Pesta Pembaptisan Tuhan “Baptis: Cinta dan Pengampunan” (RD Very Ara) Yesaya 42:1-4.6.7 Mazmur 29:1a.2.3ac-4,3b,9b-10 Kisah para Rasul 10:34-38 Matius 3:13-17

 




Pesta Pembaptisan Tuhan

“Baptis: Cinta dan Pengampunan”

Yesaya 42:1-4.6.7

Mazmur 29:1a.2.3ac-4,3b,9b-10

Kisah para Rasul 10:34-38

Matius 3:13-17

*****************************

Minggu, 11 Januari 2026

“Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencoba mencegah Dia, katanya, ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku”

(Matius 3:13-14)

 

Pastor Paul Belliveau adalah seorang Imam Misionaris dari Flushing, New York. Dia berkarya di sebuah Paroki Perkampungan, Honduras, tempat tinggal para pengungsi. Di paroki ini tertampung lebih dari sepuluh ribu pengungsi dari El-Salvador.

Pada suatu hari, tentara El-Salvador mengempung perkambungan pengungsi ini. Mereka memperlakukan warga perkampungan tersebut seperti sebuah penjara.

Pada hari Minggu, Pastor Paul memberikan homilinya dengan menggunakan bahasa kebencian dengan menekankan tiga kata kunci: tuduhan, kutukan dan pembasmian. Dia memperlihatkan bahwa baik pemberontak maupun tentara El-Salvador menggunakan kata-kata tersebut dalam program radio mereka.

Pastor Paul menyimpulkan isi homilinya dengan kalimat ini: Yesus menolak untuk terlibat dalam permainan ini. Yesus justru menggunakan bahasa Cinta, yaitu pengampunan di tengah-tengah kebencian.” Hati semua orang Katolik yang mendengar kesimpulan himili Pastor Paul, baik dari pihak pemberontak/pengungsi maupun tentara El-Salvador menjadi sedih.

Seusai misa, seorang pemuda Katolik merebut mikrofon dan berterian, “Pastor Paul berkata bahwa kita semua harus mencintai dan mengampuni, tetapi itu semua omong kosong.” Orang Katolik lain juga berteriak dalam mikrofon yang sama, “Pastor Paul tidak memahami situasi kita... Kita harus melawan kebencian dengan kebencian, bukan dengan cinta dan pengampunan.”

 

Membenamkan Diri:

Dibaptis dengan Kenyataan Hidup Manusia yang Berdosa

Yesus mengawali karya Mesianik-Nya di tempat Yohanes Pembaptis membaptis semua orang yang datang kepadanya. Sebelum dibaptis, mereka mengaku dosa mereka. Namun, Yesus yang tidak berdosa, juga datang kepadanya untuk dibaptis. Untuk apa? Yesus yang tidak berdosa memberikan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis sebagai penyataan Cinta-Nya yang mendalam dengan menyatukan diri-Nya dengan semua manusia pendosa; Penyataan Kesediaan-Nya untuk dibaptis dengan kenyataan hidup manusia yang berdosa serta Penyataan Kesetiaan dan Kerelaan-Nya untuk menanggung semua dosa kita, umat manusia.

Dalam peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan, Yesus memberikan diri-Nya dibaptis dengan membenamkan diri-Nya; Dia masuk ke dalam sungai Yordan, tempat pembuangan semua kesalahan dan dosa manusia. Semua orang yang sudah dibaptis keluar dari air Yordan dalam keadaan bersih karena:

Pertama, Yesus yang tidak berdosa menceburkan/membenamkan diri-Nya ke dalam air Yordan yang kotor serta membiarkan diri-Nya dibaptis dengan kesalahan dan dosa semua umat manusia.

Kedua, Yesus membiarkan diri-Nya dibaptis dengan kesalahan dan dosa kita, umat manusia agar Dia bisa mengangkat dan membersikan semua kesalahan dan dosa kita, sehingga kita yang sudah dibaptis dan dibersihkan menemukan jalan untuk kembali kepada Bapa yang selalu dan setia menantikan kedatangan anak-anak-Nya.

Ketiga, Yesus membiarkan diri-Nya dibaptis dengan semua kesalahan dan dosa kita sebagai penyataan penyatuan diri-Nya yang utuh dan mendalam dengan kita, semua manusia yang berdosa. Rasul Paulus berkata, “Dia yang tidak berdosa membiarkan diri-Nya berdosa agar Dia bisa menyelamatkan kita, manusia yang penuh dosa.”

 

Baptisan: Cinta dan Pengampunan...

Peristiwa pembaptisan Yesus adalah peristiwa yang sangat istimewa. Dalam peristiwa pembaptisan-Nya di sungai Yordan, Yesus menyatakan Wajah Allah, Bapa-Nya yang sesungguhnya, yaitu Bapa yang Maha Cinta, Maha Rahim, Maha Belas Kasih dan Maha Pengampun.

Dalam kekuatan dan keagungan cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya, Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya mengampuni semua kesalahan dan dosa kita. Allah membebaskan kita semua yang bersalah dari hukuman yang menyudutkan dan mengucilkan kita dari rangkulan cinta-Nya serta menuntun kita untuk menyerahkan dan memercayakan seluruh diri kita kepada kehendak Allah. Allah mengampuni kita bukan karena jasa kita, melainkan semata-mata karena kedalaman cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya kepada kita.

Sebagai pribadi yang dibaptis, kita sudah dibersihkan dan diampuni. Kita menjadi milik Allah dan Gereja, Tubuh Mistik-Nya. Berkat kekuatan rahmat yang ditanamkan Allah pada saat kita diciptakan dan dibaptis, kita sejatinya adalah pribadi/insan pencinta dan pengampun. Kodrat kita, ciptaan yang terbaptis sebagai insan pencinta dan pengampun bersumber dari atau lahir dari inti iman kita akan cinta, kerahiman dan belas kasih Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus: Dia, Sang Cinta sudah menanamkan cinta dan lebih dahulu mencintai dan mengampuni kita.

Sebagai insan pencinta dan pengampun, kita harus yakin bahwa dalam cinta, ada pengampunan. Di setiap pengampunan, wajah Allah, Sang Cinta yang penuh kerahiman dan belas kasih dinyatakan kepada sesama dalam dan melalui wajah kita: perkataan dan perbuatan kita. Pada tahapan ini, kita, pribadi yang dibaptis dituntut untuk selalu sadar dan beriman bahwa cinta dan pengampunan adalah hakikat Allah sebagai Bapa yang Maharahim dan Mahakasih dan hakikat diri kita sebagai manusia, ciptaan Allah serta pribadi yang dibaptis.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa cinta, kerahiman, belas kasih, kemurahan hati dan pengampunan merupakan kebutuhan mendesak di zaman ini. Manusia yang dikuasai oleh nafsu duniawi semakin menjauhkan diri dari kehidupan yang dikehendaki Allah: manusia dikuasai oleh kecurigaan, persaingan, kebencian dan balas dendam. Dunia harus menemukan wajah Allah yang penuh cinta, kerahiman dan belas kasih dalam diri kita, pribadi yang dibaptis agar pikiran dan hati mereka dibentuk untuk hidup dalam cinta kasih dan pengampunan. Mengampuni merupakan keputusan aktif untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan Allah dalam diri sesama. Kita semua, pribadi-pribadi yang dibaptis harus memiliki keutamaan dan kerelaan untuk mencintai dan mengampuni tanpa syarat dan tanpa batas. Kita hanya diselamatkan oleh cinta dan pengampunan. Semua manusia membutuhkan cinta kasih yang mengampuni tanpa syarat.

Cinta, kerahiman dan belas kasih Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus jauh lebih besar dari semua kesalahan dan dosa kita. Hati-Nya adalah Cinta-Nya, yaitu Cinta yang penuhi kerahiman dan kasih sayang. Dengan kekuatan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya, Allah memulihkan kembali relasi kita dengan-Nya yang rusak karena kesalahan dan dosa kita agar kita menjadi baik dan sempurna. Belas kasih Allah mengatasi semua dendam dan kemurkaan. Allah adalah Bapa yang mencintai anak-anak-Nya tanpa syarat dan selalu memberikan hati-Nya untuk menyelamatkan kita, kendatipun kita tidak setia. Karena itu, para pemazmur menyerukan madah: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (bdk. Mzm 103:8, 145:8)”

Paus Fransiskus menegaskan bahwa sikap cinta dan pengampunan akan membawa perubahan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang menerima pengampunan.  Cinta, belas kasih, kerahiman dan pengampunan akan membangkitkan sukacita. Pengampunan membuat hati terbuka pada harapan akan hidup baru untuk berubah. Sukacita pengampunan tidak terungkapkan, tetapi selalu menaungi hidup manusia serta tidak terbatas oleh waktu, keadaan, dan tempat. Sumbernya adalah cinta, belas kasih dan kerahimam Allah yang datang menjumpai dan menyatukan diri-Nya dengan manusia untuk meruntuhkan tembok egoisme yang mengelilingi manusia, agar pada gilirannya, manusia menjadi sebagai sarana belas kasih.

Pengampunan sangat berarti bagi manusia yang dikuasai oleh dosa. Kesadaran akan keberdosaan diri, membuat manusia jatuh dalam kesedihan. Karena itu, kata-kata kuno yang mendorong jemaat perdana untuk senatiasa bersyukur harus senantiasa direnungkan:

Kenakan dirimu dengan sukacita cinta dan pengampunan karena selalu direstui dan diterima Allah. Bergembiralah dalam sukacita cinta dan pengampunan itu. Setiap orang yang bersukacita dalam cinta dan pengampunan melakukan apa yang baik, memikirkan apa yang baik, dan memandang rendah kesedihan. Semua orang yang mengesampingkan kesedihan dan mengenakan sukacita cinta dan pengampunan akan hidup dalam Allah.”

 

Apakah kita, kaum terbaptis sadar dan beriman bahwa sukacita akan memenuhi hati kita apabila dengan kekuatan cinta, kita rela dan tulus mengampuni sesama? Inilah kodrat dan nilai hidup tertinggi dan termulai dari kita, pribadi yang dibaptis: menjadi insan pencinta dan pengampun....

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget