sebagai sarana informasi untuk menyuarakan iman ke seluruh umat.

Point Pertama :

Setelah penyambutan dan registrasi para peserta oleh panitia, dilanjutkan Ekaristi bersama yaitu Misa Pembukaan Pelatihan SIGNIS Regio Sumatera. Dalam renungan Mgr. Adrianus Sunarko “Spes et confundi dalam konteks Maria Berdukacita merujuk pada peran Bunda Maria dalam menghadapi penderitaan Yesus yang begitu mendalam, di mana ia berdiri teguh pada imannya meskipun dipenuhi dukacita yang mengiris hati. 

Maria adalah saksi yang mulia, dimana Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman yang kuat di tengah penderitaan dan tetap berharap, karena penderitaan bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Kita diundang untuk belajar dari keteguhan Maria, memohon kekuatannya untuk menghadapi duka, serta menyerahkan diri kepada perlindungan Maria yang mendampingi dan membawa kita kepada Yesus, Putranya. Pokok-pokok Renungan Spes et confundi, Dukacita dan Iman yang teguh.

Penderitaan dan Harapan yang dapat kita renungkan ini menekankan bahwa harapan (spes) dan kebingungan atau kepedihan (confundi) hidup berdampingan. Meskipun penderitaan itu nyata dan menyakitkan, Maria mengajarkan kita untuk tidak putus asa, tetapi tetap berharap akan pemulihan dan kebangkitan yang dijanjikan Tuhan. Kita bisa mengarahkan pandangan kita kepada Maria, yang memahami perjuangan kita dan akan membimbing kita kepada Yesus. 

 

 

 

 

 

Point Kedua :

Perkenalan dari setiap Keuskupan ada 6 Keuskupam,

Keuskupan Agung Medan    : 2 Peserta,

Keuskupan Sibolga               : 5 Peserta,

Keuskupan Padang               : 2 Peserta,

Keuskupan Palembang         : 5 Peserta,

Keuskupan Tanjung Karang : 5 Peserta dan,

Keuskupan Pangkal Pinang : 10 Peserta

Poin Ketiga:

Kata Sambutan dari Romo Anton Moa. Romo Anton Moa sekaligus juga Vikjen Keuskupan Pangkal Pinang menyambut para peserta dengan penuh sukacita. Beliau berpesan semoga melalui pertemuan “Pelatihan SIGNIS Regio Sumatera ini, para pengurus SIGNIS Keuskupan bersama Para Volunteer mampu membawa sukacita melalui media sosial Keuskupan masing masing. Menjadi pembawa kebenaran berita dan mampu menganalisis tanda tanda zaman sebagai pewartaan yang nyata.

Point Keempat :

Kata Sambutan dari Ketua Signis Regio Sumatera Romo Kornelius Anjarsi, menegaskan agar setiap pengurus dan utusan dari setiap Keuskupan se-Regio Sumatera sungguh-sungguh membawa sukacita dan melalui media sosial mampu menyampaikan pemberitaan yang benar dan penuh dengan iman. Romo Kornelius Anjarsi juga menyampaikan thema pertemuan SIGNIS 2023 di Ruteng yakni “Media dan Ekologi” , Pertemuan SIGNIS 2024 di Rapat Anggota Signis Indonesia Ke 51 “SIGNIS Indonesia Berziarah Bersama dalam Pengharapan,” di Palembang 17-21 Februari 2025. Maka dalam diskusi bersama para ketua SIGNIS / Komsos Keuskupan se-Regio Sumatera mengambil thema “Framing dan Konvergensi media pastoral” di Keuskupan Pangkal Pinang tanggal 15-17 September 2025. Ketua SIGNIS Regio Sumatera sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Point Kelima :

Mgr. Adrianus Sunarko, Memperkenalkan Situasi Keuskupan Pangkal Pinang. Keuskupan Pangkalpinang adalah Keuskupan sufragan di Indonesia yang melayani umat Katolik di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Keuskupan ini berdiri sebagai Prefektur Apostolik pada tahun 1923, kemudian menjadi Vikariat Apostolik pada 1951, dan akhirnya Keuskupan pada tahun 1961. Sekarang Keuskupan Pangkalpinang merupakan bagian dari Provinsi Gerejawi Keuskupan Agung Palembang. 

A. Sejarah Singkat 

·         1923: Berdiri sebagai Prefektur Apostolik Bangka-Biliton, terpisah dari Prefektur Apostolik Sumatra.

·         1951: Statusnya ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Pangkalpinang.

·         1961: Ditingkatkan lagi menjadi Keuskupan Pangkalpinang.

·         2003: Pergantian metropolit dari Keuskupan Agung Medan ke Keuskupan Agung Palembang.

B. Wilayah Pelayanan 

·         Keuskupan ini mencakup seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.

C. Pimpinan Keuskupan 

·         Saat ini, Keuskupan Pangkalpinang dipimpin oleh Uskup Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM.

D. Struktur dan Pelayanan

·         Keuskupan Pangkalpinang terbagi menjadi dua kevikepan, yang masing-masing dipimpin oleh seorang vikaris episkopal (vikep). 

·         Fungsi kevikepan adalah untuk mengoordinasikan kegiatan pastoral, liturgi, pendidikan, dan karya sosial di paroki-paroki di wilayahnya. 

·         Selain itu, Keuskupan juga peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup dengan mengacu pada ajaran Gereja. 

 

Hari Kedua

Konferensi  oleh Bapak Josie Susilo Handrianto

Point Keenam :

“Framing Pastoral di Era Digital”

Dunia digital adalah lingkungan yang dibentuk oleh teknologi informasi dan komunikasi, meliputi semua yang berkaitan dengan komputer, internet, dan jaringan, di mana informasi dan komunikasi diproses, disimpan, dan ditransmisikan menggunakan perangkat lunak dan keras digital. Era ini memungkinkan aktivitas menjadi lebih praktis dan terhubung, dengan perkembangan seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan aplikasi digital yang mengubah cara kita belajar, bekerja, dan berinteraksi. Namun, ia juga menghadirkan tantangan seperti risiko konten berbahaya dan kebutuhan akan literasi digital untuk penggunaan yang bijak dan aman. 

Poin Ketujuh :

Konvergensi media pastoral adalah penggabungan media tradisional dan digital untuk meningkatkan pelayanan pastoral atau pelayanan rohani. Tujuannya adalah untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan, membangun komunitas, dan memberikan bimbingan rohani secara lebih luas dan efektif di era digital. 

 “Konvergensi Media Sosial Gereja Peluang dan Tantangan

Konvergensi ini memadukan tiga elemen utama, yaitu Komputasi, Komunikasi dan Konten. Komputasi: Pemanfaatan perangkat dan teknologi digital, seperti ponsel pintar dan laptop. Komunikasi: Penggunaan internet dan jaringan digital untuk berinteraksi. Konten: Materi-materi pastoral, seperti khotbah, renungan, dan informasi kegiatan gereja, yang didistribusikan dalam format digital. 

Peran dan Contoh Dalam Pelayanan Pastoral

Konvergensi media mengubah cara pelayanan pastoral, dari yang semula hanya tatap muka menjadi model yang lebih fleksibel dan menjangkau lebih banyak orang. 

·       Penyebaran materi rohani: Gereja dapat mengunggah video khotbah, rekaman audio, atau renungan harian yang dapat diakses jemaat kapan saja.

·       Pembangunan komunitas online: Media sosial digunakan untuk menciptakan forum diskusi, grup doa, atau platform berbagi pengalaman iman bagi jemaat yang terpisah jarak.

·       Konseling pastoral daring: Bimbingan rohani dapat diberikan melalui media digital kepada jemaat yang membutuhkan.

·       Penjangkauan global: Konten dapat disebarkan ke audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak dapat datang secara fisik ke gereja karena lokasi, pekerjaan, atau kondisi kesehatan.

·       Strategi komunikasi terpadu: Pesan pastoral disampaikan secara konsisten melalui berbagai platform, seperti situs web, media sosial, dan layanan streaming misa, untuk memperkuat dampaknya. 

Tantangan Konvergensi Media Pastoral

Meskipun memberikan banyak keuntungan, konvergensi media juga menghadirkan sejumlah tantangan bagi pelayanan pastoral: 

·       Penyebaran informasi yang tidak akurat: Risiko penyebaran hoaks atau informasi yang tidak sesuai dengan ajaran agama dapat menyesatkan umat.

·       Kurangnya kedalaman interaksi: Komunikasi digital sering kali tidak memiliki kedalaman yang sama dengan interaksi tatap muka.

·       Kesenjangan akses: Tidak semua jemaat memiliki akses atau kemampuan teknologi yang sama, terutama di daerah yang koneksi internetnya terbatas.

·       Ketergantungan teknologi: Penggunaan media digital yang berlebihan dapat berpotensi mengalihkan perhatian dari kehidupan rohani dan realitas tatap muka.

·       Mempertahankan relevansi: Gereja perlu terus berinovasi agar pesan pastoralnya tetap relevan dan menarik bagi generasi muda yang terbiasa dengan dunia digital. 

Penutup :

Pastoral Digital

Pastoral digital Regio Sumatera merupakan pelayanan penggembalaan spiritual dan dukungan rohani yang dilakukan dengan menggunakan teknologi dan media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, podcast, dan video konferensi, untuk menjangkau umat, khususnya kaum muda, serta membangun komunitas dan menyediakan bimbingan di era digital. Ini merupakan respons gereja terhadap tantangan dan peluang yang muncul dari perkembangan teknologi, memungkinkan penyampaian ajaran, konseling, dan kegiatan keagamaan secara lebih luas, fleksibel, dan kreatif. 

Mengapa Pastoral Digital Penting? Menjangkau Generasi Muda, Remaja dan kaum muda di era digital sulit dijangkau dengan metode pastoral tradisional, sehingga teknologi menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan iman secara relevan. Memperluas jangkauan pelayanan teknologi memungkinkan gereja untuk melayani umat yang terhalang jarak atau waktu, memastikan keberlanjutan ibadah dan dukungan spiritual. Fleksibilitas dan Aksesibilitas, Layanan pastoral digital menawarkan fleksibilitas bagi umat dan konselor untuk berinteraksi kapan saja dan di mana saja. Membangun komunitas, media digital dapat digunakan untuk mengadakan sesi diskusi Alkitab, doa bersama, dan kegiatan gereja lainnya secara daring, memperkuat rasa memiliki dan keterlibatan komunitas. 

Platform dan metode yang digunakan yaitu Facebook, Instagram, TikTok dan Youtube. Media sosial ini digunakan untuk menyebarkan pesan dukungan, inspirasi, ajaran rohani, dan informasi kegiatan gereja. Aplikasi Pesan dan Konferensi Video. Blog dan Podcast, Menyajikan konten audio dan tulisan yang dapat diakses kapan saja untuk dukungan spiritual yang mendalam. Tantangan dalam Pastoral Digital. Pastoral digital menjadi pelengkap strategis untuk memperluas dan memperkaya pelayanan Gereja di dunia yang semakin terhubung dengan teknologi. Gereja perlu mengembangkan strategi pastoral digital yang efektif, bijak, dan etis untuk menjawab kebutuhan zaman.

 

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget