Homili Hari Raya Penampakan Tuhan “Di Betlehem” (Romo Very Ara) Matius 2:1-12 Minggu, 4 Januari 2026

 



Hari Raya Penampakan Tuhan

“Di Betlehem”

Matius 2:1-12

Minggu, 4 Januari 2026

“Dan engkau Betlehem... Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil;... dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku”

(Matius 2:5-6)

******************************

 

Pada suatu malam yang terang, seorang putri kecil bermain petak umpet bersama anak-anak sekampunya. Karena alasan yang sungguh-sungguh tidak diketahui, anak-anak sekampung berhenti bermain, sementara putri kecil ini masih bersembunyi. Putri kecil ini mulai menangis.

Kakeknya yang sudah tua keluar dari rumah mereka untuk mencari tahu, apa yang membuat cucunya menangis. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Sang Kakek berkata kepada cucunya:

“Cucuku, janganlah menangis karena anak-anak itu tidak datang mencari dan menemukanmu. Sebaiknya, kamu belajar dari kekecewaanmu malam ini: kehidupan ini diibaratkan dengan sebuah permainan antara Allah dan manusia. Kita, manusia selalu tidak jujur dalam permainan sehingga Allah selalu menangis. Kita tidak sadar bahwa Allah sudah datang untuk mencari kita. Setiap saat, Allah menunggu kita untuk menemukan-Nya, namun kita justru mencari-Nya di tempat yang lain sesuai dengan pikiran kita.”

 

Mengapa Betlehem?

Setelah dikejutkan oleh para Majus yang mencari Sang Raja Baru, Herodes memanggil semua Imam kepala dan ahli Taurat. Berdasarkan nubuat Kitab Suci, mereka pun mengetahui bahwa tempat kelahiran Sang Raja Baru adalah Betlehem. Akan tetapi, mereka sendiri tidak sudi bergerak menuju Betlehem untuk mencari dan menemukan-Nya. Mengapa?

Seperti Raja Herodes, para Imam dan ahli Taurat, mayoritas manusia di bumi ini mengetahui kebenaran, namun justru menjauhinya. Hati mereka tidak tergerak untuk mencari dan menemukan-Nya sebab mereka tidak menerima kalau “Sang Mesias lahir di tempat yang terpencil/kecil/udik.” Padahal inilah sifat Allah dan pilihan-Nya. Israel dipilih Allah sebab bangsa ini kecil di masa itu. Daud pun dipilih dan diurapi menjadi raja karena dialah yang terkecil dari semua saudaranya.

Betlehem adalah sebuah dusun kecil, sederhana dan tidak dikenal. Dusun ini terletak lebih kurang delapan kilometer, bagian Selatan Yerusalem. Betlehem tidak memiliki arti apa pun dan tidak sebanding dengan Yerusalem: ciri yang paling unik dari dusun kecil ini adalah kesunyian. Situasi ini sangat kontras dengan Yerusalem yang menjadi pusat Kerajaan Israel, pusat kegiatan politik, kebudayaan dan keagamaan. Yerusalem diwarnai dengan kesibukan, kebisingan dan persaingan.

Uniknya, kesunyian Betlehem justru digemahkan dan dimadahkan dalam Syair Natal. Betlehem digelari kota yang sunyi senyap, tenang dan tenteram. Bagi Mikha (Mikha 5, 1), Betlehem adalah “yang terkecil di tanah Yehuda”.

Penginjil Lukas menempatkan Betlehem dalam posisi yang kontras dengan Roma: Roma memperlihatkan kemegahan, keperkasaan, kemasyuran serta kekasaran. Semua kekuasaan dan kekuatan berada di tangan Kaisar, diatur dan dikendalikan seturut kemauannya. Betlehem menyingkapkan kelembutan, keluwesan, keserhanaan dan karya yang agung. Dari kesunyian, kelembutan, kelusan dan kesehanaan datang Sang Juru Selamat.

Walaupun Betlehem hanyalah sebuah dusun kecil, namun dari kekecilannya lahir sejumlah sosok terkenal dalam sejarah penyelamatan, terutama Boas yang memperisterikan Rut (Rut 2, 4), Isai, ayah Daud (Rut 4, 22; I Samuel 16, 1), anak-anak Zeruya: Yoab, Abisai dan Asael (II Samuel 2, 18-32), Daud (I Samuel 17, 12). Daud diurapi menjadi Raja di dusun kecil ini. Karena Daud, dusun kecil Betlehem ini disebut Kota Daud (I Samuel 20, 6; Lukas 2, 4-11).

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa satu tunas akan keluar dari tunggul Isai, yaitu dari Wangsa Daud (Yesaya 11, 1-10). Dalam nubuatnya, Mikha menyebutkan bahwa Betlehem akan menjadi tempat kelahiran Sang Mesias, pemimpin bangsa Israel (Mikha 5, 1), “Dan engkau hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit seorang yang akan memerintah Israel”.

Ketika Natal tiba, kita pasti membayangkan dan memikirkan Betlehem. Alam pikiran dan bayangan kita tertuju pada malam yang dingin, bintang yang bertaburan, penginapan yang penuh, penolakkan, padang, palungan, lembu-lembu dan para gembala yang berjaga.

Matheus berkisah bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, di tanah Yudea seturut nubuat Nabi Mikha. Lukas bercerita mengenai kedatangan Malaikat Tuhan. Dia datang memberitakan kabar suka cita, yaitu kelahiran Sang Juru Selamat kepada para gembala. Serombongan bala tentara Surgawi bernyanyi memuliakan Allah: kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Setelah para Malaikat meninggalkan mereka, para gembala berkata satu kepada yang lain: “Mari kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang dikatakan Malaikat Tuhan kepada kita”.

Ajakan para gembala ini serentak menjadi ajakan bagi kita dan semua orang yang berkenan kepada Allah: kita diajak untuk pergi ke Betlehem. Namun,...

 

o   Betlehem bukanlah tempat, melainkan suasana yang mendukung dan memotivasi kita untuk berkembang dalam iman dan semua aspeknya berkat perjumpaan dengan Sang Mesias;

o   Betlehem bukanlah pilihan, melainkan program hidup bagi kita dan semua orang pilihan Allah.

 

Apa yang Diharapkan dari Betlehem?

Pada Hari Raya Penampakkan Tuhan ini, kita diajak untuk pergi ke Betlehem, tempat Sang Juru Selamat dibaringkan. Apa artinya Betlehem bagi kita, orang-orang yang berkenan kepada Allah?

Pertama, di Betlehem kita akan menjumpai Sang Bayi Al masih yang berbaring lemah di palungan. Bayi itu adalah Iesu (Yesus: Allah yang menyelamatkan), Sang Juru Selamat, Kristus, Tuhan.

Dalam diri-Nya, janji Allah bagi manusia terpenuhi, “Hari ini telah lahir bagi Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud. Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan”.

Allah hadir dalam rupa Seorang Bayi, seorang Anak Kecil yang Lemah. Kita pasti bertanya, “Mengapa Allah tidak hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia? Apabila Tuhan hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia, Allah pasti mendapatkan tempat penginapan yang layak di kota Betlehem.

Jalan pikiran Allah berbeda dengan jalan pikiran manusia. Dengan memilih rupa Bayi yang Lemah, Allah ingin mengubah pandangan manusia yang terlalu mengagungkan dan mendewakan hal-hal duniawi serta mengabaikan hal-hal yang kecil, walaupun sangat berarti untuk kehidupan. Manusia sibuk memperjuangkan nama baik, pengaruh, kekayaan dan kekuasaan. Allah adalah urusan kecil yang sama sekali tidak menambah apa pun untuk kehidupan sehingga sering dilupakan. Manusia baru mengingat dan memberikan tempat kepada-Nya setelah menuntaskan urusan duniawi.

Kehadiran Allah dalam rupa Bayi yang Lemah ingin mengubah pandangan hidup manusia yang selalu meremehkan hal-hal yang kecil, walaupun sangat penting. Allah itu sangat penting, walaupun hadir dalam wujud “Orang Kecil”.

Allah mencintai segala sesuatu yang dipandang hina di mata manusia. Dia mencintai Bayi yang Lemah dan Tidak Berdaya; Dia mencintai orang-orang polos hatinya, palungan ternak dan para penjaga ternak. Dia tidak jijik dengan bauh busuk yang menyengat, dengan kebodohan dan kekotoran lahiriah, dengan orang-orang yang remehkan. Dia menghindari istana, kaum bangsawan dan orang-orang yang membuat dirinya agung. Dia mendatangi dan menjumpai orang-orag yang disisihkan dan dibuang dari pusat kehidupan karena dipandang tidak bermartabat.

 

Kedua, di Betlehem, kita diajak untuk mempercayakan segala sesuatu yang tidak berarti, yang kecil, yang kurang dipeduli, yang berada di luar perhitungan manusiawi kepada Allah, yang akan menuntun kita kepada suatu akhir yang dasyat, ke masa depan yang cerah. “Betlehem, Efrata” dapat dijumpai di mana-mana, terutama:

 

o   Di saat penindasan berubah menjadi pengamanan; di saat rasa cemas berubah menjadi rasa gembira;

o   Di saat rasa tertekan berubah menjadi rasa yang penuh kebebasan;

o   Di saat rasa resah berubah menjadi rasa aman; di saat suasana cekcok berubah menjadi tenteram;

o   Di saat orang yang tidak memiliki tumpangan, diberikan tumpangan;

o   Di saat orang yang dirugikan, dipulihkan nasibnya;

o   Di saat air mata berubah menjadi gelak tawa.

 

Di mana ada Betlehem, di sana ada Natal dan ada Sang Mesias yang Hina. Sebab itu, Betlehem bukan lagi menjadi sebuah kota semata, melainkan suatu program hidup.

Karena itu, Saya berkata kepada Anda, “Tuhan boleh lahir seribu kali di Betlehem, tetapi jika Tuhan tidak pernah lahir dalam hidup kita, maka sia-sialah pesta Natal.”

 

Kita hanya bisa menjumpai Allah apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita ke tempat Dia berada, yaitu di antara yang Terkecil dan di antara Orang-orang Kecil. Akal budi kita mencari Allah, Sang Juru Selamat, namun hanya Sabda Allah dan Terang-Nya yang bisa menyatakan dan menuntun kita untuk menemukan-Nya. Akal budi berkata, “Sang Juru Selamat sudah Hadir dan Tinggal di antara kita,  manusia,” namun hanya Wahyu Allah dan Terang-Nya yang bisa menjelaskan identitas-Nya kepada kita.

 

Karena alasan inilah, maka:

 

o   Bintang Ajaib yang dilihat, menerangi dan menuntun para Majus padam/tidak menyinarkan Terang-Nya di Yerusalem, terutama di hati Raja Herodes.

o   Bintang Ajaib yang sesungguhnya bukanlah meteor yang bertaburan di langit, melainkan Terang Sang Mesias yang Baru Lahir: Dia sendirilah yang menuntun pikiran dan hati kita untuk menemukan-Nya. Akal budi tidak berdaya di saat menghadapi Sang Terang Sabda Allah, sebagaimana bintang lenyap di saat matahari bersinar terang.

o   Apakah kita bersedia diterangi oleh Sang Bintang, yaitu Mesias dalam Rupa Bayi yang Hina untuk menemukan-Nya di tempat Dia berada? Palungan, tempat Dia berbaring adalah Hati Kita....

 

Ingatlah:

o   Hati kita adalah Palungan-Nya... Hati kita adalah Takhtah-Nya... Janganlah mencari Dia di tempat yang lain....

o   Karena itu... temukan Dia di kedalaman Hati Kita dengan sikap imam yang jujur, polos, tanpa kepalsuan, tanpa pencitraan.... apabila kita mencari Dia dengan kepalsuan dan pencitraan.... kita tidak akan pernah menemukan-Nya...

 

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buon Natale e Buon Anno...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget