Minggu Pra-Paskah II 01 Maret 2026 Putra Kesayangan Bapa (Romo Very Ara) Kejadian 12:1-4a Mazmur 33:4.5.18.19.20.22 2 Timoteus 1:8b-10 Matius 17:1-8

 




Minggu Pra-Paskah II 01 Maret 2026

Putra Kesayangan Bapa

Kejadian 12:1-4a

Mazmur 33:4.5.18.19.20.22

2 Timoteus 1:8b-10

Matius 17:1-8

********************************

 

Pada suatu ketika, sekelompok orang buta yang ingin mengetahui bagaimanakah rupa seekor gajah diantar ke Kebun Binatang, tempat gajah dirawat. Karena buta, maka mereka tidak bisa menggunakan mata untuk melihat. Agar mereka bisa mengenal bagaimana rupa seekor gajah, maka mereka memohon agar mereka diperkenankan untuk menyentuh dan meraba-raba gajah dengan tangan mereka. Setelah mendapatkan giliran masing-masing, mereka kembali ke tempat mereka.

Orang yang menghantar mereka bertanya kepada mereka bagaimanakah gajah menurut mereka. Setiap orang buta memberikan jawaban yang berbeda.

 

o   Bagi si buta yang memegang telinga gajah, dia berkata bahwa gajah itu seperti nyiru, alat penampih: lebar dan bisa mengipas-ngipas.

o   Bagi si buta yang meraba kaki gajah, dia berkata bahwa gajah itu seperti pohon yang berdiri kokoh. Gajah itu sangat kuat dan tidak akan tumbang.

o   Bagi si buta yang kebetulan memegang gadingnya, dia berkata bahwa gajah itu keras seperti besi.

 

Masing-masing orang buta memberikan gambaran yang berbeda mengenai gajah. Gambaran itu lahir dari pengalaman mereka masing-masing tatkala menyentuh atau merabah salah satu bagian dari tubuh gajah.

*******************

Sama seperti orang buta dalam kisah ini, kita, para pengikut Yesus Kristus zaman ini menggambarkan Wajah-Nya dengan aneka lukisan sesuai dengan pengalaman kita masing-masing. Ada yang menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang Baik, Sahabat Orang Berdosa, Raja Orang Yahudi, Orang Nazaret, dan lain-lain. Semua gambaran dan sebutan ini hanya mengungkapkan salah satu kebenaran mengenai Yesus Kristus. Karena itu, kita harus ingat bahwa kebenaran iman mengenai Yesus Kristus justru melampaui semua gambaran kita tentang Dia.

**********************

Dalam kisah Injil Minggu Pra-Paskah II ini, Allah Bapa sendiri menyatakan kepada kita siapakah Yesus yang sesungguhnya sehingga kita tidak perlu meraba seperti orang buta untuk mengenal Allah. Allah Bapa sendiri memperkenalkan bahwa Yesus adalah Putra Kesayangan-Nya. Dia adalah Allah yang Menjelma menjadi Manusia. Hanya melalui Dia, Putra Kesayangan-Nya, kita mengenal Allah.

Penyataan Yesus sebagai Putra Kesayangan Allah itu terjadi dalam situasi yang sangat mempesona dan menakjubkan. Penginjil Matius melukiskannya sebagai berikut: "WajahNya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. Maka tampaklah kepada murid-muridNya Musa dan Elia yang sedang berbicara dengan Dia." Kemudian, mereka mendengar suara Allah yang berseru, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkankah Dia".

Peristiwa ini terjadi  di puncak Tabor, di saat Yesus bergerak menuju Yerusalem. Apa makna peristiwa ini bagi Yesus dan para muridNya?

 

Pertama, peristiwa perubahan rupa Yesus merupakan penyataan diri Yesus yang sesungguhnya. Dia bukanlah manusia biasa. Dia adalah Putra Kesayangan Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah Mesias Penyelamat yang diutus untuk menyatakan cinta dan kemuliaan Allah demi keselamatan manusia. Dalam diri-Nya, Allah membuka selubung rahasia-Nya dengan memancarkan kemuliaan-Nya yang sesungguhnya. Persoalannya, mengapa para Rasul dan kita yang mengikuti-Nya belum percaya bahwa Dia sungguh-sungguh Allah?

 

Kedua, peristiwa ini dinyatakan Allah di saat Yesus akan beranjak menuju Yerusalem untuk memperlihatkan hubungan antara kemuliaan Yesus sebagai Mesias, Anak Kesayangan Allah dengan jalan penderitaan, jalan salib yang harus dilalui-Nya demi keselamatan manusia. Bagi orang Romawi, salib adalah tragedi, tempat hukuman bagi para penjahat. Namun bagi Yesus dan kita, pengikut-Nya, salib merupakan jalan cinta dan korban demi kemenangan, keselamatan dan kemuliaan. Bagi Yesus dan kita, pengikutNya, jalan penderitaan dan salib bukanlah jalan yang hina, melainkan jalan menuju kemenangan, keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan. Inilah logika Allah yang harus didengar dan dimengerti oleh kita semua, ciptaan-Nya, terutama pengikut yang setia kepada-Nya.

 

Ketiga, kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Kesayangan Allah sama sekali tidak membebaskan-Nya dari jalan penderitaan dan salib. Cinta Bapa terhadap Putra Kesayangan-Nya sama sekali tidak disurutkan atau dikurangi oleh penderitaan dan salib Putra-Nya. Allah justru menunjukan keagungan dan kemuliaan cinta-Nya kepada kita, manusia dalam kerelaan Putra Kesayangan-Nya untuk menjalani penderitaan dengan memanggul salib karena kejahatan dan dosa kita demi keselamatan kita. Melalui jalan penderitaan dan salib, Putra Kesayangan Allah menyatakan bahwa mencinta manusia bukan berarti harus mengakhiri dan melenyapkan penderitaan kita, melainkan turut menderita dan turut menanggung penderitaan kita. Apabila Putra Kesayangan Allah hadir untuk melenyapkan penderitaan kita berarti Dia tidak menghendaki kita menjadi manusia. Penderitaan tidak harus dilenyapkan sebab melenyapkan penderitaan dan salib berarti melenyapkan kemanusiaan kita. Penderitaan dan salib bukan berasal dari Allah, melainkan berasal dari kodrat kemanusiaan kita: Kita adalah ciptaan. Kita terbatas, rapuh dan lemah. Kita menderita karena adanya kekurangan dan keterbatasan dalam diri kita sebagai ciptaan.

 

Ingatlah:

Tiada seorang manusia yang sempurna. Hanya Allah sendirilah yang sempurna dan tidak terbatas. Penderitaan justru terjadi karena kita tidak menerima keterbatasan kita sebagai ciptaan. Apakah kita sadar bahwa virus corona menjadi bukti nyata bahwa manusia China di Wuhan ingin menunjukan kehebatan mereka dalam semua bidang kehidupan, termasuk dalam pembangunan pusat nuklir supaya mereka bisa menguasai dunia. Pipa nuklir bocor dan akibatnya racun nuklir menyebarkan virus corona. Manusia Wuhan dan dunia menjadi korban karena manusia China tidak mengakui keterbatasan mereka. Inilah sumber penderitaan dan salib bagi manusia yang sesungguhnya, bukan Allah.

 

Keempat, demi keselamatan kita, ciptaan yang terbatas, Putra Kesayangan Allah harus menjadi manusia dan harus menderita. Dengan menjadi Manusia, Putra Kesayangan Allah yang tidak terbatas menjadikan diri-Nya terbatas dalam daging manusiawi, menjadi lemah dan tidak berdaya. Justru dalam keterbatasan, kelemahan dan ketidakberdayaan-Nya di jalan penderitaan dan salib, Dia yang menanggung penderitaan dan salib kita menyatakan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, dasyat, mulia dan menyelamatkan. KemuliaanNya di Tabor adalah Pancaran Kemuliaan dan Keagungan Kebangkitan-Nya. Inilah jalan penderitaan dan salib Anak Kesayangan Allah: jalan menuju kemuliaan. Jalan inilah yang harus diikuti oleh kita, manusia yang terbatas. Jalan inilah yang dinyatakan Allah dalam gema suaraNya: Dengarkanlah Dia..

Jalan penderitaan dan salib Putra Kesayangan Allah adalah jalan kita, jalan semua manusia. Apabila Putra Kesayangan Allah, Sang Guru bagi semua manusia rela melalui jalan penderitaan dan salib sebelum memperoleh kemenangan dan kemuliaan, maka jalan yang sama harus menjadi jalan kita.

 

Ingatlah:

o   Tiada kemenangan, keberhasilan, keselamatan dan kebahagiaan tanpa kerelaan dan kesabaran untuk memanggul salib (tanggung jawab) kita masing-masing.

o   Tiada Paskah tanpa Jumat Agung.

o   Tiada kemuliaan Tabor tanpa kerelaan untuk turun dan beranjak sambil memikul salib menuju Yerusalem.

o   Paskah Kemenengan, Kebangkitan dan Kemuliaan hanya diraih apabila ada cinta korban di Jumat Agung.

 

Di jalan penderitaan dan salib, kita menemukan sosok Allah yang sesungguhnya. Di jalan penderitaan dan salib, kita dan semua manusia menemukan kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Relakah kita memikul salib, melalui jalan penderitaan untuk menemukan kemuliaan Tabor, kemuliaan kita sebagai ciptaan Allah yang kudus dan mulia?

*******************

Sidharta Gautama hidup di masa yang sama dengan Yeremia. Mereka berdua dianugerahi “penglihatan” 500 tahun ke depan mengenai datangnya Juru Selamat. Di salah satu kutipan Kitab Suci agama Buddha yang tertulis di Tembok Vihara di Chiang Mai terpahat tentang hal ini.

Ada seorang pendeta Hindu bertanya kepada  Sidharta Gautama, Gurunya “Apakah Perbuatan Baik bisa menghapus dosa?

Sidharta Gautama menjawab, “Dosa tidak bisa dihapus dengan perbuatan baik. Itu hanya mengubah statusmu menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan statusmu pada saat dilahirkan di bumi. Akan tetapi, kamu tetap akan jauh dari Pintu Surga.”

Pendeta Hindu itu bertanya lagi, “Bagaimanakah dosa-dosa kami dihapus supaya Reinkarnasi berhenti dan kami bisa masuk Surga.”

Sidharta Gautama menjawab, “Nanti akan datang seorang Penyelamat manusia yang bisa menghapus dosa sehingga kamu bisa masuk Surga. Ikutlah dia dan tinggalkan cara cara lamamu. Semua itu tidak akan menyelamatkan..”

Pendeta itu bertanya lagi, “Bagaimana ciri si Penyelamat itu?

Sidharta Gautama menjawab, “Orang itu di tangan dan kakinya ada lubang bekas Kung Ca <sebutan satu benda masa itu yang bentuknya seperti Paku Besar> dan lambung nya berlubang seperti bekas ditusuk.”

Namun, ayat yang tertulis dalam Kitab Tripitaka ini dibuang di seluruh dunia karena takut kalau orang Buddha akan menjadi Kristen.

Akan tetapi, jejak dari isi kata-kata yang ada dalam Seluruh Kitab Tripitaka yang diukur di dinding sebuah Vihara/Kuil di Chiang Mai ini tidak bisa terhapuskan. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa Buddha menubuatkan kedatangan Yesus Kristus. Buddha yang hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Yeremia dan Yehezkiel sekitar 500 SM justru menuntut murid-muridnya untuk menunggu kedatangan Yesus Kristus.

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica...

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget