Minggu Pra-Paskah IV, 15 Maret 2026
Lahir
Buta, Dosa Orang Tua?
1 Samuel 16:1b.6,7,10-13a
Mazmur 23:1.3a.3b-4.5.6
Efesus 5:8-14
Yohanes 9,1-41
Pada suatu ketika, seorang ibu muda melahirkan bayinya. Dokter mendekatinya
dan berkata kepadanya, “Ibu, saya sangat menyesal. Tetapi ibu harus kuat untuk
menerima kejutan terbesar dalam hidup Ibu”.
Dengan berlinang air mata dan bibir gemetaran, Ibu muda itu bertanya,
“Dokter, apakah bayi saya akan sembuh.. atau
dia akan segera mati?
Hati Ibu muda itu sangat hancur sehingga dia tidak bisa melanjutkan
kata-katanya. Dokter pun berkata kepada Ibu muda itu, “Bayi ibu tidak akan
mati. Dia akan buta dan tuli selamanya”. Saat itu, tangisan Ibu muda ini sungguh menyayat hati... Dia pun berkata, “Buta dan tuli... oh
anakku yang malang... mau jadi apa? Tetapi, yakinlah, ibu akan
selalu mencintaimu...”
Mendengar tangisan Ibu muda itu, Dokter bergumam di dalam hatinya, “Inilah
adalah pengalaman yang sangat menyedihkan. Ini adalah kasus terburuk yang saya
hadapi...adalah lebih baik, jika bayi itu meninggal di saat kelahirannya”.
Walau memilukan, Ibu muda itu merawat dan mendidik bayinya dengan penuh
cinta dan kasih sayang. Akhirnya bayi yang tuli dan buta itu bertumbuh menjadi
seorang Helen Keller, salah seorang
manusia yang terkenal, berguna dan bahagia. Dengan menggunakan indera
penciuman dan peraba, dia rajin belajar untuk berbicara dan menulis. Kisahnya
meluas dan dia diundang untuk berbicara kepada pelbagai kelompok di seluruh dunia. Dia menyelesaikan Sekolah
Menengah dan Perguruan Tinggi dan menulis sejumlah buku untuk memotivasi dan
menyemangati manusia yang cacat dan sehat.
************************
Di saat meninggalkan Bait Allah,
Yesus dan para murid-Nya berjumpa dengan seorang pengemis yang buta sejak
lahir. Para murid bertanya kepada Yesus, “Mengapa seorang lahir cacat? Siapakah
yang bersalah? Walaupun bahasa pertanyaannya berbeda, namun isi pertanyaan para
murid kepada Yesus sama dengan isi pertanyaan ibu muda ketika mendengar bahwa
bayinya lahir dalam keadaan: “Buta
dan tuli... oh anakku yang malang... mau jadi apa? Namun, satu hal menarik
yang terlontar dari mulut ibu muda ini, “Tetapi, yakinlah, ibu akan selalu mencintaimu...”
Berkenaan dengan pertanyaan para
murid, siapakah yang bersalah, jika seseorang dilahirkan cacat? Terhadap
pertanyaan ini Yesus menjelaskan bahwa:
Pertama,
lahir dalam keadaan cacat bukanlah hukuman Allah atas dosa kedua orang tua.
Anak yang lahir cacat berakar pada keterbatasan diri kita sebagai manusia.
Semua manusia adalah ciptaan Allah yang terbatas. Tiada seorang manusia pun
yang sempurna. Cacat sejak lahir bukan karena dosa dan bukan karena hukuman
Allah, melainkan karena keterbatasan sel/benih yang ada dalam diri orang tua.
Keterbatasan dan kekurangan sel/benih ini tidak pernah disadari oleh manusia.
Keterbatasan sel/benih dalam diri orang karena kekurangan gizi, konsumsi obat
kimia yang berlebihan, konsumsi makanan kimia yang tidak layak untuk kondisi
tubuh, konsumsi minuman yang merusak tubuh). Kenyataan ini menegaskan bahwa
cacat sejak lahir bukan karena dosa orang tua dan bukan hukuman Allah,
melainkan karena keterbatasan dalam diri kedua orang tua.
Kedua,
orang yang lahir cacat derajatnya sama dengan manusia yang lahir dalam keadaan
normal. Orang cacat adalah pribadi yang bermartabat istimewa dan penting di
hadapan Allah. Setiap pribadi, entah yang normal, entah yang cacat diciptakan
Allah, untuk kemuliaan Allah dan diutus untuk menyempurnakan karya-karya Allah
dalam diri kita masing-masing.
Hellen Keller, seorang bayi yang dalam keadaan tuli dan buta karena kelemahan
sel/benih kedua orang tuanya bertumbuh
menjadi seorang manusia yang terkenal,
berguna dan bahagia. Dengan menggunakan indera penciuman dan peraba, dia rajin
belajar untuk berbicara dan menulis hingga akhirnya dia
bisa menulis sejumlah buku untuk
memotivasi dan menyemangati manusia yang cacat dan sehat.
Dalam ketulian dan kebutaannya, kemuliaan Allah dinyatakan dalam dirinya dan
dalam cinta kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti melimpahkan cinta
mereka kepadanya. Hanya ketika Hellen tuli dan buta, dia bisa mengajar,
memotivasi dan menyemangati semua orang cacat adan orang sehat. Hanya ketika
Hellen tuli dan buta, kuasa Allah dinyatakan kepada dunia melalui kebesaran dan
keagungan cinta kedua orang tuanya yang tiada henti mengalirkan isi cinta
mereka kepada Hellen. Karya agung Allah disempurnakan dalam ketulian dan
kebutaan Hellen dan disempurnakan oleh cinta kedua orang tuanya (Renungkan:
Kita memiliki anak yang sehat, tanpa cacat. Sesungguhnya karya agung Allah
dinyatakan dalam diri mereka. Namun orang tua justru membiarkan anak berlumuran
kotoran, tampa memandikan, tanpa memoleskan mereka dengan bedak. Apakah dengan
cara demikian, kedua orang tua yang sehat meneruskan dan menyatakan kemuliaan
Allah?).
Ketiga, harus diakui bahwa orang cacat memiliki
banyak kelemahan apabila dihubungkan dengan kemampuan untuk melihat dan
mendengar, pengetahuan dan kekuasaan. Namun, mereka memiliki hati yang penuh
kasih. Sebagai manusia yang terbatas, mereka membutuhkan bantuan orang sehat.
Mereka merindukan kehadiran sesama, mendambakan persahabatan serta sentuhan
kasih dari Allah. Mereka menjadi pribadi yang terbuka kepada Allah dan
mengandalkan Allah. Karena itu, Yesus menyatakan bahwa orang yang lahir buta
diciptakan bagi kasih sebab keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki justru
mengarahkan mereka kepada Allah. Dari keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki,
mereka berseru kepada Allah dan menemukan Allah secara baru, yaitu Allah yang penuh
kasih dan lembut hati, berbela rasa dan baik hati.
Berbeda dengan orang cacat, kita
orang sehat berjuang untuk mencari pengaruh, pujian dan kekayaan untuk diri
sendiri. Akibatnya, kita kerap menutup diri terhadap Allah dan sesama karena
merasa cukup dengan diri sendiri. Ironisnya, di saat mengalami kegagalan,
sakit, kelemahan dan kesepian, kita baru sadar bahwa kita bukanlah manusia yang
mahakuasa dan tidak cukup dengan diri sendiri. Kita membutuhkan Allah dan
sesama.
*******************
Seorang
imam mendirikan sebuah yayasan untuk merawat umatnya yang cacat agar dia bisa
menjadi imam yang baik dengan melakukan kebaikan kepada orang cacat. Imam ini
tidak pernah berpikir bahwa justru orang cacat inilah yang akan berbuat baik
kepadanya.
Pada suatu
saat, Uskupnya menjumpainya dan bertanya kepadanya, “Sungguhkan Anda mendirikan
yayasan ini untuk berbuat baik kepada orang-orang yang kurang beruntung? Iman
itu dengan jujur menjawab, “Justru orang yang kurang beruntung inilah yang
berbuat baik kepada saya. Orang-orang yang saya bantu inilah yang membantu
saya. Mereka mengajarkan saya untuk mencintai dan menghidupi hal yang paling
berharga dalam diri saya, yaitu “bela rasa.”

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.