Minggu Pra-Paskah V, 22 Maret 2026
**
Lazarus dan Kita
Yehezkiel 37:12-14
Mazmur 130:1.2.4ab.4c.6.7.8
Roma 8:8-11
Yohanes 11:1-45 atau
Yohanes 11,3.17.20-27.33b-45
***********************************
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menghadiri dua
Perayaan Ulang Tahun. Pertama, Perayaan
Ulang Tahun seorang bocah kecil berusia dua tahun. Karena bocah tersebut
merupakan anak tunggal, maka Ulang Tahunnya dirayakan semeriah mungkin. Untuk
memeriahkan acara tersebut, maka keluarga mengundang sekelompok pelawak dan
pemain sulap. Lagu “Panjang Umurnya”
bergemah dengan penuh kegirangan diiringi tempik sorak yang memekakkan telinga.
Kedua, Perayaan
Ulang Tahun seorang kenalan yang sudah berbaring lemah di ranjang tidur karena
didera salit komplikasi yang sudah berada di ambang batas. Tim medis sudah
menegaskan sikap mereka bahwa hanya menunggu hitungan waktu kenalan itu akan
meninggalkan bumi fana ini untuk selamanya. Untuk itu, semua sanak keluarga
ingin merayakan Hari Ulang Tahunnya semeriah mungkin. Mereka mengundang
sahabat-kenalan terdekat untuk menghadiri dan meneguhkan kenalan yang sakit itu
di saat dia bergulat dengan maut.
Tatkala lilin ditiup dan lagu Selamat Ulang Tahun
digemakan, kenalan yang berbaring lemah di ranjang sakitnya berkata dengan nada
sayu-memilukan: “Jangan doakan agar saya panjang umur ya ... Saya senang kalau
Tuhan memanggil saya dalam waktu singkat ini...”
Mendengar kata-kata tersebut, kami semua terdiam, heran
dan kaget. Suasana menjadi cair ketika
saya mulai memimpin doa. Dalam doa itu, saya ungkapkan rasa syukur kami karena
masih diperkenankan untuk berkumpul, berbagi rasa dan derita dalam doa serta
menyerahkan kenalan yang mederita itu ke dalam penyelenggaraan kasih Allah.
Ternyata pujian “Panjang Umur” yang senantiasa
didengungkan tatkala Ulang Tahun dirayakan dapat diterima dan disikapi secara
berbeda-beda. Pujian “Panjang Umur” serentak diterima sebagai sebuah harapan
dan beban bahwa hidup tidak selamanya menyenangkan dan tidak selamanya berjalan
seperti yang diharapkan.
************************
Dalam kasus
terakhir ini, dambaan terdalam dari kenalan yang terbaring lemah diranjang
sakitnya itu adalah Tuhan bergegas memanggilnya, entah karena beban derita yang
tidak tertanggungkan, maupun karena tugasnya sudah dituntaskannya secara purna.
Persoalannya, sungguhkah dambaan hati kenalan yang sakit komplikasi ini merasa heran
dan merasa sayang karena dia sepertinya tidak mensyukuri karunia kehidupan yang
sungguh bernilai dan berharga di dalam dirinya tatkala sanak-keluarganya
bersedia mengeluarkan biaya seberapa pun saja, asalkan bisa memperpanjang
usianya, walaupun sesaat saja? Apa
gunanya riset, penyelidikan dibidang kedokteran dan medis apabila diperuntukkan
“menahan” hidup selama dan sepanjang mungkin? Tim medis berjuang untuk mencari
obat anti AIDS, karena dianggap sebagai penyakit misterius yang sanggup
merenggut kehidupan secara kejam dan menyakitkan... Apa gunanya?
Pertanyaan ini
serentak menjadi alasan bagi Marta dan Maria mengirimkan utusan untuk
menyampaikan berita penting kepada Yesus: “Tuhan, dia yang engkau kasihi, sakit.”
Dalam berita tersebut terbersit harapan kuat dalan diri Marta dan Maria agar Yesus
segera datang untuk menyembukan Lazarus, saudara mereka.
Keterlambatan
Yesus untuk mengunjungi Lazarus yang sakit dan akhirnya mati menjadi alasan
bagi Marta untuk “mempersalahkan” Yesus. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini,
saudaraku pasti tidak mati”. Marta merasa kesal karena Yesus tidak bersegera
datang untuk memperpanjang kehidupan Lazarus, saudaranya.
Namun dengan kuat
kuasa dan kewibaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa penyakit, penderitaan dan
kematian bukanlah akhir segalanya. Kematian bukanlah kegagalan untuk
memperpanjang kehidupan yang tidak selamanya membahagiakan manusia.
Bagi Yesus,
kematian diidentikan dengan “tertidur” sehingga bisa dibangunkan. Kematian yang
membawa maut bersengat positif sebab akan menyatakan kemuliaan Allah... berkat
penyakit yang membawa maut, Putera Allah akan dimuliakan.
Dalam konteks ini
bisa dipahami, “Mengapa kenalan yang sakit sekarat itu” memohon agar Allah
bersegera memanggilnya: Mungkin karena dia tidak sanggup lagi menahan deritanya
atau mungkin dia tidak tega melihat sanak-keluarga dan handai-taulannya
bersusah karenanya. Mungkin juga dia menganggap bahwa kematian bukanlah akhir,
bukanlah sesuatu yang harus disesali. Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian
ada kehidupan, entah bagaimana wujudnya, namun diyakini ada sesuatu yang baru,
sama sekali lain dan bermutu sehingga didambakan oleh semua insan yang beriman.
Dengan cara yang
khas, Yesus melukiskan kehidupan kekal dengan sebuah perjamuan: semua undangan
terpilih hadir. Allah sebagai Bapa, Tuan Rumah yang Baik Hati hadir untuk
menjamu semua undangan secara berkelimpahan. Kehidupan kelak juga diibaratkan
dengan kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barang atau dombanya yang
hilang; kegembiraan seorang bapak yang berjumpa kembali dengan anaknya yang sudah
sekian lama meninggalkannya.
Kegembiraan Marta
dan Maria yang masih boleh merasakan kehadiran Lazarus saudara mereka merupakan
kegembiraan yang sangat intens sebab tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Namun, tidak dijelaskan bagaimana reaksi Lazarus tatkala diperkenankan untuk
hidup kembali.
o Apakah dia merasa senang,
karena bisa kembali ke dalam kehidupan duniawi; berkumpul dengan
sanak-keluarganya?
o Apakah dia merasa
gembira karena masih diperkenankan untuk menghirup udara segar kehidupan?
o Atau mungkinkah,
dia merasa sedih, susah, kecewa karena impiannya untuk mengalami kebahagiaan
hidup yang sudah akan dialaminya harus ditunda hingga waktu yang ditentukan
baginya tiba?
o Berapa lama
lagikah saudara-saudaranya harus mendoakannya agar dia panjang umur di setiap
Ulang Tahunnya, sebelum akhirnya dia meninggalkan bumi fana ini secara
definitif?
Pertanyaan ini
sangat manusiawi, namun sulit terjawab. Bagi Lazarus, Maria, Marta dan
orang-orang sezamannya “kebangkitan dari antara orang mati” sama sekali tidak
jelas. Namun, Yesus berusaha membuka wawasan mereka melalui peristiwa Lazarus:
Kebangkitan terjadi sesudah orang meninggalkan hidup ini; kematian itu terjadi
apabila Allah dalam diri Kristus berkehendak apakah seseorang dibangkitkan atau
tidak dibangkitkan sesudah mengalami kematian hidup? Kebangkitan berkaitan erat
dengan hidup, hidup kembali, tetapi hidup secara baru.
Peristiwa Lazarus
merupakan kiasan mengenai apa yang terjadi dengan diri Yesus dan apa yang
terjadi dengan semua orang yang percaya kepada-Nya. Namun, intinya ditemukan
dalam Sabda Yesus bahwa apabila kita percaya kepada-Nya, mendengarkan Sabda-Nya
dan melakukan pekerjaan-Nya, kita akan hidup, walaupun sudah mati. Melalui
Sabda-Nya ini, Yesus menegaskan bahwa Dialah Jaminan Kebangkitan kita.
Kuncinya, kita harus percaya kepada-Nya dan hidup kita harus terhubung
dengan-Nya.. Bagaimana dengan kita dan iman kita kepada-Nya?
Selamat
Bermenung....
Salam
Kasih...
Dio
Ti Benedica....
Alfonsus
Very Ara, Pr
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.