Minggu Biasa XXII, 31 Agustus 2025 Perjamuan Kerajaan Allah (Romo Very Ara) Sirakh 3:17-18.20.28.29; Mazmur 68.4.5ac.6.7b.10-11 Lukas 14,1,7-14

 




Minggu Biasa XXII, 31 Agustus 2025

Perjamuan Kerajaan Allah

Sirakh 3:17-18.20.28.29;

Mazmur 68.4.5ac.6.7b.10-11

Lukas 14,1,7-14

*************************************

Adalah kisah mengenai Albert Einstein, manusia terpintar yang pernah hidup di dunia ini. Dia selalu berpindah tempat untuk memberikan ceramah mengenai teori baru yang ditemukannya, yaitu Teori Relativitas (Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang tetap, tetapi relatif). Di setiap perjalanannya, Einstein selalu ditemani oleh sopir pribadinya.

Setelah mendengarkan pokok ceramah yang sama dari Einstein, sopirnya berkata kepada Einstein, “Saya sungguh-sungguh tahu dan mengerti semua isi teori yang Tuan ajarkan. Apakah bisa Tuan, kita bertukar posisi? Tuan menjadi sopir dan saya menjadi penceramah dan akan bertindak sebagai seorang ahli!

Einstein tidak keberatan. Sopirnya bertindak sebagai seorang imuwan, sedangkan dia menjadi seorang sopir. Dengan penuh keyakinan, sopir memasuki ruangan ceramah. Semua peserta berdiri untuk memberikan hormat kepadanya. Dia sangat bangga  menerima penghormatan itu. Selama acara ceramah berlangsung, sopir ini menjelaskan Teori Relativitas Albert Einstein dengan sangat baik.

Kini tiba saatnya sesi tanya jawab. Seorang pendengar mengajukan pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh sopir ini. Untungnya, sopir ini tidak kehilangan akal. Dengan tenang dia menjawab, “Pertanyaan Anda terlalu sederhana. Sopir pribadi saya bisa menjawab pertanyaan itu.” Sopir itu pun memberikan kesempatan kepada Einstein, Ilmuwan sesungguhnya yang bertindak sebagai sopir untuk menjawab pertanyaan peserta.

***************

Sang sopir berlagak hebat. Dia congkak, tidak tahu kelemahan dan keterbatasan dirinya. Dia berusaha menjadi orang penting. Dia tidak tahu di manakah tempatnya yang sesunggunya. Dia beruntung, karena Einstein, atasannya tidak mempermalukan dan menjatuhkannya martabatnya di hadapan umum.

Sikap congkak, berlagak hebat dan memposisikan diri sebagai orang penting sangat tampak dalam kehidupan kaum Farisi. Sebagai pemuka rahani bangsa Yahudi yang mengetahui banyak hal mengenai Kitab Suci, memiliki gambaran yang jelas mengenai orang-orang yang akan duduk semeja dengan Abraham dalam Kerajaan Allah dan pengajar kebenaran, mereka memandang diri lebih tinggi dan lebih terhormat dari orang Yahudi lainnya. Mereka sangat yakin dengan kedudukan mereka dan menempatkan diri sebagai orang penting di hadapan kelompok bangsa Yahudi lainnya. Mereka merasa berhak untuk memilih tempat duduk sesuai dengan keyakinan mereka berkenaan dengan kedudukan dan kehormatan mereka dalam masyarakat Yahudi.

Yesus sungguh-sungguh memperhatikan cara orang Yahudi, terutama orang Farisi memilih tempat dalam perjamuan pesta. Mereka selalu memilih tempat yang terhormat. Yesus pun mengingatkan mereka dengan memberikan patokan umum yang harus dilakukan pada saat menghadiri pesta perjamuan Kerajaan Allah:

o   Kalau seseorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan.

o   Janganlah berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: Naiklah ke mari, daripada engkat direndahkan di hadapan orang yang mulia (Ams 25,6-7).

Nasihat Yesus ini sangat tepat, namun sering disalahmengerti dan disalahartikan. Kebanyakan kita berpikir bahwa Yesus menasihati kita untuk berhati-hati, bersikap sederhana, rendah hati daripada kelak dipermalukan! Ini bukan pikiran Yesus. Yesus menegaskan ajaran-Nya ini karena Dia melihat orang Yahudi berebutan untuk mendapatkan tempat kehormatan. Ketika memandang adagan dan tingkah laku duniawi orang-orang Yahudi ini, Yesus langsung berpikir mengenai Perjamuan dalam Kerajaan Allah. Buktinya adalah penegasan-Nya sendiri, “Orang yang meninggikan diri akan direndahkan oleh Allah, bukan oleh manusia. Orang yang merendahkan diri akan ditinggikan oleh Allah”.

Inti ajaran Yesus ini bukanlah nasihat biasa untuk tidak menonjolkan diri supaya tidak dipermalukan, melainkan mengenai peristiwa yang terjadi di masa yang akan datang: Kita akan direndahkan atau ditinggikan oleh Allah.

o   Orang yang meninggikan diri adalah orang-orang yang sungguh-sungguh yakin bahwa dia berhak atas tempat kehormatan dalam pesta perjamuan Kerajaan Allah.  Orang-orang demikian sungguh-sungguh yakin bahwa dia benar di hadapan Allah sehingga harus menduduki tempat kehormatan dalam perjamuan agung Allah.

o   Orang yang merendahkan diri adalah orang-orang yang sungguh-sungguh sadar bahwa dirinya bukanlah orang kudus di hadapan Allah. Orang demikian hanya yakin bahwa Allah sungguh-sungguh baik dan kebaikan Allah inilah yang akan menguduskan dirinya. Orang demikian juga yakin bahwa dia juga tidak berhak atas dirinya sendiri sebab seluruh dirinya adalah miliki Allah.

Allah adalah Pemilik dan Pengundang Tunggal Perjamuan Agung itu. Adalah pasti bahwa kita semua diundang oleh Allah. Namun sangat aneh apabila kita yang diundang yakin akan hak dan kedudukan kita dalam Kerajaan Allah. Apabila kita yakin akan hak dan kedudukan kita dalam kerajaan Allah, kita tidak akan diizinkan untuk masuk ke dalam perjamuan pesta abadi Allah. Apabila kita memandang diri kecil, tidak berarti di hadapan Allah, Allah akan menempatkan kita pada tempat yang layak di hadapan-Nya.

Ingatlah:

Di mata Allah, tidak ada orang VIP dan tidak ada orang gembel. Allah mencintai semua ciptaan-Nya dengan kasih yang tidak terhingga. Karena itu, celakah kita apabila kita menganggap diri VIP di hadapan Allah. Di mata Allah kita layak menjadi orang VIP apabila kita rela merendahan diri, tidak memandang diri rugi ketiga melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk kebaikan orang lain yang membutuhkan

Kisah ini dibentangkan Yesus ketika Dia bergerak menuju Yerusalem. Dia mengarahkan diri-Nya ke Yerusalem sebagai manusia yang paling hina. Karena itu, Allah meninggikan Dia di atas segalanya. Dia yang sungguh-sungguh merendahkan diri-Nya dalam sejarah manusia akhirnya menjadi Tuhan yang dihormati oleh alam semesta dan segenap manusia.

Kita juga akan menjadi orang VIP di hadapan Allah apabila kita mengikuti jalan Yesus, menghidupi ajaran Yesus dan melakukan pekerjaan Yesus: Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan cinta; melakukan hal yang baik dalam semangat cinta. Apabila kita mencintai sesama dan berbuat baik terhadap kepada mereka, kita pasti memiliki tempat yang layak di hadapan Allah. Marilah kita lakukan pekerjaan Yesus dalam kehidupan kita dengan saling mencintai, saling melayani, saling menerima kekuarangan dan keterbatasan serta saling mengampuni dan melayani.

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

 Buona Domenica!

Dio Ti Benedica!

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget